Bab 1 - Underworld
Bulan Ke-3 Kalender
Dunia Manusia 378
Bagian
1
Ada suatu bebauan di
udara.
Pikiranku yang buram
ini merasakan hal itu tepat sebelum Aku bangun.
Udara yang mengalir
kedalam rongga hidungku memberikan ku berbagai hal. Aroma harum bebungaan.
Aroma rerumputan yang hijau. Aroma pepohonan yang seakan-akan dapat membuat
dadaku merasa lega. Aroma air yang mengalir ke tenggorokan ku yang haus.
Selagi kesadaran ku
mulai bangkit, berbagai suara melonjak ke dalam tubuh ku. Suara dari dedaunan
yang bergesekan dengan satu-sama lain. Suara dari burung-burung kecil yang
berkicau dengan gembira. Suara dengungan serangga dibawah nya. Dan suara
samar-samar dari sungai kecil dikejauhan.
Dimana Aku!?
Setidaknya udah pasti ini bukan kamarku. Biasanya, saat Aku bangun, selalu ada
aroma matahari dari pakaian yang kering, suara dari pendingin ruangan, dan
suara dari mobil-mobil yang berlarian di jalanan Kawagoe yang sedikit jauh,
tapi disini gak ada satupun dari hal itu. Dan lagi —— cahaya hijau yang
menyikat kelopak mataku sampai sekarang ini bukanlah cahaya terang dari alat
yang lupa kumatikan, tapi adalah cahaya matahari yang tersaring melewati
dedaunan, kan?
Aku menyingkirkan
keinginan ku yang tersisa untuk kembali kedalam tidur lelap, sebelum akhirnya
membuka mata ku.
Aku mengedip
berkali-kali karena disilaui banyak nya cahaya yang melintas di mata ku. Selagi
Aku mengusap mata ku, yang sedang buram karena air mata, dengan bagian belakang
dari tangan kanan ku, Aku pelan-pelan mengangkat bagian atas tubuh ku.
"... ...Dimana
Aku... ...?"
Tanpa sadar Aku
menggumam.
Yang selanjutnya
kulihat adalah semak-semak hijau. Disana terdapat bunga kecil berwarna kuning
dan putih diberbagai tempat, kupu-kupu biru muda yang berkilauan terbang
kesana-kesini disekitar nya. Sekitar lima meter jauh nya, karpet rerumputan
terpotong, dan dari sana, adalah bentangan dari hutan yang dalam, dimana
pohon-pohon besar yang sepertinya sudah berumur lebih dari sepuluh tahun itu
berbaris disana.
Selagi Aku memfokuskan
pandangan ku kearah celah gelap diantara ranting-ranting pohon, sepertinya
pepohonan itu masih terus berbaris sampai batas dari jarak yang bisa diraih
oleh cahaya. Kulit pohon yang kasar dan bergelombang dan tanah ditutupi oleh
lumut yang tebal, bercahaya hijau dan emas dibawah matahari.
Aku menengok ke kanan,
dan berbalik, Aku disambut oleh ranting pohon-pohon tua dari seluruh arah.
Dengan kata lain, seperti nya Aku terbaring di lingkaran kecil rerumputan di
tengah hutan. Kemudian Aku melihat keatas, dan dari celah diantara ranting
pohon yang kasar yang terbentang ke seluruh arah, dapet terlihat langit biru
dimana awan-awan melayang, seperti yang sudah kuduga.
"Dimana... ...
tempat ini?"
Aku menggumam lagi
lalu menghela nafas. Tapi gak ada jawaban.
Aku menggali seluruh
sudut dari ingatan ku, tapi Aku gak bisa menemukan ingatan dari bagaimana Aku
bisa datang dan tertidur di tempat ini. Berjalan sambil tidur? Amnesia? Saat
kata-kata berbahaya itu terlintas di fikiran ku, gak mungkin, Aku dengan segera
menyangkal hal tersebut.
Aku... ... namaku
adalah Kirigaya Kazuto. Tujuh belas tahun lebih delapan bulan. Aku tinggal di
Kawagoe, prefektur Saitama bersama ibu dan adik perempuan ku.
Aku merasa agak tenang
sembari data itu keluar dengan mulus, kemudian Aku mengolah lebih ingatan ku.
Saat ini, Aku adalah murid
SMA kelas dua. Tapi berhubung Aku telah mencapai syarat kelulusan di semester
pertama tahun depan, Aku berfikir tentang pergi ke universitas pada musim
kemarau. Ya, Aku telah berkonsultasi dengan seseorang tentang hal itu. Pada
hari minggu terakhir bulan Juni, saat sedang hujan. Aku pergi ke toko milik
Agil, «Dicey Café» di Okachimachi setelah pulang sekolah, dan mengobrol dengan
teman ku Sinon, Asada Shino tentang Gun Gale Online.
Kemudian, Asuna ——
Yuuki Asuna bergabung, dan kami bertiga ngobrol untuk sementara waktu sebelum
meninggalkan toko.
“Asuna……”
Aku mempunyai seorang
kekasih, Aku dengan lembut menyebut nama dari gadis itu, yang adalah seorang
partner yang dapat kupercaya dengan penuh keyakinan. Aku melihat-lihat
kesekeliling berkali kali, mencoba untuk mencari sosok nya, yang sosok nya
sangat jelas di ingatan ku, namun, Aku gak bisa menemukan seorangpun sosok
manusia di rerumputan atau di hutan yang dalam.
Selagi bertarung
dengan rasa kesepian, Aku mencoba untuk mengusut kembali ingatan ku.
Asuna dan Aku berpisah
dengan Shino setelah kami meninggalkan toko. Setelah pergi ke Tokyo Metro Ginza
Line di Shibuya, kami pergi ke jalur Toyoko untuk pergi ke Setagaya, tempat
dimana rumah Asuna berada.
Hujan telah berhenti
saat kami keluar dari stasiun. Selagi kami berjalan berdampingan di jalan bata
setapak, kami mengobrol tentang urusan masuk universitas. Aku berterus terang
tentang keinginanku untuk pergi ke universitas di Amerika, dan membuat
peromohonan yang keterlaluan kepada Asuna untuk pergi menemaniku, pada saat
itu, ia memberikan senyuman hangat dan lembut yang biasanya, dan kemudian——
Ingatan ku terputus pada momen tersebut.
Aku gak bisa mengingat nya. Bagaimana dengan balasan Asuna? Bagaimana Aku mengucapkan selamat tinggal dan kembali ke stasiun? Jam berapa Aku kembali ke rumah, kapan Aku pergi tidur? Aku gak bisa mengingat satupun dari hal tersebut.
Selagi Aku terkaget,
Aku mati-matian mencoba untuk mengolah lebih ingatan ku.
Namun, senyuman Asuna
hanya menghilang seperti memburam di air, kejadian setelah itu gak bisa kuingat
gak peduli seberapa keras kucoba mengingat nya. Aku mengerutkan dahi sembari
menutup mata ku, dan dengan buru-buru menggali debu abu-abu.
Aku merasa sesak
seolah-olah akan marah.
Itu adalah dua
gambaran yang muncul dalam fikiran ku, seperti gelembung kecil. Tanpa sengaja,
Aku menghirup aroma dari udara kedalam dada ku. Dan Aku merasakan tenggorokan
ku yang kering, yang kulupakan sampai sekarang.
Gak ada keraguan lagi,
kemarin sore Aku berada di kota Miyasaka di Setagaya. Kemudian bagaiamana Aku
berakhir tertidur di tengah hutan yang Aku gak tau seperti ini?
Gak, apa itu
benar-benar kemarin? Angin sepoi-sepoi yang bergesekan dengan kulit ku terasa
sejuk dan nyaman. Hutan ini gak memiliki sedikitpun kelembaban pada akhir Juni. Saat
ini, perasaan takut mengalir dalam fikiran ku.
«Ingatan hari
kemarin», yang dengan mati-matian Aku bergantung kepadanya terasa solah-olah
adalah sebuah rakit yang mengapung ditengah-tengah badai di lautan, apa itu
benar-benar terjadi? Apakah Aku... benar-benar siapa yang Aku pikirkan...?
Setelah mengusap wajah
ku dan menarik rambut ku berkali-kali, Aku menurunkan tangan ku dan melihat
detail nya. Aku merasa agak tenang karena wajah dan rambut ku terlihat sama
seperti dalam ingatan ku, ada tahi lalat dibawah jempol kanan, bagian belakang
dari jari tengah tangan kiri memiliki bekas luka yang kudapatkan saat Aku masih
kecil.
Pada saat itu,
akhirnya Aku menyadari suatu hal yang aneh.
Yang menggantikan baju
tidur ku yang biasa nya bukanlah kaos oblong atau seragam sekolah, bukan,
bahkan bukanlah apapun yang kumiliki. Sebaliknya, bagaimanapun Aku melihatnya,
baju ini bukanlah baju yang tersedia di toko.
Baju ini berwarna biru
pucat, dan bukanlah baju katun ataupun kemeja lengan pendek. Tekstur nya aneh,
dan terasa kasar. Untaian di bagian belenggu seperti dijahit oleh tangan
bukannya oleh mesin jahit. Gak ada kerah, potongan bentuk V di bagian dada
diikat dengan tali coklat muda. Saat Aku melihat kearah tali yang dipegang oleh
jari-jari ku, Aku dapat melihat kalau itu gak dibuat dengan jalinan serat, tapi
sepertinya oleh kulit yang dipotong dengan rapi.
Celana nya juga dibuat
dari bahan yang sama, tapi sepertinya gak diklantangkan dan berwarna krem. Gak
ada kantong, sabuk kulit yang terikat di pinggang ku gak dikencangkan dengan
gesper logam, tapi dengan kancing panjang dan sempit. Sepatu nya juga adalah
kulit yang dijahit dengan tangan, beberapa paku payung tertancap di kulit tebal
sol sepatu.
Aku gak pernah melihat
baju dan sepatu seperti ini sebelum nya. ——Di dunia nyata, setidaknya.
"... ...Eh."
Aku merilekskan bahu
ku sembari Aku bergumam dengan sedikit helaan nafas.
Meskipun terlihat
benar-benar berbeda, pada saat yang sama, adalah pakaian yang kelihatan
familiar. Dari Eropa pada Zaman Pertengahan, atau secara bahasa fantasi nya,
adalah apa yang disebut jubah, celana katun, dan sepatu kulit. Tempat ini
bukanlah kenyataan namun adalah dunia fantasi, atau dunia virtual yang
familiar.
"Eh... ..."
Aku mengatakan nya
lagi selagi memiringkan kepala ku.
Itu berarti Aku
tertidur saat sedang melakukan FullDive? Tapi kapan dan game apa yang sedang
kumasuki? Kenapa Aku gak bisa mengingat apapun?
Toh, Aku akan
mengetahui nya setelah Aku log-out, memikirkan hal itu, Aku mengayun
tangan kanan ku.
Setelah beberapa
detik, menu nya gak keluar, jadi sekarang Aku mencoba mengayun tangan kiri ku.
Hasilnya sama saja.
Sembari Aku
mendengarkan suara kicauan burung-burung kecil dan dedaunan yang bergesekan,
secara serampangan Aku mencoba untuk menyingkirkan perasaan gelisah yang merambat
dari pinggang ku,
Tempat ini adalah
dunia virtual. Seharusnya begitu. Tapi —— setidaknya ini bukan Alfheim. Ini
bahkan bukan dunia VR biasa yang diciptakan dengan The Seed.
Tapi bukannya Aku baru
saja memastikan tahi lalat dan bekas luka yang kumiliki di dunia nyata? Dunia
VR yang bisa menciptakan hal itu dengan sangat detail, setau ku, gak ada.
“Command. ……Log out.”
Aku mengucapkan nya
dengan secercah harapan, tapi hal itu gak juga memberikan respon. Aku duduk
bersila, dan melihat ke tangan ku lagi.
Ada sidik jari
melingkar di ujung jari ku. Ada kerutan di sendi jari. Bulu-bulu halus yang
tipis yang tumbuh disitu. Keringat dingin telah menyucur untuk sementara waktu
sekarang.
Aku mengelap nya
menggunakan baju ku, dan mengecek detail dari kain itu lagi. Benang yang kasar
diikat dengan baju menggunakan metode lama. Tali yang halus terlihat jelas di
permukaan nya.
Kalau ini adalah dunia
virtual, mesin yang membuat hal ini pasti sangat luar biasa bagus dayaguna nya.
Aku mengalihkan tatapanku ke semak-semak didepan, dengan cepat Aku merobek
sepotong rumput dengan tangan kanan ku dan menggenggam nya didepan mata ku.
Dunia VR biasa yang
dibuat dengan The Seed, yang menggunakan tehnik «Detail Focusing», gak akan
bisa mengikuti gerakan mendadak ku, sedikit jeda waktu akan terjadi sebelum Aku
sempat melihat tekstur yang detail dari daun ini. Namun, dari tulang daun yang
tipis dan ujung daun yang bergerigi, bahkan sampai tetesan air yang menetes
darinya, semuanya ditampilkan dengan detail yang sangat luar biasa saat Aku
menatap nya.
Itu berarti objek yang
masuk kedalam pandangan ku diolah secara real-time dengan tingkat ketepatan
milimeter. Kalau begitu kapasitas yang diperlukan untuk menyimpan data dari
satu daun ini akan berpuluh-puluh megabytes. Apakah hal seperti itu benar-benar
mungkin?
Aku tak ingin
meneruskan hal ini lagi, Aku menahan fikiran seperti itu kedalam benak ku
sambil mendorong rumput diantara kaki ku dan mulai menggali tanah mengunakan
tangan kanan ku sebagai pengganti sekop.
Tanah lembab ini aneh
nya lembut, akar kecil dari rumput dengan cepat memasuki pandangan ku. Aku
melihat gerakan menggeliat diantara akar-akar yang kusut dan dengan lembut
mengambil nya dengan jari-jari ku.
Itu adalah cacing
tanah yang kecil, sekitar 3 centimeter panjang nya. Makhluk hijau berkilau,
yang diambil keluar dari tempat tinggal nya, bergerak-gerak dengan
sembrono. Apakah ini spesies baru? Tepat setelah Aku memikirkan nya,
cacing itu mengangkat salah satu ujung dari tubuh nya, yang adalah kepala nya,
dan mengeluarkan suara kecil Kyu— Kyu—. Sementara Aku merasa sedikit
pusing, Aku menaruh nya kembali ke tanah yang kugali. Aku kemudian melihat
tangan kanan ku, ada banyak kotoran hitam di telapak tangan ku, sela-sela jari
tangan ku penuh dengan tanah.
Aku terdiam selama beberapa
puluh detik, kemudian, sementara masih enggan, Aku memikirkan tiga hipotesis
yang bisa menjelaskan situasi saat ini.
Pertama, mungkin
disini adalah dunia virtual yang dibuat oleh teknologi FullDive yang telah
dikembangkan. Situasi dimana Aku bangun di tengah hutan, adalah adegan pertama
dalam dunia fantasy-RPG yang biasanya.
Namun, kalau begitu,
gak peduli seberapa banyak jenis supercomputer yang kuketahui, gak ada satupun
dari nya mempunyai kemampuan untuk menciptakan objek 3D super-detail seperti ini.
Mungkin saja kalau Aku kehilangan sebagian ingatan ku dan waktu di dunia nyata
telah berjalan selama beberapa tahun, atau selama belasan tahun.
Kemudian, kemungkinan
kalau tempat ini bisa jadi adalah suatu tempat di dunia nyata. Itu berarti Aku
adalah sebuah subjek dari tindak kejahatan, eksperimen ilegal, atau perbuatan
iseng yang keterlaluan, seseorang memakaikan ku baju ini dan menempatkan ku di
hutan ini — dari udara nya bisa jadi ini adalah Hokkaido, atau mungkin disuatu
tempat di belahan bumi bagian selatan. Namun, kupikir di Jepang gak ada spesies
cacing tanah hijau berkilau yang bisa membuat suara 'kyu kyu', atau bahkan
mungkin gak ada di seluruh dunia.
Hipotesis terakhir,
tempat ini mungkin terdapat di dimensi lain, dunia yang berbeda, atau mungkin
dunia setelah mati. Hal ini biasa terjadi di manga,novel, dan anime. Menurut
skenario dari hal tersebut, setelah ini Aku akan menolong seorang gadis dari
serangan monster, mendengarkan permohonan kepala desa dan menjadi sang
pahlawan, dan bertarung melawan raja iblis. Tapi gak ada «Steel sword» di
pinggang ku.
Aku menahan perut ku
selagi tiba-tiba ingin tertawa terbahak-bahak karena pemikiran itu, setelah
entah bagaimana Aku berhasil menahan nya, Aku memutuskan untuk menghilangkan
kemungkinan ketiga karena sangat mustahil. Saat Aku kehilangan arah akan
kenyataan dan yang bukan, Aku merasa kalau Aku juga mulai kehilangan kewarasan
ku.
Bagaimanapun juga ——
apakah ini dunia virtual? Ataukah dunia nyata?
Kalau yang pertama,
gak peduli senyata apa dunia ini, gak sulit untuk memastikan nya. Aku hanya
perlu memanjat ke puncak pohon terdekat, melompat, dan mendarat dengan kepala
duluan. Kalau Aku ter log-out atau dibangkitkan di save-point di sebuah kuil di
suatu tempat, kalau begitu tempat ini adalah dunia virtual.
Tapi kalau ini adalah
dunia nyata, hal yang terburuk akan menjadi hasil dari eksperimen itu. Di
sebuah novel yang dulu pernah kubaca, sebuah organisasi kriminal, agar dapat
memfilmkan game kematian asli, menculik sekitar 10 orang dan meninggalkan
mereka di alam liar tak berpenghuni untuk saling membunuh satu sama lain.
Meskipun hal seperti itu terlihat mustahil untuk terjadi di dunia nyata,
kejadian yang sama seperti itu terjadi saat insiden SAO terjadi. Kalau ini
benar-benar game yang ditempatkan di dunia nyata, kupikir melakukan bunuh diri
tepat di awal bukanlah pilihan yang bagus.
"... ...Kalau
benar seperti itu, mereka belum memulai permainan nya... ..."
Tanpa sadar Aku
mengatakan hal itu. Setidaknya Kayaba Akihiko masih menjalankan tugas nya,
menjelaskan situasi detail tepat pada awal permainan.
Aku melihat keatas
langit sebelum berbicara lagi,
"Oi, GM-san!
Kalau kau mendengarkan tolong jawab Aku!!"
Namun, gak peduli
seberapa lama Aku menunggu, wajah besar ataupun sosok manusia berjubah gak
muncul. Pada saat itu, Aku mulai mengecek semak-semak di sekeliling lagi
sebelum mencari sesuatu di baju ku yang mungkin saja adalah buku peraturan,
tapi Aku gak bisa menemukan apapun.
Tampaknya, siapapun
yang melemparku ke tempat ini gak berniat untuk merespon panggilan ku. Situasi
ini, kalau bukan kecelakaan kalau begitu... tapi...
Sembari mendengarkan
kicauan burung-burung, Aku dengan sembrono memikirkan tentang apa yang harus
kulakukan setelah ini.
Kalau ini adalah
kecelakaan di dunia nyata, Aku harus menganggap kalau bergerak kesana-kesini
dengan ceroboh bukanlah pilihan yang bagus. Mungkin saja saat ini, tim
penyelamat sedang dalam perjalanan kesini.
Tapi, apa alasan nya
kecelakaan seperti ini bisa terjadi?
Kalau berusaha
mendapatkan satu alasan dengan paksa, sebuah masalah terjadi pada kendaraan
yang kunaiki saat dalam perjalanan — mau itu pesawat ataupun mobil, dan Aku
jatuh pingsan di hutan ini, dampak nya membuat ku kehilangan ingatan akan
kejadian yang terjadi sebelum dan setelah hal itu. Tapi hal itu gak bisa
menjelaskan tentang pakaian aneh ini, dan juga gak ada luka di tubuh ku.
Atau, suatu kecelakaan
terjadi saat Aku berada di dunia virtual, hal seperti itu juga mungkin. Ada
kendala yang berlangsung di rute komunikasi dan membuat ku masuk ke dunia yang
bukan seharusnya kumasuki. Tapi dalam hal ini, objek 3D yang super-detail ini
gak bisa dijelaskan.
Dan juga, kalau
menganggap kalau situasi ini diatur oleh niat seseorang. Kalau begitu akan
lebih baik untuk berfikir kalau 'selama Aku gak berbuat apa-apa, situasi nya
gak akan berubah'.
"Yang mana...
..."
Apakah ini kenyataan?
Ataukah dunia VR? Pasti ada cara untuk mengetahui nya, Aku berfikir
seperti itu selagi bergumam.
Pasti ada jalan. Dunia
virtual yang mendekati sempurna sampai-sampai orang gak bisa membedakan nya
dengan kenyataan, meskipun kata-kata itu sering digunakan, Aku gak yakin kalau
menciptakan seluruhnya dengan tingkat ketepatan 100% itu mungkin.
Sudah hampir 5 menit
Aku duduk di rumput ini sambil berfikir tentang berbagai macam hal. Namun, Aku
gak bisa menemukan ide yang masuk akal untuk situasi seperti ini. Kalau Aku
punya mikroskop, Aku bisa mencari eksistensi dari mikro-organisme di tanah,
atau kalau Aku punya pesawat, Aku bisa terbang sampai ke ujung permukaan.
Namun, sayang nya, hanya dengan tangan dan kaki yang kupunya, menggali tanah
adalah hal terbaik yang bisa kulakukan.
Pada saat seperti ini,
kalau Asuna, dia pasti punya cara untuk mengidentifikasi dunia ini yang tak
bisa kupikirkan, Aku mengeluarkan helaan nafas pendek selagi memikirkan hal
itu. Atau kalau Asuna, dia gak akan duduk sambil khawatir seperti ini, tapi
dengan cepat melakukan suatu tindakan.
Aku mengigit bibirku
saat rasa putus asa menyerang ku lagi.
Aku terkejut kalau Aku
sampai begini hanya karena gak mungkin untuk mengontak Asuna, tapi Aku juga
menerima hal ini. Selama dua tahun terakhir ini, Aku mendiskusikan hampir semua
keputusan ku dengan nya. Sekarang, tanpa sirkuit berfikir Asuna, otakku seperti
CPU yang setengah dari inti nya mati.
Rasanya baru kemarin
Aku mengobrol dengan asyik dengan nya selama beberapa jam di toko milik Agil.
Kalau Aku tau ini bakal terjadi, Aku gak akan ngobrol tentang RATH ataupun STL,
tapi tentang bagaimana cara membedakan kenyataan dengan dunia virtual
super-deta——……
“Ah……”
Tanpa sengaja Aku menaikkan
tubuh ku. Suara disekitar dengan cepat mereda.
Jadi begitu, dan Aku
gak menyadarinya sampai sekarang.
Bukannya Aku udah tau
tentang hal itu? Eksistensi dari sesuatu yang jauh melebihi mesin FullDive,
teknologi yang bisa dibilang dapat membuat dunia VR dengan kualitas
super-nyata. Kalau begitu dunia ini adalah... ...
"Didalam Soul
Translator... ...? Apakah tempat ini... Underworld?"
Gak ada respon akan
gumaman ku selagi Aku tanpa sadar melihat kesekeliling ku dengan penuh
kebingungan.
Hutan yang dipenuhi
pohon-pohon tua yang hanya bisa kupikirkan sebagai benda nyata. Rerumputan yang
bergoyang. Kupu-kupu yang beterbangan.
"Semua itu... ...
sebuah mimpi buatan yang ditulis langsung kedalam Fluctlight milik-ku...
...?"
Pada hari pertama Aku
memulai kerja paruh waktu di sebuah perusahaan, «RATH»; si peneliti dan
operator, Higa Takeru, dengan bangga menjelaskan struktur dari STL dan
sebagaimana nyata nya dunia yang bisa dibuat kepada ku.
Dan Aku menyadarinya
setelah Test Dive setelah nya, kalau kata-kata nya sama sekali gak
dilebih-lebih kan — namun, yang kulihat pada saat itu hanya satu ruangan.
Meskipun meja, kursi dan berbagai benda kecil yang ada disana benar-benar sulit
untuk dibedakan dengan yang sebenarnya, ruangan itu sendiri gak bisa disebut
sebagai «Dunia».
Namun, ukuran dari
hutan yang mengitari ku sekarang, mungkin beberapa kilometer di kenyataan.
Enggak, kalau pegunungan yang samar-samar terlihat dibalik pepohonan itu
benar-benar ada, kalau begitu ukuran dari tempat ini bakal ada di level puluhan
atau bahkan ratusan kilometer.
Mencoba untuk membuat
hal ini menggunakan teknologi yang ada, meskipun menggunakan tempat penyimpanan
yang tersedia di internet gak akan bisa muat untuk mencangkup seluruh data yang
dibutuhkan. Hanya teknologi terbaru... ... seperti «Visual Mnemonic» dari STL,
yang bukan hanya bisa membuat pemandangan yang mustahil di kenyataan, tapi
dapat membuat objek berukuran besar seperti ini, Aku benar-benar gak
membayangkan nya.
Kalau begitu, kalau
tebakanku kalau tempat ini adalah Underworld, dunia virtual yang diciptakan
dengan STL, itu benar, mustahil untuk memastikan nya gak peduli tindakan apa
yang kulakukan didalam nya.
Itu karena semua objek
yang ada disini, bukan, semua 'hal' disini ada pada level yang sama dengan
kenyataan dalam kesadaran ku. Gak peduli seberapa banyak rumput yang kurobek,
informasi yang sama seolah-olah Aku melakukan nya didunia nyata akan terkirim
kedalam kesadaran ku — Fluctlight ku, jadi memang mustahil secara teori untuk
memastikan kalau dunia ini adalah eksistensi virtual.
Jadi, kalau STL akan
digunakan dalam komersial, sebuah tanda untuk mengidentifikasi kalau ini adalah
dunia virtual seharusnya sangat dibutuhkan... ... Aku berdiri selagi memikirkan
hal itu.
Meskipun Aku masih
belum mendapatkan bukti konkrit, lebih baik befikir kalau tempat ini adalah
Underworld. Itu berarti sekarang di dunia nyata, Aku sedang berbaring didalam
mesin eksperimen STL di kantor pengembangan Roppongi milik RATH, melakukan
kerja paruh waktu bergaji 2000 yen per jam.
"Tapi... ... bukan
nya ini aneh... ...?"
Setelah beberapa momen
lega, Aku memiringkan kepala ku lagi.
Sang operator, Higa
dengan jelas mengatakan kalau untuk mencegah kontaminasi dari test data, memori
dunia nyata dari Kirigaya Kazuto seluruhnya akan diblokir. Tapi saat ini, yang
gak bisa kuingat hanya satu hari, dari mengantar Asuna pulang sampai Aku pergi
kedalam STL di RATH besok nya, hal itu jauh dari kata diblokir.
Dan juga —— berhubung
ujian akhir sudah dekat, bukan nya Aku memutuskan untuk keluar dari kerja paruh
waktu ini untuk belajar? Kupikir Aku bukanlah orang yang dengan mudah nya
melanggar janji ku dengan Asuna setelah sehari hanya karena gaji perjam yang
besar.
Selain itu, dari
situasi ini, meskipun ini adalah test Dive STL, gak diragukan lagi kalau
terjadi suatu masalah. Aku melihat kearah langit biru diantara cela-celah dari
puncak pohon dan berteriak dengan suara yang lantang,
"Higa-san, kalau
kau sedang mengamati, hentikan proses Dive untuk sementara! Sepertinya sedang
terjadi suatu masalah!"
Aku berteriak seperti
itu, menunggu jawaban selama lebih dari 10 detik.
Namun, dedaunan terus
melambai dibawah cahaya matahari, kupu-kupu terus mengepakkan sayap nya dengan
lemah, gak ada perubahan dari pemandangan sekitar.
"... ...Uu...
...mungkin, ini... ..."
Aku mengerang dengan
suara yang pelan menuju suatu kemungkinan yang tiba-tiba kusadari.
Mungkin Aku telah
menyetujui eksperimen ini —— apakah seperti itu?
Dengan kata lain, agar
mereka dapat memperoleh data tentang tindakan yang akan kulakukan kalau Aku
berada ditempat yang Aku gak bisa yakin apakah tempat itu adalah dunia virtual
atau kenyataan, mereka memblokir memori ku tepat sebelum melakukan Dive dan
melemparku ke dunia super nyata yang berbeda yang diciptakan dengan STL.
Kalau seperti itu, Aku
merasa ingin menampar wajah ku yang dengan mudah nya setuju terhadap eksperimen
kejam tersebut. gak salah untuk mengatakan kalau sangat dangkal kalau berfikir
kalau Aku dengan mudah nya menemukan cara yang akurat dan cepat untuk lari dari
situasi ini.
Aku menghitung persentase
dari kemungkinan yang dengan cukup dapat menjelaskan situasi sekarang sambil
melipat jari-jari tangan kanan ku.
"Hmm... ...
kemungkinan kalau ini adalah kenyataan adalah... 3 persen. Dunia VR saat ini...
7 persen. Kesetujuan ku dalam melakukan test Dive kedalam STL... 20 persen.
Kecelakaan mendadak saat melakukan Dive... 69.0000 persen... ..."
Difikiran ku, Aku
menambah kemungkinan 0.0001 persen terakhir kalau Aku hilang kedalam dunia yang
benar-benar berbeda. Dan itu adalah batas dari hal yang bisa kupikirkan. Untuk
mendapatkan informasi lebih, Aku harus dengan berani menantang bahaya dan
mencoba untuk mengontak manusia lain atau pemain atau test Diver.
Jadi sekarang waktu
nya untuk bertindak.
Pertama-tama, Aku
ingin melegakan tenggorokan ku yang kering sampai sekarang. Aku
membalikkan tubuh ku di tengah-tengah rumput yang menyelimuti tanah dimana Aku
berdiri. Menuju kearah dimana samar-samar suara arus datang, dilihat dari
lokasi matahari, mungkin kearah timur.
Sebelum Aku mulai
bergerak, tangan kanan ku meraba-raba punggung ku lagi, tentu saja gak ada
sebuah stik disana, apalagi pedang. Aku menendang perasaan putus asa jauh-jauh
saat Aku melangkahkan kaki kanan ku, hanya 10 langkah yang dibutuhkan untuk
mencapai ujung tanah yang dilapisi rumput. Aku melewati dua pohon tua yang
tumbuh seolah-olah adalah gerbang alami, dan melangkah kedalam hutan yang
dalam.
Lantai hutan ini
ditutupi dengan lumut tebal yang seperti beludru, ruang nya terasa asing dan
mencurigakan. Daun-daun dari pepohonan yang tumbuh tinggi hampir seluruhnya
menghalangi cahaya matahari, hanya lintasan cahaya emas yang sempit yang dapat
sampai ke tanah. Kupu-kupu yang menari-nari di sekitar rumput tergantikan oleh
kumbang aneh yang terlihat seperti capung atau ngengat, mereka meluncur tanpa
suara di udara. Kadang-kadang, suara dari sesuatu datang dari suatu tempat
masuk ketelinga ku. Itu adalah hal yang kupikir gak ada di bumi di dunia nyata.
Aku berjalan selama
sekitar 15 menit sambil berdoa agar binatang ganas yang besar atau monster gak
akan muncul. Aku merasa sangat lega saat jalan yang dibanjiri oleh cahaya
matahari dapat terlihat oleh ku. Suara dari air menjadi jelas, Aku yakin kalau
didepan sana adalah sungai. Aku secara alami mempercepat langkah ku sambil
menahan rasa haus di tenggorokan ku.
Saat Aku buru-buru
pergi keluar hutan, dipisahkan oleh area tiga meter yang dipenuhi rumput,
adalah permukaan air, yang dimana cahaya silver dari matahari memantul dan
memasuki mata ku.
"A-Air——”
Dengan gerangan sedih,
Aku berjalan terhuyung-huyung pada jarak terakhir, sebelum menjatuhkan tubuh ku
ke semak halus di sisi sungai.
“Uo……”
Aku tanpa sengaja
mengangkat suara ku saat Aku meletakkan nya di perut ku.
Benar-benar arus yang
indah. Sungai ini gak lebar, selagi Aku merayap, Aku dapat melihat aliran
air yang transparan. Seperti tetesan cat biru yang ada di warna yang kurang,
Aku dapat dengan jelas melihat pasir di permukaan sungai melalui arus yang
benar-benar jernih.
Sampai beberapa detik
yang lalu, dengan sedikit kemungkinan yang tersisa kalau tempat ini adalah
dunia nyata, Aku masih memikirkan bahaya akan meminum air mentah. Namun,
melihat arus yang terlihat seolah-olah seperti kristal yang cair, tak bisa
menahan godaan, tangan kanan ku terjun kedalam permukaan sungai. Dengan suara
yang tinggi seolah-olah memotong air yang dingin, tangan kanan ku menuang air
itu kedalam mulut ku.
Apakah ini bisa
dibilang manis? Aku gak bisa merasakan sedikitpun kotoran, rasa air yang
manis dan melegakan membuat ku gak ingin lagi membeli air mineral di toko lagi.
Setelah menggunakan kedua tangan untuk mengambil air dengan cepat, Aku akhirnya
memasukkan mulut ku ke permukaan air.
Selagi befikir kalau
ini benar-benar rasa dari air kehidupan, di sudut fikiran ku, kemungkinan kalau
tempat ini adalah dunia virtual yang diciptakan dengan mesin FullDive sekarang
telah sepenuh nya tereliminasi.
Itu karena, untuk
mesin yang paling umum sekarang —— yang bernama AmuSphere, mustahil untuk
menciptakan ulang cairan sesempurna ini. Polygon adalah angka koordinat tak
terhingga yang membentuk permukaan berlevel sebelum terhubung satu sama lain
untuk membuat sebuah objek, dan gak cocok untuk menciptakan bentuk
keserampangan dan rumit dari air. Namun, keadaan air yang bergoyang di tangan
ku, tumpah, dan mengalir kebawah sama sekali gak memiliki tanda-tanda kalau itu
adalah buatan.
Aku juga ingin
menghilangkan kemungkinan kalau tempat ini adalah dunia nyata —— selagi
berfikir seperti itu, Aku mengangkat tubuh ku dan melihat kesekitar
lagi. Sungai yang amat jernih, hutan luar biasa yang terus membentang
sepanjang pinggir sungai, dan warna binatang kecil yang sangat jelas, Aku gak
yakin hal itu ada dimanapun di bumi. Umumnya, bukan nya yang namanya alam kalau
disentuh oleh tangan manusia akan menjadi lingkungan yang buruk? Dan juga, apakah
ada suatu alasan Aku gak digigit serangga sampai sekarang, meskipun Aku
mondar-mandir sementara dengan pakaian yang enteng seperti ini?
——Memikikan hal ini,
Aku punya perasaan kalau STL dapat memanggil gerombolan besar serangga beracun,
Aku berdiri sambil menyingkirkan pemikiran itu. Setelah Aku mengatur ulang
kemungkinan kalau tempat ini adalah dunia nyata menjadi satu
persen, sekarang, Aku melihat ke arah kanan dan kiri.
Aliran sungai
membentuk kurva secara bertahap dari utara ke selatan. Ujung dari kedua arah
tertutupi oleh kumpulan pohon besar. Namun, dari kebersihan nya, kedinginan
nya, dan lebarnya, kupikir sumber dari sungai ini seharusnya agak dekat. Kalau
begitu, akan tinggi kemungkinannya ada rumah atau kota di hilir sungai ini.
Akan mudah kalau Aku
punya perahu... Fikir ku sembari mulai berjalan menuju hilir —— pada saat
itu,
Angin sepoi-sepoi yang
sedikit berubah arah sedikit mengeluarkan suara yang ganjil memasuki telinga
ku.
Sesuatu yang keras,
entah itu pohon yang besar atau sesuatu yang mirip tertancap sesuatu, suara
seperti itu. Bukan hanya sekali. Aku mendengarkan suara dengan laju yang tetap
dengan interval sekitar 4 detik.
Suara itu bukan beasal
dari binatang atau sumber alam. Suara itu jelas adalah suara yang dibuat orang.
Suara itu jelas adalah suara seseorang yang sedang memotong pohon di hutan ini.
Tapi mencoba untuk mendekatinya mungkin akan berbaaya, Aku membuat senyum
pahit setelah berfikir sementara waktu. Toh ini bukanlah dunia MMORPG
dimana bertarung dan membunuh dianjurkan. Membuat kontak dengan orang lain dan
mendapatkan informasi adalah pilihan berprioritas utama saat ini.
Aku berbalik setengah
putaran menuju hulu sungai, dimana suara gema itu berasal.
Tiba-tiba, Aku
mempunyai perasaan kalau Aku melihat pemandangan yang aneh.
Di sisi kanan adalah
permukaan sungai yang beriak. Hutan yang lebat dan dalam di sisi kiri. Di depan
adalah jalan hijau yang membentang menuju suatu tempat.
Disana, tiga anak
berjalan saling berdampingan. Diantara anak laki-laki berambut hitam dan anak laki-laki
berambut coklat muda, adalah anak perempuan yang memakai topi jerami yang
rambut panjang emas nya berayun dan berkilau. Dibawah sinar matahari musim
panas, cahaya emas tersebar dengan bebas.
Ini —— memori... ...?
Jauh, hari-hari yang
tak bisa kembali. Kepercayaan abadi yang mereka bersumpah untuk melakukan
segala nya untuk melindungi, tapi seperti bongkahan es dibawah cahaya matahari,
perlahan menghilang—
Hari-hari nostalgia itu
Bagian
2
Hanya setelah Aku
mengedip sekali, pemandangan ilusi itu tiba-tiba hilang, seperti saat
pemandangan itu muncul.
Apa itu
tadi? Meskipun ilusi itu sudah hilang, perasaan nostalgia yang muncul tak
kunjung pergi, bagian tengah dada ku terasa kencang dan sakit.
Ingaan masa
kanak-kanak—— Aku punya prasangka kuat saat Aku melihat tiga anak yang sedang
berjalan di tepi sungai. Anak laki-laki berambut hiam yang berjalan dikanan,
itu Aku kan?
Tapi hal seperti itu
mustahil. Berhubung di Kawagoe, tempat Aku tinggal tidak ada hutan ataupun
sungai yang jernih seperti itu, dan Aku tidak pernah punya teman dengan warna
rambut seperti itu juga. Dan juga, ketiga anak tersebut memakai pakaian fantasi
yang sama seperti yang kupakai sekarang.
Kalau ini didalam STL,
ilusi barusan adalah ingatan dari Diving yang kulakukan terus menerus pada
minggu pertama? Tapi meskipun berfikir seperti itu, karena fitur Akselerasi
Fluctlight, Aku seharusnya hanya berada di dalam STL selama paling banyak 10
hari. Waktu sesedikit itu tidak mungkin bisa membuat ku merasakan sakit di dada
karena nostalgia seperti barusan.
Situasi ini sepertinya
mulai menjauh dan menjauh menuju arah yang tidak bisa dijelaskan. Apakah
Aku benar-benar siapa yang kupikirkan? selagi keraguan itu kembali padaku,
Aku dengan takut melihat ke permukaan sungai disamping ku, namun, Aku tidak
bisa melihat perbedaan nya berhubung wajah ku terdistorsi karena dipantulkan
oleh arus yang bergelombang.
Selagi Aku mencoba
untuk melupakan rasa sakit dari sisa ingatan ku untuk sekarang, suara yang
terus menerus berbunyi yang memasuki telinga ku menjadi jelas. Saat Aku mencoba
mendengarkan nya lagi, suara ini juga membuatku merasa nostalgia, tapi Aku
tidak tau kalau Aku pernah mendengar suara dari pohon yang ditebang sebelum
nya. Aku menggelengkan kepala ku sebelum mulai berjalan melawan arus lagi.
Sementara Aku
menggerakkan kedua kaki ku, Aku mendapat kesempatan untuk sekali lagi menikmati
pemandangan yang indah ini, kemudian Aku menyadari kalau arah ku berjalan telah
menyimpang kearah kiri. Sepertinya, sumber dari suara itu bukan berasal dari
tepi sungai, tapi dari tempat yang lebih dalam didalam hutan disebelah kiri ku.
Suara aneh yang kucoba
untuk kuhitung dengan jari ku tidak terus bergema secara konstan. Suara itu
terulang tepat sebanyak 50 kali, kemudian diselingi oleh jeda sekitar 3 menit,
sebelum melanjutkan 50 kali lagi. Akhirnya Aku yakin kalau suara itu pasti
suara yang dibuat manusia.
Selama 3 menit tanpa
suara, Aku berjalan dengan mengira-ngira ke arah sumber dari suara itu,
kemudian mengatur arah sedikit saat mendengar suara itu berlanjut. Aku telah
berpisah dengan tepi sungai dan kembali ke dalam hutan. Aku melanjutkan tanpa
suara sembari bertemu kembali dengan capung yang aneh, kadal biru dan jamur
raksasa.
"......Empat
puluh sembilan, ......lima puluh..."
Terdengar suara kecil
yang menghitung pada jumlah yang sama saat tebasan ke 50 berakhir, itulah saat
kemudian Aku menyadari kalau celah dari pohon-pohon didepan menjadi lebih
terang. Jadi itu pintu keluar hutan? Atau mungkin disana ada desa.
Aku mempercepat langkah ku menuju cahaya.
Aku memanjat akar
pohon yang tumbuh keatas seperti tangga dan saat wajah ku keluar dari bayangan
batang pohon tua, di depan mata ku muncul —— pemandangan yang bisa dibilang tak
bisa dipercaya.
Meskipun hutan ini
berakhir sampai disini, tidak ada desa. Namun Aku tidak punya waktu untuk
merasa kecewa, Aku melamun sambil menatap dengan mulut terbuka.
Tempat ini adalah
tempat terbuka dihutan yang melingkar. Tempat ini pastinya lebih lebar
dibanding tempat dimana Aku bangun. Diameter nya sekitar 30 meter. Dan juga, tanah
yang ditutupi oleh lumut hijau dan emas berbeda dengan yang ada di hutan yang
telah kulewati, tidak ada tanaman paku, tanaman merambat, ataupun semak pendek
sama sekali.
Kemudian,
ditengah-tengah tempat terbuka ini, pandangan ku terfokus kearah sesuatu yang
menjulang sangat tinggi.
Besar sekali pohon
ini!
Mengira-ngira dengan
mata ku, diameter nya seharusnya tidak kurang dari 4 meter. Pohon-pohon yang
kulihat sampai sekarang di hutan ini semuanya adalah pohon berdaun lebar dengan
batang yang keras dan kasar, tapi pohon raksasa yang menjulang tinggi didepan
mata ku ini adalah pohon berdaun tajam. Kulit nya berwarna gelap mendekati
hitam, dan melihat keatas, Aku dapat meliha cabang nya tersebar tinggi
keangkasa. Sementara Aku memikirkan seberapa besarnya pohon cedar Jomon di
Yakushima dan pohon cedar Sequoia di Amerika yang kulihat dari foto dan video,
Aku tidak habis fikir kalau kebearadaan luar biasa dari pohon ini bisa ada di
dunia alam, dan Aku merasakan pohon itu memancarkan aura dari seorang kaisar.
Pandangan ku pergi ke
puncak nya, yang sepenuhnya menghalangi pemandangan diatas nya, kembali pada
bagian dasar nya. Aku melihat akar yang seperti ular besar yang bergerak akan
menyebar seperti jala di seluruh arah, hampir mencapai batas hutan dimana Aku berdiri.
Atau tepat nya, pohon ini menyerap seluruh kesuburan tanah, dan tidak ada
tanaman lain selain lumut yang dapat tumbuh, menghasilkan tempat terbuka yang
luas ini ditengah hutan.
Berfikir akan
mengganggu taman milik kaisar membuatku sedikit ragu, tapi godaan untuk
menyentuh batang dari pohon besar ini membuat kaki ku bergerak kedepan.
Meskipun Aku beberapa kali tersandung karena liat-liut akar dibawah lumut, hal
itu tidak menghentikan ku dari melihat keatas melebihi kepala ku, Aku
pelan-pelan melanjutkan.
Aku, yang mendekati
batang pohon besar itu sambil menghela nafas berkali-kali karena kagum,
benar-benar telah lupa akan waspada terhadap sekitar. Sebagai hasil nya, sudah
terlalu terlambat bagiku untuk menyadari nya.
“————!?”
Pandangan ku, yang
tiba-tiba kembali melihat lurus kedepan, bertemu dengan wajah seseorang yang
mata nya menatap ku dari balik batang pohon. Aku menahan nafas ku. Karena
terkejut, Aku mundur setengah langkah sebelum kemudian terjatuh ke tanah.
Tangan kanan ku hendak mengambil sesuatu dari punggung ku, tapi tentu saja,
tidak ada pedang disitu.
Untung saja,
sepertinya orang peratma yang kutemui didunia ini tidak menunjukkan sikap
permusuhan ataupun waspada, hanya memiringkan kepalanya dengan bingung.
Umurnya seharusnya
sama dengan ku —— Aku melihat kearah anak itu, umurnya sekitar tujuhbelas, atau
delapanbelas. Rambut coklat nya yang kelihatan halus sedikit bergelombang. Ia
memakai pakaian dan celana yang sama dengan yang kupakai. Ia menggunakan akar
dari pohon besar itu sebagai kursi untuk diduduki, dan ditangan kanan nya
terdapat sesuatu yang bundar.
Ada yang aneh dari
penampilan nya. Meskipun kulitnya berwarna krim, ia tidak bisa dibilang orang
barat dan pada saat yang sama, ia tidak bisa dibilang orang timur juga. Aku
melihat kearah mata hijau tua pada wajahnya yang kurus dan halus itu.
Pada saat Aku melihat
wajah nya, kepalaku...... didalam jiwaku merasakan denyutan yang sakit. Namun,
perasaan itu tiba-tiba hilang pada saat Aku mencoba untuk memahami nya. Aku
dengan sabar mencoba untuk melupakan nya, untuk sekarang, Aku membuka mulut ku
untuk menyatakan kalau Aku tidak punya rasa permusuhan terhadap
nya. ——Tapi, apa yang harus kukatakan? Dan sebelum itu, bahasa apa yang
harus kugunakan? Aku sama sekali tidak tau. Selagi Aku membuka dan menutup
mulutku berulang-ulang seperti seorang idiot, anak itu berbicara duluan.
"Siapa kamu?
Darimana asal mu?"
Intonasi yang sedikit
asing itu diucapkan dengan —— bahasa Jepang yang sempurna.
Aku terkaget seperti
saat Aku pertama kali melihat pohon hitam raksasa itu, dan terdiam untuk
sementara. Di tempat ini, yang tidak peduli bagaimanapun kulihat, bukanlah
Jepang, mendengar bahasa asli ku di dunia yang berbeda ini sama sekali tidak
kuperkirakan. Setelah Aku terbiasa mendengarkan kata-kata yang mengalir keluar
dari mulut anak itu, yang memakai baju eksotis Eropa barat pada Zaman
Pertengahan, hal ini terasa seperti bukan kenyataan, seolah-olah Aku melompat
kedalam film barat yang di dubbing.
Namun, ini bukan
situasi yang bisa membuat ku asyik. Ini adalah situasi dimana Aku melatih
pikiran ku. Aku mulai untuk mati-matian memutar otak ku, yang rasanya udah
karatan akhir-akhir ini.
Anggaplah kalau dunia
ini adalah dunia virtual yang dibuat dengan STL, dengan kata lain,
«Underworld». Anak didepan ku adalah, ① seorang test-player
pada saat Dive, dan mempunyai ingatan dunia nyata seperti diriku ini, ② seorang test-player tapi ingatan nya diblokir, menjadi penduduk
di dunia ini, atau ③ sebuah NPC yang
dioperasikan oleh program.
Kalau yang pertama
akan cepat ceritanya. Aku tinggal menjelaskan situasi aneh ku kepadanya dan
menanyakan cara log out dari dunia ini.
Tapi kalau yang kedua
atau ketiga, situasinya tidak akan mudah. Bagi manusia yang berperan sebagai
penduduk Underworld atau sebuah NPC, kalau Aku tiba-tiba mengatakan sesuatu
yang mereka tak bisa mengerti seperti hal aneh pada Soul Translator atau cara
untuk log out, hal itu bisa menyebabkan tingkat waspada yang tinggi yang akan
membuatku lebih sulit untuk mendapatkan informasi.
Jadi, Aku perlu
memilih kata-kata yang aman untuk berbicara pada anak ini dan mengetahui posisi
nya. Sembari diam-diam mengelap keringat dingin di tangan ku dengan
celana, Aku membuat wajah senyum dan membuka mulut ku,
"Umm...... nama
ku......"
Aku merasa ragu untuk
beberapa saat. Gaya Jepang atau gaya Barat, yang mana yang umum digunakan
di dunia ini? Aku kemudian memberikan nama ku sambil berdoa kalau gaya
bahasa ku akan cocok.
"——Kirito. Aku
datang dari arah sana, tapi pada saat itu Aku nyasar sedikit......"
Sembari berbicara, Aku
menunjuk kearah dibelakang ku, mungkin ke arah selatan, dan anak itu melihat ku
dengan terkejut. Setelah menaruh benda bundar di tangan kanan nya, ia berdiri
dengan cepat, kemudian menunjuk kearah yang sama dengan yang kutunjuk.
"Dari situ......
hutan bagian selatan? Kamu dari Zakkaria?"
"Bu-Bukan...
bukan seperti itu."
Wajah ku menjadi kaku
pada dilema yang tiba-tiba, tapi Aku bisa menjawab nya,
"Itu, erm......
Aku juga tidak tau dari mana Aku berasal...... Aku mendapati diriku sedang
tertidur di tengah hutan saat Aku bangun......"
'Oh, apakah ada yang
salah dengan STL? Tunggu sebentar, Aku akan mengontak operator.' ——adalah
jawaban yang kuinginkan dari lubuk hati ku, namun, anak itu masih terlihat
terkejut, dan bertanya padaku sementara masih menatap wajah ku,
"Hmm...... tidak
tau dari mana kamu berasal...... bagimana dengan kota tempat kamu tinggal
sampai sekarang......?"
"A-Ah...... Aku
tidak ingat. Satu-satu nya hal yang kuingat hanyalah nama ku......"
"......Benar
benar mengejutkan ......«Perbuatan Iseng Vector», huh. Meskipun sebelum nya Aku
pernah dengar...... tapi ini pertama kali nya Aku benar-benar melihatnya."
"Perbuatan
iseng... Vector......?"
"Eh, kamu tidak
pernah mendengar nya dari kampung halaman mu? Itu adalah yang dikatakan
penduduk desa ku sebagai orang yang pada suatu hari tiba-tiba menghilang, dan
kemudian, tiba-tiba muncul di hutan atau di lapangan. Dewa kegelapan Vector
senang berbuat iseng pada manusia dengan menculik nya, dan mengambil ingatan
nya sebelum melempar nya ke tanah yang jauh. Dulu sudah lama sekali, wanita tua
di desa ku menghilang."
"H-Heh......
Kalau begitu mungkin Aku juga seperti itu......"
Situasi ku menjadi
lebih mencurigakan, Aku mengangguk, Anak didepan ku sepertinya bukanlah
test-player yang diberi peran. Sembari emosi ku dipacu sampai dinding, Aku
mulai mengatakan sesuatu yang sedikit lebih berbahaya,
"Dan juga......
ada masalah lain, dan Aku ingin pergi dari sini. Tapi... Aku tidak tau gimana
caranya......"
Aku berdoa sepenuh
hati agar hal ini akan membuatnya mengerti situasi ku, suatu simpati terlihat
di mata hijau anak itu ketika ia mengangguk dan berkata,
"Ya, kalau tidak
tau arah, memang wajar untuk tersesat di hutan yang dalam. Tapi tenang aja,
kalau kamu pergi kearah utara dari sini, kamu akan menemukan jalanan."
"Bu-Bukan...
erm......"
Yah, lakukan saja
lah, Aku mengatakan sebuah kata kunci utama,
"......Aku ingin
log out."
Aku menaruh secercah
harapan ku pada kata-kata ini, anak itu memiringkan kepalanya sebelum bertanya,
"Log...... apaan
tuh? Apa yang kamu maksud?"
Sepertinya dengan ini
sudah terkonfirmasi.
Dia adalah test-player
yang menjadi penduduk tanpa tau apapun kalau tempat ini adalah «Dunia Virtual»,
atau sebuah NPC. Sementara Aku bersikap waspada untuk tidak menunjukkan
ekspresi kecewa di wajah ku, Aku entah bagaimana menambahkan beberapa kata
untuk membohongi nya,
"Ma-Maaf,
sepertinya Aku menggunakan susunan kata yang salah untuk wilayah ini. Hmm......
Maksudku apakah ada desa atau kota yang bisa kutinggali."
Menyakitkan bagiku
untuk mengatakan hal ini. Anak itu kemudian mengangguk memberi apresiasi.
"Heh..... Ini
pertama kalinya Aku mendengar kata-kata seperti itu. Rambut hitam mu juga tidak
biasa disini...... mungkin saja kamu lahir di selatan."
"I-Iya,
sepertinya."
Aku memberikan senyum
kaki selagi melihat kearah anak yang tersenyum tanpa ragu, kemudian, ia
mengerutkan dahi dengan rasa kasihan.
"Hmmm, tempat
untuk tinggal. Meskipun desa ku hanya sedikit keutara, karena tidak ada
pengembara disekitar sini, jadi tidak ada penginapan. Tapi...... kalau kamu
menjelaskan keadaan mu, mungkin Suster Azariya akan menolong mu dan
membolehkan mu tinggal di gereja."
"Be-Begitukah,
bagus kalau begitu."
Itu benar-benar
perasaan ku. Kalau ada desa, mungkin juga disana ada seorang petugas dari RATH
yang sedang Diving, atau mereka mungkin mengamati desa itu dari luar.
"Kalau begitu Aku
akan pergi ke desa. Apa tinggal keutara dari sini?"
Pandangan ku berpaling
hampir kearah sebaliknya dari dimana Aku datang kesini dan disana Aku melihat
jalan sempit yang membentang. Namun, sebelum kaki ku mulai bergerak, anak itu
membuat isyarat menggunakan tangan kiri nya untuk menghentikan ku.
"Ah, tunggu
sebentar. Di desa itu ada penjaga, mungkin akan sulit untuk menjelaskan situasi
mu kalau kamu tiba-tiba datang kesana sendirian. Aku akan menemanimu dan
membantu menjelaskan keadaan."
"Wah itu akan
banyak membantu, terima kasih."
Aku tersenyum dan
berterima kasih, pada saat yang sama, Aku menggumam difikiran
ku, sepertinya Kamu bukan NPC. Balasan mu terlalu natural untuk program
kepribadian-semu yang hanya bisa bertindak sesuai respon yang ditentukan, dan
tindakan aktif mu barusan juga tidak seperti NPC.
Meskipun Aku tidak tau
apakah dia melakukan Dive dari kantor pengembangan di Roppongi, atau dari
kantor utama disuatu tempat di area teluk, pemilik Fluctlight yang menggerakkan
anak didepan ku ini benar-benar mempunyai sifat yang baik. Begitu Aku keluar
dengan selamat, Aku ingin berterima kasih pada nya.
Selagi Aku memikirkan
hal ini, anak itu menunjukkan wajah muram lagi.
"Ah...... tapi,
Aku masih belum bisa pergi sekarang...... Aku masih kerja......"
"Kerja?"
"Iya. Aku sedang
istirahat sekarang."
Aku memalingkan
pandangan ku ke sesuatu yang dibungkus oleh kain disamping kaki anak itu, dua
barang yang salah satu darinya yang dapat terlihat sepertinya adalah roti
bundar, Jadi itu yang ia pegang tadi. Sementara objek lain nya hanyalah botol
air yang dibuat dari kulit, benar-benar menu yang simpel untuk makan siang.
"Ah, apakah Aku
menganggu waktu istirahat mu?"
Aku menurunkan leher
ku, sementara anak itu tersenyum malu-malu.
"Kalau kamu bisa
menungguku menyelesaikan pekerjaan ku, Aku akan menemani mu untuk memohon pada
Suster Azariya untuk membolehkan mu tinggal di gereja...... tapi mungkin
sekitar empat jam lagi."
Aku sebenarnya ingin
pergi ke desa dan mencari seseorang yang bisa menjelaskan situasi ini
secepatnya, tapi perasaan bahwa aku ingin menghindari percakapan lebih lanjut
yang seperti menginjak es tipis bahkan lebih besar. Empat jam bukan waktu yang
sebentar tapi saat memikirkan tentang fitur akselerasi dari STL, waktu di dunia
nyata hanya akan berjalan sekitar satu jam dan beberapa menit.
Dan juga, untuk suatu
alasan yang tidak kumengerti, Aku juga merasa kalau Aku ingin berbicara dengan
anak yang ramah ini lebih banyak lagi. Aku mengangguk lalu berkata.
"tidak apa-apa,
akan kutunggu. Aku mungkin akan merepotkan mu, tapi mohon bimbingan nya."
Kemudian, senyuman
yang lebih cerah dari sebelumnya tampak di wajah anak itu dan mengangguk.
"Oke, kalau
begitu... duduk saja disitu untuk sementara. Ah...... Aku masih belum
memberitahu namaku."
Anak itu menjulurkan
tangan kanan nya sambil melanjutkan,
"Namaku Eugeo.
Senang bertemu dengan mu, Kirito-kun."
Menjabat tangan nya yang kuat, yang berlawanan dengan tubuhnya yang kurus, Aku mengulang nama anak itu beberapa kali di mulut ku. Nama itu tidak ada dalam ingatan ku, Aku tidak tau dari bahasa apa itu, tapi entah kenapa Aku merasa kalau nama itu familiar dengan mulut ku untuk suatu alasan.
Anak yang menyebut
dirinya Eugeo menarik kembali tangan nya dan kembali duduk di kaki pohon besar,
sebelum mengeluarkan rota bundar dari bungkusan kain dan menawarkan nya padaku.
"Ti-Tidak, Aku
tidak bisa..."
Aku buru-buru
mengibaskan tangan ku, tapi anak itu tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah.
"Kirito-kun pasti
lapar, kan? Kamu belum makan apapun, kan?"
Seperti yang ia
katakan, Aku tanpa sadar menaruh tangan ku di perut untuk menahan rasa lapar
yang menyerang. Meskipun air sungai itu terasa enak, Aku tidak bisa bilang
kalau hal itu bisa membuatku kenyang.
"Tidak...
tapi......"
Aku masih menahan
diriku, tapi tangan yang memegang roti itu terus maju, Aku kemudian terpaksa
menerima nya. Anak itu —— Eugeo nyengir dan mengangkat bahu.
"Tidak apa-apa.
Meskipun Aku bilang seperti Aku ingin kamu memakan nya, sebenarnya, Aku tidak
suka roti ini."
"......Kalau
begitu dengan syukur Aku akan menerimanya, Aku benar-benar lapar sampai ke
titik dimana Aku bisa pingsan kapanpun."
'Itu yang Aku
pikirkan,' Selagi Eugeo terawa dan duduk di akar di depan pohon, Aku menambahkan,
"Oiya, panggil
Aku Kirito saja."
"Oh? Kalau begitu
panggil saja Aku Eugeo juga...... Ah, tunggu sebentar."
Eugeo mengangkat
tangan kiri nya untuk menghentikan ku dari memasukkan roti bundar ini kedalam
mulut ku.
“……?”
"Yah, berhubung
ini bukan 'Pan' yang bisa tahan lama, sekedar memastikan saja."
Mengatakan hal itu,
tangan kiri Eugeo bergerak sementara tangan kanan nya memegang roti. Jari
telunjuk dan tengah nya membentang sejajar dengan rapi dengan jari-jari lain
nya yang dilipat. Dengan bentuk tangan nya itu, ia menggambar jejak yang
terlihat seperti huruf alfabet S dan C di udara.
Didepan ku, yang
sedang melihat dengan tercengang, kedua jarinya mengetuk pelan roti dan
mengeluarkan suara aneh yang seperti logam yang diketuk dan kemudian muncul
persegi panjang ungu pucat transparan. Lebar nya sekitar 15 centimeter,
sementara tinggi nya sekitar 8 centimeter. Menurut pengetahuan ku, persegi
panjang yang tampak familiar itu, bersama dengan alfabet dan huruf arab yang
tampil itu menggunakan bentuk yang simpel yang Aku bisa langsung mengerti. Itu
adalah —— sudah pasti, yang disebut «Status Window».
Dengan mulut ku yang
terbuka, Aku berbicara pada diriku sendiri.
——Kalau begitu sudah
pasti. Tempat ini bukanlah dunia nyata atau yang lain nya, tapi adalah dunia virtual.
the anxiety would eat
up my whole body. Tubuhku terasa lebih ringan karena lega saat Aku mengetahui
hal itu. Sekarang Aku 99% yakin. Sungguh, tanpa bukti yang nyata ini, rasa
gelisah pasti sudah akan memakan seluruh tubuh ku.
Sementara permasalahan
tentang Dive masih belum diketahui, untuk saat ini, Aku lebih baik membiasakan
diri dengan dunia virtual ini dan menikmati situasi nya. Pertama-tama, Aku
harus mencoba membuka window itu, Aku membentangkan dua jari tangan kiri
ku kedepan.
Aku meniru apa yang
kulihat dengan membuat jejak berbentuk S dan C, dengan ragu mengetuk roti ku,
membuat suara yang mirip seperti bunyi bel, dan window ungu pun muncul. Aku
mendekatkan wajah ku dan menatap nya.
Rangkaian tampilan ini
ternyata cukup simpel. Hanya muncul [Durability: 7]. Aku dengan mudah bisa
mengerti kalau itu adalah nilai daya tahan dari roti ini. Selagi memikirkan
tentang apa yang akan terjadi kalau nilai itu mencapai angka 0 sambil menatap
roti ini; didepan ku, Eugeo dengan ragu bertanya,
"Hey, Kirito. Jangan
bilang kalau ini pertama kalinya kamu melihat Sacred Arts, «Stacia Window»?”
Saat Aku mengangkat
wajah ku, Aku melihat Eugeo dengan kepalanya yang dimiringkan sambil memegang
roti dengan satu tangan nya, window nya sudah menghilang. Aku dengan segera
membuat wajah yang seperti mengatakan 'Jangan bilang hal yang tidak masuk akal
seperti itu.' Saat Aku menyentuh permukaan nya, window iu berubah menjadi
kilatan cahaya dan tersebar hilang, Aku merasa agak lega.
Untung saja, Eugeo
tidak menunjukkan keraguan lagi dan mengangguk.
"Masih ada cukup
banyak «Life» yang tersisa, jadi tak perlu buru-buru makan nya. Tapi kalau
sekarang musim panas, tak akan tersisa sebanyak ini."
Mungkin «Life» yang ia
sebutkan itu adalah jumlah nilai yang ditampilkan dari [Durability], dan status
window yang menampilkan hal tersebut dinamakan «Stacia Window». Melihat «action
command» yang memanggil window disebut sebagai sacred arts, Eugeo tidak tau
kalau hal tersebut adalah sebuah fungsi dari sistem, tapi menganggap nya
sebagai fenomena ajaib.
Masih banyak hal yang
perlu dipikirkan, tapi lebih baik kusimpan dulu untuk sekarang dan segera
mengatasi rasa lapar ku sekarang.
"Kalau begitu,
itadakimasu."
Aku mendekatkan roti
ke mulut ku yang terbuka segera setelah mengatakan hal itu, tapi kekerasan dari
roti ini membuat mata ku menggelap. Namun, Aku tidak bisa memuntahkan nya juga,
jadi Aku dengan paksa menggigit dan merobeknya. Aku tanpa sadar tersanjung akan
rasa gigi yang bergoyang di dunia vurtial ini.
Roti ini mirip atau
bahkan mungkin lebih keras daripada roti gandum yang dibeli oleh adik perempuan
ku, Suguha. Rasa lapar ku memerintah mulut ku untuk terus mengunyah benda yang
lebih krenyes dari yang biasanya, meskipun rasanya lumayan. Ditambah
sedikit mentega, atau sepotong keju...... enggak, kalau dipanggang saja pasti
akan lebih enak, selagi Aku memikirkan berbagai fikiran akan hal ini,
Eugeo, yang juga mengerutkan dahi ketika menggigit roti itu, memberikan senyum
pahit dan berkata,
"tidak terlalu
enak, kan?"
Aku buru-buru menggelengkan
kepala ku.
"E-Eh, tidak
kok."
"Tidak apa-apa,
tidak perlu memaksakan dirimu seperti itu. Aku biasanya membeli nya di toko
roti di desa sebelum pergi, tapi berhubung Aku pergi saat masih sangat pagi,
mereka hanya mempunyai sisa roti kemarin. Saat siang hari, Aku juga tidak punya
cukup waktu untuk kembali ke desa......"
"Heh...... Kalau
begitu lebih baik membawa bekal makan sendiri dari rumah......"
Mendengar kata-kata
biasa ku, Eugeo menurunkan mata nya menuju roti di tangan nya. Aku menyiutkan
leher ku secara tak yakin kalau Aku mengatakan sesuatu yang kasar, untung saja,
ia kemudian menaikkan wajah nya dan memberikan sedikit senyuman.
"Duluuuuu......
pada siang hari, ada seseorang yang membawakan bekal makan siang kesini. Tapi
sekarang......"
Mata hijau nya itu
menggeleng, mata itu dipenuhi oleh rasa kehilangan yang besar, pada saat itu,
Aku lupa kalau ini adalah dunia buatan dan membungkukkan tubuh ku kedepan.
"Orang itu... apa
yang terjadi......?"
Setelah Aku bertanya,
Eugeo melihat kearah puncak pohon yang jauh diatas kepalanya dengan diam untuk
sementara, kemudian ia pelan-pelan menggerakkan bibir nya,
"......Teman masa
kanak-kanak ku. Seorang perempuan, yang umurnya sama dengan ku...... kami
selalu bermain bersama-sama dari pagi sampai sore sejak kami masih kecil.
Meskipun setelah Aku diberikan Sacred Task, ia masih akan membawakan bekal
setiap hari...... Tapi... 6 tahun yang lalu...... saat musim panas ku yang
kesebelas, seorang Integrity Knight datang ke desa kami...... dan membawa nya
pergi ke ibu kota......"
Integrity Knight. Ibu
Kota.
Kata-kata yang asing
itu adalah sebutan bagi mereka yang menegakkan hukum dan ibu kota dari dunia
ini, Aku tetap diam agar Eugeo melanjutkan nya.
"Itu semua......
adalah salah ku. Pada hari istirahat, kami berdua pergi untuk menjelajahi gua
di utara...... tapi kami tersesat saat ingin pulang dan malah mencapai sisi
yang lain dari Mountain range at the Edge. Kau tau, kan? Dark Territory yang
kita semua dilarang menginjakkan kaki didalam nya yang tertulis dalam Taboo Index.
Meskipun Aku tidak keluar dari gua, ia tersandung dan kepalan nya menekan
daratan di luar gua...... Tapi hanya karena hal itu... Integrity Knight datang
ke desa dan mengikat nya dengan rantai didepan semua orang......"
Eugeo meremas roti
yang sudah dimakan setengah itu dengan tangan kanan nya.
"......Aku ingin
menolongnya. Kupikir tidak apa-apa kalau Integrity Knight itu membawaku pergi
bersamanya, dan berencana untuk menggunakan kapak untuk menyerang nya......
tapi... tangan ku... kaki ku... Aku tidak bisa menggerakkan nya. Yang kulakukan
hanya... melihatnya dibawa pergi... tanpa mengatakan apapun......"
Ekspresi wajahnya
menjadi hampa saat ia menatap keatas langit untuk beberapa saat, tapi setelah
itu, senyuman lemah terlihat di wajah nya lagi. Ia kemudian melempar roti yang
sudah hancur itu kedalam mulut nya dan mengunyahnya sambil melihat kebawah.
Aku tidak tau apa yang
harus kukaatkan, jadi Aku juga kembali memakan roti ku, dan berfikir selagi
mengunyah nya dengan seluruh kekuatan ku.
Eksistensi status
window telah membuktikan kalau dunia ini adalah dunia virtual yang diciptakan
dengan teknologi yang realistis, bisa jadi suatu eksperimen oleh seseorang.
Namun, kenapa «Event» seperti ini bisa terjadi? Aku menelan roti ku, dan
dengan ragu bertanya,
"......Apa kamu
tau apa yang terjadi padanya......?"
Eugeo menggelengkan
kepalanya sambil menatap kebawah.
"Integrity Knight
itu bilang kalau ia akan dieksekusi setelah diinterogasi...... Tapi, eksekusi
seperti apa, Aku tidak tau. Aku pernah... mendengar dari ayah nya, Gasupht si
kepala desa...... kalau dia sudah meninggal...... ——Tapi Kirito, Aku percaya
kalau dia masih hidup."
Kemudian,
"Alice... pasti
masih hidup dan ada disuatu tempat di ibu kota......"
Aku menghembuskan
nafas dengan tajam saat Aku mendengar nama itu.
Lagi-lagi, Aku
merasakan perasaan yang aneh berlari di kepala ku. Sebuah perasaan yang
mengganggu. Kesepian. Dan lebih dari itu, perasaan nostalgia yang menggelengkan
jiwa ku——
Itu hanya
delusi. Aku membujuk diriku sendiri, Itu hanyalah perasaan yang
tersisa setelah syok. Tidak ada alasan bagiku untuk memiliki perasaan pribadi
dengan teman masa kecil Eugeo, atau dengan kata lain, «Alice» yang merupakan
penduduk dari dunia ini. Pasti itu hanya reaksi pada nama Alice yang umum. Ya
—— bukannya Asuna mengatakan padaku kemarin di Dicey Cafe? «RATH», perusahaan
yang mengembangkan STL, dan dunia virtual «Underworld», bukannya nama itu
diambil dari novel『Alice in Wonderland』?
Nama orang itu cocok
dengan dua nama lain nya adalah suatu kebetulan yang mengejutkan, mungkin ada
maksud dibalik nya. Dan juga, Aku menyadari sekeping informasi dari kata-kata
Eugeo.
Tadi dia bilang 6
tahun yang lalu, saat ia masih berumur 11 tahun. Itu berarti sekarang dia
berumur 17 tahun, tapi itu terlalu lama —— perilaku nya saat berbicara seperti
ia punya seluruh ingatan dari 10 tahun hidupnya, seperti ku.
Tapi hal seperti itu
tidak mungkin. Dari yang mereka katakan padaku, fungsi akselerasi Fluctlight
hanya bisa dipercepat sampai tiga kali lipat, untuk menjalankan dunia ini selama
17 tahun, butuh waktu 6 tahun di dunia nyata. Namun, seharusnya belum sampai 3
bulan sejak mesin eksperimen STL diciptakan.
Apa yang harus
kupikirkan tentang hal ini?
Ini bukan didalam STL
yang kuketahui, tapi didalam mesin FullDive yang tak kuetahui, dan juga, sudah
berjalan selama 17 tahun. Atau, mungkin Aku salah mendengar tentang fungsi FLA
(Fluctlight Acceleration) yang tiga kali lipat, dan sebenarnya bisa
berakselerasi sampai lebih dari 30 kali. Tapi keduanya sama-sama tidak dapat
dipercaya.
Didalam kepalaku, rasa
penasaran dan kegelisahan dengan cepat berkembang. Aku ingin log out sekarang
juga dan menanyakan orang diluar untuk menjelaskan situasi ini, dan pada sisi
lain, Aku juga ingin tetap tinggal didalam dan lanjut mengejar pertanyaan-pertanyaan.
Setelah Aku menelan
bagian terakhir dari roti, Aku dengan takut bertanya pada Eugeo,
"Kalau
begitu...... kamu mau pergi mencarinya? Ke... ibu kota."
Kupikir 'Gawat' tepat
setelah Aku bertanya. Kata-kataku membuat Eugeo mengeluarkan reaksi yang tak terduga.
Anak berambut coklat
muda itu tercengang melihat wajah ku selama beberapa detik dan kemudian, ia
berbisik 'Tidak mungkin.'
"......Desa rulid
ini ada di ujung utara dari kerajaan utara. Pergi ke ibu kota di selatan,
meskipun menggunakan kuda yang cepat masih akan memakan waktu satu minggu.
Kalau berjalan, akan makan waktu dua hari untuk mencapai kota terdekat,
Zakkaria. Mustahil untuk mencapai tempat itu bahkan kalau Aku meninggalkan desa
pada sore hari saat hari istirahat."
"Kalau
begitu...... kamu tinggal melakukan persiapan untuk perjalanan
panjang......"
"Hey Kirito...
Kamu kelihatannya seumuran dengan ku, kamu tidak diberikan Sacred Task di desa
tempatmu tinggal? Menelantarkan Sacred Task dan pergi melakukan perjalanan
bukanlah sesuatu yang bisa kita lakukan, kan?"
"......B-Benar
juga."
Sementara Aku
mengangguk, Aku dengan waspada memperhatikan reaksi Eugeo.
Dari awal sudah jelas
kalau anak ini bukan sekedar NPC. Dari ekspresinya yang berlimpah dan balasan
nya yang natural, ia tidak bisa disebut apapun selain manusia asli.
Tapi pada saat yang
sama, tindakannya sepertinya dibatasi oleh peraturan absolut yang lebih efektif
dari pada hukum di dunia nyata. Ya, mirip dengan bagaimana NPC di VRMMO tidak
bisa menyeleweng dari gerakan yang telah ditentukan.
Eugeo bilang ia tidak
di tangkap karena ia tidak menginjakkan kaki di area yang dibatasi oleh «Taboo
Index». Dengan kata lain, Index itu adalah peraturan absolut yang mengikat nya,
mungkin hal itu adalah kontrol langsung kepada Fluctlight. Sementara Aku tidak
tau apa Sacred Task nya..., bukan, apa pekerjaan nya, Aku tidak bisa
membayangkan pekerjaan apa yang lebih penting dari hidup dan mati akan gadis
yang selalu bersama nya sejak lahir.
Untuk memastikan nya,
Aku dengan hati-hati memilih kata-kata dan bertanya pada Eugeo, yang sedang
minum air dari botol minum,
"Umm, di desa
tempat Eugeo tinggal, selain Alice-san, apakah ada orang lain yang melanggar
Taboo...... Index dan dibawa ke ibu kota?"
Eugeo melebarkan
matanya lagi, sebelum mengelap mulutnya dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada. Dalam
300 tahun sejarah desa Rulid, satu-satunya saat Integrity Knight datang ke desa
adalah 6 tahun yang lalu, itu yang dikatakan Garitta-jiisan."
Setelah ia
menyelesaikan kata-katanya, ia memberikan botol minum itu padaku. Aku
menerimanya dan melepas tutup nya ayng seperti gabus setelah berterima kasih
padanya. Aku kemudian mendekatkan nya ke mulutku dan meminum air itu, yang
tidaklah dingin tapi ada aroma wangi, seolah-olah dicampur dengan lemon atau
herbal. Setelah tiga tegukan, Aku mengembalikan botol itu kepada Eugeo.
Selagi Aku mengelap
mulutku dengan ekspresi murni, bagian dalam dadaku seperti ditiup oleh badai
rasa kaget yang entah berapa kali.
————Tiga ratus tahun!?
Tanpa hal yang disebut
«Setting», tapi benar-benar berjalan selama periode yang lama, kalau begitu
akselerasi sebenarnya dari fungsi FLA harusnya ratusan kali lipat...... atau
mungkin sampai seribu kali. Kalau begitu, kalau tingkat akselerasi itu
dimasukkan saat Test Dive terus menerus yang kulakukan pada minggu pertama,
berapa lama Aku tinggal didalam? Pada saat yang sama Aku gemetar, lenganku
terasa menggigil, tapi Aku tidak punya waktu untuk mengagumi reaksi
psikologikal yang realistis itu.
Mendapat informasi
yang lebih, misteri ini sepertinya mulai lebih ribet lagi. Apa sebenarnya
Eugeo itu manusia, atau program? Dan juga, sebenarnya apa tujuan dunia ini
diciptakan——
Aku tidak bisa tau
lebih banyak dari hal ini tanpa pergi ke desa yang Eugeo bilang bernama Rulid
dan membuat kontak dengan orang lain. Dari sana, bagus kalau Aku bisa bertemu
orang dari RATH yang tau situasinya...... Memikirkan hal itu, Aku entah
bagaimana dapat tersenyum sebelum berkata pada Eugeo,
"Terima kasih
makanan nya. Tapi maaf yah Aku mengambil setengah dari bekal mu."
"Ah, jangan
khawatir. Aku juga udah muak kok sama roti itu."
Ia membalas dengan
senyuman yang sangat natural dan dengan cepat merapikan bungkusan bekal.
"Kalau begitu,
maaf, tapi tunggu sebentar yah. Sampai Aku menyelesaikan pekerjaan siang
ku."
Ucap Eugeo sambil berdiri
dengan cepat, Aku kemudian bertanya,
"Oiya, pekerjaan
Eugeo...... apa Sacred Task mu?"
"Ah, benar
juga...... kamu tidak bisa melihatnya dari sana."
Eugeo tersenyum lagi
sambil memberi isyarat. Aku menggelengkan kepalaku lalu berdiri dan berjalan
mengitari batang pohon besar dibelakang nya itu.
Kemudian, karena
lagi-lagi terkejut, mulutku terbuka lebar.
Pada batang pohon
raksasa itu, yang hitam seperti kegelapan malam, ada potongan sekitar 20 persen
atau lebih dari diameter nya —— sekitar semeter dalam nya. Kayu hitam didalam
nya mengingatkan ku pada batu bara, lapisan yang tebal dari pohon itu mengkilap
seperti logam.
Pandangan ku berpaling
dari potongan itu menuju pada kapak yang bersender ke batang. Meskipun bentuk
nya bermata-satu yang simpel dan gak digunakan untuk bertarung, mata kapak yang
sangat besar dan gagang nya yang panjang itu keduanya dibuat dari material
putih keabu-abuan yang sama. Menatap pancaran misterius itu, seperti stainless
steel, Aku entah merasa kalau kapak itu dipahat dari satu bongkah bahan mentah.
Tangan kanan Eugeo
memegang gagang kapak itu yang dilapisi oleh kulit hitam berkilau, dan ditaruh
dipundak nya. Ia kemudian berjalan ke ujung kiri dari potongan satu setengah
meter itu, melebarkan kaki nya, menurunkan pinggang nya, dan dengan kencang
menguatkan pegangan nya di gagang itu.
Badan yang ramping itu
membungkuk, kapak itu, yang ditarik jauh kebelakang, terdiam sejenak untuk
mengumpulkan momentum sebelum merobek udara dengan tajam. Bilahnya, yang
terlihat berat, dengan tepat mengenai bagian tengah dari potongan di pohon
itu, *Gaan*! suara logam bernada tinggi terdengar sangat
nyaring. Tak diragukan lagi, ini adalah sumber dari suara aneh yang
membawa ku kesini. Suara pohon yang ditebang, intuisi asal ku ternyata benar.
Didepanku, yang sedang
mengamati dengan kagum, bisa dibilang Eugeo mengatasi tubuhnya dengan sempurna,
ia berulang-ulang mengayun kapak itu sambil mempertahankan ritme dan lintasan
yang akurasinya melebih sebuah mesin. Mengembalikan kapak kebelakang memerlukan
waktu dua detik, mengumpulkan tenaga satu detik, dan mengayun satu detik.
Rangkaian tindakan nya sangat lancar seolah-olah sword skill juga ada di dunia
ini.
Tepat 50 kali selama 4
detik tiap pukulan nya, kapak itu terus menghantam pohon selama 200 detik, dan
setelah hantaman terakhir, Eugeo menarik kapak itu keluar dari potongan yang
dalam dan menghela nafas panjang. Ia kemudian menyenderkan kapak itu di batang
pohon dan duduk di akar didekatnya. Sekumpulan keringat di dahi nya bersinar
karena kelelahan. Sementara Aku melihatnya, Aku berfikir kalau ternyata
mengayun kapak itu lebih sulit dari pada yang kuduga.
Aku menunggu nafas nya
kembali stabil sebelum bertanya,
"Jadi pekerjaan
mu...... bukan, Sacred Task mu adalah «Penebang pohon»? Menebang pohon di hutan
ini?"
Mengambil sapu tangan
dari kantung baju nya dan mengelap keringatnya, Eugeo memiringkan kepalanya
sedikit dan membalas setelah berfikir sejenak.
"ngg... yah, bisa
dibilang seperti itu. Tapi pohon yang berhubungan dengan Sacred Task yang telah
kulakukan selama 7 tahun untuk menebangnya hanyalah pohon ini."
“Ehh?”
"Nama dari pohon
raksasa ini adalah «Gigas Cedar» dalam 'Bahasa Sakral'. Tapi para orang tua di
desaku memanggilnya pohon iblis."
......Bahasa Sakral?
Gigas......Cedar......?
Eugeo memberikan
senyuman pengertian terhadap ku, yang sedang ragu, sambil menunjuk tegak keatas
kearah puncak pohon yang tinggi.
"Alasan mengapa
mereka memanggilnya seperti itu karena pohon itu menyerap semua anugrah
Terraria dari sekeliling tanah. Jadi gak ada yang hidup dibawah pohon ini
selain lumut, dan pohon-pohon dibawah bayangan nya tidak akan tumbuh tinggi
juga."
Terraria, sementara
Aku tidak tau apa itu, sepertinya kesan pertamaku setelah melihat pohon dan
ruangan terbuka ini tidak lah salah. Aku mengangguk dan menunggu kata-kata
berikutnya.
"Para orang
dewasa di desa ku ingin memperluas ladang gandum ke hutan ini. Tapi itu sia-sia
selama pohon ini masih berdiri. Jadi mereka ingin menebangnya, tapi yah membang
hebat pohon iblis ini, batang nya benar-benar sangat keras. Kalau menggunakan
kapak besi biasa, bilah nya akan hancur dan tidak akan bisa digunakan lagi
hanya dengan satu pukulan. Karena itulah, mereka mengeluarkan uang dalam jumlah
besar untuk memesan kapak ini, yang dipahat dari tulang naga kuno, dari ibu kota,
dan menunjuk «Petugas memotong» kepada seseorang untuk terus memotong pohon ini
setiap hari. Dan orang itu adalah Aku."
Aku memutar pandangan
ku antara Eugeo, yang mengatakan hal itu, dan 1/4 potongan di pohon raksasa
itu.
"......Kalau
begitu, dalam 7 tahun terakhir ini, kamu mencoba untuk memotong pohon ini
setiap hari, dan kamu hanya memotongnya sejauh ini?"
Kali ini Eugeo
melebarkan matanya dan menggelengkan kepalanya karena terkejut.
"Tidak mungkin.
Kalau potongan ini hanya memerlukan waktu 7 tahun, kalau begitu Aku akan
sedikit lebih bersemangat. Dengar, Aku adalah generas ketujuh dari penebang
pohon ini. Sejak Rulid ditemukan di tanah ini, selama 300 tahun, perwakilan
tiap generasi menjadi penebang pohon dan datang kesini setiap hari. Mungkin, perkembangan
saat Aku menjadi kakek-kakek dan mewariskan kapak ini kepada generasi kedelapan
akan......"
Eugeo menggunakan
kedua tangan nya untuk membuat renggangan sekitar 20 centimeter lebarnya.
"Sekitar segini,
mungkin."
Aku bahkan tidak
mengeluarkan nafas ku lagi.
Di MMO genre fantasy,
meskipun pekerjaan pengrajin dan pekerja tambang biasanya dikenal sebagai
pekerjaan yang membutuhkan ketahanan dalam bekerja tanpa kenal lelah,
menghabiskan waktu seumur hidup dan masih tak bisa memotong satu pohon
sangatlah berlebihan. Karena dunia ini adalah dunia buatan, pasti pohon ini
ditaruh disini karena niat seseorang, meskipun untuk tujuan apa, Aku masih gak
tau sekarang.
——Tapi, demikian, Aku
merasakan sedikit gatal seperti ada sesuatu yang merayap di punggung ku.
Sebagian karena
dorongan hati, Aku berkata pada Eugeo, yang berdiri dan memegang kapak setelah
ia istirahat selama tiga menit.
"Hei, Eugeo......
boleh tidak Aku mencobanya sebentar?"
“Eh?”
"Um, Aku memakan
setengah bekal mu. Jadi Aku harus menggunakan otot ku untun membantu setengah
pekerjaan mu juga, kan?"
Aku merasa seolah-olah
ini pertama kalinya Aku menawarkan untuk membantu seseorang melakukan pekerjaan
nya —— mulut Eugeo terbuka sedikit, tapi kemudian dengan ragu menjawab,
"Hmm...... yah,
meskipun tidak ada peraturan tentang melarang seseorang untuk membantu Sacred
Task mu...... yah, ini benar-benar sulit. Waktu pertama kali, Aku bahkan tidak
bisa mengenainya dengan tepat."
"Kita tidak akan
tau sebelum dicoba, kan?"
Sembari Aku menyengir,
Aku membentangkan tangan kanan ku dan memegang gagang dari «Dragon Bone Axe»
yang Eugeo pegang sementara ia masih menunjukkan ekspresi yang ragu.
Kapak ini ternyata
berat, meskipun penampilannya terlihat seperti dibuat dari tulang, dan membuat
tangan kanan ku berat. Aku segera menggenggam pegangan kulit dengan kedua
tangan ku dan mengayun sekali untuk mengecek keseimbangan nya.
Meskipun Aku tidak
pernah menggunakan kapak sebagai senjata utama ku di SAO dan ALO, Aku
seharusnya bisa mengenai target yang diam tanpa masalah. Aku berdiri di sisi
kiri dari potongan yang dalam itu, dan kemudian meniru pose yang dilakukan
Eugeo dengan melebarkan kaki ku dan sedikit menurunkan pinggang ku.
Eugeo masih
menunjukkan ekspresi ragu, tapi pada saat yang sama ia juga terlihat senang.
Setelah Aku memastikan kalau ia udah lumayan jauh, Aku mengangkat kapak ini
keatas bahu ku, dan kemudian mengeraskan gigi ku dan menaruh kekuatan ke lengan
ku sebanyak-banyak nya, sebelum mengayun kapak ini, mengincar tengah-tengah
dari potongan yang dalam di batang Gigas Cedar itu.
*Gagi*, dengan suara
yang tumpul, mata kapak itu mengenai tempat yang sekitar 5 centimeter jauhnya
dari potongan di pohon itu. Kilatan oranye tersebar sementara arus balik yang
keras menyerang tangan ku. Aku gak bisa menahan nya dan menjatuhkan kapak itu,
sebelum menaruh kedua lengan, yang kesemutan sampai tulang, keantara kedua kaki
ku dan mengerang,
“A-Adudududuh.”
Melihatku yang bahkan
tak bisa melantarkan satu pukulan, 'Ahahaha......' Eugeo tertawa bahagia. Saat
Aku memalingkan pandangan penuh celaan ku kearah nya, 'Maaf,' ia mengisyaratkan
tangan kanan nya, tapi masih terus tertawa.
"......Kamu tidak
perlu tertawa begitu kan......"
"Hahaha......
maaf maaf. Kirito, kamu bukan menggunakan tenaga dari lengan dan pinggang mu.
Tapi kamu harus menggunakan tenaga dari seluruh tubuh mu...... hmm, gimana yah
jelasin nya......"
Sementara melihat
Eugeo mengulang gerakan mengayun kapak dengan lambat, Aku terlambat menyadari
kesalahan ku. Mungkin hukum ketat fisika dan konsentrasi otot tidak berlaku di
dunia ini. Secara ini adalah mimpi realistis yang diciptakan dengan STL, yang
paling penting disini adalah kekuatan imajinasi ku.
Akhirnya setelah
kesemutan telah pergi dari tangan ku, Aku mengambil kapak itu.
"Lihat saja, kali
ini Aku pasti akan mengenai nya......"
Sembari menggerutu,
kali ini Aku mencoba sekeras mungkin agar tidak memikirkan tentang tenaga. Aku
terus fokus kepada gerakan seluruh badan ku dengan kesadaran ku sementara Aku
membuat gerakan menggambar yang besar dan pelan. Sebelum memasuki gerakan
serangan swrod skill tipe tebasan horizontal, «Horizontal» yang kugunakan
berkali-kali di SAO, Aku mengeluarkan tenaga dari memutar pinggangku yang
ditambah dengan momentum berputar dari bahu ku dan mengalir melewati lengan ku
menuju bilah kapak... dan membenturkan nya ke pohon——
Kali ini Aku mengenai
kulit kayu yang jauh dari potongan,*gain*, lagi-lagi, kapak itu mental setelah
mengeluarkan suara yang tidak enak didengar. Namun, tangan ku tidak kesemutan
lagi seperti sebelumnya, sepertinya Aku telah sepenuhnya mengacuhkan akurasi
karena Aku terlalu fokus pada gerakan tubuh ku. Saat ini juga, Eugeo
sepertinya mendapatkan banyak hal untuk ditertawakan, Aku menengokkan
kepalaku selagi berfikir seperti itu, tapi tak terduga ternyata Eugeo menampilkan
wajah yang serius dan memberikan komentar,
"Oo...... Kirito,
yang tadi tidak buruk juga. Tapi, kamu tidak memperhatikan kapak mu saat
mengayun. Pandangan mu tidak boleh goyah dari pusat potongan. Coba lagi sebelum
kamu lupa!"
"O-Oke."
Yang berikutnya juga
kasar. Tapi setelah itu, Eugeo masih memberikan saran kesana kemari selagi Aku
terus mengayunkan kapak, Aku lupa butuh berapa kali ayunan sebelum akhirnya
berhasil membua suara logam bernada tinggi dan mengenai pusat potongan,
mengeluarkan suatu pecahan hitam yang kecil.
Setelah Aku bergantian
dengan Eugeo dan mendapat kesempatan untuk melihat 50 tebasan sempurna nya.
Kemudian Aku mengambil kapak nya dan menebas 50 kali lagi.
Kami mengulang nya
beberapa kali, dan tanpa sadar, matahari sudah mulai terbenam, dan ruangan
terbuka ini dipenuhi cahaya oranye yang agak kabur. Selagi Aku meminum tegukan
terakhir dari botol minum yang besar, Eugeo menyelesaikan tebasan terakhirnya,
dan kemudian berkata,
"Oke......
sekarang sudah 2000 tebasan."
"Eh, udah sebanyak
itu?"
"Yep. 500 dari
ku, dan 500 lagi darimu. Digabungkan dengan saat pagi hari, menghantam Gigas
Cedar 2000 kali setiap hari, itu adalah Sacred Task ku."
"2000
kali......"
Aku melihat kearah
potongan besar di pohon hitam raksasa itu lagi. Tak peduli bagaimanapun
kulihat, potongan itu tidak bertambah dalam sejak saat kami
memulainya. Benar-benar pekerjaan yang tidak ada untungnya, sementara
Aku heran, suara riang Eugeo datang dari belakang.
"Sebenarnya, otot
Kirito cukup bagus. Pada 50 pukulan terakhir, kamu membuat dua... tiga suara
yang bagus. Berkat kamu, hari ini Aku banyak bersenang-senang."
"Eh...... tapi
seharusnya akan lebih cepat selesai kalau Eugeo melakukannya sendirian. Maaf,
seharusnya Aku membantu mu tapi Aku malah menghambatmu......"
Aku meminta maaf
dengan malu, tapi Eugeo hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Bukannya Aku
sudah bilang kalau Aku tidak bisa menebang pohon ini seumur hidup ku? Karena
setengah dari potongan yang kita lakukan hari ini akan pulih pada malam
hari...... Oh iya, Aku akan menunjukkan mu sesuatu yang bagus. Meskipun
seharusnya Aku gak boleh membuka ini terlalu sering."
Sementara ia berkata
begitu, Eugeo mendekati pohon raksasa dan menjulurkan tangan kiri nya. Setelah
ia menggunakan kedua jari untuk membentuk simbol, ia menyentuh kulit hitam dari
pohon itu.
Oh, jadi pohon ini
juga mempunyai durability toh, Aku berlari menuju Eugeo saat memikirkan
nya. Bersamaan dengan suara yang seperti bel, status window itu keluar, bukan,
Stacia Window», Aku mengintipnya bersama Eugeo.
“Ue……”
Aku mengerang karena
reflek setelah melihatnya. Nilai yang muncul di window itu adalah 232.000,
jumlah yang tidak masuk akal.
"Hmmm, ini
sekitar 50 lebih sedikit dibanding saat Aku melihatnya bulan lalu,
huh......"
Tentu saja, Eugeo mengatakan
nya dengan nada yang lelah.
"Kirito, ini
berarti...... meskipun Aku menghabiskan waktu setahun penuh menghantam nya,
Life Gigas Cedar ini hanya akan berkurang sekitar 600. Pada saat Aku pensiun,
masih akan ada 200.000 lagi yang tersisa. Sekarang kamu mengerti kan......
hanya setengah hari kemajuan nya berlambat bukanlah masalah besar. Toh lawan ku
bukan sekedar pohon biasa, tapi adalah «pohon cedar raksasa»."
Saat Aku mendengar
kata-kata itu, Aku sekarang mengerti asal nama dari Gigas Cedar. Itu adalah
kombinasi dari bahasa Latin dan Inggris. Kata-kata itu bukan terputus di Giga,
tapi Gigas, Gigas Cedar...... pohon cedar raksasa.
Dengan kata lain, anak
yang berdiri dibelakang ku, selain bericara dengan menggunakan bahasa Jepang;
bahasa Inggris dan bahasa lainnya juga digunakan dalam sejenis mantra, «Bahasa
Sakral». Kalau begitu mungkin ia tidak sadar kalau ia berbicara dalam bahasa
Jepang. Bahasa Underworld...... bukan, bahasa kerajaan Norlangarth? Tapi tunggu
sebentar, tadi dia menyebut roti itu «Pan». Pan mungkin bukan kata-kata dalam
bahasa Inggris...... bahasa Portugis? Atau Spanyol?
Selagi Aku berfikir
macam-macam, tanpa sadar, Eugeo sudah selesai beres-beres dan berkata,
"Kirito, maaf
menunggu lama. Ayo kembali ke desa."
Setelah itu, sambil memanggul Dragon Bone Axe, dan menenteng botol minum yang kosong, selagi kami berjalan kembali ke desa, Eugeo dengan riang berbicara tentang banyak hal. Tentang pendahulunya, orang tua bernama Garitta yang terbiasa menggunakan kapak; tentang bagaimana ia agak jengkel kepada anak-anak yang seumuran dengan nya didesa menganggap kalau Sacred Task milik Eugeo itu gampang; sementara Aku tetap merespon ceritanya, pikiran ku masih fokus kepada pikiran yang sama.
Yaitu pertanyaan
tentang maksud dunia ini diciptakan, dan bagaimana dunia ini diperasikan.
Untuk memeriksa
teknologi «Mnemonic Visual» milik STL? Kalau begitu hal itu sudah mencapai
kesempurnaan. Secara Aku sudah merasakan kalau dunia ini sangat susah dibedakan
dengan dunia nyata.
Mengenai urusan waktu
di dunia ini, setidaknya sudah berjalan selama 300 tahun, yang mengerikan
adalah pohon raksasa itu —— mempertimbangkan jumlah kerja keras Eugeo sangat
berbanding terbalik dengan durability milik Gigas Cedar, kupikir pohon itu akan
terus ada sampai hampir mencapai 1000 tahun.
Sementara Aku gak tau
batas akselerasi yang bisa dicapai dari fungsi FLA, pada kasus terburuk nya,
orang yang Dive kedalam dunia ini dengan ingatan yang diblokir bisa saja
menghabiskan seluruh hidupnya disini. Dan pastinya tidak mungkin akan menyebabkan
bahaya kepada otot di dunia nyata, dan memorinya di blok sampai Dive itu
selesai, orang itu mungkin akan merasa seperti telah mengalami «Mimpi panjang»
—— namun, apa yang akan terjadi dengan jiwa, dengan Fluctlight yang mengalami
mimpi itu? Kumpulan kuantum cahaya yang membuat kesadaran manusia, bukannya
juga mempunyai batas usia?
Tak peduli
bagaimanapun Aku pikirkan, hal yang telah dilakukan terhadap dunia ini terlalu
berlebihan, tak masuk akal, dan tak berperasaan.
Dengan berani melawan
bahaya itu, pasti ada tujuannya —— tapi apa? Di Dicey Cafe, Sinon bilang, untuk
membuat ruang virtual yang realistis, tapi sudah ada AmuSphere kan? Pasti ada
«Something» yang hanya bisa dicapai dengan menghabiskan waktu yang tak
terhingga di dunia virtual yang bisa menyamai level dunia nyata——
Aku tiba-tiba
mengangkat wajah ku, Aku bisa melihat cahaya oranye tersebar dicelah hutan
didepan jalan yang sempit ini. Di celah jalanan dekat pintu keluar, ada
bangunan yang terlihat seperti tempat penyimpanan berdiri disana. Eugeo
berjalan menujunya dan dengan santai membuka pintunya. Aku mengintipnya dari
belakang, disana ada beberapa kapak besi biasa, alat tajam yang kecil yang
kelihatan seperti machete[21], dan sekumpulan
alat-alat seperti tali dan ember, diantaranya, ada pak kulit panjang yang Aku
gak tau apa isinya.
Eugeo menaruh «Dragon
Bone Axe» diantaranya, dan menutup pintu. Saat ia berbalik kebelakang dan
kembali ke jalanan, Aku segera bertanya,
"Eh, apa tidak
apa-apa pintunya tidak dikunci? Kapak itu sangat penting, kan?"
Eugeo melebarkan
matanya karena terkejut.
"Dikunci?
Kenapa?"
"Kenapa...
bagaimana kalau dicuri......"
Aku mengatakannya sampai
kemudian akhirnya sadar. Tidak ada pencuri disini. Karena, pasti ada peraturan
akan larangan mencuri yang tertulis di «Taboo Index» yang ia sebut tadi.
Kepadaku yang menyela kalimatku sendiri, Eugeo membuat wajah serius dan
memberikan jawaban yang kuharapkan,
"Tidak mungkin
hal seperti itu terjadi. Karena hanya Akulah yang membuka tempat penyimpanan
ini."
'Itu benar,' sembari
merespon dengan mengangguk, sebuah pertanyaan melintas dipikiranku.
"Err, tapi......
bukannya tadi kamu bilang ada penjaga di desa? Kalau tidak ada pencuri, untuk
apa pekerjaan itu dibutuhkan?"
"Bukannya sudah
jelas? Untuk melindungi desa dari pasukan kegelapan."
"Pasukan......
kegelapan......?"
"Lihat kesana,
kamu bisa melihatnya, kan?"
Kami baru saja
berjalan melewati pohon terakhir saat Eugeo mengangkat tangan kanan nya.
Didepan mataku adalah
ladang gandung. Ladang itu masih muda, padi nya yang hijau dan masih berkembang
berayun-ayun karena terkena angin. Pemandangan yang sangat memuaskan, di
mentari petang yang terlihat seperti lautan. Jalan ini meregang ke bidang
kelok-kelok dari ladang itu, dimana Aku melihat bukit yang menjulang jauh
didepan. Saat Aku fokus pada bukit yang dikelilingi oleh pepohonan, Aku melihat
bangunan bertekstur pasir berkumpul dan ada menara tinggi yang terlihat jelas
ditengah nya. Sepertinya, disitu adalah tempat dimana Eugeo tinggal, desa
Rulid.
Tapi yang ditunjuk
Eugeo jauh melebihi desa itu —— ia menunjuk kearah garis putih murni dari
deretan pegunungan di kejauhan sana. Pegunungan yang tinggi kelihatan melebar
ke ujung kiri dan kanan dari pandangan ku.
"Itu adalah
«Mountain range at the Edge». Di sisi lainnya adalah tempat dimana cahaya Solus
tidak bisa mencapai nya, tanah kegelapan. Meskipun pada siang hari, langit akan
tetap diselimuti awan hitam, cahaya dari surga berwarna merah seperti darah.
Tanahnya, pohon-pohonnya, semuanya hitam seperti batu bara......"
Eugeo kelihatannya
memanggil kembali suatu kejadian jauh dimasa lalu, berhubung suaranya menjadi
lemah dan gemetar.
"......Yang
tinggal di tanah kegelapan adalah demi-human terkutuk seperti goblin dan orc,
bersama dengan monster mengerikan lain nya...... dan juga, ksatria kegelapan
yang menaiki naga hitam. Tentu saja, Integrity Knight yang melindungi
pegunungan telah mencegah mereka dari melakukan invasi, tapi kadang-kadang,
beberapa sepertinya dapat menyelip ke gua bawah tanah. Tapi Aku belum pernah
melihatnya sih. Dan juga, menurut legenda Gereja Axiom...... 1000 tahun sekali,
saat cahaya Solus melemah, pasukan kegelapan yang dipimpin oleh ksatria
kegelapan akan menyebrangi pegunungan dan memulai serangan mereka melawan kita.
Pada perang besar tersebut, para penjaga di seluruh desa, di seluruh kota dan
ksatria di pasukan kerajaan akan dipimpin oleh Integrity Knight untuk bertarung
melawan pasukan monster itu."
Sembari memiringkan
kepalanya karena ragu, Eugeo bertanya,
"......Itu adalah
dongeng yang bahkan anak kecil di desa pun tau. Apa Kirito juga lupa akan
dongeng ini?"
"I-Iya, kurasa
Aku pernah mendengarnya sebelumnya...... tapi... sedikit berbeda detail nya,
mungkin."
Aku dengan takut
mencoba menghindari pertanyaan nya, ekspresi Eugeo berganti menjadi senyuman
yang sepertinya tak mempunyai keraguan, sebelum mengangguk.
"Oh begitu......
Mungkin, bisa jadi kalau Kirito bukan dari Norlangarth melainkan dari tiga
kerajaan lain nya."
"Mu-Mungkin
saja."
Selagi Aku mengangguk,
Aku mencoba menghindari topik yang berbahaya ini dan menunjuk kearah bukit yang
sudah dekat.
"Itu desa Rulid,
kan? Dimana rumah mu?"
"Yang kita lihat
sekarang adalah gerbang selatan, rumah ku ada didekat gerbang barat, jadi kita
tidak bisa melihatnya dari sini."
"Hmm. Menara
tertinggi itu... gereja...... Suster Azariya?"
"Yep, kau
benar."
Aku memfokuskan
pandangan ku ke puncak menara, ada simbol yang merupakan kombinasi dari silang dan
lingkaran.
"Itu entah
kenapa... terlihat lebih elegan dari yang kupikirkan. Orang sepertiku
benar-benar bisa tinggal disana?"
"Jangan khawatir.
Suster Azariya benar-benar orang yang baik."
Mungkin tidak akan
mudah, tapi kalau Azariya-san mempunyai keyakinan yang sama dengan hakiki
kebaikan pada orang lain seperti Eugeo, tak akan ada masalah yang terjadi kalau
Aku memberikan respon yang bijaksana. Tapi, saat ini Aku adalah pria yang
kurang pengetahuan tentang dunia ini.
Idealnya, kalau Suster
Azariya adalah seorang pengamat dari RATH, akan mudah ceritanya. Tapi mungkin,
petugas yang tujuannya menjadi pengamat seharusnya tidak diberikan peran
penting seperti menjadi kepala desa atau suster. Kemungkinan kalau pengamat itu
merupakan salah satu dari penduduk sipil biasa lebih besar, Aku harus menemukan
nya dengan cara apapun.
Tapi itu hanya kalau
mereka benar-benar menempatkan pengamat di desa yang kecil
ini...... sembari khawatir, Eugeo dan Aku menyebrangi jembatan batu yang
berlumut yang merentang melewati jalan air yang sempit, dan menginjakkan kaki
kedalam «desa Rulid».
Bagian
3
"Nih bantal dan
selimutnya.Jika hawanya terlalu dingin,pindah saja lebih dalam ke
rumah.Sembahyang Pagi pukul 6 AM,dan sarapannya dimulai pukul 7.Kau harusnya
datang untuk ikutan,jadi cobalah bangun pagi-pagi.Juga,pergi keluyuran setelah
lampu dimatikan dilarang.Ingat itu baik-baik."
Sebentuk bantal
sederhana dan selimut wol melayang kearahku bersama dengan kata-kata yang
terdengar layaknya hujan deras dan aku pun buru-buru menjulurkan tanganku untuk
menerimanya.
Aku duduk di atas
kasur,dan orang yang sedang berdiri di depanku adalah seorang gadis yang
terlihat berusia dua belasan.Ia mengenakan pakaian hitam berkerah putih,dan
rambut berwarna teh terang tumbuh memanjang sampai ke pinggangnya.Mata yang
berwarna sama dengan rambutnya bergerak gerak dengan lincah,tetapi ia terlihat
berubah menjadi orang yang sepenuhnya berbeda ketika ia mulai masuk dalam
kepribadian Sisternya.
Si gadis yang
dipanggil Selka adalah Sister magang yang bertempat tinggal di Gereja untuk
belajar Sacred Art.Aku tak tahu apakah ia juga ditugasi untuk menjaga anak-anak
laki-laki dan perempuan lain yang juga tinggal di gereja karena nada bicaranya
padaku setajam mbak-mbak atau seorang ibu.Aku hanya bisa tersenyum dan menahan
hal ini.
"Lalu,masih ada
nggak hal lain yang kau tak paham?"
"Nggak,nggak ada
kok.Terima kasih banyak."
"Kalau
begitu,selamat malam—kau tahu caranya mematikan lampu,kan?"
"....Ahh.Selamat
malam.Selka."
Selka mengangguk lagi
dan berjalan keluar dengan tingkah sedikit sok.Aku menunggu bunyi langkah
kakinya untuk pergi lebih jauh sebelum mengeluarkan helaan nafas panjang.
Tempat yang aku
tinggali saat ini adalah sebuah kamar di lantai dua gereja yang jarang
digunakan.Luasnya sekitar 6 tatami,dan di dalam ruangan itu sendiri terdapat
sebuah kasur dengan dipan yang terbuat dari bahan berlapis besi,sebuah meja
lengkap dengan sebuah kursi,rak buku kecil dan lemari.Aku meletakkan selimut
wol dan bantal yang ada di kaki ku ke seprai kasur,menyilangkan tanganku di
belakang kepala dan berbaring.Lampu minyak di atas kepalaku mengeluarkan bunyi
keriat-keriut seiring bergoyang-goyang.
"Apa sih
sebenarnya yang terjadi disini...".
Apa yang terjadi?Aku
menggumamkan kata-kata ini di dalam benakku dan mengingat kembali segala hal
yang telah terjadi sejak aku terlempar ke desa ini.
Eugeo membawaku ke
desa ini,dan kami pertama-tama pergi ke tempat Pos Penjagaan di dekat
gerbang.Di sana ada seorang pemuda seumuran Eugeo yang dipanggil Jink,dan ia
melayangkan tatapan curiga pertamanya,namun setelah ia mendengar bahwa aku
adalah «Anak Hilang Vektor»,ia segera setuju membiarkanku masuk.
Namun ketika Eugeo
sedang menjelaskan,mataku terpaku pada pedang panjang sederhana di pinggang
Jink,dan sebetulnya aku tak mendengar apa-apa saja yang mereka berdua
bicarakan.Aku benar-benar ingin meminjam pedang panjang yang sedikit usang itu
darinya dan mencoba apakah aku di dunia ini— atau lebih tepatnya,sword skill
pendekar pedang virtual Kirito masih bisa digunakan.Mau bagaimana lagi kalau
aku mendapatkan hasrat semacam itu,namun aku akhirnya dapat mengendalikan
hasrat itu.
Eugeo dan aku
meninggalkan Pos Penjagaan,dan bertahan dari tatapan-tatapan waspada dan
bingung para penduduk desa sembari melangkah menuju jalanan utama.Aku tetap
saja mendengar pertanyaan seperti ’siapa dia,’di saat Eugeo berhenti dan
menjelaskankannya pada semua orang.Kami menghabiskanwaktu sekitar 30 menit
berjalan sebelum mencapai alun-alun pusat desa ini.Di jalan,kami bahkan bertemu
perempuan tua yang membawa keranjang besar,dan ia langsung berkata sesuatu
seperti ’anak yang malang’ di saat ia melihat kami dan mengeluarkan apel (atau
seperti itulah terlihatnya) dan menjejalkannya begitu saja ke
tanganku,membuatku merasakan sedikit rasa bersalah.
Matahari hampir terbenam
di ufuk di waktu kami mencapai gereja yang dibangun di bukit dan menjadi bagian
desa.Kami mengetuk pintunya,dan seorang Sister muncul,ia terlihat seperti
seorang yang berwatak tegas.Ini adalah Sister Azariya yang kudengar tadi.Aku
melihatnya,dan segera berpikir ada Minchin-sensei yang muncul dalam «Little
Princess». NGGAK MUNGKIN! Aku berteriak di dalam hatiku.Akan tetapi,sang Sister
segera mengajakku masuk,yang mana hal ini benar-benar bukanlah sesuatu yang aku
duga,dan malahan menyajikanku makanan.
Setelah setuju untuk
bertemu esok,aku mengucapkan selamat tinggal pada Eugeo dan masuk ke
dalam.Setelah diperkenalkan pada Selka,yang tertua dan 6 anak kecil lainnya
yang lebih muda darinya,kami duduk di meja makan yang harmonis(hidangan yang
terhampar disana adalah kentang yang terlihat seperti ikan goreng).Setelah
mengambil jatah makananku,aku diinterogasi oleh mereka,dan ini adalah hal yan
sudah aku duga.Sesudah aku menjawab semua pertanyaan mereka,dan berpikir bahwa
aku tak membocorkan siapa diriku,3 orang anak laki-laki mengajakku untuk mandi
bareng dengan mereka....itu saja kok,aku bertahan dari semua cobaan ini,dan
sekarang,aku akhirmya mendapat kebebasan di saat aku berbaring di kasur kamar
untuk tamu—Itulah yang telah terjadi sampai saat ini.
Rasa lelah yang
menumpuk seharian ini telah menyerbu ke dalam diriku dan jika aku menutup
mata,aku bisa jatuh tertidur dengan cepat.Akan tetapi,perasaan bingung yang
menyerangku menghalangi hal ini.
"Apa yang
terjadi?" Aku menggumakannya diam-diam pada diriku.
Kesimpulannya,semua
orang di desa ini selain aku adalah NPC.
Dari awal aku bertemu
Jink,sampai saat dimana aku berjalan melewati para penduduk di dalam desa,dan
di momen ketika bertemu si nenek tua yang memberiku apel,Sister Azariya yang
tegas namun lembut,si murid Sister Selka,keenam anak yatim tadi;mereka semua
seperti Eugeo,mempunyai emosi sama halnya denganku,bisa berbicara dengan normal
dan bisa melakukan pergerakan tubuh yang halus.Pada dasarnya,semuanya mirip
dengan manusia.Paling tidak,mereka bukanlah karakter-karakter yang akan dengan
otomatis menjawab di dalam VRMMO.
—Namun,sesuatu semacam
ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan.
Saat ini,hanya
terdapat satu Soul Translator di markas pusat Roppongi,dan perusahaan itu
sendiri mau meluncurkan 3 mesin lagi,yang akan membuat jumlahnya jadi 4.Itulah
apa yang dikatakan oleh si pengembang Higa.Bahkan jika kita menambahkan satu
atau dua unit,itu seharusnya tak mampu membuat sistem Dive denganorang yang
cukup untuk membangun sebuah desa.Bahkan di saat aku sedang berjalan dan
mengamati tadi,ada paling tidak 300 orang penduduk desa di Rulid,dan mesin
eksperimen besar itu tak mungkin adalah produk skala besar-besaran.Juga kalau
kita menambahkan beberapa desa dan kota yang ada di dunia ini dan orang-orang
«Capital» yang banyak diceritakan,bahkan kalaupun kita menginvestasikan banyak
uang untuk menambah mesin-mesin baru,harusnya tak mungkin untuk secara
diam-diam mengumpulkan ribuan test player.
"...Ngomong-omong."
Eugeo dan yang lainnya
bukanlah manusia sungguhan—mereka adalah para player dengan pembatasan
memori,kurasa?Ataukah mereka adalah program penjawab otomatis yang jauh
melampaui apa yang aku tahu....?
Memikirkan tentang hal
ini,pikiranku langsung memikirkan istilah «Artificial Intelligence».
Baru-baru ini,para
AI,bantuan elektronik untuk kode password,navigasi kendaraan,dan penggunaan
peralatan listrik,telah berkembang pesat.Sekali mereka mendengar perintah yang
diberikan,sebuah karakter,yang mirip seperti manusia atau hewan,dapat
beroperasi dengan tepat atau mendapatkan informasi yang dibutuhkan.Disamping
itu,ada juga AI lainnya,layaknya NPC yang aku familiar dengannya di dalam
game-game VR.Meski fungsi utamanya adalah menyediakan Quest atau informasi
event,mereka masih bisa menjawab dialog biasa sampai pada tingkatan
tertentu.Sekumpulan orang yang mendambakan «Moe NPCs» akan selalu nongkrong di
dekat NPC-NPC bertipe cantik dan mengajak bicara mereka.
Tentu saja,para AI ini
benar-benar tak memiliki kecerdasan.Kalau dibuat mudahnya,mereka hanyalah
sekumpulan perintah-perintah yang hanya tahu bagaimana menjawab
pertanyaan-pertanyaan tertentu.Karenanya,jika mereka akhirnya menemui sebuah
pertanyaan yang tak ada di dalam database,si NPC kemungkinan besar akan
tersenyum ramah atau memiringkan kepalanya sambil berkata 'Aku tak memahami apa
maksudmu.'
Akan tetapi Eugeo tak
pernah memperlihatkan sesuatu seperti ini hari ini.
Ia memperlihatkan
segala macam emosi secara alami seperti 'terkejut', 'ragu',dan 'tertawa'
membalas semua pertanyaanku dan membuat respon seperlunya.Bukan Eugeo saja yang
seperti ini,Sister Azariya,Selka,dan anak-anak kecil itu semuanya juga
begitu.Tak ada contoh satupun dari mereka yang memperlihatkan ekspresi 'tak
mampu menemukan data.'
Sejauh yang kutahu,di
antara para Artificial Intelligence termutakhir,standar tertingginya adalah AI
yang dipanggil Yui,program konseling yang dikembangkan untuk tujuan
pemeliharaan SAO lama,yang sekarang ini telah menjadi 'putri' ku dan
Asuna.Selama dua tahun itu,ia terus-menerus bicara pada tak terhitung jumlah
player,memonitor mereka,dan telah berhasil membangun database yang mengagumkan
dalam hal merespon.Saat ini,ia berada pada level dimana ia bisa dianggap
'program penjawab otomatis' dan 'kecerdasaan sejati.'
Namun,Bahkan Yui
sekalipun tidaklah sempurna.Terkadang,ia akan memiringkan kepalanya di saat
database tak memiliki suatu informasi,dan akan menyalah artikan 'kemarahan yang
terpampang' milik manusia dengan 'rasa canggung saat mencoba menyembunyikan
rasa malu'.Tepat saat itulah ia akan memperlihatkan ekspresi 'seperti AI'.
Akan
tetapi,Eugeo,Selka,dan yang lain tak menunjukkan sesuatu semacam itu.Bila semua
penduduk desa Rulid adalah....AI,program yang tercipta sebagai anak
laki-laki,gadis,nenek tua,orang dewasa dan yang lain,dalam hal tertentu,STL
memiliki sebuah teknologi yang melampaui kata mutakhir.Tapi pada akhirnya,aku
benar-benar tak bisa membayangkan hal ini sebetulnya bekerja...
Aku yang memikirkan
hal ini,bangkit dari tempat tidur,dan mendaratkan kakiku di lantai.
Ada sebuah lampu
minyak tua di atas dinding kasur.Cahaya jingga kekuningan
berkerlip-kerlip,mengeluarkan bau terbakar yang aneh.Tentu saja,aku tak pernah
menyentuh benda semacam ini di kehidupan nyata,namun di tempatku berbagi kamar
dengan Asuna di Alfheim memiliki lampu yang mirip,jadi aku dengan setengah
sadar menjulurkan tanganku untuk menyentuh permukaannya.
Akan tetapi,disini tak
ada satupun pop-up window pengoperasian.Aku mendadak memikirkan sesuatu dan
menggunakan kedua jari-jariku untuk mrngikuti pergerakan yang bukan sebuah
perintah isyarat,namun sesuatu yang disebut «Stacia Seal». Aku lalu menyentuh
permukaan lampu tadi,dan sebuah kilauan ungu muncul saat itu juga.Akan tetapi
durabilitas lampu inilah satu-satunya hal yang muncul,tak ada tombol untuk
meng-ON maupun meng-OFF kan cahayanya.
Sialan.Selka
jelas-jelas tak akan mengatakan kepadaku cara mematikan lampu ini dengan mudah
tanpa terlebih dulu mengomel...Tepat ketika sedang panik-paniknya,aku menemukan
sebuah kenop kecil di dasar lampu tadi. Biarin,coba dulu aja
ngapa.KyuKyu.Bersamaan dengan suara logam itu,sumbunya menebal,dan lampunya
megeluarkan jejak asap tipis sebelum padam.Cahaya rembulan yang menembus
jendela,mendarat di dalam kamarku yang terselimuti dalam kegelapan,meninggalkan
seberkas garis putih keperakan.
Aku akhirnya berhasil
merampungkan misi dengan kesulitan tinggi ini,kembali ke pinggiran
kasur,meletakkan bantal di posisi yang pas,dan kembali berbaring.Aku merasa
sedikit kedinginan,jadi kupakai selimut yang Selka berikan tadi.Aku jadi
mengantuk.
—Jika mereka bukan
manusia,mereka itu apa?
Di sudut pikiranku,aku
telah menemukan jawabannya...Akan tetapi,aku merasa takut untuk
mengatakannya.Umpama aku benar—sang pengembang yang disebut RATH telah
mengulurkan tangannya ke ranah Tuhan.Ketika dibandingkan dengan ini,proses yang
menggunakan STL untuk memahami jiwa manusia tersebut telah mencapai level
dimana mereka seperti sedang bermain-main dengan Kotak Pandora menggunakan
jari-jemari mereka. Aku masuk ke dalam alam mimpi dan mendengarkan suara yang
asalnya jauh di dalam kesadaranku.
Sekarang bukan
waktunya untuk melarikan diri.Aku harus menuju Capital.Setibanya disana,aku
akan mencari alasan kenapa aku ada di dunia ini....
KLANG!!
Aku nampaknya
mendengar bunyi dentangan sebuah lonceng di kejauhan.
Tepat ketika aku
mengganggap ini adalah suara dalam mimpiku,bahuku rasanya seperti sedang
diguncang-guncang oleh seseorang,jadi aku menyelusupkan kepalaku ke dalam
selimut dan menggerutu,
"Uu—10 menit
lagi...nggak,5 .... "
"Nggak boleh.Ini
sudah waktunya bangun."
"3menit....3
menit aja..."
Seiring dengan bahuku
yang terus berguncang,sedikit perasaan bingung membuatku kehilangan rasa
kantukku.Jika saja itu adalah adik perempuanku Suguha yang membangunkanku,ia
tak akan menggunakan tindakan-tindakan lembut semacam itu,sebaliknya ia akan berteriak-teriak,menjambak
rambutku dan menarik-narik,mencubit hidungku dan melakukan tindakan-tindakan
berbau kekerasan semacamnya,atau bahkan tindakan jahat seperti menarik futon.
Pada momen ini,aku
tersadar bahwa dimana aku berada sekarang ini bukanlah kenyataan maupun
Alfheim,dan aku menyembulkan kepalaku dari balik selimut wol.Aku sedikit
membelalakkan mataku dan bertukar tatapan dengan Selka,yang berpakaian ala
sister.Si sister magang ini menurunkan kepalanya dan melihat ke arahku.
"Sudah jam
5.30.Anak-anak semuanya sudah pada bangun dan mandi.Jika kau tak buruan,kau tak
akan cukup waktu untuk Sembahyang."
"...Oke,Aku akan
datang kok... "
Aku tinggalkan kasur
hangat dan istirahat penuh kedamaian tadi tanpa rasa penyesalan dan duduk.Aku
melihat ke sekitar,dan keadaaanya sama seperti ingatanku tadi malam.Ini adalah
kamar untuk tamu yang berada di lantai dua gereja Rulid.Dengan kata
lain,tubuhku melewati dunia virtual Underwoorld yang diciptakan oleh Soul
Translator.Pengalaman menakjubkan semacam itu nampaknya tak akan berakhir hanya
dalam satu malam.
"Jadi ini hanya
nampak seperti sebuah mimpi,huh?"
"Eh,Apanya?"
Mendengarku
menggumankan kata-kata ini,Selka menampakkan eksperesi kaget.Melihat hal
ini,aku buru-buru menggelengkan kepala.
"Nggak.Bukan
apa-apa kok.Aku akan ganti baju dan datang.Di aula peribadatan lantai satu
kan?"
"Un,tak peduli
kau seorang tamu ataupun anak hilang Vector,kau harus berdoa pada Dewa Stacia
selama kau tinggal di dalam gereja.Setiap cangkir minuman adalah anugerah dari
kemurahan hati Dewa,dan kita patut bersyukur akan hal ini.Itulah yang dikatakan
Sister pada kami... " Ia akan lanjut berceloteh ria tentang ini terus
menerus jika hal ini berlanjut,jadi aku buru-buru bangkit dari tempat tidur.Aku
membalik sedikit ujung kaos tipis ini,bersiap-siap untuk melepaskan piyama
yanng aku pinjam,dan Selka mengeluarkan suara kebingungan.
"I,Itu akan
dimulai dalam 20 menit.Jangan sampai telat !Kau harus mencuci mukamu
dengan air sumur diluar sana."
Patapata,ia berjalan
keluar kamar,dengan cepat menutup pintu dan lenyap dari pandanganku.Reaksi ini
jelas-jelas bukanlah sesuatu yang NPC bisa lakukan...Aku memikirkannya sambil
melepaskan kaos ku dan memasukkan «Initial Equipment» ku yang tersandar di
kursi,tunik lengan pendek ke kepalaku.Aku menuurunkannya sampai hidung dan
mengendusnya,dan hanya menemukan tak ada bau keringat disana.Seperti
dugaan,mikroorganisme dan hal-hal lain semacamnya tak bisa di replika.Mungkin
kerusakan seperti noda-noda maupun lubang-lubang dikendalikan oleh nilai
durabilitas yang disebut «Life».
Sambil memikirkan hal
ini aku memunculkan «Window» tunik ini,durabilitas yang nampak adalah angka
[44/45]. Kelihatannya itu bukan apa-apa untuk waktu sementara,namun jika aku
ingin tinggal di dunia ini untuk waktu yang lama,aku harus mencari pakaian
ganti dan karenannya aku harus menemukan cara untuk mendapatkan barang-barang
dan uang.
Aku terus berpikir
sambil mengganti pakaianku,lalu berjalan keluar kamar.
Aku berjalan menuruni
tangga dan keluar dari pintu belakang di samping dapur.Matahari terbit yang
indah telah berada di atas kepalaku.Ia bilang ini masih belum jam 6,namun
bagaimana yah penghuni dunia ini menentukan waktu?Aku tak bisa melihat benda
apapun yang terlihat seperti sebuah jam,di kafetaria maupun ruang keluarga.
Aku menundukkan
kepalaku dan melangkah ke jalanan berbatu.Segera,aku melihat sebuah sumur yang
berdindingkan batuan.Anak-anak nampaknya telah menggunakannya tadi karena lumut
yang menempel mengelilingi sumur ini basah.Aku membuka penutupnya, melemparkan
ember kayu dengan tali yang terikat dengannya ke bawah,dan sebuah suara merdu
Kolakakapon bisa terdengar.Kutarik dan kuangkat seember penuh air bening lalu
kutuangkan ke dalam bak disampingku.
Aku meraup air sumur
sedingin es tadi dengan kedua tanganku untuk membasuh muka dan meminumnya satu
tegukan penuh.Di momen ini,rasa kantukku hilang tak berbekas.Menurutku aku
tidur sebelum pukul 9 kemarin,dan meski aku bangun pagi-pagi,aku harusnya telah
tidur selama 8 jam....Sambil memikirkan tentang hal ini,aku tenggelam dalam
pemikiranku lagi.
Jika ini memang
Underworld,mekanisme FLA mungkin masih sedang berjalan.Jika kecepatannya adalah
tiga kali lipat,waktu tidurku yang sebenarnya seharusnya kurang dari 3 jam.Jika
ini ide fantastik yang terlintas olehku kemarin,yaitu bahwa mesin ini
berakselerasi 1000 kali lipat,itu berarti 8 jam sebenarnya sama dengan 30
detik.Emang bisa waktu sesingkat itu membuat pikiran begitu terjaga?
Serius deh,Aku tak
mengerti sama sekali.Aku harus keluar dari sini secepat mungkin dan mengecek
situasinya....Akan tetapi,suara lembut ketika aku hendak tidur semalam terus
terngiang-ngiang di dalam telingaku.
Aku bisa terbangun di
dunia ini dengan kesadaran milik Kirito—Kirigaya Kazuto .Apakah itu karena
insiden janggal tertentu atau keinginan seseorang,aku mungkin ada disini untuk
menyelesaikan sebuah misi,kurasa?Aku bukanlah teroris di dalam kehidupan
nyataku,namun di sisi lain,aku takkan menolak bahwa tiap-tiap eksistensi
memiliki maksud tertentunya masing-masing.Jika begitu kasusnya,kenapa juga
banyak orang yang kehilangan nyawanya dalam insiden SAO...
Bashaa! Aku sekali
lagi menciduk air sumur setangan penuh dan mendeburkannya ke wajahku untuk
menyela pemikiranku.Sekarang ini,aku punya dua langkah tindakan.Yang
pertama,aku bisa mengivestigasi apakah disini ada karyawan RATH yang tahu
bagaimana cara log out dari sini,dan yang kedua,aku harus mencari jalan menuju
Capital agar mampu menemukan maksud aku ada didunia ini.
Yang pertama tidak
terlalu rumit buatku.Aku tak terlalu yakin berapa kecepatan FLA,tapi dengan
adanya teknisi RATH yang menyamar menjadi penduduk desa,mereka kemungkinan
takkan tinggal disini selama bertahun-tahun,apalagi puluhan tahunan.Dengan kata
lain,jika penghuni desa yang meninggalkan tempat ini untuk perjalanan bisnis
atau liburan ada,itu artinya mereka sangat sangat mungkin adalah para pengamat.
Untuk yang kedua —
sejujurnya sih,benar-benar tak ada cara yang baik untuk pergi kesana.Eugeo
bilang sebelumnya kalau berkuda dari sini kesana membutuhkan waktu seminggu dan
jika kita berjalan kaki melewati rute terdekat,itu akan membutuhkan waktu tiga
kali lebih lama.Jika mungkin,aku benar-benar ingin mendapatkan kuda,tapi masih
saja sih belum ada cara sama sekali untuk mendapatkannya,dan aku tak punya
equipment dan uang untuk perjalanan.Aku pikir bersama Eugeo adalah pilihan
terbaik,tapi ia punya sebuah «Sacred Task» yang tak dapat ia selesaikan seumur
hidupnya.
Apa aku langgar saja
Taboo Index dan biarkan diriku ditangkap oleh ksatria atau begitulah sekiranya
agar membuat hal itu lebih cepat.Akan tetapi,kemungkinan besar aku akan
dijebloskan ke dalam sel penjara secara langsung,dan aku harus bersabar
beberapa tahun melakukan pekerjaan kasar,memanggul bongkahan-bongkahan batu.Itu
akan membutuhkan sedikit kesabaran.Tapi sebelum itu terwujud,aku mungkin akan
dijatuhi hukuman mati.
Kalau begitu,aku
sebaiknya bertanya pada Eugeo apakah ada Sacred Art yang memiliki mantra
pelepasan atau membangkitkan kembali diri seseorang.Tepat ketika sedang
memikirkannya,Selka,menyembulkan kepalanya dari pintu belakang gereja dan
seiring melihatku,ia berteriak,
"KIRITO,MAU
SAMPAI KAPAN KAU MAU MANDI!?SEMBAHYANGNYA SUDAH DIMULAI!!"
"Ahh,un....maaf.Aku
akan datang sekarang."
Aku buru-buru
mengangkat tanganku,mengembalikan penutup sumur dan ember tadi dan buru-buru
kembali masuk ke dalam bangunan gereja. Setelah melalui sembahyang yang khusyuk
dan sarapan pagi yang berisik,para anak-anak pergi keluar untuk mencuci
pakaian,sementara Selka dan Sister Azariya menuju ke perpustakaan untuk belajar
Sacred Art yang sama.Untukku,yang pada dasarnya hidup secara gratis disini,hal
ini membuatku merasa ada sedikit perasaan tak enak dalam diriku.Aku memendam
perasaan itu sembari berjalan keluar gerbang gereja dan menuju ke alun-alun
pusat desa untuk ketemuan dengan Eugeo.
Beberapa menit
kemudian,sesosok familiar berambut coklat muncul dari arah menghilangnya
kilauan cahaya mentari pagi.Lalu,menara jam dibelakang gereja mendentangkan
melodi yang sederhana namun elegan.
"Ahh....aku
tahu."
Mendengar apa yang aku
katakan di momen aku bertemu dengannya,Eugeo,membelalakkan matanya dengan
kaget.
"Pagi,Kirito.Apa
maksudmu dengan "aku tahu" barusan?"
"Pagi,Eugeo.Yah,itu
loh...aku menemukan kalau melodi lonceng tadi berbeda-beda tiap jamnya.Dengan
kata lain,penduduk desa ini menggunakannya untuk menentukan waktu."
"Tentu saja,ya
begitulah.Lagu pujian untuk «Cahaya Solus» dibagi menjadi 12 irama.Ditiap-tiap
pertengahan baitnya,akan ada sebuah dentangan.Sayangnya,bunyinya tak mampu
mencapai Gigas Cedar,jadi aku hanya bisa mengecek waktu melalui ketinggian
Solus." "Aku tahu....jadi itu artinya nggak ada ‘jam’ di dunia
ini"
"Jam....?Apaan
tuh? "
Ini
buruk.Jangan-jangan istilah semacam itu tak ada disini?Aku mberkeringat dingin
di dalam hatiku dan mencoba menjelaskan.
"Erm,jam
adalah...sebuah alat yang berbentuk piringan bundar dengan angka-angka di
atasnya dan ia ia punya jarum berputar untuk menunjukkan waktu... "
Mendengar itu,wajah
Eugeo secara tak terduga mengeluarkan kilauan dan mengangguk.
"Ahh...yang itu
to.Aku pernah lihat di buku gambar ketika aku kecil.Dahulu kala,di pusat
Capital nampaknya ada sebuah bangunan yang disebut «Divine Instrument of
Engraved Time»,namun orang-orang terkadang melihat ke Divine Instrument itu dan
tak pernah bekerja dengan serius,hal itu membuat Dewa marah,dan Ia menghancurkan
Divine Istrument itu dengan halilintar.Mulai saat itulah,manusia hanya dapat
menentukan waktu berdasarkan pada bunyi dentangan lonceng."
"He,Heh...yah,aku
selalu khawatir sih kapan waktunya pelajaran selesai... "
Aku mengatakan sesuatu
yang ngawur tanpa berpikir dua kali,lagi,dan untungnya,kali ini aku tak
kebablasan.
"Ahaha.Jadi
begitu to.Dulu ketika aku belajar di gereja,aku selalu nungguin tuh waktunya
lonceng tengah hari berdentang."
Eugeo terkekeh-kekeh
sambil memalingkan muka.Aku mengikuti arah pandangannya dan akhirnya melihat
menara jam gereja.Di jendela yang didesain seperti talang berbentuk mirip
koin,lonceng-lonceng segala ukuran berkilauan di dalamnya.Akan tetapi,meski
lonceng-lonceng tadi berdentang,tak ada satu orang pun yang dapat terlihat
disana.
"Lonceng
itu....kok bisa ya berdentang?"
"Serius
deh,Kirito,kok bisa sih kau lupa soal hal itu?"
Eugeo mengatakannya
dengan suara kaget namun gembira,berdehem di tengah kalimat,dan melanjutkan,
"Nggak butuh
siapa-siapa kok buat membunyikannya.Ini adalah satu-satunya Divine Instrument
yang ada di desa,ia akan secara teratur mendentangkan hymne pujian tanpa telat
sedetik pun.Tentu saja nggak cuma desa Rulid yang memiliki instrumen
ini.Zakkaria dan desa-desa serta kota-kota lainnya mereka semua memilikinya...ahh,tapi,bukan
itu juga sih Divine Instrument satu-satunya..."
Penuturan penuh
semangat Eugeo,yang sangat jarang,dan akhirnya kehilangan suara di bagian
akhirnya,membuatku mengernyit.Akan tetapi,Eugeo nampaknya tak ingin melanjutkan
diskusi mengenai hal ini seraya ia menepukkan tangannya pelan dan berkata,
"Sekarang,aku ada
sesuatu yang harus kulakukan.Apa rencanamu hari ini,Kirito?"
"Gimana yah...
"
Aku berpikir
sejenak.Meski aku ingin berjalan-jalan berkeliling desa,aku mungkin akan dapat
masalah jika sendirian.Jika aku bisa bertanya pada Eugeo apakah ada penduduk
yang pergi keluar desa seperti yang aku bayangkan dan dalam rangka mencoba
membujuk Eugeo untuk pergi menuju Capital untuk menuntaskan rencana kejamku,aku
harus mencari tahu apa Sacred Task yang diemban Eugeo.
"...Kalau
boleh,biarkan aku membantumu hari ini,Eugeo."
Setelah memikirkannya
masak-masak,aku mengatakan kata-kata tadi,dan Eugeo menyeringai sambil
mengangguk.
"Tentu
saja,dengan senang hati akan kuajak kau.Aku dah kepikiran kau akan berkata
begitu.Nih lihat,aku bawa uang untuk beli roti yang cukup buat dua orang."
Ia mengeluarkan dua
keping koin perunggu dari celana pendeknya,yang mengeluarkan bunyi
bergemerincing di telapak tangannya.
"Erm,gimana
yah,aku benar-benar nggak enak sudah menyusahkanmu."
Setelah melihatku
menggelengkan kepala dan menggoyangkan tanganku,Eugeo mengangkat bahu dan
tersenyum.
"Nggak usah
khawatir.Aku dapat gaji dari tempat ketenagakerjaan desa,dan sebenarnya nggak
ada apa-apa yang bisa kubelanjakan dengan gaji tadi,jadi yah kutabung
sajalah."
Oh,itu
bagus,benar-benar bagus.Jika begitu kan,aku jadi punya uang untuk pergi ke
Capital.Benakku mulai melahirkan pikiran-pikiran nggak berguna.Sekarang
ini,yang tersisa adalah Eugeo menyelesaikan Sacred Task nya dengan menebang
pohon raksasa tu.
Hatiku sedang
memikirkan sebuah agenda licik,namun aku menampakkan tatapan menyesal.Melihatku
seperti ini Eugeo masih mempertahankan senyumannya dan berkata, 'Yuk berangkat'
sebelum berjalan ke selatan.Aku mengikutinya dari belakang dan melihat keatas
kembali padamenara jam yang akan dengan otomatis berdentang tiap jamnya.
Ini benar-benar dunia
yang menakjubkan.Meskipun ia menciptakan sebuah kehidupan pedesaan yang
realistik,kehadiran sebuah VRMMO masih tak bisa dibantahkan.Di jalanan utama
semua lantai di Kota Mengambang Aincrad,terdapat sebuah lonceng yang menujukkan
waktu.
Sacred Art— dan Gereja
Axiom;keduanya kemungkinan besar adalah nama palsu untuk mantra dan Sistem
Dunia ini.Kalau begitu kasusnya,gimana caranya kita menjelaskan «Tanah
Kegelapan» yang ada di luar dunia ini?Apa itu adalah counter-system...
Sementara aku sedang
berpikir dalam-dalam,Eugeo,yang ada disampingku,tiba di depan sebuah tempat
yang terlihat seperti toko roti dan menyapa nenek tua pemilik toko yang mengenakan
apron sebelum membeli empat roti.Aku memandang ke dalam toko,dan melihat
seorang pria berpakaian seperti penjaga toko sedang mengadoni adonan roti.Aroma
dari dalam tempat itu melayang keluar melalui jendela besar.
Dalam sejam,atau
mungkin 30 menit,aku bisa membeli roti yang baru matang dari panggangan
itu,namun menjadi tak bisa fleksibel mungkin adalah bagian dari «Sacred Task».
Pekerjaan Eugeo yaitu untuk mencapai hutan dan mengayunkan kapak memiliki
timing tetap yang tak dapat segitu mudahnya diubah.Karena aku cuma bisa
mengajaknya untuk menemaniku dalam perjalanan setelah ia menuntaskan «Sacred
Task» nya,rencanaku takkan selesai segitu mudahnya deh.
Tapi nggak peduli
apapun,sistem selalui memiliki lubang keamanan.Bahkan seorang sepertiku yang identitas
dan asal muasalnya tak diketahui akan bekerja dengannya sebagai asisten.
Kami berjalan menuju
lengkungan gerbang di selatan dan melangkah diatas jalan setapak yang melewati
ladang-ladang gandum yang menghijau seraya menuju ke arah hutan lebat.Dari sini,aku
bisa melihat dengan jelas pohon raksasa Gigas Cedar yang menjulang ke langit.
Eugeo dan aku terus
bergantian mengayunkan Dragon Bone Axe dengan keras,dan tahu-tahu,matahari yang
disebut Solus telah meninggi ke posisi tengah hari.
Aku terus menerus
menggerakkan lenganku yang serasa seberat timah dan mengayunkan ayunan ke 500
yang menusuk dalam-dalam pohon tinggi besar ini.KOONG! Sang pohon besar
itu mengeluarkan serbuk-serbuk gergaji yang bertebaran layaknya pasir,
memperlihatkan nilai durabilitas yang benar-benar tinggi dari pohon yang
sedikit tergores itu.
"Uwahhh,nggak
bisa.Aku nggak sanggup mengayunkannya lagi."
Aku berteriak sambil
melemparkan kapak ke tanah sebelum berbaring di rerumputan seolah-olah
kekuatanku konslet.Aku menerima botol air yang disodorkan Eugeo dan dengan
rakus meneguk cairan manis bernama «Siral Water» — Aku masih nggak paham bahasa
apa sih ini.
Eugeo hanya tersenyum
santai sembari melihat ke bawah ke arahku yang ada dalam keadaan sekarang
ini,sebelum berkata dengan nada bicara layaknya guru,
"Tapi kau
benar-benar punya sedikit bakat yah,Kirito.Suwer.Kau berhasil menyerap
dasar-dasarnya cuma dalam 2 hari."
"...Tapi aku
masih belum bisa mengejarmu sama sekali,Eugeo..."
Aku menghela nafas dan
membenarkan posisi dudukku,bersandar pada Gigas Cedar.
Karena aku telah
mengayunkan kapak berat itu sepanjang pagi ini,aku meraih peningkatan
besar-besaran pada stats ku di dunia ini.
Aku sih sudah
tahu,tapi stats tadi masih jauh dari kata kekuatan sekelas manusia super dan
kecepatan pendekar pedang Kirito yang dimilikinya dahulu di SAO.Meski
begitu,mungkin saja Kirigaya Kazuto yang lemah di dunia nyatalah yang dijadikan
referensinya.Jika ini adalah aku di dunia nyata,setelah aku mengayunkan kapak
seberat itu dalam waktu sejam kayak gini,pastinya deh aku akan menderita nyeri
otot di sekujur tubuh dan takkan mampu bangun dari tempat tidur di hari kedua.
Dengan kata
lain,kekuatannku yang sekarang sebanding dengan pemuda berumur 17,18 tahun di
dunia ini.Kekuatan Eugeo jauh melampaui diriku,seperti yang diharapkan dari
seseorang yang telah mengerjakan ini selama 7 tahun.
Untungnya,feeling dari
avatar atau penggambaran kekuatannya masihlah sama atau bahkan lebih efisien
daripada VRMMO-VRMMO yang kumainkan sebelumnya.Selain itu,mengayunkan kapak
beberapa ratus kalia sambil mewaspadai berat dan lintasan ayunannya,aku
akhirnya mendapatkan kepercayaan diri untuk menggenggam kapak ini tanpa
memerlukan kekuatam dengan jumlah yang sangat besar.
Juga,aku telah
mengulang-ulang latihan rutin yang sama tak terhitung beberapa kali jumlahnya
di Aincrad lama,bahkan melewatkan waktu makan dan tidurku untuk
melakukannya,jadi ini mungkin area yang paling ku kuasai.Paling tidak aku
takkan kalah dari Eugo dalam hal keteguhan tekad— Nggak...tunggu dulu.Kupikir
aku baru melewatkan sesuatu yang penting disini...
"Nih,Kirito."
Eugeo melemparkan 2
roti kepadaku,yang mana hal itu mengerem gerbong kereta pemikiranku.Aku
buru-buru menjulurkan tanganku untuk menangkap keduanya.
"...?Ada yang
salah?Raut mukamu jadi aneh tuh,tahu nggak?"
"Ah...nggak
kok..."
Aku akhirnya berhasil
meraih ujung jalur pemikiranku yang hampir pergi meninggalkanku,namun
serpihan-serpihan yang tersisa tadi hanyalah kesan yang membingungkan dan
samar-samar,itulah apa yang kupikir sebagai sesuatu yang penting.Yah,jika itu
memang penting,akan aku pikirkan di lain waktu.Aku lalu mengangkat bahu dan
berterima kasih pada Eugeo,
"Makasih.Kumakan
ya kalau begitu. Itadakimasu."
"Maaf rotinya
masih sama kayak yang kemarin."
"Nggak,nggak
apa-apa kok."
Aku membuka mulutku
dan mengambil sebuah gigitan besar.Rasanya sih enak—namun sejujurnya roti ini
masih terlalu keras.Eugeo mungkin juga merasakan hal yang sama sembari ia
mencoba yang terbaik untuk menggerakkan rahang bawahnya.
Kami berdua lanjut
menghabiskan waktu beberapa menit memakan roti yang pertama sambil bertukar
tatapan satu sama lain,kami saling tersenyum tipis.Eugeo meminum seteguk Siral
Water dan menatap ke kejauhan.
"...Aku
benar-benar ingin kau mencicipi pastel buatan Alice,Kirito...kulit luarnya yang
renyah,dipenuhi dengan isian yang juicy....memakannya ditemani susu sapi perah
segar,membuatku merasakan kelezatan yang jarang ada di dunia ini."
Sembari ia mengatakan
itu,lidahku secara tak sadar nampaknya merasakan rasa pastel itu sambil
meneteskan air liur.Aku segera menggigit roti keduaku dan bertanya tanpa
berpikir,
"Lalu Eugeo.Orang
itu...Alice,ia belajar Sacred Art di gereja,ya kan?Untuk menjadi penerus Suster
Azariya."
"Un,begitulah.Ia
disanjung-sanjung sebagai anak ajaib pertama bahkan semenjak desa ini dibangun,dan
ia mampu menggunakan banyak Sacred Art diumurnya yang baru sepuluh tahun."
Eugeo mengatakannya
dengan nada bangga.
"Kalau
begitu....gadis bernama Selka yang belajar di gereja sekarang ini
adalah..."
"Un...Sister
Azariya benar-benar terpukul ketika Alice dibawa pergi oleh Integrity Knight
dan berkata ia takkan pernah lagi mengangkat murid.Akan tetapi,kepala desa
Gasupht berusaha untuk membujuknya dan dua tahun yang lalu,si murid baru
Selka,ikut ke gereja.Ia adalah adik Alice."
"Adik
toh....heh..."
Jika aku harus bilang
pun,harusnya ia adalah kakak perempuan yang galak.Aku mengingat-ingat Selka
dalam otakku yang sedang memberikan kesan semacam itu saat aku
mengatakannya.Semenjak Alice adalah kakaknya,ia pasti adalah orang yang peduli
pada orang lain dan juga usil.Ia seharusnya bisa menjadi pasangan yang baik
bagi Eugeo.
Aku memikirkan ini
sambil menatap Eugeo.Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu sembari mengernyit.
"...Karena usia
kami beda 5tahun,aku jarang bermain dengan Selka.Saat aku berkunjung main ke
rumah Alice dari waktu ke waktu,ia sering ngumpet dibelakang ibu atau neneknya
dengan malu-malu...ayahnya,Gasupht,semua orang bahkan Suster Azariya percaya
kalau adik Alice memiliki bakat dalam Sacred Art dan
menanti-nantikannya...namun...."
"Selka tak punya
bakat seperti kakaknya,ya kan?"
Mendengar pertanyaan
menjurusku,Eugeo menjadi murung dan mengangguk.
"Kita sebenarnya
nggak bisa bilang begitu juga sih.Nggak peduli siapapun orangnya,jika baru
mulai melakukan Sacred Task,mereka nggak mungkin bisa melakukannya dengan
baik.Hal itu sama juga buatku dan aku saja baru berhasil menggenggam dan
menggunakan kapak besar ini dengan benar setelah lebih dari 3 tahun lamanya.Yah
begitulah...untuk Selka yang baru 12 tahun,ia telah bekerja sedikit terlalu keras..."
"Terlalu
keras?"
"...Dulu ketika
Alice mulai belajar Sacred Art,ia nggak tinggal di gereja.Ia hanya belajar
sampai tengah hari,lalu ia menyerahkan bento padaku sebelum pergi untuk
membantu beres-beres rumah di sore hari.Namun,Selka menggunakan alasan kalau
dia nggak akan punya cukup waktu untuk belajar dan pindah dari
rumahnya.Kebentulan sekali Jana dan Algu pindah ke gereja,dan Suster sendiri
pastinya tak mampu menangani mereka,jadi Selka mungkin juga punya suatu alasan
untuk pindah ke gereja."
Aku mengingat-ingat
Selka yang dengan telaten merawat anak-anak.Aku tak bisa bilang betapa sulitnya
itu,namun untuk seorang berumur 12 tahun yang harus belajar sambill merawat 6
anak kecil,itu bukan perkara yang gampang.
"Aku tahu...dan
Aku, si «Anak Hilang Vector»yang dengan tiba-tiba pindah kemari.Paling tidak
aku harusnya nggak memberi banyak masalah pada Selka. "
Aku pasti akan bangun
pukul 5.30 mulai dari besok.Dengan ketetapan itu,aku melanjutkan topik
pembicaraan barusan dengan berkata ‘okelah kalau begitu.’
"Anak-anak selain
Selka yang hidup di gereja itu semuanya kehilangan orang tua mereka?Apa orang
tua mereka mati?Kok bisa ya enam orang mendapat musibah semacam ini di waktu
yang sama padahal di suatu desa yang damai?"
Mendengar
pertanyaanku,Eugeo terlihat sedikit tertekan,dan menundukkan kepalanya melihat
rerumputan yang tumbuh tak terlalu jauh.
".... Itu terjadi
3tahun yang lalu.Ssebuah wabah menyebar di desa yang tak pernah terlihat selama
hampir 100 tahun,menyebabkan 20 orang segala usia meninggal dunia.Suster
Azariya dan tabib Ivenda mencoba segala macam cara,namun tak mampu menyembuhkan
demam orang-orang tersebut.Anak-anak yang ada di gereja kehilangan orang tuanya
karena hal itu." Jawaban tak terduga tersebut membuatku terdiam.
—Infeksi?Tapi ini kan
dunia virtual.Nggak ada bakteri maupun virus yang mungkin bisa hidup
disini.Dengan kata lain,orang-orang yang mati tersebut disebabkan karena virus
yang ditularkan dengan maksud tertentu oleh orang-orang yang mengendalikan
dunia ini atau sistem.Akan tetapi,kenapa?Kemungkinan besar,mereka ingin
menggunakan suatu bentuk musibah untuk menciptakan suatu beban cobaan bagi
mereka,tapi kenapa juga mereka menjalankan simulasi semacam itu?
Pada akhirnya.semua
menjurus pada satu arah.Bahwa kenapa dunia ini ada—
"Itu bukan wabah
belaka.Baru-baru ini,banyak hal yang aneh terjadi.Beruang liar bercakar
panjang,seringgala berbulu hitam menyerang orang-orang dengan kawanannya,kuncup
gandum yang tak mampu mengembang... bahkan kereta kuda yang biasa berkelana
dari sini ke Zakkaria tak muncul-muncul selama berbulan-bulan.Isunya sih...ada
suku Goblin yang muncul disini. " "A,apa kau bilang?"
Aku berkedip
berkali-kali.
"Goblin...tunggu,bukannya
para Integrity Knight melindungi perbatasan negeri ini?"
"Tentu
saja.Suku-suku kegelapan yang bermukim dekat Mountain Range at the Edge
harusnya telah dibasmi seketika oleh para Integrity Knight.Ini adalah tugas
yang diemban para Integrity Knight,karena suku-suku itu adalah orang-orang yang
lebih bermasalah daripada Alice,yang hanya menyentuh sedikit Tanah
Kegelapan."
"Eugeo..."
Aku merasa suara
tenang Eugeo mendadak berubah menjadi sesuatu yang bisa kupahami sebagai nada
bicara bermuram hati,sesuatu yang mengagetkanku.Akan tetapi,perasaan itu segera
sirna di saat bibir cowok itu perlahan menampakkan senyuman lagi.
"...Itulah kenapa
aku hanya menganggapnya sebagai rumor belaka.Tapi selama 2 atau tiga tahun yang
lalu,ada banyak sekali batu nisan-batu nisan baru disini.Jii-chan bilang ini
situasi yang normal."
Ngomong-omong,sekaranga
adalah waktu yang tepat untuk bertanya.Aku pura-pura tak tahu apa-apa dan
dengan hati-hati bertanya, "...Hey,Eugeo.Sacred Art....bisa nggak mereka
menghidupkan kembali manusia?"
Ia hanya melontarkan
tatapan tak percaya padaku lagi.Secara tak terduga,Eugeo menggigit bibirnya
pelam dengan raut wajah serius dan mengangguk dengan terlihat seolah-olah tak
terlalu yakin juga.
"...Hampir semua
orang di desa tak tahu menahu tentang ini,namun diantara Sacred Art-Sacred Art
level tertinggi ada mantra yang bisa memperpanjang batas umur seseorang.Itu
yang Alice bilang."
"Meningkatkan....Life?"
"Un,Life yang
dimiliki semua orang dan benda...termasuk kau dan aku,nggak akan bisa bertambah
secara normal,Kirito.Contohnya,Life manusia terus meningkat mulai dari mereka
bayi ke masa kanak-kanak lalu sampai ke tahap dewasa,dan mencapai nilai Life
maksimumnya pada usia 25 tahun.Setelah itu,perlahan-lahan nilai itu akan
menurun dan menjadi 0 di usia sekitar 70,80-an,sebelum dipanggil kembali oleh
Stacia.Kau lupa tentang ini semua ya,Kirito? "
"Ah,ahh"
Tentu saja,ini pertama
kalinya aku mendengar ini seraya dengan hati-hati aku mengangguk.Apa yang Eugeo
katakan bahwa nilai maksimun Hit Points seseorang akan turun naik sebanding
umurnya.
"Akan tetapi,jika
seseorang terluka atau jatuh sakit,Life mereka akan berkurang drastis.Jika
luka-lukanya terlalu fatal,orang itu akan mati karenanya.Namun,seseorang bisa
mengembalikan Life menggunakan Sacred Art dan obat-obatan,meskipun yah itu akan
mencapai nilai maksimumnya.Manula tak bisa mendapatkan kembali Life yang pernah
mereka punya di masa mudanya tak peduli pengobatan macam apa yang mereka
jalani,dan sama halnya dengan orang-orang yang terluka terlalu parah mereka tak
bisa disembuhkan...."
"Tapi ada kan
mantra untuk mengakalinya?"
"Alice bilang ia benar-benar
terkejut saat ia melihat ini dalam buku-buku kuno.Ia menanyakan ini pada Suster
Azariya,dan yang dilihatnya hanyalah Suster yang membuat sebuah ekspresi ngeri
dan menasihatinya untuk melupakan apa-apa saja yang ia lihat tadi....jadi aku
tak begitu yakin tentang detailnya.Namun,disana disebutkan bahwa ada sebuah
mantra yang hanya bisa digunakan oleh Pendeta Agung Gereja Axiom,dana itu
bukanlah mantra yang digunakan untuk menyembuhkan atau mengobati penyakit,tapi
mantra berimbas langsung pada Life..atau sesuatu seperti itulah.Tentu saja aku
tak pernah melihat mantra khusus itu sama sekali. "
"Heh...Pendeta
Agung?Itu artinya para rahib gereja bisa menggunakan Sacred Art kan?"
"Tentu
saja.Sumber kekuatan dibalik sacred art adalah «Sacred Power» Dewa Solus dan
Dewa Terraria yang bertebaran di langit dan bumi.Mantra-mantra berskala besar
membutuhkan banyak sekali Sacred Powet.Jika saja ada mantra yang benar-benar
dahsyat sampai bisa mengendalikan Life manusia,nggak akan cukup deh bahkan jika
seluruh Sacred Power yang ada di seantero hutan ini
dikumpulkan.Menurutku,bahkan kota Zakkaria yang punya Spellcaster pun nggak
akan bisa mengendalikan kekuatan sebesar itu."
Meski begitu;ia
berhenti disini untuk sejenak,dan meneruskannya dengan suara lirih,
"Dan...jika saja
Sister Azariya mampu menggunakan mantra semacam itu,ia takkan melihat para
putra-putri dan orang tua anak-anak itu meninggal seperti itu."
"Aku
mengerti..."
—Dengan kata
lain,bahkan jika aku mati disini,aku takkan kembali ke altar gereja dan bangun
diiringi suara organ yang merdu.Jika aku mati,aku mungkin akan terbangun di STL
yang ada di kehidupan nyata.Nggak,masalahnya bukan itu,Aku benar-benar akan
merasa terganggu.STL tak punya kemanpuan untuk menghancurkan Fluctlight—mungkin
sih.Harusnya alat itu berbeda dengan NerveGear.
Akan tetapi mencoba
bunuh diri harusnya adalah metode terakhir untuk meninggalkan tempat
ini.Keberadaan Underworld telah menjadi sesuatu yang kuyakini ada di dalam
pikiranku,dan bahkan jika aku tahu akan hal ini,apa nggak apa-apa nih bagiku
untuk pergi tanpa tahu apa alasanku ada di dunia ini—jiwaku memberikan pendapat
semacam itu jauh dari dalam relung jiwaku.
Aku benar-benar ingin
pergi ke Capital,melabrak masuk ke dalam markas pusat Gereja Axiom atau
semacamnya dan menanyakan seluruh pertanyaan di dalam benakku pada para
«Pendeta Agung»,namun aku tak punya cara untuk melakukannya.Tak ada sarana
transportasi yang bisa digunakan untuk berpindah dari kota ke kota,dan hal
inilah yang menjadi batasan pada kurangnya kemampuan permainan disini.Bahkan
SAO saja punya Transfer Gate di hampir semua kotanya.
Jika ini memang VRMMO
biasa,aku pastinya akan mempertimbangkan untuk mengirimkan email komplen pada
operator.Akan tetapi,kalau saja aku tak bisa melakukannya,aku hanya perlu
berusaha sekeras mungkin sepanjang system mengizinkannya.Ya,aku sering
memikirkan hal ini selama pertempuran untuk menaklukkan boss di Aincrad.
Setela menghabiskan
roti kedua,aku mengangkat botol air minum yang diserahkan Eugeo tadi ke
mulutku,meminumnya sambil melihat ke atas batang pohon besar ini yang menjulang
sampai ke langit.
Aku harus minta
bantuan Eugeo jika aku ingin menuju ke Capital,namun adalah hal yang tak
mungkin untuk membuatnya menyerah pada tugas yang diembannya dengan
sungguh-sungguh,karena hal itu dilarang oleh Taboo Index.Jika begitu,hanya ada
satu jalan yang tersisa,yaitu menemukan cara untuk menangani pohon Cedar yang
besarnya minta ampun ini.
Aku menoleh
kebelakang,dan kulihat Eugeo sedang menepuk-nepuk celananya sebelumm berdiri.
"Baiklah,dah waktunya kita mulai pekerjaan sore hari kita.Aku yang mulai duluan.Tolong ambilkan kapaknya."
"Ahh."
Aku menggunakan kedua
tanganku untuk menggenggam Dragon Bone Axe yang ada disampingku dan akan
menyerahkannya pada Eugeo.
Mendadak sebuah
perasaan seperti tersengat listrik yang kuat terlintas di otakku.Ujung sesuatu
yang hampir lepas dari telapak tanganku nampak tertangkap kembali,jadi aku
dengan hati-hati berpikir.
Eugeo bilang kalau
kapak biasa bilahnya akan dengan mudahnya hancur,itulah mengapa mereka pergi ke
Capital untuk memesan Dragon Bone Axe besar ini.
Jika begitu,kita hanya
perlu kapak yang lebih kuat.Kita gunakan saja kapak berkekuatan dan
berdurabilitas lebih besar yang membutuhkan lebih banyak tenaga.
"B,Boleh aku
ngomong,Eugeo."
Aku menahan nafas dan
bertanya.
"Ada nggak kapak
yang lebih kuat di desa ini?Kalau nggak ada,kalau di kota Zakkaria...udah tiga
ratus tahun berlalu kan sejak kalian memesan kapak ini?"
Namun Eugeo
menggelengkan kepalanya.
"Mungkin
sih.Tulang naga adalah bahan baku senjata level tertinggi.Ia lebih keras
daripada logam Damask di selatan dan logam permata di Timur.Jika ada sesuatu
yang lebih keras,itu akan jadi sesuatu yang digunakan para Integity
Knight...Divine Instrument..."
Ujung kata-kata ini
memudar dengan suara yang bergetar,jadi aku memiringkn kepalaku dan
menunggu-nunggu bagian akhir isi kata-katanya.Setelah sekitar menit yang
sunyi,Eugeo berbisik seolah ia cemas akan keadaan sekitarnya.
"...Bukan kapak
sih,tapi....sebilah pedang."
"Pedang?"
"Aku dah bilang
kan di depan gereja kalau masih ada Divine Instrument lain selain «Clock that
Tells the Time»,ingat nggak?"
"Ah..ahh."
"Faktanya,itu ada
di dekat tempat ini..dan cuma aku yang tahu tentangnya.Selama enam tahun
ini,aku telah menyembunyikannya dari semua orang...kau mau lihat,Kirito?"
"P,Pastinya
pengen lah! Kumohon tunjukkan padaku!"
Aku berkata dengan
antusias,namun Eugeo terlihat seperti ragu-ragu.Nggak begitu lama kemudian ia
mengangguk dan menyerahkan kapak tadi padaku.
"Kalau
begitu,kamu kerjain pekerjaan sore dulu deh,Kirito.Soalnya butuh sedikit waktu
buat mengambilnya."
"Jauh toh
tempatnya?"
"Nggak,cuma di
dalam gubuk penyimpanan dekat-dekat sini kok,tapi...beratnya itu lo minta ampun
deh."
Persis seperti apa
yang Eugeo katakan di saaat aku menyelesaikan ayunan ke-50,ia akhirnya
kembali,nampak agak kelelahan dan jidatnya berkeringat banyak. "O,oi,kau
nggak apa-apa?"
Mendengar ini,Eugeo
yang kehilangan tenaganya untuk menjawab,cuma mengangguk dan melemparkan objek
yang telah ia sandarkan di bahunya itu ke tanah.DONK.Dengan suara kasar,di
dalam hamparan rerumputan muncul cekungan besar.Aku menyerahkan bekal berisikan
Siral Water pada Eugeo yang terengah-engah,dan mulai memandang benda yang ada
di atas tanah itu.
Aku rasa-rasanya
pernah melihat benda ini sebelumnya.Sebuah bungkusan yang berukuran 1,2m
panjangnya.Tak diragukan,ini adalah item terbungkus yang diletakkan secara
sembarangan di dalam gubuk ketika Eugeo meletakkan Dragon Bone Axe di
sebelahnya.
"Boleh kubuka
nih?"
"Ah..ahh.Hati-hati...loh.Jika
itu mendarat di kakimu,kau nggak akan...terluka doang."
Eugeo yang
terengah-engah berujar.Aku mengangguk padanya dan dengan dengan hati-hati
menjulurkan tanganku.
Setelahnya,pingggangku
rasa-rasanya mendapatkan kejutan seolah-olah dijepret.Nggak,bahkan jika ini
kenyataan,pinggangku benar-benar akan salah urat.Serius deh,bungkusan ini berat
banget.Aku memegangnya dengan kedua tanganku,namun ia tak mau digerakkan seolah
dipaku ke tanah atau sesuatu semacam itulah.
Adik perempuanku
Suguha telah berlatih dalam klub kendo dan telah menjadi kekar,jadi bisa
dibilang ia nampak lebih berat daripada penampilannya —tentunya,aku nggak bisa
mengatakan pemikiranku ini padanya —dan tanpa pakai dilebay-lebay-kan,benda
terbungkus ini membuatku merasa itu seperti dirinya dalam artian tertentu.Aku
memantapkan kakiku lagi dan bersusah payah mengumpulkan kekuatan di punggungku
untuk mengeluarkan semua tenagaku kayak aku sedang mengangkat orang bego.
"Fuu..."
Mishi mishi.Kurasa
sendi-sendi di dalam tubuhku saling bergesekan,namun bungkusan itu akhirnya
mulai berpindah.Aku mengangkat bagian yang terikat talinya dan membaliknya 90
derajat sebelum membiarkan ujungnya menumpu tanah.Aku menggunakan tangan kiriku
untuk menyangganya sekuat tenaga agar tak jatuh.Sedangkan tangan kananku
melepaskan simpul tali dan menurunkan penutup kulitnya.
Didalamnya terdapat
sebilah pedang panjang indah yang bahkan aku mau tak mau terpukau padanya.
Pangkal pedang dibuat
dengan mulus dari perak,dan pegangannya terbalut dengan rapi dengan bahan kulit
berwarna putih seutuhnya.Pelindung buku jarinya dihiasi ukiran dedaunan,dan
sudah jelas tumbuhan apa yang terukir disana.Mau itu ujung pegangan atau sarung
kulit berwarna putih,mereka semua terbalutkan dengan setangkai mawar gemerlapan
yang terukir dari giok.
Ia memberikan kesan
benda antik,namun tak ada setitik pun karat di atasnya.Ia bagaikan telah tidur
selama ini tanpa mampu bertemu pemiliknya—pedang ini membuatku merasakan kesan
semacam itu.
"Ini...?"
Aku mengangkat
kepalaku untuk bertanya,dan Eugeo,yang akhirnya telah puliha dari rasa
capeknya,melihat ke arah pedang itu dengan ekspresi bernostalgia dan berucap,
"«Blue Rose
Sword». Aku tak tahu sih nama aslinya,tapi nama itulah yang digunakan dalam
dongeng." "Dongeng...?"
"Siapapun anak
kecil di Desa Rulid....nggak,bahkan para orang dewasa tahu akan hal ini— 300
tahun yang lalu,diantara para perintis awal yang menempati tanah ini,ada
seorang pendekar pedang bernama Bercouli.Ada banyak sekali legenda yang
mengisahkan tentang petualangannya,namun yang paling terkenal adalah kisah
«Bercouli dan Sang Naga Putih Utara»..."
Eugeo tiba-tiba
menerawang dan melanjutkan kata-katanya dengan raut muka sedih,
"....Sederhananya,Bercoulli
pergi ke Mountain Range At The Edge dan tersesat jauh di dalam gua,yang
membuatnya jatuh ke dalam gua sang naga putih.Sang naga putih yang menjaga
Dunia Manusia sedang terlelap tidur dan Bercoulli mengambil kesempatan itu
untuk kabur.Namun,diantara tumpukan harta yang berserakan di dalam gua,ada
sebilah pedang yang ia ingin dapatkan tak peduli apapun caranya.Ia mengambil
pedang itu diam-diam dan hendak beranjak pergi,namun tiba-tiba muncul mawar
biru yang tumbuh dan membelit Bercoulli.Ia terjatuh,dan suara jatuhnya itulah
yang membangunkan sang naga putih...begitulah kisahnya. "
"A,Apa yang
terjadi selanjutnya?"
Mau bagaimana lagi,aku
tertarik dengan kisah ini,jadi aku bertanya-tanya.Eugeo bilang itu cerita yang
panjang loh sambil tersenyum dan melanjutkan dengan kata-kata ini,
"Toh,banyak hal
yang terjadi,dan Bercoulli akhirnya melupakannya.Ia mengembalikan pedang tadi
dan kabur dari desa.Itu bukanlah sesuatu yang patut disenangi...namun sebuah
kisah yang membosankan.Jika saja kami tak punya keinginan untuk mengecek
kebenarannya saat masa kecil kami..."
Suaranya yang bagai
mengandung rasa penyesalan mendalam,membuatku akhirnya tersadar bahwa 'masa
kecil kami' berarti Eugeo dan dan teman masa kecilnya,gadis yang dipanggil
Alice.Di desa ini,anak kecil dengan mobilitas semacam itu ya hanya mereka.
Setelah beberapa momen
yang sepi,Eugeo melanjutkan.
"6 tahun yang
lalu,Alice dan aku pergi ke Mountain Range at the End untuk mencari sang naga
putih,namun kami tak menemukannya.Apa yang kami lihat adalam sebukit tulang
belulang dengan bekas tebasan pedang."
"Eh...na,nggak,apa
ada aorang yang membunuh naga tadi?Siapa,ia tepatnya...?"
"Aku nggak
tahu.Paling,beberapa orang...yang tertarik pada harta karunnya.Ada banyak
sekali emas dan harta yang berserakan di sembarang tempat,«Blue Rose Sword» ini
ada diantaranya.Tentu saja,aku nggak membawanyanya soalnya pedang ini berat...dan
dalam perjalanan balik kami kesasar ke jalan keluar yang salah,melewati
Mountain Range at the End dan masuk ke Dunia Kegelapan.Yang terjadi sesudahnya
persis seperti yang kau dengar."
"Aku
paham..."
Aku mengalihkan
tatapan mataku pada tangan yang menyangga pedang ini.
"Tapi...pedang
ini,kok ada disini?"
"...Sepanjang
musim panas dua tahun lalu,aku pergi ke gua tadi untuk
mengambilnya.Memindah-mindahkannya beberapa kilolu tiap harinya di hari liburku
dan menyembunyikannya dalam hutan...sampai aku memindahkannya ke dalam gubuk
penyimpanan.Itu menghabiskan 3 bulan waktuku dan kenapa aku
melakukannya...sejujurnya,aku nggak tahu juga kenapa..."
Ia mungkin masih belum
sanggup melupakan tentang Alice?Atau mungkin ia ingin menggenggam pedang ini
untuk menyelamatkannya.
Pikiran semacam itu
terlintas di otak ku,namun rasa salut ku pada cowok yang dipanggil Eugeo ini
tak mengizinkanku untuk segampang itu mengucapkan kata-kata ini.Aku mendapatkan
kembali momentumku dan mengangkat pedang itu,menggunakan tangan kanan ku untuk
menggenggam pangkal pedangnya.
Kupikir kalau pedang ini ditancapkan dalam-dalam ke tanah seperti pilar akan jadi sulit untuk mengayunkannya dengan banyak sekali kekuatan,tapi aku sekedar menggerakkannya sedikit,dan bilah pedangnya meluncur keluar dari sarungnya dengan mulus.
Swoosh.Dibarengi bunyi
yang nyaring itu,pedang tadi terhunus,dan kurasakan beban berat sekali mulai
dari bahu kanan sampai pergelangan tangan.Aku buru-buru melemparkan sarung
pedang di tangan kiriku ke samping dan menggunakan kedua tanganku untuk
menggenggam pedang tersebut.
Sarung pedangnya
nampak terbuat dari logam,namun kelihatan memiliki berat ekstra di saat ia
menancap di tanah dengan bunyi gedebuk.Hampir saja sarung pedang tadi mengenai
kaki kiriku,namun aku udah nggak ada waktu untuk mundur sambil tetap terus
mempertahankan keseimbangan pedang ini.
Untung saja,pedangnya
jadi 3 kali lebih ringan setelah kukeluarkan dari sarungnya,dan aku sanggup
mempertahankan posisi ini untuk sesaat.Aku terus menatap bilah pedang dengan
sikap yang seolah-olah terpukau.
Ini benar-benar
material yang tak masuk akal.Benda yang sepertinya terbuat dari logam yang
lebarnya cuma 3,5 m ini memancarkan kilauan biru muda seakan ia memantulkan
cahaya yang bersinar di sela-sela dedaunan.Dilihat dari dekat,bilah pedangnya
memantulkan cahaya matahari dengan cerminannya dan beberapa sinar yang nampak
terperangkap di dalam bilahnya,memancarkan pantulan difus.Apapun itu,toh,bilah
pedang ini terlihat sedikit transparan.
"Ini bukan logam
biasa ataupun perak.Ia berbeda juga dengan tulang naga,dan jelas-jelas bukan
kaca..."
Eugeo berujar dengan
sedikit nada kagum.
"—Dengan kata
lain,ini bukanlah sesuatu yang dibuat oleh manusia...itulah yang kurasa.Ia
dibuat oleh Spellcaster ahli Sacred Art dengan meminjam kekuatan dewa,atau
kalau nggak ya sesuatu yang dibuat oleh dewa...item semacam itu disebut «Divine
Instrument».Blue Rose Sword pasti adalah Divine Instrument juga "
—Dewa
Nama «Solus» dan
«Stacia» yang Eugeo dan Selka sering katakan ,nama-nama yang sering muncul
dalam doa Suster,ini semua pastinya setting di dunia fanstasi ini,dan akupun
tak terlalu peduli dengan hal tersebut sembari membuat keputusan itu.
Namun,dengan kehadiran
dewa yang menciptakan senjata atau sesuatu semacam hal ini,kurasa aku harus memakluminya.Dewa
dunia virtual—Apa itu artinya adalah orang-orang yang mengelola dunia ini dari
dunia nyata atau proses utama server?
Ini bagaikan
pertanyaaan yang tak dapat kujawab tak peduli mau bagaimanapun ku memikirkannya
Bahkan sekarang ini,aku hanya dapat merasa bahwa Gereja Axiom ini adalah
eksistensi yang sama halnya dengan « Pusat Sistem ».
Toh,pedang ini
harusnya memiliki level prioritas agak tinggi,sesuatu yang diberikan oleh
sistem,dan kini kita harus membandingkannya dengan prioritas Gigas Cedar dan
lihat level prioritas manakah yang lebih tinggi—hasil inilah yang akan
menentukan apakah aku bisa pergi ke Capital dengan Eugeo.
"Eugeo,bisa kau
cek Life Gigas Cedar?"
Aku terus menggenggam
pedang ini sambil berucap pada Eugeo yang melayangkan tatapan heran padaku.
"Jangan-jangan,Kirito...kau
berniat menggunakan pedang ini untuk menebas Gigas Cedar?"
"Jika kau
memindahkannya kemari,emang ada alasan lainnya?"
"Betul juga
sih..tapi..."
Aku terus mengatakan
sesuatu pada Eugeo,yang menundukkan kepalanya,untuk meyakinkan dirinya yang
meragu. "Atau apa di Taboo Index ada pasal yang menyebutkan kalau kau
nggak bisa menggunakan pedang untuk menebang Gigas Cedar?"
"Nggak,tentang hal ini,nggak ada yang menyebutkannya sama sekali..."
"Atau mungkin
para tetua desa,atau pendahulumu...Garitta jii-san bilang kalau kau nggak boleh
menggunakan sesuatu selain Dragon Bone Axe?"
"Nggak...beliau
tak bilang begitu...kurasa...sesuatu kayak begini sudah pernah terjadi
sebelumnya..."
Eugeo bergumam,tapi
masih saja ia bangkit dan berdiri di depan Gigas Cedar.Ia menggambar sebuah
segel dengan tangan kirinya dan mengetuk batang pohonnya,menatap pada Window
yang muncul.
"Yah,
232.315"
"Baiklah.Ingat-ingat
angka ini."
"Tapi Kirito,Kau
nggak mungkin sanggup menggunakan pedang itu dengan baik.Tubuhmu saja jadi tak
stabil cuma karena kau menggenggamnya sekarang."
"Biarin,Lihat
saja deh.Kau nggak perlu pakai kekuatan untuk mengangkat pedang berat,yang kau
gunakan adalah pusat gravitasi."
Ini adalah memori dari
masa-masa dulu,namun di SAO lama,aku menyukai pedang yang berat.Aku lebih suka
perasaan menggunakan tebasan One Hit untuk menghajar musuh daripada memakai
senjata yang mengandalkan kecepatan untuk menyerang secara bertubi-tubi sampai
menang.Seraya level ku meningkat dan stats kekuatanku berkembang,berat pedang
di tanganku akan terus menurun.Itulah kenapa aku terus berganti-ganti
pedang—pertama kalinya aku menggenggam dan menggunnakan pedang yang menjadi
patnerku yang terakhir rasa-rasanya mirip seperti apa yang aku rasakan saat ini
dengan menggenggam Blue Rose Sword.Juga,aku yang dulu menggenggam satu pedang
di masing-masing tanganku seraya terus menerus berlatih dengan intensitas
layaknya pekerja kasar.
Tentu saja,basis dari
World System disini berbeda,jadi aku tak bisa segampang itu memakai metode yang
sama.Namun,kesan pergerakan tubuhku harusnya bekerja disini.Eugeo menunggu
sedikit agak jauhan dari pohon,dan aku melangkah menuju ke kiri bekas hantaman
kapak di batang pohon,membungkuk dan berusaha mempertahankan postur
menghunuskan pedang rendah memakai pedang yang membuat tanganku nyeri cuma
karena mempertahankannya.
Nggak usah melakukan
tebasan beruntun.Cukup tebasan mendatar biasa saja di bagian tengah sisi kanan
udah bagus.Kalau kupinjam nama Sword Skill ini dalam SAO,namanya akan menjadi
«Horizontal».Ini adalah skill dasar yang bisa dipelajari di awal mula game
tersebut.
Aku menyelaraskan
nafasku dan memusatkan berat tubuhku ke kaki kanan sebelum menarik mundur
pedang sedikit.Aku mengangkat kaki kiriku karena berat inersia pedang itu.Kayaknya
aku bakal jatuh terduduk dengan bokongku duluan,tapi aku nggak peduli apapun
itu jadinya sampai pedang ini mengenai targetnya.Aku menghentakkan kaki kananku
ke tanah dan memindahkan berat tubuhku ke sisi kiri tubuhku,mengubah kekuatan
dalam gerakan berayun dalam kaki dan pinggangku dari ujung kepala sampai ke
ujung pinggangku,dan mengeluarkan tebasan mendatar.
Pedang itu
mengeluarkan kilauan,dan meski ia tak berakselerasi dengan sendirinya,tubuhku
masih mengikuti postur untuk sword skill tadi dengan sempurna.Membiarkan kaki
kiri untuk mendarat di tanah,menciptakan sebuah getaran,menggerakkan pedang
besar dan berat ini dan menggunakan inersia yang masih belum menghempaskanku ke
belakang,dan maju mengikuti lintasan pedang ideal— Akan tetapi,ini cuma bisa
digunakan sebagai demonstrasi.Kakiku tak mampu berdiri tegak,dan bilah
pedangnya sendiri mengenai kulit pohon.
*GIIIINNN!!* Sebuah
suara melengking terdengar diiringi oleh burung-burung di pohon yang semuanya
beterbangan.Akan tetapi,aku tak bisa melihat ini semua di saat aku tak sanggup
lagi menahan hempasannya, membuatku melepaskan pedang sembari wajahku yang
merasakan momen-momen intim dengan lumut di tanah.
"WAH!Sudah
kubilang kan akan begini jadinya tadi?"
Eugeo berlari ke
arahku,dan dengan bantuannya,aku berusaha duduk dan menyeka lumut di mulutku.Di
samping wajahku yang menghantam tanah duluan,pergelangan tangan,pinggang,dan
kakiku semuanya terasa nyeri luar biasa yang membuatku ingin menjerit
karenanya.Rasa sakit ini akan tetap terasa untuk beberapa saat,namun aku terus
memaksa keluar kata-kata semacam ini.
"...Nggak bisa
nih...statusnya masih merah..."
Di SAO lama,jika
seseorang meng-equip senjata tanpa memiliki STR yang dibutuhkan,sebuah pop-up
window akan menjelaskannya.Akan tetapi kata-kata ini mungkin takkan sampai ke
telinga Eugeo yang nampak lebih khawatir pada dirinya ini.Di saat inilah,aku
buru-buru menambahkan,
"Nggak,itu...tubuhku
cuma kurang kuat.Juga,emang beneran ada pendekar pedang yang bisa menggunakan
senjata hebat semacam ini?"
Kubiarkan bahuku
merosot,menggosok-gosok pergelangan tangan kananku dan menoleh ke
belakang.Eugeo mengikutiku dan memandangku dari belakang. Kami berdua
tercengang.
Blue Rose Sword,pedang
cantik yang berayun di udara tadi menancap separuhnya ke Gigas Cedar.
"Nggak
mungkin...satu tebasan aja bisa membuat...."
Eugeo mendadak berdiri
dan berkata dengan suara serak walaupun menjadi tak bisa berkata apa-apa untuk
sesaat.
Ia mencoba menjulurkan
jari-jari tangan kanannya untuk menyentuh tempat persilangan pedang dengan
pohon.
"Bilahnya tak
rusak sama sekali...dan ia benar-benar menebas kulit kayu Gigas Cedar sedalam 2
centimels...."
Aku menahan rasa sakit di sekujur tubuhku dan berdiri,menepuk nepuk debu yang ada di bajuku.
"Ini,ini kan cuma
buat mengetes hasilnya.Blue Rose Sword itu jauh melampaui Dragon Bone
Axe...dalam segi kekuatan serangan.Coba lihat Life Gigas Cedar. "
"U,un."
Eugeo mengangguk dan
sekali lagi menggambar segel sebelum mengetuk kulit pohonnya.Ia menatap window
yang muncul.
"...232.314."
"A,Apa!?"
Kali ini giliranku
yang kaget.
"Dikit
banget?Tertebas sedalam itu...kenapa...jangan bilang kalau itu nggak akan
bekerja kalau nggak pakai kapak...?"
"Nggak,bukan itu
alasannya."
Eugeo menarik kembali
tangannya dan menggelengkan kepalanya.
"Itu karena kau
menebasnya di tempat yang salah.Jika yang kau tebas itu bukan kulit kayu
melainkan intinya secara langsung,Life nya akan menurun drastis.Itu yang
kurasa...dan saat itu terjadi,Sacred Task ku akan berakhir sudah...
—tapi."
Eugeo memalingkan
muka,memberikan sebauh ekspresi rumit,dan menggigit pelan bibirnya.
"Tapi itu kalau
kita bisa menggunakan pedang tersebut dengan baik.Jika itu menyakitimu cuma
karena mengayunkannya sekali,dan jika kita tetap saja meleset dari bagian yang
kita incar,sama halnya akan jadi lebih lambat daripada menggunakan kapak."
"Aku tak bisa
melakukannya,tapi bagaimana denganmu,Eugeo?Kau kan harusnya jauh lebih
kuat.Coba deh mengayunkannya sekali."
Aku terus mendesak
Eugeo,dan meski ia menampakkan tatapan ragu,ia akhirnya berkata kalau ia akan
mencobanya dan menghadap ke pohon itu lagi. Tangannya yang terjulur menggenggam
gagang pedang Blue Rose Sword yang menancap di pohon besar itu sambil melakukan
gerakan mencabut.Bilah pedang tadi akhirnya lepas adari kulit pohon,dan tubuh
bagian atas Eugeo sempoyongan.Ujung bilah pedangnya mendarat di
tanah,mengeluakan bunyi nyaring dan garing.
"B,Beratnya minta
ampun.Aku nggak bisa melakukannya,Kirito."
"Kalau aku saja
bisa,kau pasti bisa,Eugeo.Dasarnya sama seperti mengayunkan kapak.Kau harus
menggunakan lebih banyak berat tubuhmu daripada saat mengayunkan kapak.Jangan
Cuma menggunakan kekuatan pergelangan tanganmu.Jaga agar tubuhmu tetap
seimbang."
Aku tak bisa menjamin
seberapa banyak kata-kata tadi dipahaminya.Eugeo benar-benar seorang yang telah
menggunakan kapak untuk waktu yang lama karena ia bahkan tak memerlukan waktu
sedetik pun memahami hal ini.Wajah polosnya berubah menjadi serius seraya
mengangguk dan membungkuk untuk mengambil pedang tadi.
Setelah menggerakkan
punggungnya dengan perlahan untuk mengangkat pedang,ia berhenti sesaat,
menghirup nafas dalam-dalam sekali sebelum dengan cepat mengayunkan pedang
dengan kecepatan luar biasa.Kaki kanannya menjejak tepat ke kanan depan dan
rangkaian skill meringankan tubuh ini membuatku tercengang.Sebuah lintasan biru
yang tertinggal di udara bersamaan dengan melajunya ujung bilah pedang tepat ke
pusat potongan. Namun di momen-momen final,kaki kiri yang menopang seluruh
berat tubuhnya sedikit terpeleset.Pedang yang sedang terayun,menggeloyor membentuk
tanda V di pucuknya,mengeluarkan bunyi nyaring dan terhenti.Eugeo jatuh ke
belakang dengan cara yang beda,denganku tadi,dan punggungnya menghantam batang
pohon tebal itu sebelum mengerang.
"Ugh..."
"Oi,oi,kau nggak
papa?"
Aku segera lari ke
arah Eugeo,yangn mengangkat tangan kanannya untuk menunjukkan kalau ia
baik-baik saja,namun tetap masih sambil mengernyit.Melihatnya yang seperti
ini,aku akhirnya sadar kalau sebenarnya rasa sakit kayak begitu juga ada di
dunia ini. SAO,ALO,game-game VRMMO yang ada ini akan mengirimkan rasa sakit
yang harusnya dirasakan oleh otak ke unit «Penyerap Rasa Sakit» untuk
meniadakan rasa sakit itu ketika avatar cidera.Tanpa ini,nggak ada satupun deh
yang akan melakoni pertarungan fisik dimana hit poin mereka menentukan kehancuran
mereka.
Akan tetapi,nampaknya
tak ada pola berpikir tentang hiburan di dunia ini.Meski rasa sakit ini
akhirnya mereda,pergelangan tanganku masih merasakan nyeri seolah-olah
keseleo.Kalau aku terluka parah oleh senjata,sakitnya kayak apa ya?
Di Underworld,jika
saja aku harus bentrok dengan orang lain,aku harus membuat tolok ukur
menyeluruh yang beda dengan sekarang.Tak peduli apapun,aku takkan pernah bisa
membayangkan betapa sakitnya terluka oleh pedang dengan berat seperti barusan.
Eugeo saja,yang lebih
bisa menahan rasa sakit daripadaku,menghabiskan waktu 30 detik sebelum raut
muka kesakitannya lenyap dan berdiri tegap lagi.
"Un,aku masih
belum bisa melakukannya,Kirito.Life kita akan menurun banyak sebelum kita bisa
benar-benar menghantamnya dengan akurat sekali saja."
Kami berdua memandang
pohon itu lagi.Blue Rose Sword yang mengenai puncak lubang bekas kapak yang
menganga dengan sudut agak miring,terpental dan menghujam ke tanah.
"Tapi menurutku
teknik gerakan kakimu nggak buruk-buruk amat tuh..."
Aku ingin bilang kalau
Eugeo kurang tegas tadi,namun setelah melihatnya yang mirip seperti anak kecil
yang sedang diceramahi,aku hanya bisa melupakan hal itu seiring kuambil sarung
pedang kulit putih yang tergeletak di tanah lumut.Eugeo mengambil Blue Rose Sword
dan dengan hati-hati menyarungkannya kembali ke sarung pedang di tanganku.Ia
lalu memasukkannya ke dalam karung kulit,mengikatnya dengan tali dan
meletakkannya tak jauh dari tempat kami.
Fuu,Eugeo menghela
nafas dan mengangkat Dragon Bine Axe yang ada di samping Gigas Cedar sebelum
berteriak,
"Uwahh,kapak ini
jadi seringan bulu rasanya—baiklah,leha-leha kita sudah cukup untuk
sekarang.Saatnya kerja keras di sore hari."
" Ahh..maaf telah
membuatmu melakukan hal semacam itu bareng denganku,Eugeo..."
Mendengar permintaan
maafku,pemuda itu menoleh kebelakang dan merekahkan sebuah senyuman lugu.Senyum
yang hanya bisa dideskripsikan sebagai kepolosan semata.
"Nggak
papa,Kirito.Aku juga ikut senang kok.Kalau begitu...aku yang akan mulai dengan
50 hantaman duluan."
KON KON.Bunyi berirama
datang seiring dengan kapak yang diayunkan.Aku memalingkan wajahku dari
Eugeo,berjalan menuju Blue Rose Sword yang tergeletak dan mengusap-usap
selubung kulitnya.
Akulah pastinya yang
berpikir dengan arah yang tepat disini.Jika aku menggunakan pedang ini,Gigas
Cedar pastinya bisa ditumbangkan.Akan tetapi,itu persis seperti apa yang Eugeo
katakan.Jika aku mengayunkannya dengan membabi buta,akan ada harga yang harus
dibayar.
Karena pedang ini ada
di dunia ini,harusnya ada seseorang di dunia yang mampu mengayunkannya sesuka
hati dan berbekalkan pedang itu.Eugeo dan aku hanya belum memiliki kondisi yang
dibutuhkan dalam sistem ini.
Jika begitu
masalahnya,apa sih kondisinya?Class kah?Level kah?Status kah?Apa itu
sebenarnya,dan harus mulai dari mana aku harus menyelidikinya...
"...."
Memikirkan hal ini,aku
bengong dengan mulutku yang sedikit terbuka.Ini disebabkan karena syok pada
daya tangkapku yang lamban. Tentu saja,aku kan tinggal membuka status window
milikku sendiri untuk mengeceknya.Kemarin,aku memanggil «window» pada roti
Eugeo...dan mencoba mematikan lampu minyak yang ada di kamar gereja.Aku nggak
kepikiran sama sekali.Bego amat ya.
Aku menjulurkan tangan
kiriku dan menggambar segel perintah seperti sebelumnya.Aku termenung dan kuketuk
segel tadi dengan punggung tangan kananku.Persis seperti yang kuduga,sebuah
lingkaran dan persegi panjang ungu muncul di pandangan mataku.
Tak seperti Window
roti sebelumnya,ada banyak kalimat disini.Aku secara tak sadar mulai mencari
petunjuknya,namun tak bisa menemukannya sama sekali nggak peduli apapun
caranya.
Pertama,ada kalimat
[UNIT ID:NND7-6355]di bagian paling atas.Unit ID;kata ini membuatku
merinding,tapi sekarang bukan waktunya untuk menggali lebih dalam tentang hal
ini.Aku menyimpan nilai alphanumerical ini dalam benakku,karena itu harusnya
adalah serial number yang biasa dipakai di dunia ini.
Dibawahnya ada tulisan
Durability yang juga bisa terlihat di roti dan Gigas Cedar,itu adalah «Life»
yang Eugeo bicarakan.Nilai yang ditunjukkan adalah [3280/3289].Biasanya,yang
kiri adalah nilai sekarang ini dan yang kanan adalah nilai maksimumnya.Alasan
kenapa ia menurun sedikit mungkin aku mengayunkan pedang dengan membabi buta
barusan.Aku lalu melihat ke bawahnya.
Baris selanjutnya
terdapat tulisan [Object Control Authority: 38].Dibawahnya lagi tertulis
[System Control Authority: 1]. Cuma itu saja.Jumlah Exp yang dibutuhkan dalam
RPG,level,indikator status; nggak ada sama sekali hal semacam itu.Aku menggigit
bibirku dan mengulanginya.
"Un...Object Control
Authority...ini... "
Istilah yang memberiku
feeling kalau ini pasti adalah parameter yang berhubungan dengan
peralatan.Namun,aku nggak ada gambaran seberapa besar parameter dengan angka 38
disini.
Aku menghela nafas dan
menoleh untuk melirik bagian belakang Eugeo yang sedang mengayunkan kapak
dengan giat.Sembari melihatnya,aku mendapat mendapat ide,oleh karena itu ku
hilangkan window ku dan mencoba untuk mengecek informasi pada Blue Rose
Sword.Kubuka simpul talinya sedikit,mengeluarkan sedikit gagangnya,menggambar
segel dan mengetuknya pelan.
Window yang muncul
memperlihatkan nilai Life 1997700 yang bisa menyamai Gigas Cedar dan juga
sesuatu yang ingin kulihat.Di bawah nilai Life,terdapat sebaris [Class 45
Object]yang terpampang disana.Adalah sebuah kesempatan yang sangat besar bahwa
memang ada sesuatu yang harus aku urus setelah melihat Control Authority
barusan.Authority-ku yang nilainya 38,jauh kurang dari 45.
Aku menghilangkan
window pedang tadi dan mengikatkan tali karungnya sebelum duduk bersebelahan
dengan pedang ini.Aku melihat menembus sela-sela dedaunan Gigas Cedar dan
memandang langit,dan mau tak mau mendesah.Aku sudah dapat banyak
informasi,namun masih saja aku tak bisa menggunakan Blue Rose Sword.Fakta itu
sendiri telah dipertegas oleh nilai numerik yang kulihat barusan.Aku mungkin
bisa melakukannya jika aku menaikkan level Authority ku sampai 45,tapi aku tak
bisa menemukan caranya.
Jika dunia ini
menggunakan sistem VRMMORPG biasa,aku tinggal berlatih terus-menerus atau
menghajar monster-monster untuk mendapatkan Exp.Aku benar-benar nggak habis
pikir apa aku punya cukup waktu untuk melakukan cara pertama,dan aku belum
pernah sekalipun menemui monster disini.Kalaupun aku menemui situasi
‘mendapatkan item langka namun tak memiliki level cukup untuk
meng-equipnya’,respon normalnya adalah untuk hal tersebut adalah mendapatkan
Exp dengan jalan bekerja disini.Namun,aku pasrah sajalah kalau tak mampu
menemukan satu pun cara untuk meningkatkan Exp ku.
Game MMO paling
menarik ketika tak ada clearing website dan player harus memulai dari awal
,serta mengetes segala hal yang ada—itulah apa yang akan dikatakan para user
kelas berat,dan mereka pastinya tak akan mengatakan ini setelah mereka kembali
ke kenyataan.Sembari ku memikirkan ini,Eugeo menyelesaikan ayunan ke 50
nya,menyeka keringatnya dan menoleh. "Gimana,Kirito?Kau masih mau
mengayunkan kapak?"
"Ahh...rasa sakit
ku sudah reda sedikit."
Aku berdiri
sempoyongan dengan kakiku dan mengulurkan tangan kananku untuk menggenggam
Dragon Bone Axe.Ia sungguh sangat sangat ringan kalau dibandingkan dengan Blue
Rose Sword.
Yah,mari berdo’a kalau
mengayunkan kapak ini akan meningkatkan parameter.Aku berpikir sambil
menggenggam kapak dan menariknya ke belakang.
"Uahhh...ini nih
surga yang absolut...."
Aku membenamkan
tubuhku yang masih belum terbiasa dengan rasa lelah ke dalam air hangat dan mau
tak mau berkata begitu. Area pemandian di gereja Rulid dibangun dengan adanya
sebuah bak air besar dari perunggu dengan ubin-ubin yang gosong dibawahnya
serta tungku yang dibangun diluar dinding untuk menambahkan kayu bakar untuk
memanaskan air.Ini benar-benar mengingatkanku tentang rumah pemandian abad
pertengahan di Eropa.Aku sama sekali tak tahu apakah ini di desain sedemikian
rupa oleh para pembuat dunia ini ataukah hasil dari evolusi mandiri melalui
simulasi beberapa ratus tahun.
Setelah makan
malam,kedua wanita di Gereja,Suster Azariya dan Selka yang menggunakannya,dan
setelahnya,aku masuk bersama 4 anak lak-laki lainnya.Setelah beberapa kehebohan
yang terjadi,anak-anak itupun akhirnya pergi.Akan tetapi,nggak ada secuil pun
kotoran di dalam bak penuh air ini.Aku menggunakan kedua tanganku untuk
mengangkat cairan bening dan mencipratkannya dengan keras ke kepalaku sebelum
melontarkan suara tertunda. Ufuee~
Sampai detik ini,aku
telah berada di dunia ini untuk sekitar 33 jam.
Kecepatan akselerasi
FLA di saat aku dive tak ku ketahui,jadi aku tak bisa menarik kesimpulan berapa
lama waktu aslinya yang telah berlalu.Jika kecepatannya setara — sama dengan
kecepatan waktu di dunia nyata,dan bila aku menghilang,anggota keluargaku dan
Asuna akan menjadi panik.
Memikirkan hal
ini,kegelisahan mengembang di tenggorokanku,membuatku tak mampu rileks saat
mandi dan dengan bingung memikirkan cara untuk meninggalkan tempat ini.Namun di
sisi lain,aku benar-benar ingin menemukan misteri-misteri lain dunia ini.
Aku,seseorang yang
bisa menyimpan ingatan Kirigaya Kazuto seiring datang ke dunia ini,hanya bisa
berpikir sesuatu yang abnormal sedang berlangsung.Itu karena tindakanku sendiri
saja akan menyebabkan penyimpangan drastis pada tes simulasinya.Para peneliti
mungkin tak sudi melihatku merusak eksperimen besar yang telah berlangsung
paling tidak 300 tahun ini.
Dengan kata lain,di
saat aku menghadapi kemelut yang mengejutkan,mungkin aku akan mengalami sebuah
kesempatan yang ada satu diantara sejuta juga.Yaitu,aku bisa mengetahui
identitas asli RATH — yang mempunyai kekuatan finansial yang tak cocok dengan
ukuran dan visibilitasnya — organisasi misterius.Ini adalah kesempatan pertama
dan sekaligus terakhir bagiku.
"Nggak,mungkin
ini,alasan,yang lain..."
Aku membenamkan
mulutku ke dalam air,membuat gelembung-gelembung dan mengatakan hal ini.
Atau mungkin,Aku
tinggal ikut saja pada hasratku sebagai seorang player game VRMMO.Aku terbawa
oleh hasrat bodoh dan kekanak-kanakan untuk «menamatkan» «dunia» ini— dunia
yang tak memiliki panduan apapun ini,dan terus maju menggunakan pengetahuan dan
instingku sendiri,mengasah sword skill ku dan mengalahkan banyak orang-orang
hebat untuk menggapai tujuan menjadi yang terkuat.
Menjadi kuat di dunia
virtual,gampangannya,adalah sebuah kesan palsu yang diciptakan oleh angka-angka
dalam parameter,dan itulah yang kupikirkan berkali-kali di masa lalu.Ketika
Heathcliff mematahkan sword skill pedang ganda level tertinggiku,ketika aku
roboh di hadapan Raja Peri Oberon dalam keadaan sangat mengenaskan,dan ketika
aku dikejar-kejar oleh Death Gun dan bertanya-tanya kemanakah aku harus
lari,ketika aku telah kehabisan ide,aku menggertakkan gigiku sepanjang waktu
itu dan bersumpah kalau aku takkan mengulangi kesalahan yang sama di waktu yang
lain.
Namun di waktu yang
sama,kobaran api yang membara di dalam diriku seolah ingin menelanku dalam
api.Blue Rose Sword yang tak mampu aku gunakan,berapa banyak ya orang yang
meampu menggunakannya dengan mudah di dunia ini?Seberapa kuatkah para Integrity
Knight yang melindungi hukum dan Dark Knight dari dunia kegelapan?Orang macam
apa yang menempati posisi teratas Gereja Axiom di dunia ini...?
Aku setengah sadar
mengibaskan tangan kananku untuk menyibak permukaan air,dan air tadi melayang
mengenai dinding di depanku dengna mengeluarkan suara lirih.
Di saat
bersamaan,sebuah suar dapat terdengar dari pintu yang menuju ke ruang
ganti,membuatku tersadar kembali.
"Arre,apa ada
orang di dalam?"
Aku sadar itu adalah
Selka,dan bergegas berdiri.
"Aah,yah,ini aku—
Kirito.Maaf,aku akan segera keluar."
"U...un.Santai
sajalah.Jangan lupa pasang kembali penyumbat tangki nya ketika kau keluar dan
matikan lampunya.Selamat tinggal kalau begitu...Aku akan kembali ke
kamarku,jadi selamat malam."
Sadar kalau Selka akan
pergi,aku mendadak memanggilnya agar berhenti dari balik pintu.
"Ah...Selka.Ada
sesuatu nih yang ingin kutanyakan padamu.Kau bebas kan malam ini?"
Selka mendadak
berhenti dan tetap diam untuk sesaat dalam sikap yang nampak ragu-ragu,namun
akhirnya berucap dalam suara yang sulit terdengar,
"...Sebentar sih
tak apa-apa.Anak-anak di kamarku harusnya sedang tidur,jadi akan kutunggu di
kamarmu."
Ia melangkah pergi
dengan langkah kecilnya tanpa menunggu jawabanku.Aku segera bangun dari bak
mandi memasang kembali penyumbat di bawah tangki,mematikan lampu,dan berjaln
menuju ruang ganti.Bahkan jika aku tak menyeka tubuhku dengan
handuk,tetesan-tetesan air ini akan mengering dengan cepat.Aku memakai baju
rumahan dan kembali ke koridor yang sunyi senyap sebelum menaiki tangga.
Aku membuka pintu
kamar tamu,dan Selka,yang sedang menggoyang-goyangkan kakinya sembari duduk di
atas tempat tidur,mengangkat kepalanya.Tak seperti malam kemarin,ia mengenakan
gaun tidur katun,dan mengikat rambut coklatnya menjadi tiga kunciran.
Selka tak menampakkan
perubahan ekspresi sedikitpun seiring mengangkat gelas yang terakhir kali
diletakkan di atas meja di sebelahnya dan menyodorkannya kepadaku.
"Oh,makasih."
Aku menerima minuman
itu dan duduk di samping Selka sebelum meminum air sumur sedingin es
itu.Rasanya seperti air yang masuk ke dalam tubuhku yang haus meresap ke dalam
kaki dan tanganku setetes demi setetes.Perasaan ini membuatku berseru,
"Uu—nektar,nektar!"
"Nektar?Apa
itu?"
Setelah itu,Selka
memiringkan kepalanya dengan tatapan seperti orang yang tak
mengerti.Sialan,istilah ini kan nggak ada di dunia ini.Aku panik ketika aku
sadar akan hal ini.
"Errm...itu
adalah sesuatu yang bisa dibilang lezat,air yang rasanya bisa menyembuhkan seseorang
sekali ia meminumnya...atau sesuatu semacam itulah."
" Fmm...kayak
elixir?"
"A,apaan
tuh?"
"Air pemberkatan
milik pendeta-sama.Kau mungkin belum pernah lihat sebelumnya,tapi sebotol kecil
air itu saja bisa langsung memulihkan Life sebanyak apapun yang berkurang
akibat luka atau penyakit."
"Eh.."
Semenjak ada sesuatu
semacam itu,kenapa juga virus bisa menyebabkan banyak orang yang meninggal
dunia?Aku memikirkan hal ini,namun sadar kalau lebih tak menanyakannya dan
tetap diam.Paling tidak dunia yang diatur oleh sesuatu yang namanya
diagung-agungkan,Gereja Axiom bukanlah surga seperti yang kupikirkan,dan
begitulah yang terjadi.
Selka menerima gelas
air yang kukembalikan dan berkata dengan kecepatan super cepat,
"Jika kau ada
sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku,cepatlah.Adalah hal yang terlarang
bagiku untuk masuk ke dalam kamar laki-laki setelah mandi,tapi kamar bagi tamu
tak masuk hitungan sih.Namun,Sister Azariya akan mengomeliku jika ia tahu akan
hal ini."
"Yah...aku
benar-benar minta maaf deh.Kalau begitu akan kutanyakan saja.Sebenarnya..aku
ingin dengar tentang kakak perempuanmu." Mendadak,bahu ramping di balik
gaun malam putihnya sedikit gemetaran.
"Aku tak punya
onee-san."
"Beneran tuh?Aku
mendengarnya dari Eugeo,tentang kakak perempuanmu,Alice..."
Bahkan sebelum aku
bisa menyelesaikan kata-kataku,Selka mengangkat kepalanya,membuatku sedikit
kaget.
"Dari Eugeo?Ia
mengatakakan padamu tentang Alice nee-sama?Sampai sejauh mana?"
"Ah..un,yah...Alice
belajar Sacred Art di gereja ini...dan enma tahun yang lali,ia dibawa pergi ke
Capital oleh Integrity Knight..."
"...Aku
mengerti.."
Selka menghela nafas
pelan dan menundukkan kepalanya,berbisik sembari melanjutkan kata-katanya,
"...Eugeo,ia
masih belum mampu melupakan...tentang Alice nee-sama..." "Eh...?"
"Semua orang di
desa...tak peduli itu ayah,ibu,Sister,semuanya tak mengatakan apapun tentang
Alice nee-sama.Kamarnya dibongkar beberapa tahun yang lalu...seolah-olah kamar
Alice nee-sama tak pernah ada...itulah kenapa,kupikir semua orang telah melupakan
tentang Alice nee-sama...jadi Eugeo..."
"Apa maksudmu ia
lupa?Eugeo benar-benar merindukan Alice.Karena hal itulah...jika saja ia tak
memiliki Sacred Task ini,ia mungkin telah bergegas menuju ke Capital."
Mendengar
kata-kataku,Selka tetap diam seribu bahasa untuk sesaat,dan kemudian berbisik,
"Begitukah...kalau
begitu,alasan Eugeo tak pernah tersenyum lagi adalah karena apa yang terjadi
pada Alice nee-sama."
"Eugeo...nggak
pernah tersenyum?"
"Ehh,Ketika
nee-sama masih di desa,ia selalu tersenyum.Jarang sekali untuk melihatnya tak
tersenyum.Aku masih sangat kecil waktu itu,namun aku masih mengingatnya dengan
jelas...namun,setelah nee-sama pergi,aku hampir tak pernah melihat wajah
tersenyum Eugeo.Juga...di hari-hari liburnya,jika ia tak mengurung diri di rumah,ia
akan pergi ke hutan,menyendiri sepanjang waktu...."
Aku terus mendengar
sambil membatin di dalam hatiku.Benar sekali Eugeo adalah seorang yang
melakukan sesuatu dengan kalem,namun ia tak memberikan aura seorang
introvert.Ia tersenyum sesekali ketika ia ngobrol denganku ketika kami menuju
ke hutan,pulang kembali ke desa,dan bahkan saat istirahat.
Alasan kenapa ia tak
mampu menunjukkan senyumannya pada Selka dan para penduduk desa kemungkinan
besar karena— rasa bersalah.Alice,seorang yang disayangi dan diharap-harapkan
untuk kedepannya,dibawa pergi,dan mungkin ia menanggung rasa bersalah semacam
itu dengan tak sanggup melakukan apa-apa..?Ia takkan menyalahkan dirinya
sendiri di depanku,yang orang luar yanng tak tahu apa-apa tentanng hal itu,jadi
mungkin itulah alasannya.
Jika begitu
perkaranya,jiwa Eugeo pastinya bukan sesuatu yang diciptakan oleh program.Ia
punya kesadaran sejati dan jiwa sepertiku...dan Fluctlight.Selama 6 tahun yang
telah berlalu ini,ia telah terluka parah oleh masalah yang menghantuinya.
Aku harus pergi ke
Capital.Aku sekali menguatkan pemikiran ini dalam diriku.Bukan hanya untuk
diriku sendiri,seiring dengan hal itu aku ingin membiarkan Eugeo pergi
meninggalkan desa untuk bertemu dengan Alice dan membiarkan mereka bersatu
kembali.Ide ini terus menerus membekas di dalam benak ku tanpa mampu kucerai
beraikan.Kalau begitu masalahnya,aku harus menebang Gigas Cedar...
"...Hey,apa yang
kau pikirkan?"
Kata-kata Selka
menarikku kembali dari alam berpikirku.Aku mengangkat wajahku dan berkata padanya,
"Bukan apa-apa
kok...Cuma berpikir soal sesuatu.Seperti yang kau bilang,Eugeo benar-benar
peduli pada Alice."
Tepat ketika aku
mengatakan kata-kata yang ada dalam hatiku itu,wajah Selka sedikit gemetar.Alis
mata indah dan mata besar itu menampakkan sebentuk ekspresi kesepian.
"Aku...tahu.Persis
seperti yang kuduga."
Sambil menjatuhkan
bahunya dan membisikkan kata-kata semacam itu,bahkan seorang kepala balok
sepertiku menyadarinya.
"Selka..apa kau
menyukai Eugeo?"
"A..Apa yang kau
katakan?"
Alis matanya
melengkung ke atas memperlihatkan tatapan protes,namun wajahnya telah merona
merah sampai ke lehernya.Kupikir ia akan menundukkan kepalanya,namun ia malah
berkata dengan terlihat sedikit tegang.
"...Hanya
saja,aku tak bisa menerimanya..tak peduli itu ayah atau ibu,bahkan mereka tak
pernah berkat begitu,mereka akan menghela nafas ketika mereka
membanding-bandingkan aku dengan nee-sama ketika ia tak ada,dan orang dewasa
yang lain pun sama.Itulah kenapa aku minggat dari rumah dan pindah ke
gereja.Bahkan ketika aku datang kemari...hal itu sama halnya dengan Sister
Azariya.Aku merasakannya ketika beliau mengajariku Sacred Art yang beliau akan
bilang kalau nee-sama cuma membutuhkan satu kali penjelasan sebelum mampu
memperlajarinya—namun Eugeo tak seperti itu...ia terus menerus menghindar
dariku.Mungin ia akan memikirkan nee-sama saat ia melihatku.Semua ini...bukan
salahku!Aku bahkan tak ingat wajah nee-sama...!"
Sosok mungil dibalik
gaun malam tipis itu menegang,dan sejujurnya,hatiku sangat tersentuh.Ini
mungkin sebab sampai saat ini,di sudut pikiranku,aku selalu berpikir bahwa
dunia ini sedang melalui beberapa simulasi,dan meski Selka dan yang lain
mungkin bukanlah program,mereka semua adalah eksistensi sementara.Aku memandang
gadis dua belas tahunan yang terus menangis ini,dan tak tahu apa yang harus
kulakukan seiring tubuhku yang menjadi kaku.Selka menggunakan tangan kanannya
untuk menyeka air matanya.
"...Maaf.Aku jadi
terlalu terbawa suasana."
"Nggak.nggak papa
kok.Yah,jika kau merasa ingin menangis,kurasa yang terbaik adalah menangis
saja."
Ngapain juga aku
mengatakan hal ini?Meski aku merasa begini,kalimat yang nampaknya berasal dari
idola drama yang populer di Jepang pada abad 21 ini membuat Selka tersenyum
sembari mengangguk dengan polos.
"...Un,yeah.Aku merasa
sedikit senang.Sudah lama sejak aku menangis di depan orang lain."
"Heh.Kau lebih
hebat,Selka.Aku menangis di depan orang lain ketika seumuran dirimu,tahu.
"
Benakku
mengingat-ingat waktu aku menangis di depan Asuna dan Suguha sambil berkata
begini.Selka membelalakkan matanya dan memandangku,
"Nah...Kirito,kau
sudah mendapatkan kembali ingatanmu ya?"
"Ah..nggak,nggak
kok,tentu saja nggak...aku hanya punya feeling semacam ini...t,toh,aku ya
aku,bukan orang lain...itulah kenapa aku cuma berpikir kalau kau perlu
melakukan apa yang kau mau kau lakukan,Selka."
Ini dia kalimat klise
yang lainnya.Selka merenung sesaat,kemudian menganggukkan kepalanya.
"...Yeah.Aku...mungkin
tak mampu menghadapi fakta bahwa aku memiliki nee-sama yang selalu ada di
depanku..."
Sembari melihatnya
mengatakan kata semacam itu dengan sikap teguh,aku benar-benar merasa bersalah
karena akulah yang akan membawa pergi Eugeo jauh darinya.
Tepat ketika aku
sedang berpikir keras,menara lonceng di atas kami menyanyikan melodinya.
"Ah...sekarang
sudah jam 9.Aku harus kembali ke kamarku.Oh ya...apa itu semua yang ingin kau
dengar,Kirito?" Selka memiringkan kepalanya seiring bertanya,dan aku
menjawabnya dengan ‘Nggak,ini sudah cukup.’
"Begitu.Aku akan
kembali ke kamarku kalau begitu."
Selka bangkit dari
kasur dan menuju pintu,namun setelah beberapa langkah,ia berhenti dan menoleh,
"Boleh
kubilang...Kirito.Apa kau juga tahu kenapa nee-sama dibawa pergi oleh Integrity
Knight?"
"Eh..ahh.Kenapa?"
"Aku tak tahu
sama sekali.Ayah takkan mengatakan apapun...aku pernah bertanya pada Eugeo
dulu,tapi ia tak mengatakannya padaku.Kalau begitu,apa alasannya?"
Aku meragu untuk
sejenak,namun ketika aku mengingat alasan itu,mau tak mau aku mengatakannya.
"Yah...Kupikir
itu begini,mereka pergi ke gua tertentu di ujung paling atas sungai dan
melewati Mountain Range at the Edge,dan tangannya menyentuh Tanah Kegelapan,itu
sih yang kudengar..."
"...Aku tahu...ia
melewati batas Mountain Range at the Edge..."
Selka nampak merenung
akan sesuatu,namun segera ia mengangguk dan meneruskan,
"Besok adalah
hari libur,tapi waktu sembahyang-nya sama dengan biasanya.Jangan lupa
bangun.Aku tak sudi membangunkanmu."
"A,Akan
kucoba."
Sekejab,Selka
tersenyum,lalu membuka pintu sebelum pergi.
Kudengar langkah
kakinya menjauh sebelum merebahkan tubuhku ke kasur.Aku benar-benar ingin
mendapat beberapa informasi tentang gadis misterius yang dipanggil Alice,namun
Selka,yang kala itu baru berusia 5 atau 6 tahun,benar-benar tak memiliki
ingatan sedikitpun,seperti dugaanku.Apa yang ku tahu adalah perasaan Eugeo
untuk Alice sangatlah besar.
Aku menutup mataku dan
mencoba mengingat-ingat sosok gadis yang dipanggil Alice itu.
Namun pikiranku
pastinya takkan bisa menggambarkan wajahnya,seiring dengan adanya secercah
cahaya keemasan terlintas di mataku.
Esoknya,aku dengan
dengan penuh rasa sakit sadar seberapa kecil bagian diriku sebenarnya yang
memikirkan tentang hal itu.
Bagian
4
*Klang*.Lonceng pukul
5:30 berdentang,dan aku membuka mataku saat itu,memikirkan kalau aku harus
melakukan apa yang aku bisa kulakukan saat ini sembari bangun dari tempat
tidurku yang rapi.
Aku membuka jendela
yang mengarah ke utara,meregangkan punggungku,dan menghirup dalam-dalam udara
penuh kesejukkan yang tercampur oleh warna fajar.Aku menghirup udara beberapa
kali laggi,dan rasa kantuk yang tersisa di dalam bagian belakang kepalaku
lenyap seutuhnya. Aku memasang telingaku untuk mendengar,dan anak-anak di kamar
seberang koridor telah terbangun juga.Aku bergegas mengganti pakaianku agar aku
masih punya kesempatan untuk memcuci sendiri pakaianku di sumur sebelum giliran
mereka.
«Initial Equipment» ku
, sebuah tunik dan celana katun,tak memperlihatkan tanda-tanda dari noda yang
jelas,tetapi Eugeo bilang kalau Life mereka akan dengan cepat menurun jika aku
tak mencuci mereka.Oleh karena itu,ini sudah saatnya aku mempertimbangkan untuk
mengganti bajuku.Aku akan mediskusikan ini dengan Eugeo —aku berpikir sambil
berjalan keluar dari pintu belakang dan tiba di sumur.
Aku menciduk beberapa
gayung air dari ember dan menuangkannya pada alas cuci Dan saat aku membungkuk
untuk membasuh wajahku,seseorang dengan cepat mendekatiku dari belakang.Itu
kemungkinan besar adalah Selka,aku berpikir begitu sembari mengangkat tubuhku
ke atas,menyeka air ditanganku seraya berbalik.
"Ahh….pagi,Sister."
Berdiri disitu adalah
Sister Azariya,yang sedang dalam sikap,yang sama sekali tak menunjukkan
tanda-tanda keburukan.Aku buru-buru menundukkan kepalaku,dan ia menggangguk
serta menjawab "pagi".Jantungku benar-benar terkejut melihat bibir
kencangnya lebih terlipat daripada biasanya.
"Jadi…Sister,apa
ada sesuatu…?"
Aku coba-coba
bertanya.Sister berkedip ragu dan dengan gampang berkata,
" —Selka
hilang."
"Eh…"
"Kirito-san apa
kau tahu sesuatu? Selka tampaknya sangat dekat denganmu…"
Apa dia mencurigai aku
berbuat sesuatu pada Selka?Aku merasa mallu untuk sejenak,tapi aku segera
merasa ini bukanlah masalahnya.Di dunia yang memiliki hukum absolut ini,Taboo
Index yang tak seorang pun mampu melanggarnya,Sister mungkin tak sampai
berpikir ini adalah sebuah perbuatan kriminal besar seperti menculik seorang
gadis.Dengan kata lain,dia merasa bahwa Selka menghilang dengan kemauannya
sendiri,dam secara mudahnya ia bertanya padaku jika aku tahu kemana ia pergi.
"Well…tidak,aku
belum pernah dengar apa-apa….ini hari libur,kan?Apa dia pulang ke rumah?"
Aku menganiaya otak
yang masih ngantuk-ku sambil mengatakan ini,tapi Sister langsung menggelengkan
kepalanya.
"Selka tidak
pernah pulang ke rumahnya bahkan sejak dia datang ke gereja ini dua tahun
lalu.Bahkan jika dia melakukannya,dia pasti akan mengatakannya padaku tanpa
menyembunyikan sesuatu.Dia pergi bahkan tanpa mengikuti sembahyang pagi
ini.Meskipun begitu—tidak ada aturan yang melarang ia berbuat begitu
sih..."
"Kalau begitu…apa
dia pergi membeli sesuatu?Apakah bahan makanan untuk sarapan sudah
tersedia?"
"Kami membeli
bahan makanan untuk dua hari penuh kemarin dan menyimpan mereka semua tadi
malam karena toko-toko di desa semuanya libur."
"Ah…Aku
tahu."
Saat ini,imajinasiku
terbatasku mencapai batasannya.
"….Dia pasti pergi
karena mempunyai urusan mendadak.Dia pasti akan kembali."
"…Akan baik-baik
saja kalau begitu kasusnya…"
Sister Azariya terus
mengernyitkan dahinya dengan sikap cemas,tapi tetap ia menghela nafas ringan
akhirnya.
"Kalau
begitu,kami akan menunggu sampa tengah hari.Jika sampai saat itu ia belum
kembali juga,Aku akan mencari para pemuka desa untuk mendiskusikannya.Maaf
sudah mengganggumu.Aku masih harus bersiap untuk sembahyang,jadi aku pergi
dulu."
"Yah…Aku akan
berkeliling mencarinya di dekat-dekat sini."
Setelah melihat Sister
mengangguk,membungkuk,dan pergi,aku menuangkan air ke dalam alas cuci ,sejenak
mendapatkan firasat buruk tentang hal ini.Aku ingat aku sedikit khawatir ketika
aku bicara dengan Selka kemarin,tapi aku tak ingat tentang apa itu.Apa hal yang
kukatakan adalah penyebab hilangnya Selka?
Aku menyelesaikan
sembahyang dengan kegelisahan di dalam hatiku,dihibur anak-anak yang terus
menerus bertanya kemana Selka nee-chan pergi,menghabiskan sarapanku,dan gadis
itu belum juga kembali.Aku buru-buru merapikan peralatan makan untuk sarapan
dan berjalan keluar dari pintu depan gereja.
Aku belum membuat
janji dengan Eugeo untuk ketemuan disini,tapi saat lonceng berdentang pukul
8,aku masih bisa melihat rambut berwarna kecoklatan berjalan menuju plaza dari
jalanan utara.Semangatku bergelora,dan aku berlari kearahnya.
"Ya,Kirito.Selamat
pagi."
"Pagi.Eugeo"
Aku menatap Eugeo,yang
masih tersenyum padaku seperti kemarin,dan dengan biasa menyapanya sebelum
melanjutkan, "Apa kau libur seharian juga,Eugeo?"
"Itu
benar,yeah.Itulah kenapa aku ingin mengajakmu berkeliling desa,Kirito."
"Itu bagus,tapi
sebelumnya,Aku butuh bantuanmu.Selka menghilang sejak pagi tadi…aku mau
berkeliling mencarinya…"
"Ehh?"
Eugeo membelalakkan
mata hijaunya,dan mengernyitkan dahi cemas.
"Dia pergi dari
gereja tanpa memberitahu apa-apa pada Sister Azariya?"
"Nampaknya
begitu.Sister bahkan bilang ini adalah kali pertama hal seperti ini
terjadi.Eugeo,apa kau tahu kemana Selka kemungkinan akan pergi?"
"Kemana dia
mungkin pergi,huh?Bahkan jika kau menanyakkannya padaku…"
"Aku mengatakan
sesuatu tentang Alice pada Selka tadi malam,jadi aku ingin lihat jika ada
tempat-tempat baginya yang mungkin memiliki kenangan dengan Alice…."
Saat itu juga,aku
akhirnya sadar,momennya begitu terlambat sehingga membuatku heran,kebenaran
dibalik kegelisahan di dalam hatiku. "Ahh…"
"Apa ada yang
salah,Kirito?"
"Jangan-jangan…
—Hey,Eugeo.Kau tak mengatakan pada Selka alasan Alice dibawa pergi oleh
Integrity Knight saat ia bertanya padamu,kan?Kenapa?" Eugeo berkedip
beberapa kali,dan akhirnya mengangguk pelan.
"Ahh…itu telah
terjadi sebelumnya.Kenapa…dan kenapa aku tak mengatakannya…Aku tak yakin apa
alasannya…tapi aku mungkin khawatir kalau Selka akan mencoba mengikuti langkah
Alice…"
"Itu dia"
Aku menggeram ringan.
"Aku mengatakan
pada Selka tadi malam tentang Alice yang menyentuh tanah kegelapan…Selka pasti
pergi ke Mountain range at the Edge " "EEHH!!"
Wajah Eugeo langsung
memucat.
"Itu sangat
buruk.Kita harus membawanya pulang sebelum penduduk desa tahu dan menangkapnya…Kapan
Selka pergi?" "Aku tak tahu.Ia telah hilang ketika aku bangun pukul
5:30…."
"Di musim
ini,fajar terbit sekitar pukul 5.Tak mungkin baginya untuk berjalan di hutan
jika ia pergi lebih awal.Jika begitu,3 jam…" Eugeo menengadah ke langit
dan melanjutkan kata-katanya,
"Ketika Alice dan
aku pergi ke gua,kami menghabiskan kurang dari 5 jam berjalan saat kami masih
anak-anak.Selka kemungkinan besar telah separuh perjalanan kesana.Aku tak tahu
kita bisa menyusulnya apa tidak jika kita mengejarnya sekarang…"
"Kita harus
cepat-cepat.Ayo berangkat!"
Aku berkata dengan
gelisah,dan Eugeo mengangguk kuat-kuat,
"Tak ada waktu
untuk persiapan.Untungnya,kita akan berjalan menyusuri tepian sungai,jadi tak
perlu khawatir masalah air.Baiklah…lewat sini." Eugeo dan aku berjalan
menuju ke utara dengan kecepatan yang tak akan membuat orang lain merasa aneh
karenanya.
Pertokoan menjadi
terlihat jarang-jarang,dan segera setelah kami melihat tak ada lagi pejalan
kaki lainnya,kami berlari menuruni tangga batu dengan kecepatan dimana kami
hampir terjatuh karenanya.Setelah menghabiskan waktu sekitar 5 menit berjalan
melintasi jembatan di atas sungai,kami meloloskan diri dari pengawasan penjaga
di pos penjagaan sebelum berlari keluar dari desa.
Tak seperti ladang
gandum yang menghampar luas di selatan,di daerah utara desa terdapat sebuah
hutan lebat.Sungai yang mengelilingi lembah membentuk Desa Rulid dan mengalir
menembus hutan,memanjang ke arah utara maupun selatan desa.Terdapat sebuah
jalan setapak kecil dengan rumput-rumput tipis yang tumbuh di tepian sungai.
Eugeo memusatkan
pandangan matanya pada jalan setapak yang bealih ke pinggiran sungai,berjalan
10 langkah lagi dan berhenti.Ia menggunakan tangannya untuk menghentikanku dan
berlutut untuk menyentuh beberapa rumput yang sedikit tinggi.
"Disini…ada
beberapa tanda yang menunjukkan bahwa tempat ini baru saja dilangkahi."
Dia bergumam dan
dengan cepat menggambar tanda untuk memanggil «Window» dari rumput tadi.
"Life-nya menurun
sedikit.Jika yang melangkahinya adalah orang dewasa,harusnya akan berkurang
lebih banyak.Seorang anak kecil pastinya yang datang kemari sebelumnya.Ayo
cepat."
"Ah…ahh."
Aku mengangguk dan
mengikuti Eugeo,yang berjalan lebih cepat.
Tak peduli seberapa
jauh kami melangkah,pemandangan sungai di sebelah kanan dan hutan di sebelah
kiri tak pernah berubah.Menyusuri jalan ini,kami menjumpai sebuah danau dan
sebuah lereng.Ini membuatku merasa kalau aku sedang memasuki jebakan «loop
landscape» yang dimiliki RPG kebanyakan.Aku tak lagi dapat mendengar suara lonceng
diatas menara,dan hanya bisa memperkirakan waktu berdasarkan posisi matahari
yang mulai meninggi sedikit demi sedikit.
Eugeo dan Aku terus
berlari-lari kecil menyusuri sungai,dan jika aku ini adalah aku di dunia
nyata,Aku akan benar-benar terengah-engah dalam waktu kurang dari 30
menit.Untungnya,pria di dunia ini nampaknya memiliki daya tahan tubuh yang
lebih tinggi dari rata-rata,dan kurasa itu lebih menyenangkan daripada lelah
karena menggerakkan tubuh.Aku pernah sekali menyarankan Eugeo untuk berlari
sedikit lebih cepat,tapi Eugeo bilang jka kita berlari terlalu cepat,Life kita
akan menurun dengan cepat,dan kita tidak akan bisa bergerak jika kita tidak
berhenti dan beristirahat untuk waktu yang lama.
Seperti itulah,kami
tetap berlari selama 2 jam dengan kecepatan yang cocok,tapi masih saja belum
ada tanda-tanda keberadaan gadis di depan kami.Ngomong-omong,berdasarkan waktu
sekarang,Selka mungkin telah mencapai gua.Keresahan dan kegelisahan menyebar
menerobos keluar dari mulutku dengan sedikit bau metalik.
"Aku mau
bicara…Eugeo…"
Aku berkata sambil
berusaha agar tidak mengacaukan nafasku.Eugeo yang berlari di depanku,menoleh
ke belakang untuk melihat.
"Ada apa?"
"Ini hanya untuk
pencegahan…tapi jika Selka memasuki tanah kegelapan,apakah dia akan segera
dibawa pergi oleh Integrity Knight?"
"Tidak…kurasa
Integrity Knight kemungkinan besar akan terbang ke desa besok pagi.Sama seperti
enam tahun yang lalu."
"Aku tahu…Kalau
begitu,bahkan jika yang terjadi adalah scenario terburuk,masih ada kesempatan
untuk menyelamatkan Selka."
"…Apa yang sedang
kau pikirkan,Kirito?"
"Sederhana
saja.Hari ini,jika kita membawa pergi Selka dari desa,kita mungkin bisa
bersembunyi dari kejaran Integrity Knight." "…"
Eugeo kembali
memalingkan wajahnya ke depan,tetap diam,dan berbisik, "Apa itu…
mungkin.Bagaimana dengan Sacred Task…"
"Aku tak pernah
bilang kau harus ikut serta,Eugeo."
Aku berkata santai
dengan nada menyindir.
"Aku akan membawa
Selka pergi.Ini adalah kesalahanku karena terlalu banyak bicara,jadi aku
bertanggung jawab dalam hal ini." "…Kirito…"
Melihat sisi wajah
Eugeo yang memperlihatkan ekspresi terluka,aku merasakan rasa sakit yang
menusuk jauh di dalam diriku.Akan tetapi,ini semua untuk mengguncang «Hasrat
Kepatuhan» nya yang kokoh.Meskipun aku mencerca diriku jauh dalam lubuk hatiku
karena menggunakan keadaan genting Selka sebagai alasan,Aku benar-benar harus
memastikan sekarang apakah Taboo Index hanya sebuah hukum filsafat atau sebuah
peraturan absolut yang dipercayai orang-orang yang hidup di dunia ini.
Setelah itu,Eugeo
menggelengkan kepalanya,dan beberapa detik kemudian.
"Tidak…ini tak
mungkin,Kirito.Selka juga memiliki Sacred Task.Bahkan jika aku tahu bahwa
Integrity Knight akan datang untuk menangkapnya,Aku takkan membiarkanmu pergi
bersamanya.Dan aku tak berpikir hal ini akan berkembang sampai sejauh itu.Selka
mungkin takkan sanggup melakukan tindakan kriminal yang berujung hukuman
mati."
"Tapi Alice
melakukannya."
Aku dengan enteng
memberikan contohnya.Mendengar itu,Eugeo menggigit bibir dan menggelengkan kepalanya
kuat-kuat untuk menyangkalnya lagi. "Alice…Alice memang spesial.Dia
berbeda dari semua orang lainnya di desa.Bahkan aku…tentu saja ia berbeda
dengan Selka juga." Setelah mengatakan itu,ia meningkatkan kecepatannya
seakan ia tak mau lagi lanjut berbicara.Aku mengikutinya dari belakang,berbisik
kepada gadis yang hanya namanya yang kutahu di dalam hatiku.,
— Alice…siapa
sebenarnya dirimu?
Bagi para penghuni
dunia ini,termasuk Eugeo dan Selka,Taboo Index buknalah sesuatu yang dapat
mereka langgar bahkan jika mereka menginginkannya.Itu seperti manusia di
kehidupan nyata yang tak mampu untuk mematahkan hukum fisika yang mnetapkan
bahwa mereka takkan mampu terbang.Ini adalah hal yang menegaskan pengamatanku
bahwa «mereka masih berbeda dengan diriku sebagai manusia meskipun mereka
memiliki Fluctlight sejati». Akan tetapi,melanggar sebuah Taboo yang bersifat
adikuasa…Eksistensi macam apa gadis bernamal Alice yang mampu mematahkan Taboo
yang begitu adikuasa itu?Apakah dia seorang tester player sepertiku yang menggunakan
STL?Ataukah—
Kakiku bergerak dengan
sendirinya seolah-olah mencoba untuk menyatukan semua pemikiran dalam
benak-ku.Pada momen ini,Eugeo memecah kesunyian. "Aku
melihatnya,Kirito."
Aku mengangkat
wajahku,dan seperti yang ia katakan,di ujung dari hutan ini,aku bisa melihat
batu berwarna putih keabu-abuan saling berjajar. Kami berdua berlari menyusuri
beberapa ratus meter yang tersisa dan berhenti di jalan berumput yang berubah
menjadi jalanan penuh batu kerikil.Aku terengah-engah dengan sikap sedikit
tertekan,melihat ke atas pada pemandangan yang ada di depanku sambil terpukau.
Ini bukanlah dunia
virtual—pergantian dari area satu ke area lainnya benar-benar terlalu
rapi,membuatku berpikir untuk mengatakan hal itu.Hanya ada buffer zone yang
sangat sangat sempit dan kecil membagi keduanya,dan mendadak pemandangan
menjadi sebuah pegunungan batu yang hampir tegak lurus.Hal yang menakjubkan
adalah ketika aku mengangkat tanganku,tempat yang dapat aku sentuh terselimuti
oleh salju tipis.Aku tak tahu seberapa tingginya pegunungan ini,tapi ada cahaya
putih murni yang bersinar di dekatnya.
Pegunungan bersalju
ini membentang kedua sisi kanan dan kiri tempat aku berdiri,sampai aku tak bisa
melihatnya lagi.Pegunungan ini rasanya seperti hendak membagi «sisi ini» dan
«sisi seberang» dunia ini dengan sempurna.Jika dunia ini memang benar-benar
memiliki perancang,aku benar-benar ingin mengkomplen bahwa rancangan
pembatasnya terlalu sederhana.
"Inikah… Mountain
range at the Edge ? Dan sisi di baliknya adalah Tanah Kegelapan…?"
Aku berbisik dengan
tak percaya.Eugeo menggangguk.
"Aku juga
terkejut waktu pertama kali datang kemari. Mountain range at the Edge
ini…."
"….dekat sekali
dengan kita sekarang."
Aku menghela nafas
sambil melanjutkan perkataannya dan secara setengah tak sadar memiringkan
kepalaku.Terdapat sebuah jalan tanpa rintangan,bukan jalan yang terbagi dan
jaraknya bisa kami tempuh hanya dalam 2.5 jam dengna berjalan lebih cepat.Jalan
itu seperti—seperti sedang membujuk kami,manusia membujuk penghuni Underworld menuju
area Taboo.Atau seebaliknya bisa dibilang,mengundang orang-orang dari tanah
kegelapan untuk menyerang…
Eugeo berbalik ke
arahku,yang sedang menenangkan diri,dan berkata dengan gelisah.
"Kalau begitu,ayo
bergegas.Kemungkinan besar jarak kita dengan Selka masih 30 menit
jauhnya.Segera setelah kita menemukan dan mengajaknya kembali, mungkin kita
masih bisa pulang ke desa ketika Solus masih bersinar."
"Ah,ahh…kau
benar."
Aku melihat ke arah
yang ditunjuknya dan aku bisa melihat bahwa sungai yang kami susuri ini
tersedot masuk—atau,lebih tepatnya,mengalir ke luar—sebuah lubang yang
menyembul keluar dari dalam dinding.
"Itukah…"
Kami berlari kecil dan
masuk.Tinggi dan lebar dinding ini tidaklah sempit.dan di sisi kirinya terdapat
jejak air yang mengalir,ada juga sebuah jalan bebatuan dengan lebar cukup untuk
2 orang berjalan saling berdampingan.Lubang itu tertutup seluruhnya oleh
kegelapan,dan terkadang ada angin dingin yang berhembus dari dalamnya.
"Oi,Eugeo…bagaimana
kita menerangi ruangan ini."
Aku sepenuhnya lupa
item penting yang dibutuhkan untuk menyusuri gua dan merasa panik saat aku
mengatakannya. Eugeo mengangguk dengan ekspresi yang menunjukkan agar
menyerahkan hal itu padanya,dan mengangkat sebatang rumput yang bahkan akupun
tak tahu kapan ia mencabutnya.Apa yang akan kau lakukan dengan sebatang rumput
bristle [22] Tepat ketika aku
melihat kedepan dengan tatapan bodoh,Eugeo berkata dengan ekspresi serius.
"System (システム・) Call! (コール!) Lit (リット・) Small (スモール・) Rod! (ロッド!)"
«System Call»?Tepat
ketika aku terkejut karenanya—
Ujung dari rumput yang
dipegang Eugeo mengeluarkan sebuah cahaya putih kebiru-biruan dengan
bunyi *swoosh*, dan munculah sebuah cahaya terang yang cukup untuk
menerangi beberapa meter kegelapan.Eugeo mengangkatnya dan melangkah masuk ke
dalam gua.
Keterkejutanku tidak
memudar seutuhnya sementara aku buru-buru mengikutinya dan berjalan
disampingnya,bertanya,
"Eu-Eugeo…barusan,apa
itu?"
Eugeo mengernyitkan
dahinya dengan kaku,namun dengan jelas menunjukkan sebentuk ekspresi gembira
seraya ia menjawab,
"Ini adalah
sacred art,tapi ini hanya yang paling sederhana.Aku melatihnya dengan
berlatihkeras untuk mendapatkan «Blue Rose Sword» tahun lalu."
"Sacred art…kau
tahu…System itu juga terdapat kata yang berarti Lit…atau sesuatu seperti
itulah?"
"Arti…tidak sama
sekali.itu tadi kata-kata formula.Kalimat yang digunakan untuk memanggil dewa
serta doa untuk mendatangkan keajaiban.Kata-kata formula Sacred Art level
tinggi kelihatannya lebih panjang daripada yang barusan tadi."
Aku paham,jadi dia
hanya menganggap itu sebagai sebuah mantra tanpa memikirkan itu sebagai sebuah
bentuk bahasa.Aku mengangguk-angguk jauh di dalam lubuk hatiku.Akan
tetapi,mantra ini benar-benar menuntut sebuah efek yang instans.Perancang dunia
ini pastinya seorang yang realistis.
"Ngomong-omong…apa
aku bisa menggunakannya?"
Ini bukanlah situasi
yang terbaik,namun aku tetap saja menanyakan sebuah pemikiran untuk
mencobanya.Eugeo mulai berpikir tak menentu.
"Aku mempelajari
mantra ini kapanpun aku memiliki waktu senggang saat ku bekerja,dan itu
menghabiskan waktu sebulan untuk menguasai mantra ini.Alice pernah bilang
sebelumnya bahwa orang yang memiliki bakat dalam hal ini bisa menguasainya
dalam sehari,dan orang yang tak memilikinya tak akan pernah bisa menguasainya
seumur hidup mereka.Aku tidak tahu bakatmu,Kirito,tapi tak mungkin bagimu untuk
bisa langsung menguasainya…"
Dengan kata lain,jika
aku ingin menggunakan sihir…sacred arts,aku harus mempraktekkannya berkali-kali
sampai tak terhitung jumlahnya untuk meningkatkan level skill-ku.Ini bukanlah
sesuatu yang dapat kuasai secara instan.Aku hanya bisa menyerah sekarang dan
menatap kegelapan di depanku.
Jalanan basah berbatu
abu-abu berkelok-kelok di depan.Angin sedingin es yang seolah bisa menyayat
kulit bertiup ke arahku dari depan.Aku mempunyai seorang kawan bersamaku,tapi
bahkan tak memiliki sebuah tongkat kayu,apalagi pedang,yang mana membuatku
menjadi khawatir.
"Hemm…..Beneran
nih Selka datang ke tempat seperti ini?"
Aku tak bisa
menghentikan diriku untuk tak bergumam.Eugeo dengan diam menggunakan rmput
bristle yang berpendar untuk menerangi jalan. "Ah…"
Bola cahaya putih
kebiru-biruan itu memperlihatkan sebuah kolam dangkal yang membeku.Bagian
tengah dari kolam itu telah terinjak ,menciptakan retakan-retakan di
sekelilingnya.
Aku mencoba untuk
melangkah di atasnya,dan es ini mengeluarkan suara retak dan retakan-retakannya
menjadi betambah besar.Dengan kata lain ada seseorang yang lebih ringan
daripada aku yang sudah melangkah di atas es belum lama ini.
"Aku
tahu…Perkiraan kita benar kalau begitu.Yang benar saja…aku tak tahu dia itu
sebenarnya gegabah atau memang tak kenal takut…"
Aku tak bisa berbuat
apa-apa kecuali bergumam.Mendengar itu,Eugeo memiringkan kepalanya dalam sikap
bingung.
"Sebenarnya,tak
ada apapun yang perlu ditakutkan sih.Tidak ada naga putih di dalam gua
ini,bahkan tikus atau kelelawar pun tidak ada."
"Ja-jadi
begitu…"
Aku sekali lagi diingatkan
bahwa meskipun disini ada musuh,mereka bukanlah monster penyerang.Paling tidak
aku dapat mengasumsikan bahwa Mountain Range At The Edge ada di dalam sebuah
field area sebuah VRMMO.
Punggungku yang terasa
tegang karena suatu alasan bisa mengendur pada poin ini—dan pada saat itu juga.
Ada suara aneh datang
bersama dengan angin dari kegelapan di depan kami.Eugeo dan aku saling melirik
satu sama lain. *Gii*, *gii*,suara itu kedengarannya berasal dari teriakan
sejenis burung atau hewan liar.
"Oi… Apa itu
barusan?"
"…Nah…Ini pertama
kalinya bagiku mendengar suara ini…Ah."
"Se-sekarang
apa?"
"Apa kau…mencium
bau sesuatu,Kirito…?"
Mendengarnya berkata
begitu,Aku berusaha keras mencium bau angin yang baru lewat.
"Ahh…Sesuatu,memberikan
bau terbakar…dan…"
Bau damar terbakar
yang mengandung sedikit miasma hewan buas tersembunyi di dalamnya.Raut mukaku
berubah ketika aku menciumnya.Ini bukanlah bau yang bisa membuatku menjadi
rileks.
"Apa ini…"
Tepat ketika aku
melontarkan kata-kata ini,suara yang lain datang,dan aku tersentak.
"KYAAAAAHHH…!!!",itu
adalah suara kencang yang tak diragukan lagi jeritan seorang gadis.
"INI BURUK!"
"SELKA…!"
Eugeo dan aku
berteriak hampir bersamaan sembari kami berlari menelusuri jalanan berbatu
licin yang bagian atasnya beku. Aku masuk ke dalam perasaan bahaya
terbesarku—sangat besar hingga aku tak bisa mengingat-ingat situasi lain dimana
aku pernah memiliki perasaan yang lebih kuat—membentur tubuhku seperti
es,membuat anggota tubuhku mati rasa.
Seperti dugaanku,
«Underworld» tak sepenuhnya adalah surga.Sebuah kebencian hitam pekat
terbungkus di bawah lapisan tipis kedamaian.Sebaliknya ini akan menjadi tidak
masuk akal.Dunia ini kemungkinan besar seperti sebuah jepitan raksasa yang
menjepit semua penghuninya di antaranya.Orang-orang tertentu menghabiskan
ratusan tahun untuk melonggarkan jepitannya perlahan-lahan,menyaksikan apakah
para penghuninya akan bersatu untuk melawan ataukah melemah dan dihancurkan.
Desa Rulid kemungkinan
besar adalah satu diantara tempat terdekat ke jepitan itu.Sementara «momen
terakhir» terus menerus mendekat,jiwa-jiwa para penghuni yang binasa dan lenyap
terus menerus meningkat.
Tapi aku jelas-jelas
tidak akan membiarkan Selka menjadi yang pertama.Itu karena akulah orang yang
membuat ia masuk ke gua ini.Aku harus memastikan bahwa ia bisa kembali dengan
aman dalam rangka untuk bertanggung jawab karena telah membuat nasibnya
terlibat…
Eugeo dan Aku terus
berlari dengan kecepatan penuh,mengandalkan cahaya lemah rumput.Nafas kami
menjadi tidak teratur,dan kapanpun kami menghirup udara,dada kami akan terasa
sakit.Kami hampir terpeleset beberapa kali,dan lutut serta pergelangan tangan
yang terus menerus membentur dinding es akan terus terluka.Tak sulit untuk
membayangkan bahwa Life kami berdua menurun.Namun,bahkan jika begitu
jadinya,kamu tak bisa memperlambat lari kami.
Sementara kami terus
bergerak maju,bau kayu terbakar dan bau busuk/amis hewan liar menjadi lebih
pekat. *Gii gii*,suara yang bisa terdengar disertai suara
metalik *gacha* *gacha*.Aku tak tahu orang-orang seperti apa yang sedang
menunggu di depanku,tapi aku dengan mudah bisa membayangkan bahwa mereka
bukanlah sekelompok orang yang ramah.
Karena aku tak punya
sesuatu bahkan sebilah pisau sekalipun di pinggangku.Aku harus menyusun
beberapa strategi sebelum melaju ke depan dengan hati-hati.
Aku berbisik kepada
diriku sendiri layaknya seorang game player,tapi perasaan yang berkata ini
bukan saatnya meliputiku.Wajah Eugeo menjadi suram bahkan lebih suram daripada
wajahku seraya ia berlari di depan dengan kecepatan yang sangat hebat.Tak
peduli apapun,aku kemungkinan tak akan bisa menghentikannya.
Tiba-tiba ada sebuah
cahaya jingga bergoyang-goyang pada dinding di depan kami.Dari
pantulannya,nampaknya ada kubah yang agak luas di dalamnya.Kulitku merasakan
sebuah sensasi menusuk yang jelas oleh adanya kehadiran dari musuh,mereka ada
banyak—sepasukan.Aku berdoa agar Selka baik-baik saja sembari melangkah masuk
ke dalam ruangan kubah itu bersama Eugeo.
Aku harus melihat
keadaan sekeliling dan memilih opsi yang paling sesuai—secepat mungkin.
Aku mengikuti
keputusan yang kubuat di dalam benak-ku dan membelalakkan mataku untuk
mengakses situasi layaknya sebuah camera wide-view yang sedang memotret.
Pada dasarnya,diameter
kubah bundar ini adalah 50 meter.Tanahnya diselimuti sebuah lapisan es
tebal,tapi disana ada sebuah retakan besar yang terbuka di bagian
tengahnya,memperlihatkan permukaan air hitam kebiru-biruan.
Cahaya jingga tadi
berasal dari dua buah api unggun.Di dalam tungku berbentuk sangkar logam
hitam *pacha* *pacha*, kayu bakar sedang membara. Juga,tepat
mengitari dua buah unggun tadi,terdapat sekelompok makhluk yang terlihat
humanoid tapi jelas-jelas itu bukan manusia mupun hewan liar,dan jumlah mereka
ada lebih dari 30.
Tiap-tiap dari
mereka,atau harus kubilang mereka semua tidak tinggi.Kepala dari makhluk itu
jika berdiri hanya setinggi aku,tubuh mereka sedikit bungkuk namun lebih
berotot,khususnya bagian lengannya yang terlihat aneh dan tangan yang memiliki
cakar tajam di ujungnya yang nampaknya sanggup untuk merobek-robek
apapun.Mereka mengenakan armor kulit ringan,dan pinggang mereka terdapat
sesuatu seperti bulu-bulu,tulang belulang,dan kantung kecil yang mengeluarkan
bunyi-bunyian.Juga—walaupun mereka nampak biasa-biasa saja,aku bisa merasakan
kekuatan dari machete buatan mereka.
Kulit mereka hijau
keabu-abuan,dan mereka mempunyai bulu-bulu tipis yang tumbuh di tubuh
mereka.Mereka semua botak plontos,tanpa terkecuali,dan mereka hanya menumbuhkan
rambut di samping telinga tajam dan berujung runcing mereka,seperti
kabel.Mereka tidak memiliki alis dan dibawah jidat mereka yang menonjol
terdapat mata besar yang tak cocok dengan tubuh mereka,semuanya berwarna kuning
korosif. Mereka sangat sangat abnormal— dan juga sesuatu yang telah biasa
kulihat.
Mereka adalah monster
level rendah «Goblins» yng pasti muncul pada RPG-RPG yang aku familiar
dengannya.Menyadari hal itu,aku menghela nafas.Goblin pada dasarnya adalah
monster yang digunakan oleh para pemula untuk berlatih dan memperoleh EXP,dan
stats numerik mereka normalnya sangat rendah.
Akan tetapi perasaan
rileks itu hanya bisa kurasakan sampai salah satu dari mereka yang berdiri di
dekat Eugeo dan aku menyadari keberadaan kami dan berbalik.
Tulangku membeku
seketika di saat aku merasakan ekspresi yang keluar dari mata kuning makhluk
itu.Matanya yang semula menunjukkan keraguan dan keterkejutan,kemudian berganti
menjadi sebuah kebengisan dan rasa lapar tanpa akhir.Itu sudah cukup untuk
membuatku gemetar layaknya seekor serangga kecil yang terjebak di jarring
laba-laba besar.
Orang-orang ini pun
bukanlah program.
Aku menyadari ini
dengan jelas di tengah-tengah ketakutanku yang luar biasa.
Para Goblin ini pun
memiliki jiwa asli,memiliki sifat dasar yang mirip dengan Eugeo dan aku sampai
pada batasan tertentu,kecerdasan yang lahir dari Fluctlight.
Tapi mengapa—?Mengapa
disini ada makhluk seperti ini?
Selama kurang lebih 2
hari aku terlempar ke dunia ini,aku memiliki sebuah kesimpulan kasar mengenai
eksistensi macam apa Eugeo,Selka,dan para penghuni Underworld ini.Mereka kemungkinan
besar adalah «Artificial Fluctlights» yang tersimpan dalam medium buatan dan
tak tersimpan dalam otak orang yang hidup. Aku tak bisa membayangkan medium apa
yang bisa memngawetkan jiwa manusia,tapi paling tidak tak sulit untuk
membayangkannya karena mesin STL bisa membaca jiwa seseorang,oleh karena itu
STL juga seharusnya bisa menduplikasi jiwa-jiwa tersebut.
Itu benar-benar sebuah
pemikiran yang mengerikan,tapi sumber dari duplikasi itu kemungkinan besar
adalah Fluclight yang baru lahir.Mereka mampu menduplikasi sesuatu yang disebut
sebagi «Bentuk Orisinil Jiwa» tanpa henti dan membiarkan mereka berttumbuh
kembang dari bayi-bayi di dunia ini.Selain itu,tak ada hipotesa lain yang
sanggup menjelaskan mengapa penghuni Underworld memiliki 'Kecerdasan Asli' dan
'Jumlah STL yang melebihi jumlah sekarang'.Apa yang aku takutkan di malam
pertama disini adalah alasan kenapa RATH menantang Tuhan—menciptakan AI
Sejati,Sebuah Kecerdasan Buatan,dan menggunakan jiwa manusia sebagai
cetakannya.
Tujuan ini telah 90%
selesai.Kejelian Eugeo telah jauh melampauiku,dan emosinya yang kompleks telah
memiliki arti yang mendalam.Dengan kata lain,tak akan aneh bagi RATH untuk
mengakhiri ekspresimen besar dan juga arogan ini.
Tapi kenapa eksperimen
ini masih terus dilanjutkan,hal ini menunjukkan bahwa RATH masih belum puas
tentang hasil yang mereka dapat sekarang.Apanya yang kurang? Aku terus
memikirkan hal ini,dan mungkin itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan «Taboo
Index»,peraturan yang Eugeo dan yang lain tak bisa melanggarnya.
Toh,asumsi ini tak
bisa menjelaskan eksistensi Eugeo dan yang lainnya.Mereka berbeda denganku dari
dimensi fisik,tapi jiwa mereka semua yang adalah «manusia»,benar-benar sama.
Tapi—jika itu yang
terjadi,goblin-goblin ini apa?Kebencian kuat ini yang terlihat seperti akan
mengalir keluar dari bola mata kuning mereka apa….?
Aku tak berpikir,dan
tak enggan berpikir bahwa sosok asli jiwa mereka adalah manusia.Mngkin RATH
menangkap goblin asli di dunia nyata dan membiarkan mereka mengenakan
STL—pecahan-pecahan pemikiran ini terlintas dalam benakku.
Si goblin dan aku
saling menatap satu sama lain kurang dari sedetik,tapi sudah cukup untuk
menakutiku.Sementara aku tak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa berdiri
mematung,goblin di hadapanku mengeluarkan sebentuk suara, *Giii*— yang
mungkin sebuah tawa,dan berdiri. Kemudian,dia berkata.
"Oi,lihat!apa
yang terjadi hari ini?Dua anak nakal lum putih lain datang kemari!"
Bersamaan dengan
itu,suara ribut *gigi*, *gigi*, datang dari segala penjuru
kubah.Dipimpin yang paling dekat,para goblin semua mengangkat machete mereka
dan berdiri,mengeluarkan sebuah tatapan lapar.
"APA YANG AKAN
KITA LAKUKAN?APA KITA BAWA MEREKA JUGA!?"
Pada awalnya seorang
goblin berteriak.Pada saat itu juga,sebuah teriakan terdengar dari belakang,dan
semua goblin berhenti tertawa.Diantara para monster-monster ini,ada goblin yang
tingginya dua kali goblin lainnya,ia terlihat dari kelas perwira.
Goblin ini memakai
scale mail,di dahinya ada sebuah hiasan bulu berwarna primer.Mata yang memiliki
semburat merah dibawah bulu itu mengeluarkan intelegensi jahat dan tatapan
sedingin es yang luar biasa dan mampu membuat seseorang pingsan.Si pemimpin
goblin menyeringai dan menunjukkan gigi kuning berantakannya sebelum berkata
dengan nada serak,
"Kita tak akan
memperoleh banyak keuntungan bahkan jika kita bawa dua lum laki-laki
itu.Terlalu banyak keributan nanti.Kita bunuh saja mereka berdua dan jadikan
santapan."
Bunuh.
Sampai sejauh mana aku
harus menerima keadaan ini?Aku tak habis pikir.
Aku harus bisa menyingkirkan
kemungkinan aku akan mati beneran disini,keadaan dimana tubuh fisikku yang
sebenarnya akan menerima pukulan fatal.Meski Goblin-goblin ini tak mungkin bisa
melukai tubuh fisikku yang terbaring di STL di dunia nyata.
Namun meskipun
begitu,aku tak bisa mengasumsikan bahwa hal ini akan menjadi seperti VRMMO
biasa dan berpikir bahwa ini hanya sebuah status yang buruk.Itu karena,disini
tak ada sihir pembangkit atau item yang digunakan untuk tujuan seperti
itu—begitu juga di area Gereja Central.Jika aku terbunuh oleh mereka disini,
«Kirito»yang ini kemungkinan besar akan menemui ajalnya.
Kalau begitu,jika aku
mati,apa yang akan terjadi padaku,kesadaran tubuh asliku?
Apakah aku akan
terbangun di markas RATH di Roppongi,dan si operator Higa Takeru menyodoriku
mimuman sambil berkata 'kau sudah bekerja keras'? Atau akankah aku terbangun di
hutan itu sendirian?Atau akankah aku menjadi jiwa tanpa tubuh yang hanya bisa
melihat dunia ini dihancurkan?
Juga,dalam situasi
ini—Akan jadi seperti apa nasib Eugeo dan Selka jika mereka terbunuh disini?
Tak sepertiku,yang
memiliki «personal medium» yaitu otakku,Fluctlight yang tersimpan dalam sejenis
instalasi memori besar,akan hilang ketika mereka mati… hal seperti itu
mungkin,kan?
Oh ya…Selka,dimana
dia?
Aku menyela pemikiranku
dan fokus pada adegan di depanku.
Menuruti instruksi
dari pemimpin goblin,empat anak buahnya mengeluarkan machete mereka sembari
berjalan mendekati kami,perlahan,dengan santai,menunjukkan gigi mereka dan
terkekeh-kekeh,kelihatan seperti mereka benar-benar berniat untuk membunuh
kami.
Goblin lainnya,yang
totalnya lebih dari 20,menunjukkan ekspresi gembira,semuannya terkekeh-kekeh
dengan senang *gigi*.Dibelakang mereka,aku akhirnya menemukan seseorang
yang aku cari.Aku tak bisa melihat dengan jelas dalam kegelapan,tapi
Selka,dengan pakaian sisternya,terbaring di sebuah gerobak jelek.Tubuhnya
terikat dengan tali jerami,matanya terpejam erat,tapi ekspresinya tampak bahwa
ia hanya pingsan. Jika kuingat-kuingat,pemimpin goblin barusan berkata «lum»
laki-laki itu—Kemungkinan istilah itu ditujukan pada manusia—yang takkan laku
dijual bahkan jika mereka menangkapnya,jadi mereka akan dibunuh.
Di sisi lain,gadis
akan laku dijual.Mereka berniat untuk menculik Selka,membawanya kembali ke
tanah kegelapan dan menjualnya seperti barang dagangan.Jika hal ini berlanjut
tanpa kami berbuat apa-apa,Eugeo dan aku pastinya akan dibunuh,namun nasib yang
menunggu Selka akan lebih kejam.Aku tak bisa hanya menyerah dan membiarkan ini
menjadi bagian dari simulasi,sama sekali tidak.Dia,sepertiku,seorang
manusia—dan juga hanya seorang gadis 12 tahun.
Kalau begitu,yang
harus kulakukan—
"Hanya ada satu
pilihan."
Aku bergumam. Disebelahku,tubuh
membeku Eugeo tergerak.
Kami harus
menyelamatkan Selka tak peduli apapun jadinya,bahkan jika aku harus
mengorbankan hidupku yang sementara ini.
Tentu saja tak
segampang itu.Perbedaan dalam kekuatan tempur sangatlah besar.Sementara ketiga
puluh goblin itu semua bersenjatan machete dan memakai armor,kami bahkan tak
punya tongkat sekalipun di tangan.Tapi meskipun begitu,kami harus maju.Apa yang
menggiring terjadinya situasi ini awalnya adalah kata-kataku yang ceroboh.
"Eugeo"
Aku menatap ke depan
dan dengan cepat berbisik.
"Dengar.Kita akan
menyelamatkan.Jangan bergerak."
"Siap."Aku
langsung mendengar jawabannya.Seperti dugaanku,hati di dalam dirinya memang
kuat.
"Akan kuhitung
sampai tiga,lalu kita akan hajar empat dari mereka yang ada di depan untuk bisa
menerobos mereka.Tinggi kita berbeda,dan kita pasti akan sukses jika kita tak
takut.Aku akan tangani bagian kiri,kau tangani yang kanan,lalu kita lemparkan
api ke dalam danau itu.Jangan buang rumput menyalanya.Segera setelah api
berkobar,ambil pedang yang tergeletak di tanag dan lindungi punggungku.Jangan
berpikir untuk coba-coba mengalahkan mereka.Aku akan menggunakan kesempatan ini
untuk menangani yang paling besar."
"…Aku belum
pernah mengayunkan pedang sebelumnya"
"Itu sama halnya
seperti mengayunkan kapak.Ayo..satu,dua,tiga!"
Kami ada di atas
es,tetapi Eugeo dan aku tak terpeleset saat kami berlari dengan kecepatan
tertinggi yang dapat kami lakukan.Kami terus berdoa agar keberuntungan ini
tetap berlanjut sampai akhir,dan aku meraung sekencang-kencangnya.
"UWOOOOHHHH!!!"
Eugeo agak lambat saat
ia berteriak "WAAAAAHHHH!!!' Suaranya terdengar seperti sebuah
jeritan,tapi nampaknya itu efektif karena keempat goblin itu membelalakkan mata
hijau kekuningan mereka.Akan tetapi,mungkin mereka tak tercengang oleh teriakan
tadi,tapi karena fakta bahwa «anak-anak nakal Ium» berani menyerbu mereka.
Aku berlari 10
langkah,tetap membungkuk dan mengarahkan tubuhku pada goblin paling kiri dan
satu disebelahnya.Bahu kananku menyerbu tepat ke arahnya.Mungkin itu adalah
sebuah tindakan yang tak terduga dan efek koreksi dari perbedaan tinggi kedua
goblin itu membuatnya berputar dua kali dan terpeleset die s setelahnya.Aku
melihat ke samping dan pukulan Eugeo sukses dan dengan indah mengenai
goblin-goblin itu sehingga mereka berguling-guling ke samping seperti tempurung
kura-kura yang menggelinding.
Aku terus merangsek ke
depan dan berakselerasi di tengah kepungan para goblin.Kemungkian
besar,goblin-goblin ini tak mempunyai kemampuan merespon yang tinggi karena
mereka hanya bisa melihat dengan tatapan kosong tanpa bisa melawan,termasuk
pemimpinnya.
Ya.Tetaplah seperti itu
dan jangan bergerak! Aku berdoa seolah-olah aku mencaci-maki mereka sementara
aku berlari melewati celah diantara mereka dan berlari menuju jarak beberapa
meter yang tersisa.
Saat itu juga,si
pemimpin goblin,yang nampaknya memiliki kecerdasan yang sedikit lebih tinggi
daripada yang lainnya,berteriak penuh amarah,
"JANGAN BIARKAN
MEREKA MENDEKATI API—"
Tapi dia sedikit
terambat.Euge dan aku bergegas menuju ke arah api dan menendangnya ke
air.Sejumlah besar abu bertebaran saat kedua api unggun besar itu tenggelam ke
dalam air hitam,meninggalkan suara *syuuu* sembari mereka lenyap disertai
sebuah kepulan asap putih. Kubah ini langsung menjadi gelap gulita untuk
sesaat—dan kemudian,sebuah sinar redup berwarna putih kebiru-biruan membuyarkan
kegelapan.Itu adalah sinar dari rumput bristle yang dipegang Eugeo di tangan
kirinya. Saat itu juga,kami mendapatkan keberuntungan kedua kami.
Para goblin
disekeliling kami semuanya berteriak,beberapa dari mereka menutupi wajahnya dan
yang lain memalingkan punggung mereka.Aku memandang ke sekelilingku dan melihat
bahkan si pemimpin goblin di sisi lain danau juga membungkukkan tubuh atasnya
dan menggunakan tangan kirinya untuk menutupi matanya.
"Kirito…ini…."
Eugeo berbisik dalam
keterkejutannya,Aku dengan enteng menjawabnya.
"Kemungkinan
besar…orang-orang ini takut terhadap cahaya ini.Sekaranglah kesempatan
kita!"
Dari senjata yang
berserakan di tanah sekitar danau,aku mengambil sebilah pedang lurus kasar yang
terlihat seperti sebuah lempengan baja besar dan sebilah pisau melengkung yang
volumenya sedikit lebih lebar di bagian ujung depannya.Aku menyerahkan pisau
itu ke tangan Eugeo.
"Pisau ini
gunakan layaknya sebuah kapak.Dengar,gunakan cahaya dari rumput bristle untuk
menahan dan menghalau musuh yang mendekat."
"Ki…Kirito?"
"Aku akan
menghajar yang satu itu."
Aku dengan enteng
menjawabnya dan melihat ke arah si pemimpin goblin yang melotot marah dari
balik sela-sela jari yang menutupi wajahnya.Aku menggenggam pedang lurus itu
dengan kedua tanganku dan dengan cepat mengayunkannya ke kiri dan ke kanan.Tak
seperti penampilannya,yang rasanya seperti agak tumpul,namun pedang ini jauh
lebih baik daripada Blue Rose Sword yang beratnya minta ampun.
"GURAAH! KALIAN
ANAK-ANAK LUM NAKAL …KALIAN BERANI-BERANINYA MERENDAHKAN «LIZARD KILLER»
UGACHI-SAMA INI!? "
Si pemimpin
memelototiku dengan satu matanya dan mendekat ke arahku sambil
berteriak,menghunuskan machete besar dari pinggangnya dengan tangan
kanannya.Pedang hitam legam bernodakan darah yang nampaknya menunjukkan
tanda-tanda bahwa ia tak terawat,memberikan sebuah tekanan yang abnormal.
Bisakah aku
mengalahkannya—!?
Menghadapi musuh yang
tak begitu tinggi,namun lebih berat dan kekar daripada aku,membuatku langsung
panic.Akan tetapi,aku segera menggeretakkan gigiku dan bergerak maju.Jika aku
tak mengalahkan orang ini dan menyelamatkan Selka,ini akan menjadi situasi
dimana aku telah membawakan takdir terburuk baginya dengan datang ke dunia
ini.Ukuran sih tak menjadi masalah.Di Aincrad lama,aku telah bertarung sampai
tak terhitung jumlahnya dengan musuh-musuh yang tingginya 3-4 kali daripadaku
dibawah kondisi dimana aku akan benar-benar mati apabila aku kalah.
"TIDAK! AKU TAK
ADA NIAT MENGHADAPIMU—AKU AKAN MENAKLUKKANMU!"
Aku berteriak,sebagian
kutujukan pada si pemimpin dan sebagiannya lagi kutujukan pada diriku sendiri
sembari aku berlari melewati jarak yang tersisa.
Kaki kiriku mengambil
sebuah langkah besar ke depan,menggunakan pedang ini untuk menebas bahu kanan
musuh secara diagonal.
Aku tak meremahkan
musuh,tapi reaksi dari si pemimpin goblin benar-benar jauh dari apa yang
kubayangkan.Ia mengabaikan pola seranganku dan mengayunkan machetenya secara
horizontal.Aku tetap menunduk dan berusaha untuk menghindari serangannya
itu.Aku rasa beberapa helai rambut terkena serangan itu karena aku merasa
sepertinya mereka ada yang rontok.Pedangku mengenai sasarannya,namun hanya bisa
menggores armor bahu logamnya.
Aku akan tertelan oleh
kekutan serangannya jika aku berhenti.Berpikir seperti itu,aku tetap menunduk
dan bergerak bergerak ke samping musuh,mengincar bagian sisi perutnya yang
terbuka sebelum mengayunkan serangan horizontal.Kali ini pun sama saja.Meskipun
aku mempunyai feeling begitu,aku tak mampu menembus scale male sederhana
itu,dan hanya sanggup membuat terbang mungkin 5-6 cuilan logam. TAJAMKAN
PEDANGMU SENDIRI DENGAN BAIK! aku memaki-maki si pemilik pedang ini di
dalam hatiku,menghindari serangan balik yang turun dari atas ke bawah.Bilah
tebal machete itu menembus lapisan es di tanah,dan aku bergidik ngeri melihat
kekuatan lengan si goblin.
Aku jelas-jelas tak
bisa menangani hal ini jika aku hanya menggunakan serangan tunggal.Aku membuat
keputusan ini,dan sementara si goblin sedang memulihkan diri dari keadaan
kakunya,Aku mengambil sebuah langkah besar ke depan dan meluncurkan serangan
balik ku.Tubuhku mulai bergerak dengan sendirinya dengan sikap setengah
otomatis seolah-olah sedang bergerak dalam sebuah gerakan yang sudah pernah
dilakukan secara berulang-ulang,atau dengan kata lain,teknik mematikan yang
disebut «Sword Skills».
Saat itu juga,sebuah
fenomena yang belum pernah kualami sebelumnya terjadi.
Pedangku mengeluarkan
sebuah cahaya sangat lemah.Bersamaan dengan itu,tubuhku melesat dalam kecepatan
yang jauh melebihi kecepatan fisik di dunia ini.Hal ini layaknya ada seseorang
sedang mendorongku dengan tangan tak terlihatnya dari belakang.
Serangan pertamaku
yang datang dengan sebuah ayunan ke atas dari posisi kanan bawah,menyerempet
kaki kiri musuh dan menghentikan pergerakannya.
Serangan keduaku yang berayun dari kiri ke kanan secara horizontal memotong pelindung dada armor itu
dan membuat sebuah luka ringan pada daging didalamnya.
Serangan ketigaku yang
dengan cepat berayun ke bawah dari kanan atas membabat habis lengan kiri musuh
yang terangkat untuk mempertahankan dirinya dari bagian sedikit dibawah siku.
Darah segar yang
keluar dari permukaan lengan yang terpotong itu terlihat berwarna hiram pekat
dibawah sinar putih kebiruan ini.Lengan kiri si goblin yang terbang *kurukuru*
jatuh ke dalam danau di samping kirinya,mengeluarkan efek suara benda berat
tercebur.
—Aku menang!
Seraya dengan yakin
mempercayai hal ini,aku benar-benar terkejut.
Serangan barusan …
sword skill serangan-tiga kali-beruntun untuk pedang satu tangan «Sharp Nail»
,yang bukan cuma penampilan luarnya saja,namun faktanya sword skill itu
benar-benar terjadi.Ditengah-tengah tebasan tadi,bilah pedang mengeluarkan
lintasan pedang berwarna merah di udara,dan tubuhku berakselerasi oleh kekuatan
tak kasat mata.Dengan kata lain,ini adalah «System Assist» disertai sebuah «Light
Effect».
Berarti jelas,di dunia
ini,Underworld,sword skill benar-benar ada.Sword skill ini tersinstall ke dalam
system boosted world. 'Kreasi Ulang sebuah
Imajinasi' takkan mampu menggambarkan fenomena ini.Aku hampir tak menyadari
skill yang barusan kukeluarkan adalah salah satunya.System mendeteksi awal
pergerakanku dan mengeluarkan sword skill dengan bantuan system assist yang
membenahi gerakannya.Jika tidak,fenomena seperti ini tak akan bisa terjadi.
Tapi jika
begitu,muncul sebuah pertanyaan baru.
Kemarin,Aku
menggunakan sword skill «Horizontal» dengan«Blue Rose Sword» dalam rangka untuk
menebang the Pohon Iblis«Gigas Cedar».Itu adalah skill dasar yang jauh lebih
mudah daripada «Sharp Nail»— hanya sebuah tebasan biasa.Akan tetapi,sytem tak
pernah membantuku.Pedangnya tidak berkilau,dan tubuhku tidak
berakselerasi.Bilah pedang itu meleset dari targetnya,dan aku terjatuh dalam
sikap yang aneh.
Akan tetapi,mengapa
aku bisa menggunakan sword skill saat ini?Apakah karena ini adalah pertarungan
yang sebenarnya?Tapi bagaimana bisa system menentukan apakah player sedang
serius bertarung atau tidak…?
Sambil membuat
pemikiran ini,aku berkedip.Di SAO lama,tak terlalu banyak celah yang
terjadi.Aku akan terkena efek stun setelah melakukan skill beruntun,dan
musuh,yang terluka parah,tak akan mampu bergerak selama ini. Namun—di dunia
ini,bahkan dengan adanya sword skill,ini bukanlah game VRMMO.Aku dengan
bodohnya melupakan hal itu.
Si pemimpin goblin
yang tangan kirinya terpotong tadi berbeda dengan monster-monster yang berasal
dari polygon,karena ia tak berhenti bahkan sedetik pun.Kilatan mata kuningnya
tak menunjukkan tanda-tanda takut maupun perasaan hampa,hanya kebencian luar
biasa dari dalam dirinya.Darah hitam pekat mengalir keluar dari lukanya
bersamaan dengan sebuah teriakan seperti kepanasan.
"GAUUAAAA!!!"
Dan dengan cepat ia
mengayunkan machete di tangan kanannya.
Aku takkan mampu menghindari
bilah pedang berat yang datang secara horizontal itu dengan tepat waktu.Area di
dekat ujung machetenya menyerempet bahu kiriku,dan tekanan kekuatannya saja
mampu membuatku terpental lebih dari 2 meter sementara punggungku mendarat
keras di permukaan licin es.
Saat itu juga,si
pemimpin goblin akhirnya membungkukkan badannya dan meletakkan machete itu
dimulutnya sembari menggunakan tangan kanannya untuk memegangi tangan kirinya
yang terbabat tadi. *Misa misa* - Sebuah suara mengerikan dapat
terdengar.Si pemimpin goblin dengan paksa melumatkan dagingnya untuk
menghentikan pendarahan.Tindakan ini jelas-jelas bukanlah tindakan standar yang
dilakukan AI.Ya… Aku telah menyadari hal ini di saat makhluk itu menyatakan
bahwa namanya adalah «Ugachi». Ini bukanlah pertarungan antara player melawan
monster,tapi dua orang yang menggenggam senjata dan mencoba untuk saling bunuh.
"Kirito! Apa kau
kena!?"
Sedikit jauh
dariku,Eugeo menggunakan tangan kanannya untuk menggengam pisau melengkung
sementara tangan kirinya mengenggam rumput berpijar tadi untuk menghalau para
anak buah si pemimpin goblin.
Aku mau bilang 'Ini
hanya luka gores',tapi lidahku kelu tak mampu bergerak seperti yang kupikirkan
seraya aku mengangguk disertai sebuah suara yang gemetaran.Semabari menggunakan
satu tangan untuk menopang tubuhku di atas permukaan licin es aku berdiri—
Sebuah perasaan terbakar menyeruak dari bahu kiriku,rasa-rasanya hal itu
sepertinya akan membakar seluruh syarafku. *Saka saka*—Percikan-percikan
muncul di bidang pandangku.Aku tak dapat berbuat apa-apa selain berteriak
seraya tenggorokanku mengeluarkan sebuah geraman.
Perih— Perihnya luar
biasa!
Perihnya melebihi
ambang batas rasa sakit yang mampu kutahan.Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali
meringkukkan tubuhku dan bernafas terengah-engah.Meskipun begitu,aku tetap
mencoba untuk melihat ke belakang untuk melihat bagian bahuku yang
terluka.Ujung tunic ku sobek seluruhnya dan memperlihatkan sebuah luka lebar
dan parah di kulitku.Itu lebih mirip seperti luka cabikan cakar raksasa
daripada luka tebasan pedang.Kulitku dan daging di baliknya benar-benar
tersayat-sayat sementara darah merah menyala terus menerus menyembur
darinya.Yang tersisa dari tangan kiriku adalah perasaan mati rasa yang panas
sementara ujung-ujung jariku tak bisa digerakkan,seolah-olah mereka bukan
milikku.
Mana mungkin ini
terjadi di dunia virtual ? Aku beteriak di dalam benak ku.
Maksud dari suatu yang
disebut dunia virtual adalah untuk menghilangkan semua rasa sakit dan kesusahan
yang nyata,keburukan serta sesuatu yang tercemar,dan mencapai sebuah lingkungan
yang bersiha nan nyaman,bukan?Apa maksudnya membuat tingkatan rasa sakit dan
penderitaan yang seperti kenyataan ini?Tidak— rasa sakit ini jauh melampaui apa
yang bisa disebut kenyataan.Jika aku benar-benar mengalami luka parah seperti
ini di kehidupan nyata,aku mensekresikan bahan kimia otak atau berakhir dalam
keadaan koma sebagai bentuk mekanisme pertahanan,bukan?Tak mungkin seseorang
sanggup menahan rasa sakit setingkat ini…
—Mungkin bukan begitu
maksudnya.
Aku berusaha keras
untuk memalingkan diriku dari lukaku mentertawakan diriku sendiri sebelum
mengganti pemikiranku. Aku,orang yang dipanggil Kirigaya Kazuto ini,sepenuhnya
tak terbiasa menghadapi rasa sakit yang nyata.Di kehidupan nyata,aku belum
pernah menderita luka parah bahkan sejak aku masih kecil.Ketika aku dipaksa
kakek ku untuk belajar kendo,aku dengan cepat menyerah. Memang sulit ketika aku
menjalani masa-masa pemulihan diri setelah insiden SAO,tapi berkat mesin
pelatihan berteknologi paling mutakhir dan pengobatan tambahan,aku tak perlu
mencemaskan rasa sakitnya.
Tentu saja,ini sudah
tak bisa lagi disebut sebagai dunia virtual.Nerve Gear dan Amusphere memiliki
fungsi penyerapan rasa sakit yang mampu menghilangkan hampir seluruh rasa sakit
,dan penyerapan yang levelnya setinggi itu,membuatku bertanya-tanya kalau hal
itu menjadi terlalu overprotective.Karenanya,besarnya damage dalam pertarungan
sederhananya ditentukan dari meningkat atau menurunnya Hit Point.Oh ya,jika
rasa sakit seperti yang kurasakan sekarang ini ada di Aincrad,aku pasti takkan
mampu meninggalkan Kota Permulaan. Underworld adalah sbuah surga buatan,dan
juga sebuah dunia nyata yang lain.
Aku tak yakin berapa
hari ini sudah berlalu,tapi akhirnya aku bisa memahami arti kata-kata yang
kukatakan pada Agil di tokonya.Sesuatu yang disebut kenyataan berkaitan dengan
rasa sakit,kerja keras,dan penderitaan.Hanya seseorang yang mampu bertahan dari
hal-hal yang mendera mereka itulah,dan bahkan sanggup mengatasinya,dapat
menjadi lebih kuat di dunia itu.Si pemimpin goblin,bukan,Ugachi telah
memahaminya,dan aku tak pernah memikirkan hal ini sekalipun sebelumnya.
Di ujung depan bidang
penglihatanku,yang buram oleh air mata,Ugachi menghentikan pendarahan ditangan
kirinya yang terpotong dan dalam diam ia melihatku.Matanya melayangkan sebuah
tatapan penuh rasa dendam sementara udara di sekitarnya nampak seperti
bergemuruh.Ia mengembalikan machete yang dia gigit ke dalam genggaman tangan
kanannya dan mengayunkannya. *Vun*.
"…Sungguh sebuah
penghinaan,kau tak akan pernah cukup membayar semua ini bahkan jika aku
memotongmu kecil-kecil dan melahapmu hidup-hidup,ayo kita lakukan!"
Ugacahi memutar-mutar
machete di atas kepalanya *Vun, vun* dan perlahan-lahan mendekat.Aku
melihatnya dari kejauhan,melihat Selka,yang terbaring setelah diikat dengan
kencang.Pikiranku berpikir bahwa aku harus berdiri,berdiri untuk betarung,tapi
tubuhku tak sanggup bergerak.Aku merasakan sepertinya kesan-kesan negatif yang
berkembang di dalam diriku telah menjadi pengekang dalam kenyataan yang
mengikatku…
Langkah-langkah kaki
yang berat tiba-tiba berhenti di depanku.Udara bergemuruh,dan aku merasakan
bilah pedang besar itu sedang diangkat.Sudah terlambat bagiku untuk menghindar
maupun membalasnya.Aku menggertakkan gigiku dan menunggu momen-momen aku
terbebas dari dunia ini.
Akan tetapi,setelah
sekian lama,bilah pisau guillotine itu tak pernah turun, *Za zaa-*apa yang
menggantikannya adalah suara permukaan es yang terinjak-injak dan
kemudian,sebuah suara yang familiar berteriak
"KIRITO—!!"
Aku membelalakkan
mataku dalam keterkejutan saat aku melihat Eugeo melompat ke depanku untuk
menebas Ugachi.Dia terus menerus mengayunkan tangan kanan yang memegang pisau
melengkungnya membabi buta dan memaksa musuh untuk mundur dua,tiga langkah.
Si goblin terkejut
pada awalnya,namun ia segera mendapatkan kembali penguasaan dirinya ,memegang
machetedengan terampil hanya dengan satu tangan dan menangkis semua serangan
Eugeo dari kiri dan kanan.Seketika,aku melupakan rasa sakitku dan berteriak,
"HENTIKAN,EUGEO!CEPAT
LARI!"
Akan tetapi ia tetap
berteriak,kehilangan kendali dirinya dan terus menerus mengayunkan
pisaunya.Seperti yang diharapkan dari seorang yang telah mengayunkan kapak
berat itu untuk waktu yang lama,kecepatan tiap-tiap tebasannya membuat mata
terbelalak,tapi sayangnya,pergerakannya terlalu sederhana.Ugachi awalnya nampak
seperti menikmati perlawanan dari mangsanya sembari terus bertahan dengan
antusias,dan kemudian, "GUASS!" ia mengaum dan menggunakan kakinya
untuk menendang kaki yang menyokong tubuh Eugeo.Eugeo pun kehilangan
keseimbangannya dan terjegal, dengan entengnya Ugachi mengangkat machetenya—
"HENTIKAAAAAAAAN——!!!"
Sebelum teriakanku
mencapai mereka,machete itu berayun secara horizontal.
Eugeo terkena tebasan
di perutnya dan terpental karenanya,mendarat tepat disampingku dengan suara
tumpul,aku secara insting berbalik dan sebuah perasaan sakit yang tajam terjadi
di bahu kiriku terasa bagaikan sebuah sambaran kilat,tapi kali ini aku
mengabaikan hal itu dan beringsut ke arahnya.
Luka Eugeo jauh lebih
serius daripada aku.Tubuh atasnya mendapat tebasan horizontal yang menganga,dan
dari luka bergelombangnya menyembur banyak darah segar dengan kecepatan yang
mengerikan.Dibawah sinar rumput yang masih ia genggam di tangan
kirinya,organ-organ yang bekerja tidak beres dapat terlihat oleh mata
telanjangku.
*Cough*.Dengan sebuah
suara berat,mulut Eugeo memuntahkan darah yang bercampur buih didalamnya.Mata
hijaunya kehilangan sinarnya saat mereka menatapku dengan tatapan hampa.
Akan tetapi,Eugeo tak
pernah berhenti mencoba untuk berdiri.Mulutnya menghembuskan nafas yang
bercampur dengan kabut merah di dalamnya,gemetaran sembari menggunakan
tangannya untuk menopang dirinya bangkit dari tanah. "Eugeo….itu sudah
Cukup…itu…"
Aku tak bisa berbuat
apa-apa selain berkata begitu.Rasa sakit di tubuh Eugeo bukanlah hal yang
sebanding dengan luka ditubuhku.Itu jelas-jelas luka yang sebuah kesadaran
normal takkan mampu menahannya. Di momen itu—mata yang kehilangan fokusnya itu
melihat lurus kearahku,dan ia melontarkan kata-kata dari mulutnya yang
bersimbah darah.
"Ke-Ketika masih
kecil dulu… kita berjanji…aku,Kirito… dan Alice, kita akan bersama mulai dari
hari kita lahir,sampai kita meninggal nantinya..kali ini,Aku pastinya harus…
melindungi…Aku harus…"
Pada momen ini tangan
Eugeo kehilangan kekuatannya.Aku segera mengulurkan tanganku untuk menangkap
tubuhnya.Tepat ketika berat tubuh kurus namun kekar Eugeo tersalurkan padaku…
Bidang pandangku
terliputi oleh kilatan putih yang datang menyela,dan jauh di dalam tabir
itu,sebuah bayangan samar-samar muncul. Dibawah naungan rona merah cahaya
matahari terbenam,aku sedang berjalan menyusuri jalan setapak diantara
ladang-ladang gandum.Seseorang yang menggandeng tangan kananku adalah anak
kecil berambut kecoklatan dan tangan kiriku digandeng oleh seorang gadis kecil
berambut pirang.
Itu benar… Aku percaya
dunia itu takkan pernah berubah.Aku percaya bahwa kami bertiga akan selalu
hidup bersama.Akan tetapi, kami tak sanggup melindunginya.Kami tak bisa
melakukan apa-apa.Mana bisa aku melupakan keputusasaan itu,ketidak berdayaan
itu?Kali ini… kali ini…Aku pastinya akan…
Aku tak bisa lagi
merasakan rasa sakit di bahuku.Aku dengan lembut menurunkan Eugeo yang tak
sadarkan diri ke permukaan es,menjulurkan tanganku untuk menggenggam pangkal
pedang lurus yang terjatuh di lantai.
Aku lalu melihat ke
atas dan mengayunkan pedang itu secara horizontal pada Ugachi,yang mengayunkan
turun machetenya tepat pada waktunya. "GURA…!"
Sang musuh mengaum
kencang dalam keterkejutan seraya tubuhnya sedikit goyah.Aku menggunakan
momentum itu sembari berdiri untuk menubruk perutnya.Si goblin kembali goyah
dan mundur dua,tiga langkah.
Aku mengacungkan
pedang di tangan kanannku ke titik pusat musuh,menghirup nafas pnjang,dan
menghembuskannya.
Itu benar bahwa aku
benar-benar pemula jika dihadapkan pada rasa sakit karena luka fisik.Akan
tetapi,aku pernah mengalami sebuah rasa sakit mutlak yang jauh melampaui
itu.Luka seperti ini tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan rasa sakit
kehilangan seseorang yang penting.Rasa sakit dari kehilangan adalah
satu-satunya hal yang takkan pernah lenyap tak peduli bagaimanapun seseorang
mencoba untuk memanipulasinya melalui mesin.
Ugachi mengeluarkan
raungan tanpa toleransi,dan para anak buah di sekiilingnya yang semula
terkekeh-kekeh,*kiki*, semuanya terdiam.
"Lum putih…jangan
sombong kau!!"
Aku mengumpulkan
kesadaranku ke ujung pedangku di saat Ugachi Ugachi terus menerus menyerang
membabi buta. *Kiiiin*. Bersamaan dengan suara ini,segala sesuatu yang ada
dalam bidang penglihatanku menghilang layaknya kilatan.Ini adalah perasaan
berakselerasi yang telah lama kulupakan,dimana semua syarafku mulai terasa
panas.Tidak—di dunia ini,hal itu pastinya bisa dibilang jiwaku sedang membara.
Sembari aku mengahadpi
machete yang berayun turun,aku mengambil satu langkah ke depan untuk menghidar
dan menebasnya dari bagian kiri bawah,untuk membabat lengan kanan musuh
dibagian dekat bahunya.Golong yang berayun bersama dengan tangan raksasa itu
putar-berputar di udara *vuun vuun*,dan mendarat di tengah-tengah
kerumunan goblin,menyebabkan banyak teriakan muncul.
Ugachi yang telah
kehilangan kedua tangannya,memperlihatkan kemarahan dan lebih banyak kekagetan
dari mata kuningnya seraya ia mundur.Cairan hitam yang terus merembes keluar
dari lukanya menetes ke permukaan es dan menciptakan uap.
"Bagaimana bisa
aku yang hebat ini kalah dengan seorang lum… seorang bocah nakal lum…"
Tanpa menunggu suara
terengah-engah itu selesai,aku merangsek ke depan dengan semua hal yang ku
punya.
"Bukan.Namaku bukan
«Ium»!"
Aku setengah tak sadar
mengatakan ini.Di waktu yang sama,ibu jari kaki kiri,ujung jari kanan,dan ujung
pedang yang mencapai ujung jariku menjadi setajam cambuk.Bilah pedang bersinar
kembali,dan kali ini muncul sebentuk cahaya hijau muda.Sebuah tangan tak kasat
mata mendorongku dengan kuat dari belakang sembari aku mengeluarkan sword skill
tusukan pedang satu tangan, «Sonic Leap».
"AKU ADALAH…
PENDEKAR PEDANG KIRITO."
*Pyun*.Disertai suara
membelah udara yang sampai ke telingaku,kepala raksasa Ugachi telah melayang
tinggi di udara.
Kepala yang
kelihatannya akan melambung lurus keatas itu berbalik dan dan jatuh.Aku
menjulurkan tangan kiriku untuk memegangnya,menggenggam bulu hiasan yang
membuatnya terlihat bagaikan sebuah bandul,mengangkat kepala si pemimpin yang
masih berdarah-darah dan berteriak. "AKU TELAH MEMENGGAL KEPALA PEMIMPIN
KALIAN!SIAPA SAJA YANG MASIH INGIN BERTARUNG,MAJULAH KEDEPAN!DAN SIAPA SAJA
YANG TAK LAGI INGIN BERTARUNG,SEGERA KEMBALILAH KE TANAH KEGELAPAN!"
Eugeo,bertahanlah sebentar
lagi.Aku menggumamkannya jauh di dalam lubuk hatiku sambil menatap tajam kearah
gerombolan goblin dengan hasrat ingin membunuh paling kuat dari mataku.Para
goblin itu mulai panik di saat mereka melihat pemimpin mereka tewas,tiap-tiap
dari mereka menatap satu sama lain dan mengeluarkan suara-suara panik *gii
gii*.
Sesaat kemudian,salah
satu dari mereka,yang berdiri di barisan depan,menggenggam tongkat dibalik
bahunya,melangkah maju.
"Gehe,jika
begitu,setelah aku membunuhmu,Aku,Abuli-sama akan menjadi pemimpin
selanju—…"
Sekarang,aku tak punya
waktu untuk dengan sabar mendengar ia menyelesaikan ocehannya.Sambil menenteng
kepala si pemimpin di tangan kiriku aku melesat maju,menggunakan skill yang
sama dengan sebelumnya dan menebas orang itu dari bagian rusuk kanan sampai
bahu kirinya.Dengan suara tumpul,darah yang memucrat setelahnya,tubuh bagian
atas yang terbabat itu meluncur turun sebelum mendarat di tanah. Dengan
begitu,para goblin yang tersisa akhirnya membuat keputusan mereka.Mereka semua
menjerit dan berlari menuju sudut kubuh.Beberapa goblin saling dorong satu sama
alin dan berebutan keluar melewati jalan keluar yang bukan tempat kami masuk
tadi,dan segera lenyap tanpa jejak.Gema suara langkah kaki dan jeritan itu
berangsur-angsur memudar dan lenyap.Kubah es ini memasuki momen-momen kesunyian
yang dingin,seolah-olah keributan barusan hanyalah sebuah kebohongan.
"EUGEO!! BERTAHANLAH !!"
Aku berteriak,namun
wajah pucatnya tak bergreak sedikit pun.Aku dapat merasakan hembusan nafas
kecil dari mulutnya yang sedikit terbuka,tapi kelihatannya nafas itu bisa
berhenti kapan saja.Luka parah di perutnya masih saja mengeluarkan darah.Aku
tahu aku harus menghentikannya,tapi aku tak tahu caranya.
Aku menggunakan tangan
kananku yang kaku untuk dengan cepat menggambar symbol dan menyentuh bahu
Eugeo.melihat Window yang muncul dengan sikap berdoa.
Life—Poin
Durabilitas,menunjukkan angka[244/3425].Juga,angka dibagian depanmenurun dengan
kecepatan mengerikan,satu poin tiap dua detik.Dengan kata lain,Life Eugeo akan
habis dalam 480 detik lagi—hanya ada kurang lebih 8 menit lagi tersisa.
"…Bertahanlah.Aku
akan segera menyelamatkanmu.JANGAN MATI!!"
Aku berteriak kembali
dan segera bangkit,berlari ke arah gerobak yang ditinggalkan para goblin.
Di gerobak itu ada
Selka,yang terikat diantara tong-tong kayu dan kotak yang aku tak tahu apa
isinya serta sejumlah besar senjata.Aku mengambil sebilah pisau dari kotak
terdekat dan dengan cepat memotong talinya.
Aku membopong tubuh
mungilnya,menggeletakkannya di lantai yang luas,dan segera mengecek
keadaannya,tapi di tubuhnya jelas-jelas tak ada luka-luka luar.Nafasnya jauh
lebih teratur daripada Eugeo.Aku memegang bahu yang terbalut pakaian sisternya
dan mengguncang-guncangnya dengan tenaga seminimun mungkin.
"SELKA…SELKA!
BANGUN!!"
Alis mata panjang
Selka langsung bergerak-gerak,dan mata coklat muda itu terbuka dengan sekali
kedipan.Nampaknya ia tak mampu mengenaliku hanya dengan cahaya yang keluar dari
rumput bristle disamping Eugeo sementara tenggorokannya mengeluarkan sebuah
teriakan kecil.
"Jangan…jangaan…"
Selka
menggoyang-goyangkan tangannya dan mencoba mendorongku ke samping,dan aku
memeganginya sebelum berteriak,
"SELKA,INI AKU!
KIRITO! JANGAN KHAWATIR,PARA GOBLIN TADI TELAH KABUR!"
Mendengar
suaraku,Selka segera berhenti berteriak.Dia menjulurkan jari-jarinya dan dengan
lembut menyentuh wajahku.
"Kirito…ini
benar-benar dirimu kan,Kirito…?"
"Ahh.aku datang
untuk menyelamatkanmu.Apa kau baik-baik saja?Apa ada yang terluka?"
"Tidak…Tidak
ada.Aku baik-baik saja…"
Mulut Selka berkerut
ke samping,dan ia langsung melompat untuk memeluk leherku.
"Kirito…Aku…Aku…!"
Suara hembusan nafas
pelan dapat kudengar di samping telingaku,mengeluarkan isak tangis
kekanak-kanakan—namun sebelum hal itu bisa terjadi,aku membopong Selka dengan
kedua tanganku dan mulai berlari.
"Maaf,menangisnya
nanti saja! Eugeo terluka parah!!"
"Eh…"
Tubuh meringkuknya
langsung terdiam membeku.Aku menghentakkan kakiku ke lantai yang dipenuhi
pecahan-pecahan es dan menyampar bagian tubuh goblin yang tersisa seraya
berlari ke arah Eugeo dan menurunkan Selka.
"Sudah terlambat
untuk melakukan perawatan biasa… gunakan Sacred Art-mu untuk
menyelamatkannya,Selka,Kumohon!"
Selka mendengarkan
perkataanku sembari ia menahan nafasnya dan berlutut sebelum dengan sangat
hati-hati menjulurkan tangan kanannya.Ia menyentuh bagian luka Eugeo yang
dalam,dan tiba-tiba menarik tangannya kembali.
Sesaat kemudian,ia
menggelengkan kepalanya yang diikat kepang tiga kuat-kuat.
"…Aku tidak
bisa…ini…luka semacam ini…,sacred art ku…tidak bisa…"
Sembari menggunakan
jari-jarinya untuk menyentuh Eugeo,wajahnya memucat.
"Eugeo… kau
bohong,kan… karena aku…Eugeo…"
Air mata mengalir
turun dari wajah Selka,menetes dan mendarat di genangan darah di atas es.Ia
menarik tangannya kembali untuk menutupi wajahnya,mengeluarkan sebuah isakan
tangis.Aku rasa terlalu kejam mengatakan hal ini pada seorang gadis kecil, tapi
aku berteriak.
"MENANGISLAH
SETELAH KAMU SEMBUHKAN EUGEO! TAK PEDULI BAGAIMANA PUN CARANYA,COBA
SAJA!BUKANKAH KAU INGIN MENJADI SISTER SELANJUTNYA! KAMU ADALAH PENERUS
ALICE,YA KAN!?"
Bahu Selka sedikit
tersentak ke atas untuk sesaat,namun segera turun kembali dengan lemah.
"…Aku…takkan bisa
seperti nee-sama…aku bahkan tak bisa menghafal mantra yang bisa dikuasai
nee-sama dalam tiga hari bahkan setelah sebulan mencobanya.Sekarang ini,apa
yang mampu kusembuhkan hanyalah…luka yang sangat ringan saja…"
"Eugeo,dia…"
Aku terbawa oleh emosi
yang memuncak di dalam diriku sambil berkata dengan putus asa,
"Eugeo datang
untuk menyelamatkanmu,Selka! Dia mempertaruhkan nyawanya bukan untuk Alice,tapi
untukmu!"
Bahu Selka kembali
tersentak,kali ini lebih kencang daripada sebelumnya.
Selama waktu berlalu
ini,Life Eugeo terus menerus menurun menuju angka nol.Hanya tinggal 2 menit
waktu yang tersisa,bahkan mungkin tinggal satu menit saja.Momen-momen kesunyian
ini seketika menjadi terasa begitu lama tak tertahankan.
Tiba-tiba,Selka
mengangkat wajahnya.Ekpresi takut dan ragu yang ia tunjukkan sebelumnya musnah
tanpa bekas.
"—Ini sudah
terlalu telat untuk perawatan biasa.Kita hanya bisa mencoba sacred art dengan
tingkat bahaya tinggi.Kirito, aku perlu bantuanmu."
"Kemarikan tangan
kirimu."
Aku segera menjulurkan
tangan kiriku,dan Selka menggunakan tangan kanannya untuk menggenggam tangan
kiriku erat-erat.Lalu, ia menggunakan kirinya untuk menggengam tangan kanan
Eugeo,yang terbaring di permukaan es,erat-erat.
"Jika sacred art
ini gagal,kau dan aku,kita berdua akan mati.Bersiaplah."
"Kalau begitu
biar aku saja yang mati—aku siap kapanpun kau siap!"
Selka menatap lurus ke
arahku dengan tatapan matanya yang teguh,menggangguk dan memejamkan matanya
sebelum menghirup nafas dalam sekali.
"System (システム)・call! (コール!)"
Suara kencangnya
menggema di seantero kubah es.
"—Transfer (トランスファー・) human unit (ヒューマンユニット・) durability (デュラビリティ、) right (ライト・) to (トゥ・) left!! (レフト)!!"
Suaranya
bergema. *Kiin*- Suara tajam itu terdengar semakain kencang—dan
kemudian,sebuah pilar cahaya biru muda muncul ,dengan Selka berada di
tengahnya.
Sinarnya jauh lebih
terang daripada sinar rumput bristle,berpijar,sementara ia menerangi semua
sudut kubah besar ini dengan warna biru muda.Aku tak bisa apa-apa selain
menyipitkan mataku,tapi itu terjadi hanya sejenak setelah tangan kiriku yang
digenggam oleh Selka tiba-tiba mendapat sebuah perasaan aneh mengelilinginya,yang
membuatku membuka mataku lebar-lebar.
Aku merasa seperti
seluruh tubuhku lenyap ke dalam cahaya yang seolah-olah itu mengalir dari
tangan kiriku.
Melihat dengan
jelas,tubuhku sesungguhnya sedang menciptakan banyak sekali bulatan-bulatan
cahaya kecil,yang berpindah dari tangan kiriku ke tangan kanan Selka.Aku
melihat ke arah dimana cahaya itu bergerak maju,dan cahaya yangn mengalir
melalui tubuh Selka itu,meningkatkan kemilaunya sebelum terserap ke dalam
tangan kanan Eugeo.
Pentransferan
Durabilitas.Dengan kata lain,ini adalah Sacred Art yang mentransferkan Life
dari satu orang ke orang lainnya.Jika aku membuka window-ku sekarang,aku pasti
akan tahu bahwa jumlah Life-ku sedang menurun.
Tak apa-apa.Ambil saja
semuanya.Aku berpikir diam-diam dalam hatiku seraya aku meningktakan kekuatan
di tangan kiriku.Selka,yang bertindak sebagai penyalur dan penguat
energy,terlihat seakan-akan ia sedang merasa kesakitan juga.Aku menyadari
kejamnya dunia ini sekali lagi,dan berapa mahalnya harga sebuah kehidupan itu.
Rasa sakit,penderitaan,dan
kesedihan.Alasan mengapa seseorang dengan sengaja bermaksud untuk menekankan
hal-hal yang tak seharusnya ada di dunia ini jelas-jelas karena ada sesuatu
yang berhubungan erat dengan eksistensi Underworld ini.Jika para teknisi RATH sedang
mencoba untuk meraih suatu bentuk terobosan dengan menyiksa Fluctlight
penghuninya,kelihatannya seorang penyusup yang tak terduga,yaitu aku,sedang
melakukan sebentuk campur tangan dengan menolong Eugeo disini.
Seraya berlanjutnya
pentransferan Life,tubuhku terliputi dengan sebuah hawa dingin yang kuat.Aku
menggunakan tatapan mataku yang berangsur-ansur memudar untuk mengamati
Eugeo.Lukanya terlihat sudah sangat mengecil daripada saat pelafalan mantra
tadi dimulai,tapi luka itu belum sembuh sepenuhnya,darah yang mengucur keluar
belum berhenti.
"Ki-Kirito…a-apa
kau masih baik-baik saja..?"
Selka
terengah-terengah kesakitan seraya ia berkata dengan kata yang putus-putus.
"Jangan khawatir…
tinggal sedikit lagi,berikan Eugeo sedikit lebih banyak lagi."
Aku segera
menjawab,tapi faktanya,mataku hampir kehilangan semua daya penglihatannya
sementara tangan kanan dan kakiku mulai mati rasa.Tangan kiri yang digenggam
Selka adalah satu-satunya bagian tubuhku yang mengejang dalam kehangatan.
Bahkan jika aku
kehilangan nyawaku di dunia ini,itu sepenuhnya tak apa-apa.Jika aku bisa
mengembalikan hidup Eugeo,aku sanggup menahan rasa sakit yang terasa lebih
sakit daripada sebelumnya ini.Akan tetapi,satu-satunya penyesalan yang akan ku
alami adalah aku takkan bisa melihat kelangsungan dari dunia ini sampai pada
akhirnya.Jika para goblin tadi hanyalah awalnya,jika serangan dari tanah
kegelapan berlanjut dan makin hebat,aku khawatir Desa Rulid akan menjadi yang
pertama yang terkena dampaknya.Aku akan kehilangan semua ingatanku ketika aku
logout,jadi mungkin aku takkan bisa login lagi.
Tidak,bahkan jika aku
menghilang—
Eugeo,yang menyaksikan
adanya para goblin dan menghunus pedang untuk bertarung dengan mereka pasti
akan melakukan sesuatu.Dia akan memperingatkan kepala desa,memperkuat
penjagaan,dan memperingatkan kota-kota tetanggan.Dia pasti akan melakukan hal
itu. Karenanya,aku tak bisa membiarkan Eugeo mati disini.
Ahh,tapi—hidupku sudah
hampir tamat.Untuk beberapa alasan,aku mengetahui hal ini.Eugeo masih belum
membuka matanya.Bahkan setelah aku menghabiskan seluruh Life-ku,itu masih belum
cukup untuk membawanya kembali dari jurang kematian?
"…Aku…tak
sanggup…jika aku melanjutkannya,Kirito, Life-mu akan…!"
Tangisan Selka nampak
terdengar dari kejauhan.
Jangan berhenti,terus
lanjutkan.Bahkan meskipun aku aku ingin mengatakan ini,mulutku tak mampu
bergerak,bahkan mempertahankan daya pikirku sendiri berangsur-angsur menjadi
makin sulit.
Apakah ini
kematian?Simulasi meninggalnya jiwa di Underworld..atau,akankah kematian jiwa
seseorang akan membunuh tubuh fisiknya di dunia nyata?Apa yang membuatku
berpikir begini adalah karena adanya rasa dingin yang tak bisa kutahan dan rasa
kesepian yang begitu mengerikan… Tiba-tiba,aku merasakan ada tangan seseorang
di bahuku.
Aku—kenal pada tangan
ini.Tangan lembut seperti bulu burung,yang tetap terus mencengkeram masa depan
dengan kekuatan yang lebih kuat dari siapapun.
...Siapa,kau...?
Aku bertanya tanpa
mengeluarkan suara,dan telinga kiriku merasakan sebuah hembusan nafas
lembut.Setelah itu,aku mendengar sebuah suara yang membuatku begitu terkenang
seakan membuatku ingin menumpahkan air mata.
『Kirito, Eugeo... Aku telah menunggu kalian berdua.Aku akan terus
menunggu...di puncak Central Cathedral…』
Rambut pirangnya
mengeluarkan cahaya layaknya bintang-bintang dan memenuhi diriku.Energi luar
biasa berdenyut mengalir ke semua bagian tubuhku,dan merembes keluar dari
tangan kiriku seakan-akan ia mencari jalan keluarnya.
Bagian
5
Suara nyaring perkusif
bergema di langit musim semi yang tinggi.
Eugeo menyelesaikan
ayunan kapak kelima puluh kalinya,menyeka keringat di keningnya dan
berbalik.Aku menurunkan bekal beserta air Siral dan bertanya.
"Bagaimana
lukamu? Apa masih sakit?"
"Un,aku berusaha
memuihkan diri sepenuhnya dengan seharian beristirahat.Tapi masih ada sedikit
bekas goresan tersisa.Juga…Aku tak tahu jika ini hanya imajinasiku,namun
nampaknya Dragon Bone Axe menjadi benar-benar ringan."
"Nampaknya
begitu.42 dari 50 ayunan kapaknya mengenai tepat di bagian intinya."
Mendengar hal
itu,Eugeo langsung mengangkat alisnya,dan kemudian tersenyum.
"Sungguh?Kalau
begitu aku yang akan memenangkan taruhan hari ini."
"Tak
mungkin."
Aku tersenyum
balik,kemudian mengambil Dragon Bone Axe dan menggunakan tangan kananku untuk
mengayunkannya dengan ringan.Kapak ini benar-benar terasa lebih mantap daripada
yang pernah aku ingat dalam memoriku.
Dua malam telah
berlalu sejak pengalaman mengerikan yang seperti mimpi buruk di dalam gua
«mountain range at the edge ».
Eugeo berusaha
mempertahankan Life-nya dengan bantuan sacred art Selka.Matahari baru saja
tenggelam saat aku memapah Eugeo di sisi kananku dan menenteng kepala pemimpin
goblin di tangan kiriku sekembalinya kami ke Desa Rulid. Semua orang telah
berkumpul di plaza,mendiskusikan apakah mereka akan mulai melakukan pencarian
dengan grup pencari.Segera setelah melihat kehadiran kami,mereka semua mendesah
penuh kelegaan,tepat sebelum kepala desa Gasuph dan Sister Azariya yang
akhirnya langsung mulai menghujani kami dengan omelan-omelan keras. Barangkali
para orang dewasa lebih merasakan keganjilan karena kejadian yang menurut
dugaan mereka tidaklah mungkin yaitu tiga anak muda yang melanggar «Aturan
Desa» terjadi.
Namun,ketika Aku
menyorongkan kepala si pemimpin goblin di tangan kiriku tepat ke depan para
orang dewasa,reaksi semua orang berubah.Mata hijau kekuningan Ugachi yang dua
kali ukuran manusia,dengan gigi-gigi tajamnya yang acak-acakan dan wajah
bengisnya,menatap lurus mereka,beberapa saat kemudiab para orang
dewasa,mengeluarkan teriakan dan kekhawatiran yang lebih nyaring daripada
sebelumnya.
Setelah itu,Eugeo dan
Selka adalah orang yang sebagian besar menjelaskan perihal perkemahan
gerombolan goblin di gua utara dan bagaimana mereka mengatakan bahwa mereka
adalah regu pengintai dari tanah kegelapan.Sang kepala desa dan yang lain
melihat mereka seperti ingin menganggap ini semua sebagai salah satu omong
kosong yang aneh dan hal yang kekanak-kanakan belaka,tapi mereka tak bisa lagi
tertawa saat mereka melihat kepala dari monster yang kuletakkan di jalanan berbatu.Diskusi
segera beralih menuju hal hal tentang mempertahankan desa, dan kami bebas
dengan aman dari ini semua sebelum akhirnya menyeret kaki-kaki lelah kami
pulang ke rumah.
Aku membiarkan Selka
merawat luka di bahu kiriku di ruang gereja,dan kemudian ambruk seperti
gundukan lumpur di atas tempat tidur,mulai untuk tidur.Hari berikutnya,Eugeo
dan Aku diizinkan untuk tidak bekerja dan,menikmati mewah serta rasa malasnya
tidur terus menerus.Malam yang lain berlalu,dan pagi ini pun tiba.Rasa sakit di
bahu dan rasa lelah di dalam tubuhku telah lenyap sepenuhnya.
Setelah sarapan,Aku
berjalan dengan Eugeo menuju hutan dengan ekspresi penuh semangat yang sama.Dia
telah menyelesaikan 50 ayunan —dan sekarang.
Aku menatap kapak di
tangan kananku dan berkata pada Eugeo,yang sedang duduk-duduk agak jauh dariku.
"Kubilang,Eugeo,apa
kau ingat...? Di dalam gua itu,ketika kau ditebas oleh goblin…kau mengatakan
sesuatu yang aneh,kan? Begini seperti kau,Eugeo,Aku dan Alice adalah teman
dulu-dulu sekali... "
Eugeo tak segera menjawab.Dia
tetap diam untuk sesaat keika angin sepoi-sepoi,meniup kencang pepohonan.Sebuah
suara lembut datang bersama dengan angin itu memasuki telingaku .
"...Aku ingat.Itu
harusnya tak mungkin... tapi untuk beberapa alasan,aku mengingatnya dengan
jelas.Aku ,Kirito dan Alice lahir dan tumbuh di desa ini bersama-sama... Alice
sedang berdiri disini di hari dimana dia dibawa pergi."
"...Aku
tahu."
Aku mengangguk dan
tenggelam ke dalam pikiranku.
Mungkin semua
ingatannya tercampur-aduk di situasi yang ekstrim itu.Aku mungkin bisa
menjelaskannya dengan hal seperti itu.Itu dikarenakan sesuatu yang membentuk
kesadaran dan kepribadian Eugeo adalah «Fluctlight»yang persis sepertiku,jadi
akan jelas baginya untuk membuat beberapa kekeliruan di dalam ingatannya saat di
tepi kematiannya.
Akan tetapi,masalahnya
adalah—dalam situasi itu.Aku juga mendapatkan ingatan yang membingungkan.Aku
menyaksikan Eugeo,yang berangsur-angsur mati disitu,dan benar-benar merasakan
sebuah ingatan baru yang menjelaskan bahwa aku sebenarnya tumbuh bersamanya di
Desa Rulid.Juga,aku bahkan mengingat tentang gadis berambut pirang,Alice,yang
belum pernah kutemui sebelumnya.
Ini tak mungkin.Aku
ini,Kirigaya Kazuto,seorang yang mempunyai ingatan mendetail tentang kehidupan
bersama dengan saudara perempuanku,Suguha di Kawagoe ,Prefektur Saitama sampai
hari ini (atau lebih tepatnya,sampai aku terbangun di dunia ini).Aku tak
merasakannya, aku juga tidak ingin memikirkannya,bahwa ini semua hanya karangan
belaka.
Apakah fenomena ini
hanyalah sebuah ilusi yang Eugeo dan aku lihat di waktu yang sama?
Jika begitu
perkaranya,hanya tinggal satu hal yang tak bisa aku jelaskan.Ketika Selka
menggunakan sacred art untuk mentransfer Life-ku pada Eugeo dan mencoba untuk
mengembalikan kesadarannya lagi,Aku merasakan kehadiran orang keempat di dalam
kesadaranku yang berangsur-angsur memudar.Orang itu bahkan
berkata :Eugeo,Kirito,Aku akan menunggu kalian berdua di puncak Central
Cathedral.
Aku tak bisa
menganggap bahwa suara itu hanyalah halusinasi yang terbentuk di tengah-tengah
proses memudarnya kesadaranku juga.Itu karena aku belum pernah mendengar
sesuatu seperti «Central Cathedral» sampai detik ini.Tentu saja,alaminya itu
bukanlah sesuatu yang ada di dunia nyata,dan meskipun aku telah menjelajahi
semua jenis dunia virtual,aku pun bahkan belum pernah mendengar ada tempat atau
bangunan seperti itu sebelumnya,begitu juga disini.
Dengan kata lain,suara
itu bukan berasal dariku maupun Eugeo,dan bahkan kemungkinan besar itu juga
bukan suara Selka;seseorang benar-benar telah bicara apdaku.Apa mungkin
itu…terlalu banyak celah untuk menyimpulkan bahwa suara itu berasal dari
Alice,gadis yang diculik dari desa 6 tahun yang lalu.Jika itu benar-benar
dia,apakah hal yang mustahil seperti masa laluku di desa Rulid bersama dengan Alice
dan Eugeo benar-benar ada....?
Aku menyela pikiran
itu untuk kesekian kalinya sejak aku terbangun,dan berkata,
"Eugeo.Di gua
itu,ketika Selka menggunakan sacred art kepadamu,apa kau mendengar suara orang
lain?"
Eugeo segera membalas
kali ini.
"Tidak ada.Aku
benar-benar kehilangan kesadaran saat itu.Apa kau mendengar sesuatu
Kirito?"
"Tidak…imajinasiku
saja.Lupakan tentang itu…kalau begitu,ayo kerja.Tujuan adalah mendapatkan hit
45 kali."
Aku buru-buru
mengesampingkan pemikiran itu dalam benakku,berbalik menghadap Gigas Cedar
lagi,menggenggam erat kapak dengan kedua tanganku sementara mengkonsentrasikan
seluruh bagian tubuhku.
Kapak yang kuayunkan
mengikuti lintasan yang kubayangkan dan membuat bekas,yang nampak seperti ia
tertarik kedalamnya saat ia mengenai bagian tengah berbentuk bulan separuh di
batang pohon.
***
Hari ini,akhirnya kami
menyelesaikan 1000 ayunan kapak bergantian 30 menit lebih awal dari
sebelumnya.Itu semua karena kami berdua tak terlalu merasa lelah dan tak perlu
kebanyakan beristirahat.Jumlah critical hit kami meningkat dari minggu
sebelumnya,dan mungkin ini hanya imajinasiku,tapi sepertinya mata telanjang
kami bisa menentukan seberapa banyak kemajuan yang kami buat dengan melihat
tandanya pada pohon raksasa itu.
Eugeo meregangkan
tubuhnya dengan malas dalam sikap puas,mengatakan bahwa kami harus makan siang
meskipun waktunya masih terlalu awal.Dia duduk di akar pohon biasanya,dan aku
duduk disampingnya.Eugeo mengeluarkan dua roti bulat dari dalam bungkusan kain
di sebelahnya dan menyerahkan satu padaku.
Aku mengambilnya
dengan satu tangan dan berkata disertai senyum masam sambil aku menatap roti
yang kerasnya masih sekeras batu.
"Akan lebih hebat
rasanya jika roti ini bisa menjadi lebih empuk seperti kapak itu yang rasanya
jadi lebih ringan."
"Ahaha"
Eugeo tertawa sepenuh
hati,mengambil sebuah gigitan besar dan mengangkat bahunya.
"…Sayangnya ini
masih tetaplah sama.Ngomong-omong…kenapa rasanya kapak ini jadi lebih
ringan…?"
"Mana
kutahu"
Aku berkata
begitu,namun kau telah memprediksikakn fenomena ini di saat aku membuka
«window» milikku malam sebelumnya.Object Control Authority dan System Control
Authority dan batas maksimum Life-ku yang meragukan itu telah meningkat
drastis.
Aku juga telah
membayangkan apa alasannya.Kami membuat gerombolan goblin di gua itu menyerah
secara paksa—dengan kata lain,kami menyelesaikan sebuah misi yang sulit,dan
membuat sebuah fenomena «Level up» yang biasanya digunakan dalam VRMMO-VRMMO
normal.Aku tak ingin mengalaminya lagi,tapi melakoni sebuah pertarungan sulit
akan mendapatkan imbalannya juga.
Pagi ini,aku pura-pura
tak tahu apa-apa dan bertanya pada Selka apakah dia juga sama seperti
sebelumnya.Sacred Art yang memiliki tingkat kegagalan tinggi minggu kemarin
sepertinya dapat ia gunakan secara baik sekarang.Selka,yang sebetulnya tidak
ambil bagian dalam pertarungan,juga mengalami efek «Level up».Kemungkinan
besar,kami bertiga dianggap sebagi sebuah anggota party.dan semuanya
mendapatkan EXP.Cara aku menafsirkan ini semua, seharusnya ini adalah sebuah
alasan yang bisa diterima.
Object Control
Authority Eugeo harusnya meningkat sampai sekitar angka 48 sepertiku.Oleh
karena itu,tidak ada alasan untuk tidak mencoba itu lagi.
Aku menyelesaikan roti
bulat keduaku dalam beberapa gigit dan berdiri tegak.Eugeo masih makan dengan
pelan sambil melihat-lihat.Aku berjalan menuju ke sebuah area terbuka besar di
depan batang Gigas Cedar dan menjulurkan tanganku ke bungkusan Blue Rose Sword
yang telah diletakkan disini beberapa hari yang lalu.
Aku menggenggam kain
pembukusnya dengan setengah percaya dan setengah berdoa,dan menggunakan seluruh
kekuatan dalam tubuhku untuk mengangkatnya.
"Ohh…"
Segera,aku hampir
terjatuh dan mengambil 2 langkah mundur.Berat yang ku ingat rasanya seperti
sebuah barbel dengan beban maksimum ditambahkan padanya,telah benar-benar
berkurang tingkatannya dan bila dirasakan sekarang bebannya mendekati sepotong
logam tebal. Pedang ini terus menekan pergelangan tanganku ke bawah dengan
kuat.Namun,berat ini rasanya jauh lebih menyenangkan,dan perasaan ini mengingatkanku
pada pedang kesayanganku di Aincrad lama.
Aku menggunakan tangan
kiriku untuk memegang kain pembungkusnya,membuka simpul talinya,dan menggunakan
tangan kananku untuk menggenggam pangkal pedang yang berhiaskan dekorasi indah
ini.Eugeo menggigit rotinya sambil membelalakkan matanya,dan aku tersenyum
membalasnya. *Sharin!!* Aku mengeluarkan pedang dengan bunyi yang dapat membuat
tulang belakang menggigil.
Tak seperti beberapa
hari yang lalu,Blue Rode Sword paling tidak sedikit lebih ringan saat ia
tergeletak dalam diam di tanganku,bagai seorang putri yang pemalu nan cantik.
Makin sering aku melihatnya,makin indah pula pedang ini kelihatannya.Apakah itu
gagang pedang dari kulit berwarna putih yang rasanya seperti menarik tangan
untuk memegangnya,bilah trasnparannya yang nampaknya menyimpan sinar yang
kompleks,atau kerumitan pola yang seperti mawar dan tangkainya,semua bagian itu
bukanlah sesuatu yang dapat dibuat ulang oleh senjata-senjata yang diciptakan
dari poligon-poligon yang aku familiar dengannya.Tak heran Bercouli dalam
cerita itu ingin mencurinya dari sang naga.
"Oi…Oi Kirito,kau
bisa mengangkat pedang itu?"
Eugeo nampak terkejut.
*Hyun hyun* Aku mengayunkan pedang itu dua kali untuk mendemonstrasikannya
padanya.
"Roti itu tidak
menjadi lebih empuk,tapi pedang ini nampaknya telah menjadi lebih ringan,Yah
lihat ini."
Aku menatap Gigas
Cedar lagi dan membungkukkan pinggangku.Kaki kananku mengambil beberapa langkah
ke belakang sambil aku menatap targetku dengan posisi menyamping,menggunakan
gerakan memutar untuk mensejajarkan pedang di tangan kananku.Sementara aku
berdiam diri untuk sesaat,bilah pedang itu terselimuti oleh cahaya biru muda.
"—SEII!!"
Aku berteriak singkat
sambil menjejakkan kakiku dengan kuat ke tanah.System Assist mengenali kecocokan
sword skill dan membuat tubuhku berakselerasi,memberikan sebuah tebasan dengan
kecepatan dan akurasi hebat.Ini adalah sword skill pedang satu tangan
«Horizontal». Blue Rose Sword nampak menyala bagaikan sambaran kilat horizontal
yang dengan keakuratan hit-nya,mengenai batang pohon dengan presisi
tinggi,mengakibatkan terjadinya suara tubrukan yang menggelegar.Batang besar
Gigas Cedar bergetar sedikit,dan burung-burung yang bertengger di dahannya
semua beterbangan.
Aku terpikat dengan
sensasi pencapaian dari «Manusia yang menjadi satu dengan pedangnya»yang tak
pernah kualami untuk waktu yang lama,dan aku menatap lengan kananku yang
terjulur ke depan.Bilah pedang biru muda dan keperakan itu separuhnya tertanam
dalam urat kayu yang mengkilap dengan cahaya hitam metalik.
Kali ini,mata Eugeo
dan bahkan mulutnya melebar sementara ia menjatuhkan roti yang telah ia makan
separuhnya itu ke tanah.Akan tetapi ,anak laki-lak yang melakukan pekerjaan
penebang kayu sebagai Sacred Task-nya kelihatannya tidak memperhatikannya,sambil
ia berbicara dengan suara yang bergetar,
"….Kirito…,apakah
itu….yang dinamakan «sword skill» ?"
Kukira juga
begitu.Dari apa yang aku dengar,kelihatannya konsep sword skill juga ada di
dunia ini.Aku hanya tidak tahu apakah yang disebut sword skill ini diatur oleh
system atau tidak.Aku menyarungkan pedang ini ke dalam sarungnya di tangan
kiriku dan dengan hati-hati menjawab,
"Ahh…Kurasa juga
begitu,yah."
"Jika
begitu…Sacred Task mu sebelum kau dibawa pergi oleh Dewa Kegelapan kemungkinan
menjadi seorang yeoman…tidak,mungkin kau adalah prajurit penjaga di sebuah kota
besar.Hanya angkatan bersenjata saja yang akan diajari sword skill asli."
Eugeo mulai
berkata-kata dengan cepat,seperti sebuah pemandangan yang langka dilihatnya
membuat mata hijaunya berkilauan.Sambil melihatnya,aku segera memahaminya.Ia
diberi tugas sebagai penebang kayu sebagai Sacred Task-nya,dan selama 6 tahun
ini,terus-menerus mengayunkan kapak ini tanpa mengeluh—tapi tak diragukan lagi
ia memiliki jiwa seorang pendekar pedang.Kekagumannya pada sesuatu yang disebut
pedang dan keinginan untuk menguasai sword skill telah tertanam kuat jauh di
dalam dirinya.
Eugeo mengambil satu
langkah ke depan,dan seterusnya sebelum tiba di depanku,menatap lurus ke mataku
dan bertanya dengan suara bergetar. "Kirito… sword skill milikmu,dari
perguruan mana itu berasal?Apa kau ingat nama perguruanmu…?"
Aku memikirkannya
secara instan,dan kemudian menggelengkan kepalaku,
"Tidak.Aku
ingat.Sword Skill-ku adalah «Aincrad's Style»."
Tentu saja nama ini kubuat
baru saja ditempat ini,tetapi setelah aku mengatakannya,kurasa tak ada nama
lain yang cocok.Itu karena semua skill ku kupelajari dan kuasah di kastil
mengambang itu.
"Ain—crad,
style."
Eugeo mengulang nama
itu sambil mengangguk.
"Nama yang
aneh.Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya,tapi mungkin itu adalah
nama dari guru atau nama kota tempat kau tinggal…
—Kirito,yah…aku…"
Eugeo tiba-tiba
menundukkan wajahnya dan bicara tergagap-gagap.Tapi beberapa detik
berikutnya,dia mengangkat wajahnya lagi bersamaan dengan sinar penuh ketetapan
hati yang keluar dari matanya.
"—Bisakah kau
mengajariku «Aincrad-style Sword Skills» mu? Aku bukan seorang prajurit,bahkan
juga bukan seorang penjaga desa….jadi mungkin ini akan bertentangan dengan
beberapa aturan…"
"Apa didalam
Taboo Index atau Hukum…Kerajaan ada pasal yang berbunyi «siapapun yang bukan
prajurit tidak boleh mempelajari sword skills»? "
Aku bertanya dengan
tenang.Eugeo menggigit bibirnya pelan,dan setelah beberapa saat,berbisik.
"…Tidak ada pasal
seperti itu….tapi adalah hal yang terlarang untuk memiliki «Banyak Sacred
Tasks».Normalnya,seseorang yang diberi tugas Sacred Task sebagi penjaga atau
prajuritlah yang bisa mempelajari sword skill…Aku mungkin akan dipandang
menyerah pada Sacred Duty-ku sendiri…"
Bahu Eugeo
perlahan-lahan turun.Akan tetapi ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga
otot-ototnya yang menegang bergetar sedikit.
Aku nampaknya bisa
melihat belenggu di sekitar hatinya.Orang-orang yang hidup di «Underworld»
ini—«Artificial Fluctlights»yang dipergunakan oleh RATH sebagai sebuah alat
produksi massal— mempunyai poin unik yang mana orang-orang seperti kami di
dunia nyata tak memilikinya.
Hampir bisa
dipastikan,mereka tidak akan pernah melawan aturan para-petinggi yang telah
melekat ke dalam kesadaran mereka.Peraturan Tertinggi Gereja Axiom «Taboo
Index» bersama dengan Peraturan Kerajaan Norlangard «Fundamental Law»
disampingnya , mereka bahkan tidak akan pernah melawan «village rules» yang
telah diwariskan secara turun-temurun oleh Desa Rulid kepada mereka.Mereka
takkan mampu melakukannya.
Karenanya,Eugeo hanya
bisa menekan keinginannya untuk mencari teman masa kecilnya,Alice yang dibawa
pergi ke Capital.Menahan keinginan hatinya dengan terus menerus mengayunkan
kapaknya,menghadapi pohon raksasa yang pastinya tidak dapat ditumbangkannya
seumur hidupnya.
Tetapi tepat pada
momen ini,dia ingin merubah takdirnya dengan kehendaknya sendiri.Oleh karena
itu,dia berkata dia mau aku untuk mengajarinya sword skill karena ia kagum pada
hal itu,tapi yang lebih penting,itu adalah harapan terbesar yang terpendam
jauh-jauh di dalam lubuk hatinya sampai saat ini…untuk menyelamatkan Alicce
yang tertangkap dan ia ingin mendapatkan kekuatan untuk bertarung.Bukankah
kata-kata ini juga mengungkapkan keinginannya sendiri?
Eugeo menundukkan
kepalanya sementara tubuhnya bergetar.Aku menyaksikannya dalam diam dan tetap
berkata padanya dalam hatiku.
—Lakukan yang terbaik
bagimu,Eugeo.Jangan menyerah.Jangan kalah pada sesuatu yang
menahanmu.Majulah…Ambilah satu langkah maju.Karena kau adalah pendekar pedang.
Pada momen ini—
Si anak laki-laki
berambut kecoklatan kelihatannya mendengar kata-kataku sementara ia mengangkat
wajahnya.Mata hijau indah yang memiliki sinar yang intensitasnya yang belum
pernah kulihat sebelumnya seperti sinar mereka menusuk ke dalam mataku.Sebuah
suara terpotong-potong dan bergetar terus keluar dari sela-sela giginya yang
saling bergeretakan.
"…Tapi,tapi,Aku…ingin,menjadi
lebih kuat.Aku takkan membiarkan,kesalahan yang sama,terjadi lagi.Harus mendapatkan
kembali…Apa yang aku hilangkan.Kirito…ajari aku,sword skills."
Aku benar-benar
tersentuh jauh di dalam lubuk hatiku,tapi masih saja aku menekan perasaan ini
sambil tersenyum dan mengangguk. "Aku paham.Aku akan mengajarimu
skill-skill yang kutahu— tapi ini akan menjadi latihan yang keras."
Aku mengubah
ekspresiku menjadi ekspresi jahil sambil mengulurkan tangan kananku,dan bibir
Eugeo akhirnya mengendur seraya ia menggenggam tanganku erat-erat.
"Tak apa
bagiku.Ahh,sungguh,ini adalah sesuatu…Aku,Aku telah lama nanti-nantikan ."
Eugeo kembali
menundukkan kepalanya bersamaan dengan meluncurnya dua,tiga butir air turun
dari wajahnya.Disertai cahaya matahari menyinari yang melewati sela-sela
dedaunan.Eugeo melangkah maju sebelum aku dapat terkejut,dan membenamkan
wajahnya ke bahu kananku,mengeluarkan sebuah isakan pelan ,menyebar ke dua
tubuh yang bersandar satu sama lain.
"Sekarang… Aku
tahu.Aku telah lama menantimu,Kirito.Selama 6 tahun,di hutan ini.Aku telah lama
menanti kedatanganmu…"
"—Ahh."
Aku menjawab dengan
sebuah suara sembarangan dan menggunakan tangan kananku yang menggenggam Blue
Rose Sword untuk mengusap punggung Eugeo pelan.
"…Aku pasti
terbangun di hutan ini untuk bertemu denganmu juga,Eugeo."
Aku dengan kuat
merasakan bahwa kata-kat yang kukatakan setengah sadar tadi adalah sebuah
kebenaran.
***
«The Demonic Cedar
Tree»,sang tiran dari hutan,Gigas-Cedar yang seperti baja telah berakhir—atau
lebih mudahnya kukatakan,tumbang.Itu terjadi 5 hari setelah Eugeo dan Aku
menggunakan Blue Rose Sword untuk mempraktekkan «Aincrad-style Sword Skills».
Alasannya
sederhana.Pohon raksasa itu adalah sebuah sarana berlatih yang sempurna.Tiap
kali aku mendemonstrasikan «Horizontal»,Eugeo akan melatihnya lagi dan lagi,dan
potongan pada batangnya semakin dalam dan dalam.Setelah terpotong sekitar 80%
dari diameternya,hal itu terjadi.
"—SEIAA!!"
Pohon raksasa itu
terkena tebasan horizontal dari pergerakan sempurna Eugeo dan mengeluarkan
bunyi berderit tak menyenangkan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kami berdua menatap
satu sama lain dengan wajah bodoh,dan kemudian pada batang Gigas Cedar yang
menjulang ke langit,kamu membeku karena terkejut saat kami melihat pohon pohon
raksasa itu perlahan-lahan tumbang ke arah kami.
Namun,saat itu
juga,aku tak merasakan bahwa pohon besar itu akan jatuh menimpa kami,tapi tanah
tempat kami berpijak menjorok ke depan.Pohon berdiameter lebih dari 4 meter itu
kalah dengan kekuatan gravitasi seraya menundukkan kepalanya ke arah kami,dan
pemandangan yang terjadi ini sangat surreal.
Hanya 80 cm—yang jika
ku deskripsikan menggunakan satuan di dunia ini,akan menjadi «80cen» —
akar-akar yang mengelilinginya tak sanggup lagi nenahan berat pohon itu sendiri
dan meledak bagaikan sisa-sisa batu bara.Raungan terakhir pohon raksasa itu
terdengar lebih hebat bahkan melebihi 10 buah Guntur yang turun dari surga
sementara suara kehancurannya bahkan bisa melampaui plaza pusat desa,dan terus
menuju pos penjagaan paling utara.
Eugeo dan aku
berteriak di waktu yang sama sambil memisahkan diri secara berturut-turut ke
kiri dan kanan.Gigas Cedar yang berwarna hitam legam membelah langit yang
berangsur-angsur menjadi jingga dan perlahan,perlahan-lahan tumbang.Tubuh
besarnya akhirnya runtuh dan tergeletak di tanah.Kami terkena dampaknya yang
lucunya sangat besar dan mengirim kami terbang ke udara.Setelahnya kami
mendarat kembali ke tanah menggunakan bokong kami lebih dulu,membuat Life kami
berkurang sekitar 50 poin.
***
"Itu benar-benar mengagetkanku…ada banyak sekali orang di desa ini."
Aku menerima sebuah cangkir
berisikan sari buah apel dari Eugeo sambil menggumam.
Saat ini,terdapat
beberapa kerumunan pada api unggun di plaza pusat Desa Rulid,yang menyinari
wajah-wajah penduduk desa yang berkumpul disini.Para pemain band yang berada
disamping air mancur memainkan instrumen-instrumen musik yan terlihat mirip
dengan bagpipes dan seruling yang sangat panjang.Juga,ada penari yang berdandan
mengenakan kulit binatang menari dengan iringan irama musik waltz.Para penduduk
desa semua bertepuk tangan dan menepuk-nepukkan kaki mereka mengikuti irama
seraya mereka menari di bawah langit malam.
Aku duduk disamping
sebuah meja yang agak jauh,dan kakiku juga ikut kuketukkan mengikuti
irama.Tiba-tiba aku merasakan dorongan untuk melompat dan ikut bersama penduduk
desa yang menari melingkar,sesuatu yang benar-benar membuatku tak percaya.
"Kupikir ini
adalah kali pertama aku melihat begitu banyak penduduk yang berkumpul
bersama.Bahkan ada lebih banyak orang berkumpul daripada saat festival do’a
pada Saint's Day di akhir tahun,pasti."
Eugeo berkata sambil
tersenyum,dan aku menjulurkan mug di tangan kananku.Aku tak ingat sudah berapa
banyak kami bersulang.Bir berbusa yang hampir sama dengan sari buah apel,tapi
ketika aku meminumnya,wajahku akan sedikit merasa panas.
Setelah mereka
mengetahui bahwa Gigas Cedar telah tertebang,kepala desa mengadakan sebuah
rapat desa yang mempertemukan para pemuka desa.Selama itu,kelihatannya mereka
mengalami sebuah perdebatan panas diantara mereka tentang harus mereka apakan
«Si Penebang Pohon Raksasa» Eugeo —dan aku.
Sebuah hal menakutkan
dalam pikiran segelintir orang karena hal ini terjadi lebih awal daripada yang
diprediksikan.Dasarnya,ini memang 900 tahun lebih awal,dan menyelesaikan misi
seperti ini adalah kesalahan dan kami patut mendapat hukuman.Namun,kepala desa
Gasupth mengakhiri semua itu dan memutuskan bahwa tak peduli
bagaimanapun,seluruh desa akan memngadakan sebuah pesta perayaan dan menentukan
nasib Eugeo berdasarkan pada hukum.
Hukum apakah yang
dimaksud itu,aku juga tak punya bayangan apa-apa,dan aku bertanya padanya.Dia
cuma tersenyum dan berkata bahwa aku akan segera mengetahuinya.
Namun,setelah menilik
dari ekspresinya,Aku paling tidak tahu bahwa ia tak akan diadukan.Aku habiskan
bir didalam cangkirku,mengambil satu stik daging panggang yang saus dagingnya
menetes dari piring di sampingku dan membua sebuah gigitan besar.
Memikirkan hal ini
secara hati-hati,setelah aku datang ke dunia ini,semua yang kumakan rasanya
hambar,seperti roti bulat dan hidangan dari gereja yang hamprr semuanya adalah
sayuran,jadi ini akan menjadi kali pertama aku memakan sesuatu yang terdapat
kata daging di dalamnya.Selain daging empuk yang dilapisi dengan saus yang
tebal — ada juga aroma dari sesuatu yang baunya seperti daging, membuatku sulit
percaya bahwa ini semua adalah dunia virtual.Sebuah aroma yang terasa sangat
nikmat setelah melalui pertarungan sengit melawan Gigas Cedar.
Akan tetapi,hal ini
pastinya takkan berakhir hanya dengan begini saja.Aku rasa begitu saat kami
menatap pada barisan penduduk yang berkumpul.Aku memindahkan arah tatapan
mataku kepada Eugeo dengan Blue Rose Sword-nya yang tergantung bangga di situ.
Selama 5 hari yang
lalu ia telah cukup berlatih dengan sword skill dasar pedang satu tangan —
Tebasan mendatar tunggal «Horizontal» yang diarahkan pada Gigas Cedar.
Seperti nama
sembarangan yang melekat padanya Aincrad-style,ini adalah sword skill yang
pernah ada di Game VRMMO lama «Sword Art Online». Aku masih sedikit dapat
memahami mengapa gerakan ini dapat ditiru.Ketika aku pergi ke game VR yang
berdasarkan pada baku-tembak,dunia «Gun Gale Online»,Aku menggunakan beberapa
sword skill untuk melewati pertarungan-pertarungan sulit,tapi pada akhirnya,
hal itu hanya membiarkan avatar untuk mengikuti pergerakan sword skill,tanpa
adanya efek cahaya maupun system assist yang membuat pedang berakselerasi
terhadapa skill.Seperti yang telah kuduga hal-hal seperti itu tak tertulis
dalam game system.
Akan tetapi,di dunia
yang lain ini,Sword Skill semuanya bisa muncul efeknya.Jika aku melakukan
gerakan isyarat dan membayangkan pergerakan skillnya,pedang akan berkilau dan
berakselerasi. Aku khawatir bahwa aku mungkin satu-satunya orang yang dapat
melakukan ini di hari pertama latihan,tapi di hari kedua,Eugeo berhasil
meluncurkan «Horizontal» untuk pertama kalinya,yang membuktikan bahwa semua
penghuni dunia ini bisa menggunakan sword skill selama kondisinya terpenuhi.
Pertanyaannya sekarang
adalah kenapa fenomena seperti ini terjadi.Seharusnya tidak ada hubungan antara
teknisi RATH yang mengembangkan STL dengan sisa-sisa teknisi Argus yang
mengembangkan SAO.Jika begitu… orang yang mengenalkan padaku pada perusahaan
asing bernama RATH dan juga bagian dari kementrian Pertahanan Negara yang
menangani insiden SAO…
"Jangan-jangan…"
Aku bergumam sambil
mulai melahap daging tusuk keduaku.Jika pemikiranku ini benar,laki-laki itu tak
mungkin hanya seorang yang melakukan pengenalan,tapi ia juga seseorang yang
berhubungan langsung dengan inti dari insiden ini—tapi aku tak punya cara untuk
membuktikannya.Jika aku ingin mendapatkan lebih banyak informasi,yang kulakukan
pertama-tama adalah meninggalkan Desa Rulid dan menuju Capital yang ada jauh di
selatan.
Halangan terbesar pada
rencana ini,Gigas Cedar telah ditumbangkan.Jadi,hanya tinggal satu hal yang
perlu dilakukan. Setelah menghabiskan daging dan sayuran yang ditusuk dengan
tusukan logam,aku berbalik ke meja dan melihat patner-ku,yang menatap lingkaran
penduduk desa,sebelum berkata,
"Aku mau
ngomong,Eugeo…"
"Un,…apa
itu?"
"Mulai dari
sekarang,kau…"
Tapi sebelum aku bisa
melanjutkan,sebuah suara melengking datang dari atas kepala kami.
"Disini kalian
rupanya!Apa yang kalian berdua lakukan, tokoh utama dalam perayaan ini?"
Aku menghabiskan
sedikit waktu untuk menyadari bahwa gadis ini,yang berdiri di depan kami dengan
tangan tangan terlipat dan meluruskan punggungnya,adalah Selka.Dia telah
melepaskan 3 kuncir rambut di kepalanya dan mengenakan sebuah bando sekarang.Ia
tak mengenakan pakaian sister hitam,tapi sebuah rompi merah dan rok berwarna
rumput.
"Ah,tidak mau…Aku
tidak ahli soal menari…"
Eugeo terus menerus
makan sementara ia mencoba mencari-cari sebuah alasan,dan aku mengibaskan
tangan kananku.
"Yah,aku juga.Aku
kehilangan ingatanku…"
"Ayolah cuma
menari saja,kok!Kalian akan mempelajarinya setelah kalian ikutan menari! "
Dia mencengkeram
tanganku dan Eugeo di waktu yang sama dan menyeret kami dari kursi.Selka
menyeret kami ke tengah plaza meskipun kami memprotes dan mencoba
keluar.Kerumunan penduduk langsung bersorak,dan kammi tertelan oleh lingkaran
tarian. Untungnya,tarian mereka cukup sederhana,hampir sama seperti yang
diajarkan saat festival olahraga.Setelah berganti pasangan tari 3 kali,Aku
akhirnya mulai meniru gerakan mereka dan mulai menari.Perlahan,dengan melodi
yang sederhana,gerakan ku menjadi lebih riang-gembira,dan kakiku juga menjadi
lebih ringan.
Gadis-gadis yang tak
tampak seperti orang Barat maupun orang Timur mendapatkan sebuah rona merah di
wajahnya seraya mereka tertawa gembira.Aku menggenggam tangan mereka sambil
menari bersama,dan mendapatkan sebuah feeling, penuh tanda tanya apakah aku
benar-benar seorang pengelana yang tak memiliki ingatan.Itu benar-benar aneh.
—Ngomong-omong,aku
pernah sekali berdansa di dunia virtual juga.Pasangan berdansaku adalah
identitas lain dari adik perempuanku Suguha di Alfheim,pendekar pedang wanita
Slyph,Lyfa.Senyumannya tersirat di wajah gadis di depanku sekarang,membuat
hidungku sedikit sakit.
Sementara aku terpikat
di dalam sebuah perasaan rindu,musik menjadi lebih keras dan lebih cepat
sebelum akhirnya berhenti secara tiba-tiba.Aku melihat ke arah para pemain alat
music,dan melihat seorang pria tinggi tegak yang memiliki jenggot rapi
melangkah ke atas sebuah podium dengan semua jenis instrumen musik
mengelilingnya.Ia adalah kepala desa Rulid,ayah Selka,Gasupht.
Sang kepala desa
bertepuk tangan dua kali untuk mengundang perhatian.
"Semuanya,perayaan
ini telah mencapai puncaknya,tapi dengarkanlah apa yang akan kukatakan
sejenak."
Para penduduk desa
mengangkat cangkir berisi bir dan sari buah yang mereka gunakan untuk mendinginkan
tubuh mereka yang kepanasan setelah menari dan bersorak untuk membalas
kata-kata kepala desa.Semua orang kemudian diam dam kepal desa melihat ke
sekelilingnya sebelum bicara kembali,
"—Keinginan
terbesar para nenek moyang kita di Desa Rulid akhirnya terpenuhi.Pohon iblis
yang mengambil semua anugerah Terraria dan Solus dari tanah subur di selatan
telah tumbang!Kita akan mepunyai tempat baru untuk menumbuhkan
gandum,kacang-kacangan dan memperluas peternakan kita!"
Suara brilian Gasupth
sekali lagi tertutupi sorakan penduduk.Sang kepal desa mengangkat tangannya
untuk menenangkan semua orang sebelum ia melanjutkan,
"Pemuda yang
menuntaskan tugas ini —putra Orick,Eugeo,kemarilah!"
Kepala desa melambai
ke arah pojok plaza,dan disana,Eugeo terlihat tegang saat ia berdiri.Pria agak
pendek yang meneriakinya di sampingnya pastinya adalah ayahnya,Orick-san.Ia
sama sekali tak mirip dengan Eugeo kecuali warna rambutnya saja,dan tak ada
kebanggaan yang terpancar dari wajahnya malahan ia terlihat sedikit bingung.
Eugeo tak mendapat
dorongan dari ayahnya,tapi malah dari para penduduk disekitarnya.Dia melangkah
ke atas podium dan berdiri di samping kepala desa,dan saat ia menatap ke
plaza,semua orang meneriakkan sorakan ketiga dan ternyaring mereka.Aku bertepuk
tangan keras dengan antusiasme yang tak kalah dari mereka.
"Berdasarkan pada
peraturan—"
Suara sang kepala desa
terdengar lagi,dan para penduduk semuanya diam dan mendengarkan dengan
sungguh-sungguh.
"Eugeo yang telah
menyelesaikan tugasnya dengan baik,memiliki hak untuk memilih Sacred Task-nya
selanjutnya.Dia boleh terus menjadi penebang kayu di hutan,mengikuti ayahnya
bertani,menggembala ternak,mengolah wine atau menjadi seorang pedagang,ia bebas
memilih jalan apapun yang ia inginkan!"
—Apa!?
Aku merasa keinginan
menariku tiba-tiba sirna.
Ini bukan saatnya
untuk menggenggam tangan seorang gadis dan ……… Aku harusnya memberikan dorongan
terakhir pada Eugeo sedikit lebih awal.Akan gawat jika ia mengatakan sesuatu
seperti aku ingin menanam gandum atau yang lainnya.
Aku menahan nafasku
sambil menatap Eugeo di atas podium.Dia menundukkan kepalanya dengan sikap
kesusahan,memegang rambutnya dengan tangan kanannya,serta mengepal dan
melepaskan genggaman tangan kirinya.Aku mungkin akan segera berlari ke podium
,memegang bahunya dan berteriak bahwa kami kan pergi ke capital —sementara aku
memikirkan hal itu,sebuah suara kecil terdengar di sampingku.
"Eugeo…bermaksud
untuk pergi meninggalkan desa,Kurasa…"
Itu adalah suara
Selka,yang telah berdiri disampingku tanpa sepengetahuanku.Mulutnya melengkung
ke dalam bentuk sebuah senyuman yang didalamnya bercampur sebuah rasa kesepian
dan bahagia
"Be-Begitukah?"
"Un,itu benar.Apa
lagi yang harus diragukan?"
Eugeo nampaknya
mendengar suaranya dan ia menggunakan tangan kirinya untuk menggenggam erat
Blue Rose Sword di pinggangnya.Dia mengangkat wajahnya,terlebih dahulu menatap
kepala desa lalu pada para penduduk desa sebelum berkata dengan suara yang
jelas.
"Aku
ingin—menjadi seorang pendekar pedang.Aku ingin menjadi anggota pasukan penjaga
kota Zakkaria dan mengasah keterampilanku.Suatu hari,aku akan menuju ke
Capital."
Setelah momen-momen
dalam kesunyian,terdengar kebisingan diantara para penduduk desa,namun kali ini
kebisingan itu terlihat tidak bersahabat.Para orang dewasa mengernyitkan
dahi,berkumpul dan nampak tengah membicarakan sesuatu.Ayah dan dua pemuda
disampingnya—yang kemungkinan besar adalah kakak Eugeo—tak terlihat senang juga
mendengarnya.
Kali ini,kepala desa
lah yang mengendalikan massa,mengangkat tangannya untuk membuat para penduduk
tenang dan memberikan tatapan tajam yang sama dan berkata,
"Eugeo,apa
kau—"
Mengatakan sampai pada
poin itu,dia membelai jenggotnya,dan melanjutkan.
"…Tidak,aku
takkan menanyaimu apa alasannya.Gereja telah membuat ketetapan yang mengatakan
bahwa kau memiliki hak untuk memilih apa Sacred Task-mu
selanjutnya.Baiklah,sebagai tetua Zakkaria,aku serahkan pada putra
Orick,Eugeo,Sacred Task baru menjadi seorang pendekar pedang.Jika kau
merelakannya,kau bisa pergi meninggalkan desa untuk melatih sword
skillmu."
Hoo…hh.Aku mendesah
setelah sekian lama.
Jadi kalau begitu,aku
akhirnya bisa melihat inti dunia ini dengan mata kepalaku sendiri.Jika Eugeo
menjadi petani,aku pastinya akan menuju capital sendirian,tapi karena aku tak
punya pengetahuan sama sekali atau uang sekali pun,Aku mungkin hanya akan
berakhir dengan menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun
berjalan tanpa tujuan.Memikirkan kerja keras beberapa hariku yang akhirnya
terbayar,bahuku langsung lebih terasa rileks.
Para penduduk desa
nampaknya menerima apa keputusan kepala desa,meski mereka agak ragu awalnya,dan
mereka mulai bertepuk tangan.Tapi sebelum tepukan tangan mereka terdengar lebih
meriah,sebuah teriakan yang mampu membelah langit malam muncul.
"TUNGGU
SEBENTAR!"
Seorang pemuda tinggi
besar membelah kerumunan penduduk dan melompat kedepan podium.Aku familiar pada
rambut pendek warna daun layu dan tatapan mata tajam serta pedang panjang
sederhana yang tergantung di pinggangnya.Orang ini salah satu penjaga desa ini
yang bermarkas pos penjagaan selatan.
Si pemuda nampak
menatap sengit Eugeo di atas podium sementara ia berteriak dengan kasar,
"HARUSNYA ITU
ADALAH HAK KU UNTUK MENCAPAI TUJUAN MEJADI SEORANG PASUKAN PENJAGA DI
ZAKKARIA!SECARA LOGIS,EUGEO BARU BISA PERGI MENINGGALKAN DESA SETELAH AKU,YA
KAN?"
"YA,ITU
BENAR!"
Serang yang berjalan
keluar dari kerumunan sambil berteriak adalah pria paruh baya yang memiliki
warna rambut dan bentuk wajah yang sama,namun dengan perut yang tambun.
"…Siapa
itu?"
Aku memalingkan
wajahku pada Selka dan bertanya.Selka berpikir sejenak dan menjawab.
"Dia mantan
kapten pasukan penjaga Doyke-san dan putranya,kapten pasukan penjaga yang
sekarang.Mereka adalah keluarga paling terampil di desa,namun juga keluarga
paling menyebalkan disini."
"Ho begitu…"
Tepat saat aku akan
memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya,Kepala desa Gasupth mendengarkan
opini Jink dan ayahnya sebelum mengangkat tangannya seolah-olah ia mencoba
menaehati mereka.
"Tapi Jink,kau
baru enma tahun menjadi seorang pasukan penjaga.Menurut atuan,kau baru bisa
mengikuti turnamen pedang Zakkaria empat tahun lagi."
"KALAU BEGITU
EUGEO SEHARUSNYA MENUNGGU 4 TAHUN LAGI! MANA BISA KAU TAK MEMPERBOLEHKANKU
PERGI SEMENTARA MEMPERBOLEHKAN EUGEO PADAHAL DIA TAK SEHEBAT AKU!"
"Fm,kenapa kalian
tak membuktikannya saja?Mau tidak kau membuktikan bahwa dirimu lebih kuat
daripada Eugeo?" "Apa…"
Jink dan ayahnya
langsung merah membara.Kali ini,ayahnyalah yang marah dan mendekati Gasupht.
"SEKALIPUN KAU
ADALAH KEPALA DESA RULID,AKU TAK BISA PURA-PURA TAK MENDENGAR KATA-KATA
MENYAKITKAN ITU! KARENA KAU BERKATA KETERAMPILAN BERPEDANG PUTRAKU KALAH DENGAN
SEORANG PEMULA,MARI KITA ADAKAN DUEL SEKARANG!"
Mendengar itu,para
penduduk desa langsung berteriak tanpa tanggung jawab.Mereka semua berharap
sepenuh hati bisa melihat side event tak terduga dari perayaan ini seraya
mereka mengangkat cangkir mereka dan menghentakkan kaki ke lantai,meneriakkan
"DUEL,DUEL!"
Tepat ketika aku akan
menyela,Jink menantang Eugeo,dan Eugeo menerimanya.Akhirnya mereka berdua berhadapan
satu sama lain di tengah tempat yang sudah disediakan para penonton di depan
podium.Apa kau bercanda,Aku berpikir begitu dan berbisik pada Selka.
"Aku mau pergi
dulu."
"Ap,Apa yang akan
kau lakukan?"
Aku tak menjawab
seraya aku membelah kerumunan penonton di depan air mancur sebelum menuju ke
arah Eugeo.Sama seklai berbeda dengan musuh yang siap menyerang seperti kuda
yang mengamuk,Ekpresi yang ditunjukkan Eugeo memperlihatkan bahwa ia tak tahu
harus berbuat apa,dan ia menghela nafas lega ketika ia melihatku sebelum
berbisik,
"A-Apa yang harus
kulakukan,Kirito?Masalahnya sepertinya makin runyam."
"Tak ada gunanya
meminta maaf sekarang.Lupakan saja.Apakah kalian akan saling menebas satu sama
lain dalam duel ini?"
"Ya ndak lah?Kami
memang akan memakai pedang,tapi itu hanya sampai serangan nya hampir mengenai
satu sama lain."
"Fiuh…tapi jika
pedang ini tidak berhenti ketika ia menyerang musuhnya, kemungkinan lawanmu
akan mati.Dengar,jangan arahkan ini pada Jink,tapi arahkan saja pada
pedangnya.Serang saja sisi pedangnya di bagian perut dan gunakan «Horizontal»
untuk mengakhirinya."
"Be-Benarkah?"
"Tentu saja,aku
janji."
Aku menepuk punggung
Eugeo dan mengangguk pada Jink dan ayahnya yang menatapku dengan tatapan curiga
sebelum mundur kembali ke arah kerumunan penonton.
Di atas podium,kepala
desa Gasupth menepuukkan tangannya dan berteriak.DIAM!
"Kalau
begitu—walaupun ini diluar rencana,kami akan menggelar duel antara kapten
pasukan penjaga Jink melawan si penebang…bukan,pendekar pedang Eugeo sekarang
juga!Kedua belah pihak akan bertarung sampai pedang miliknya hampir mengenai
tubuh lawan,akan tetapi memberikan damage pada masing-masing Life tidak
diperbolehkan,kalian paham!?"
Bahkan sebelum ia
selesai berkata, *Shiing*,Jink mengeluarkan pedang yang ada di pinggangnya,dan
Eugeo sedikit agak terlambat mengeluarkan pedangnya juga.Para penduduk desa
melihat Blue Rose Sword yang mengeluarkan cahaya indah yang bersinar dibawah
cahaya api unggun.Nampaknya Jink tertekan oleh tekanan dari pedang
lawan.Kepalnya ia miringkan ke belakang sejenak sebelum ia kembalikan ke
posisinya semula dengan cepat.Wajah dari pasukan penjaga muda itu
memperlihatkan kemarahan yang lebih besar,dan ia menunjuk Eugeo dengan tangan
kirinya sebelum mengucapkan kata tak terduga,
"APA PEDANG ITU
BENAR-BENAR MILIKMU,EUGEO?JIKA ITU BARANG PINJAMAN,AKU PUNYA HAK UNTUK
MENGHENTIKANMU MENGGUNA…"
Eugeo tak menunggu ia
menyelesaikan teriakannya dan menjawab dengan sikap teguh.
"Pedang ini—Aku
mendapatkannya dari gua di utara.Sekarang,ia adalah milikku!"
Para penduduk desa
seketika langsung mulai bergumam,dan Jink tak mampu berkata apa-apa.Kupikir ia
akan meminta Eugeo untuk membuktikan hak kepemilikannya,tapi sepertinya Jink
tak punya maksud seperti itu.Kemungkinan besar,di dunia ini yang mana pencurian
tidaklah ada,seseorang yang mengakui hak kepemilikan barangnya jelas-jelas
menunjukkan bahwa barang itu "adalah miliknya" dan meragukan serta
mempertanyakan hal itu mungkin akan melanggar haknya.
—Aku tak tahu apakah
tebakanku ini benar atau tidak,Tapi Jink tak melanjutkan perkataannya sementara
ia meludahi kedua tangannya sebelum mengangkat tinggi-tinggi pedangnya.
Di sisi lain,Eugeo
menghunus pedangnya hanya dengan tangan kanannya saja dan mengarahkan ujungnya
ke arah mata lawannya.Ia menggerakkan tangan dan kaki kirinya ke
belakang,menjaga kerendahan pusat gravitasinya.
Sementara ratusan
penduduk desa menahan nafas mereka ketika mereka menontonnya,Gasupth mengangkat
tangan kanannya tinggi-tinggi,berteriak MULAI! Dan mengayunkannya ke bawah.
"UOOOHHH!!"
Seperti yang
kuduga,Jink langsung berlari maju sambal berteriak kasar,mengayunkan pedangnya
turun ke depan, membuat orang akan ragu ia akan benar-benar mengayunkan
pedangnya sampai tepat satu inci jaraknya dari lawan dengan momentum itu—
"...!!"
Saat itu juga,aku
menghela nafas pelan.Pedang Jink mengganti arah serangannya dengan hebat di
udara.Kelihatannya ia seperti akan mengayunkan pedangnya dari atas,tapi
sebenarnya ia mengayunkan pedangnya secara horizontal dari kanan.Ini cuma gerak
tipu dasar,namun jika Eugeo mengikuti saranku dan siap mengayunkan «Horizontal»
dengan membidik pada pedang Jink,akan sulit baginya untuk menangani sebuah
ayunan mendatar dengan ayunan mendatar juga,dan itu akan menyebabkan
serangannya meleset sebelum akhirnya ia terkena hit oleh pukulan lawannya…
"I...yahh!!!"
Teriakan yang agak
kurang semangat jika dibandingkan dengan teriakan Jink memecahkan pemikiranku
tadi dengan cepat.
Skill yang digunakan
Eugeo bukanlah «Horizontal».
Ia mengangkat pedang
ke bahu kanannya dan nampak ia telah siap.Bilah pedangnya mengeluarkan sedikit
cahaya biru tebal.Terlihat ia seperti akan mengguncangkan bumi sementara ia
melangkah maju sebelum melakukan sebuah tebasan tajam dengan busur diagonal 45
derajat di udara.Ini….sebuah skill yang belum pernah kuajarkan padanya,tebasan
diagonal «Slant».
Eugeo yang sedikit
terlambat mengaktifkan skill-nya,membiarkan pedangnya bergerak dalam kecepatan
kilat dan menghentikan gerakan pedang Jink yang sedang berayun mendatar dari
atas.Aku menyaksikan bilah pedang besinya hancur dengan mudah dan aku bertanya
pada diriku sendiri. Eugeo pasti menggunakan pedang kayu untuk melatih sword
skillnya berkali-kali sampai tak terhitung jumlahnya setelah ia sampai di
rumah.Ia menemukan dengan baik adanya sword skill «Slant» selama
latihannya,jadi tak ada hal asing baginya sampai menit terakhir ia menggunakan
skill barusan.Kesatuan gerak dari Eugeo dan Blue Rose Sword yang menari-nari
bahkan menciptakan sebuah perasaan elegan darinya.
Jika ia terus menerus
berlatih dan mempelajari lebih banyak sword skill dan bahkan menempuh ujian
berat di medan pertempuran,akan menjadi pendekar pedang sehebat apa
dia?Jika…jika aku benar-benar bertarung dengannya suatu hari,bisakah aku paling
tidak tetap berdiri dihadapannya…? Para penduduk desa menyaksikan kemenangan
meyakinkan yang tak ada satupun menduganya ini dan bersorak nyaring. Aku
bertepuk tangan penuh antusiasme diantara merekamdan merasakan keringat dingin
mengalir turun di punggungnya.
Pasangan ayah dan
anaknya Jink terlihat tercengang sementara mereka melangkah pergi,dan suara
musik segera terdengar.Atmosfer dari perayaan ini terlihat lebih bersemangat
daripada sebelumnya,dan itu baru bisa berakhir ketika lonceng di menara gereja
berbunyi yang menandakan telah jam 10 malam.
Aku meminum 3 cangkir
sari buah apel lagi sebelum akhirnya melupakan rasa khawatir yang datang tanpa
sebab,ikut menari lagi dengan perasaan riang-gembira karena mabuk,dan diseret
pulang ke gereja oleh Selka saat itu semua berakhir.Di depan pintu masuk,Eugeo
yang tersenyum masam,setuju untuk ketemuan dulu denganku besok pagi sebelum
berangkat,dan aku akhirnya dengan susah payah mencapai kamarku dan ambruk ke
tempat tidur dengan punggungku.
"Yang benar
saja,bahkan jika ini adalah sebuah perayaan,kau minum terlalu banyak,Kirito.Nih,Air
putih."
Aku segera meneguk air
sumur sedingin es yang disodorkan Selka,dan pikiranku akhirnya menjadi jernih
seraya aku menghela nafas panjang.Tak peduli berapa banyak bir yang kuminum di
Aincrad maupun Alfheim,aku tak akan mabuk,tapi nampaknya bir di Underworld ini
adalah bir sungguhan.Kurasa aku harus mencatat hal ini dan aku pandang gadis
yang berdiri di sebelahku,melihatku dengan khawatir.
"….A,Ada
apa?"
Aku tak tahu ekspresi
apa yang Selka lihat di wajahku karena sepertinya ia takut.Aku buru-buru
menundukkan kepalaku. "Yah… maaf.Apa kamu tak mau bicara lebih banyak pada
Eugeo?"
Masih dalam pakaian
terbaiknya,wajah Selka langsung tersipu dalam warna merah ceri.
"Kenapa kau
tiba-tiba ngomong begitu?"
"Karena,besok
pagi,kamu akan…tidak,aku akan meminta maaf dulu.Maaf hal ini berkembang sampai
ke tingkat dimana sepertinya akulah yang membawa Eugeo keluar dari desa.Jika
laki-laki itu tetap terus menebang kayu di desa ini,mungkin saja
dia,yah…membentuk sebuah keluarga denganmu atau begitulah,Selka… "
Selka menghela nafas
kuat dan duduk disampingku.
"Yang benar
saja,kamu,ngomongin apaan sih…"
Dia benar-benar
terlihat terkejut sementara menggelengkan kepalanya beberapa kali,dan
melanjutkan, "…Yah,lupakan—toh,segera setelah Eugeo pergi meninggalkan
desa,pastinya aku akan merasa kesepian…namun,aku juga merasa bahagia.Sejak
Alice nee-sama menghilang,Eugeo tetap menjalani kesehariannya seolah-olah ia
telah menyerah pada segalanya namun sekarang ia bisa tersenyum begitu bahagia
dan memutuskan untuk mencari nee-sama.Kupikir ayah mestinya merasa lebih senang
melihat dirinya yang seperti ini,sebab Eugeo takkan pernah melupakan
nee-sama."
Aku memikirkan arti
perkataan Selka,dan menggelengkan kepalaku pelan.
"Tidak,kamu juga
hebat.Gadis biasa pastinya akan segera kembali saat mereka sampai ke jembatan
di luar desa atau jalan menuju hutan atau pintu masuk gua.Tapi kamu tetap
berjalan menyusuri kedalaman gua yang gelap dan bertemu dengan sepasukan goblin
pengintai.Kamu telah melakukan sesuatu yang hanya kamulah satu-satunya yang
bisa melakukannya."
"Hanya Aku…yang
bisa melakukannya…?"
Selka melebarkan
matanya dan memiringkan kepalanya.Aku mengangguk kepadanya.
"Kamu bukanlah
pengganti Alice,Selka.Kamu jelas-jelas memiliki sesuatu yang hanya kamu
seoranglah yang memilikinya.Kamu hanya perlu memelihara bakat ini."
Faktanya,Aku percaya
mulai dari sekarang,bpenguasaan Sacred Art Selka akan meningkat dengan
pesat.Itu karena ia bisa memukul mundur pasukan goblin bersama denganku dan
Eugeo, jadi System Control Authority harusnya telah meningkat.
Akan tetapi,ini
bukanlah masalah bakat.Dia menantang sebuah pertanyaan " orang seperti apa
dia ini " dan mendapatkan jawabannya.Hal inilah yang akan membuatnya
memiliki kekuatan yang lebih kuat daripada orang lain.Kepercayaan pada diri
sendirilah yang akan menjadi kekuatan terbesar yang dapat diciptakan oleh jiwa
manusia.
Hanya masalah waktu
bagiku untuk mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan yang tertunda oleh
adanya kemauan tertentu. Kesadaranku—Aku,sesorang yang dipanggil Kirito atau
Kirigaya Kazuto,siapa sebenarnya aku ini?Apakah aku adalah Fluctlight yang
bersemayam dalam otak yang hidup,yaitu «aku yang sebenarnya»?Atau Aku adalah
«clone» yang diambil dari diriku yang sebenarnya oleh STL dan disimpan pada
medium tertentu?
Hanya ada satu cara
untuk memastikannya.
Eugeo,Selka,dan
orang-orang lain yang berada di Underworld,Fluctlight mereka tak akan pernah
melanggar «Taboo Index» dan «Empire Fundamental Law».Tapi bahkan jika aku bisa
melanggar taboo di dunia ini,bukan berarti aku bukanlah sebuah Fluctlight
buatan.Aku tak tahu menahu mengenai pasal-pasal di dalam Taboo Index… dengan
kata lain peraturan-peraturan ini tak tertulis dalam jiwaku.
Di sisi lain,aku harus
memastikan kalau aku dapat menggunakan kemauanku untuk melanggar suatu
aturan…moral yang selalu aku percayai seumur hidupku sampai saat ini.Aku telah
menelaah semua pemikiran ini selama beberapa hari ini,tapi masih saja agak
sulit bagiku.Menggunakan pedang untuk melukai penduduk desa atau mencuri
jelas-jelas telah keluar dari batasan,namun jika itu digunakan sebagai alasan
seseorang untuk memastikan sesuatu,hal itu akan menjadi sesuatu yang lebih
tidak bisa dipercayai.Sekarang,Aku hanya bisa mengandalkan hal ini. Aku
berbalik dan menatap wajah Selka yang duduk tepat di sampingku.
"…Ada apa?"
Aku menjulurkan
tanganku pada wajah Selka yang terlihat bingung dan meminta maaf kepada Asuna
dan Yui jauh dalam lubuk hatiku.Aku lalu meminta maaf pada Selka,mendekatkan
wajahku dan menempelkan bibirku pada kening putih bersih dibawah bandonya.
Tubuh Selka tiba-tiba
tersentak,dan ia tak bergerak. Setelah 3 detik ,wajahku akhirnya meninggalkan
Selka, dan pipinya memerah, begitu merahnya bahkan sampai mencapai telinganya
, sementara ia menatap lurus ke arahku.
"A…Apa,yang
barusan kau lakukan…?"
"Kurasa… Ini
kemungkinan besar adalah apa yang disebut sebagai «Sumpah seorang Pendekar
Pedang»."
Aku mencari-cari
alasan yang cocok seraya menggertakkan gigiku setelah aku menyadari sesuatu di
dalam hatiku.
Sepertinya aku telah
melakukan sesuatu yang diriku sebenarnya pastinya tak akan melakukannya,Aku
yang ini adalah aku yang sebenarnya.Jika aku adalah clone dari Fluctlight,aku
akan berhenti secara otomatis di jarak beberapa millimeter dari kening Selka .
Sementara aku memikirkan hal ini,Selka terus menerus melihat wajahku dan
menggunakan tangan kanannya untuk menyentuh keningnya sebelum menghela nafas.
"Sebuah sumpah…
mungkin itu adalah tradisi negaramu,tapi jika saja bukan di kening namun
di…Mungkin akan ada Integrity Knight yang terbang kemari sekarang.Itu adalah
sesuatu yang melanggar Taboo Index."
Ada bagian di
tengahnya yang tidak aku dengar,namun aku tak enak hati untuk
menanyakannya.Selka menggelengkan kepalanya lagi,menunjukkan sebuah senyuman
tipis di wajahnya,dan bertanya padaku.
"Lalu...apa
sumpahmu?"
"Bukanlah sudah
jelas… Eugeo dan Aku akan pergi menyelamatkan Alice bersama-sama dan membawa
saudara perempuanmu itu kembali ke desa ini.Percayakan hal itu padaku…"
Aku berhenti
sejenak,lalu mengatakan kata-kata berikutnya,
"Karena Aku
adalah Pendekar Pedang Kirito."
Bagian
6
Cuaca benar-benar
cerah pagi esoknya.
Sambil merasakan berat
dari kotak makan siang yang dibuatkan oleh Selka di tangan kanan kami,Eugeo dan
Aku berjalan menuju selatan,menyusuri jalanan yang takkan kami susuri untuk
waktu yang lama.
Ketika kami tiba di
persimpangan yang mengarah ke jalan kecil menuju hutan dimana Gigas Cedar
pernah berdiri disana,Aku melihat seorang pak tua berdiri disana.Wjah penuh
keriput yang tertututtpi dengan kumis putih,tubuhnya masih tegap,kilatan di
matanya seolah-olah bisa menembus masuk ke dalam diriku.
Segera setelah ia
melihat pak tua itu,Eugeo tersenyum riang dan lekas berlari.
"Garitta-jii! Aku
senang kau ada disini.Aku tak bisa menemuimu kemarin."
Aku ingat aku pernah
mendengar nama itu.Dia pasti pengemban «tugas menebang Gigas Cedar» sebelumnya.
"Eugeo,kau telah
berhasil menebang Gigas Cedar,yang mana aku tak bisa memotongnya sedalam jari
sekalipun…Bisakah kau ceritakan padaku bagaimana kau melakukannya?"
"Menggunakan
pedang ini dan…"
Eugeo mengeluarkan
Blue Rose Sword dari sarung pedang yang tergantung di pinggang kirinya
sedikit,kemudian dia berbalik dan melihat kearahku.
"Lebih dari itu
semua,dia…itu berkat temanku.Namanya adalah Kirito.Dia benar-benar orang yang
konyol."
Aku buru-buru
menundukkan kepalaku sambil berpikir "Pengenalan macam apa itu.".Pak
Tua Garitta berjalan ke arahku,memberikan sebuah tatapan menusuk dari mata
tajamnya——dan memberikan sebuah senyuman lebar segera setelahnya.
"Jadi kau adalah
«Anak hilang Vector»yang dirumorkan itu,huh.Aku tahu....seorang kawan yang
variatif."
Ini adalah kali
pertama aku mendengar sesuatu seperti itu,sambil aku memiringkakn kepalaku
menerka-nerka apa maksud perkataannya,pak tua itu mengacungkan tangan kirinya
ke arah hutan dan lanjut berbicara,
"Nah,Maafkan aku
telah mengganggu perjalanan panjang yang telah menunggu kalian,namun maukah
kalian berdua pergi denganku sebentar.Aku ingin kalian berdua melakukan sesuatu.
"
"E-Err,Kirito.Tak
apa-apa,kan?"
Aku mengangguk seolah
aku tak punya alasan yang tepat untuk menolak permintaan itu.Pak tua itu
tersenyum lagi,sebelum memberi isyarat pada kami sementara ia melangkah ke
jalan kecil menuju hutan.
Meskipun aku baru
pulang-pergi melewati jalan ini dalam seminggu,Aku merasakan sebuah perasaan
mendalam yang rasanya mirip dengan perasaan nostalgia,setelah kami berjalan
sekitar dua puluh menit,kami tiba di sebuah tempat terbuka yang luas. Penguasa
hutan,yang berdiri tegak menjulang seolah-olah ia bisa mencapai surga selama
berabad-abad,sekarang tubuh besarnya tergeletak tanpa suara.Tumbuhan rambat
tipis mulai menjalari batang hitam legamnya,dan jauh dimasa depan,kupikir ia
akan membusuk dan kembali ke tanah/bumi. "…Ada apa dengan Gigas
Cedar,Garitta-jii?"
Si Pak tua tak
menjawab pertanyaan Eugeo tapi ia berjalan menuju puncak dari batang pohon yang
tumbang itu.Kami buru-buru menyusulnya,tapi kami disambut oleh rintangan yang
tercipta oleh dahan-dahan Gigas Cedar dan pohon-pohn lain yang saling membelit
satu sama lain.Jika aku lihat dengan teliti,dahan-dahan hitam Gigas Cedar,tak
peduli seberapa kurusnya ia,tak ada satupun darinya yang rusak,walaupun
beberapa dari mereka ada yang menembus ke dalam tanah maupun menusuk bebatuan.Kekerasan
mereka benar-benar mengherankan.
Kami mendapat beberapa
luka gores di lengan kami yang tak tertutupi saat kami berjibaku melewati
dahan-dahan ini,dan tak begitu lama kemudian kami sampai di samping pak tua
Garitta yang nampak segar-segar saja sementara ia berdiri dengan tegak.Sambil
menggunakan telapak tangannya untuk menyela keringat di dahinya,Eugeo berkata
menggerutu,
"Apa sih
sebenarnya yang ada disini?"
"Ini."
Apa yang dtunjuk pak
tua itu adalah ujung tertinggi dari Gigas Cedar yang telah tumbang,pucuk
tertinggi pohonnya yang memanjang lurus.Itu adalah sebuah dahan kecil yang
belum tumbuh besar,panjangnya cukup panjang,ujungnya meruncing tajam bagaikan
sebuah rapier. "Ada apa dengan dahan ini?"
Pada pertanyaanku,si
pak tua menjulurkan tangan kanan …… dan mengusap bagian puncak pohon yang
tebalnya sekitar lima sentimeter itu.
"Dari semua dahan
yang dImiliki oleh Gigas Cedar,yang ini telah menyerap hampir semua berkah dari
Solus.Sekarang gunakan pedang itu untuk memotongnya dari bagian ini.Potong dengan
satu ayunan pedang,terlalu banyak ayunan akan merusaknya."
Pak tua Garitta
menggunakan tangannya menggunakan tangannya untuk memperagakan panjang bagian
yang harus dipotong dari ujungnya,sebelum mundur beberapa langkah.
Eugeo dan aku saling
bertukar pandangan dan menggangguk.Setelah membawakan kotak bekal makan
siangnya,aku juga melangkah mundur.
Ketika Blue Rose Sword
telah keluar dari sarungnya,ia mengeluarkan sebuah kilau biru muda gemerlapan
yang bersinar cerah di bawah sinar matahari,si pak tua di membisikan sebuah
desahan pelan. " Mungkin segalanya akan berubah jika saj aku memiliki
pedang itu saat aku masih muda"
——Kupikir rasa sesal
inilah yang kemungkinan terus terngiang-ngiang dalam benaknya,tapi melirik
wajah tenangnya,aku benar-benar tak bisa membaca pikirannya.
Meskipun Eugeo telah
menghunus pedangnya,dia benar-benar tak bergerak.Ujung pedangnya sedikit
bergetar kemungkinan karena keraguan di dalam pikirannya.Dahan yang setebal
pergelangan tangan ini , mungkin ia tak punya kepercayaan diri bahwa ia bisa
memisahkannya dalam satu tebasan?
"Eugeo,biar aku
saja yang melakukannya."
Aku mengulurkan
tanganku ke depan,Eugeo mengangguk dengan patuh dan menyerahkan pangkal
pedangnya.Setelah menerima kedua kotak bekal makan siang tadi,ia melangkah
untuk berdiri di samping si pak tua.
Aku menatap dahan
hitam tanpa memikirkan apa-apa,lalu mengayunkan pedang ini ke atas dan segera
menebaskannya ke bawah.Kishi—dengan sebuah suara jelas dan sedikit respon,bilah
pedang ini menembus tempat yang aku bidik.Dahan panjang berwarna hitam itu
jatuh tepat setelah tertebas pedang.Saat ia berputar di udara sambil jatuh,kali
ini aku menangkapnya dengan tangan kiriku.Dahan ini dinginnya bagaikan es dan
aku sedikit terhuyung karena terbebani oleh beban berat di pergelangan tanganku.
Setelah aku
mengembalikan Blue Rose Sword kepada Eugeo,Aku mengunakan kedua tanganku untuk
menyerahkan dahan hitam tadi pada pak tua Garitta.
"Tunggu
sebentar."
Sambil berkata
demikian,si pak tua mengeluarkan sebuah kain tebal dari dadanya,sebelum dengan
hati-hati membungkus dahan yang ada di tanganku.Selain itu,ia mengikatnya juga
dengan tali kulit.
"Sekarang sudah
bagus.Ketika kalian berdua sampai di Capital Centoria,bawalah dahan ini ke
utara distrik tujuh,dan berikan ini pada tukang kayu bernama Sadre,yang
membangun tokonya di situ.Dia pasti mampu membuat sebuah pedang kuat
darinya.Pastinya itu takkan kalah bila dibandingkan dengan Pedang perak
kebiruan yang cantik itu."
"Be-benarkah,Garita-jii!?Pasti
itu akan hebat sekali,aku tadinya khawatir pada masa depan kami karena kami
hanya memiliki satu pedang walaupun kami berdua.Benarkan,Kirito?"
Eugeo berkata dengan
nada gembira,aku membalasnya dengan "Itu benar" sambil menggaguk
seraya tersenyum.Tapi aku bisa merasakan dahan hitam legam di tanganku ini
menjadi sedikit lebih berat saat aku gembira mendengarnya.
Pada kami berdua,yang
menundukkan kepala kami berulang kali,si pak tua memberikan sebentuk senyuman.
"Ini hanya hadiah
perpisahan dariku.Hati-hati di jalan.Karena sekarang,tak hanya ada Dewa Baik
yang memerintah dunia ini…Aku akan tetap disini untuk melihat pohon ini
sejenak.Selamat jalan Eugeo dan si pengelana muda."
Setelah mengikuti
jalan kecil tadi dan keluar kembali ke jalanan utama,cuaca cerah sampai saat
ini mulai berkurang sementara beberapa awan mendung kecil muncul dari langit
timur.
"Anginnya mulai
sedikit lembab sekarang.Kita sebaiknya segera pergi sebelum kita
terlambat."
"…Itu benar.Ayo
cepat."
Aku menggangguk
membalas Eugeo,tali kulit dari kain pembungkus dahan Gigas Cedar terikat kuat
di punggungku.Gelegar bunyi petir yang terdengar dari kejauhan beresonsnsi
dengan berat dari dahan ini,dan pikiranku sedikit berguncang.
Sepasang manusia,dua
pedang
Apakah itu adalah
isyarat,sebuah pertanda dari sesuatu di masa depan?
Haruskah aku mengubur
bingkisan ini jauh di kedalaman hutan?Momen terlintasnya pikiran itu membuat ku
berhenti melangkah.Tapi, Apa alasan yang kutakutkan ini akan benar-benar akan
kubutuhkan?Aku benar-benar tak memahaminya.
"Hey,Ayo
Kirito!"
Sembari aku mengangkat
wajahku,senyuman cerah Eugeo,yang telah mengetahui terlebih dulu dunia yang tak
kuketahui,memasuki mataku.
"Baiklah…ayo
pergi."
Baru seminggu yang
lalu kami berjumpa,tapi untuk beberapa alasan Aku merasa kalau dia adalah
sahabat terbaikku untuk waktu yang telah lama,Aku berjalan beriringan dengan
anak laki-laki itu di jalan yang memanjang ke selatan —— menuju jantung dari
Underworld,tempat dimana semua jawaban dari kebingungan kami telah
menunggu,seraya kami mulai meningkatkan kecepatan langkah kami.
(Alicization Beginning
Selesai)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar