
Prolog 1 (Bulan ke-7 Kalender Dunia Manusia Tahun 372)
Bagian 1
Mengambil kapak.
Mengayun ke atas.
Menebas ke bawah.
Mungkin hanya itu yang dilakukan, tapi jika pikiran kita teralihkan bahkan untuk sesaat, reaksi dari kulit kayu keras itu akan menghantam kembali pada kedua tangan kita tanpa henti. Mengambil nafas, Waktu, kecepatan, pemindahan berat tubuh, semua itu harus dikontrol dengan tepat sejak awal, mengirimkan kekuatan tersembunyi dari mata kapak ke pohon, membuat suara jernih, yang enak dan keras.
Sementara dia dapat memahami teori tersebut dengan baik, melakukannya tidaklah semudah teorinya. Eugeo telah diberi tugas ini ketika dia berumur sepuluh tahun di musim semi, dan ini akan menjadi musim panas kedua sejak saat itu, tapi dia hanya bisa berhasil membuat suara nyaman setiap sekali dari sepuluh ayunan. Dia telah diberi tahu oleh pengguna kapak pendahulunya, kakek Garitta yang selalu mengenai sasaran, dan bahkan dia tidak menunjukkan rasa lelah lelah setelah mengayunkan kapak berat tersebut, tapi setelah lima puluh kali, tangan Eugeo menjadi kaku, pundaknya terasa sakit, dan dia tidak dapat mengangkat kedua tangannya lagi.
"Empat puluh....tiga! Empat puluh....empat!"
Dia menghitung dengan suaranya yang paling keras untuk mendorong dirinya sementara mengayun kapak itu ke kulit kayu dari pohon besar, keringat yang mengalir keluar membuat pandangnnya kabur, tangannya menjadi licin, dan akurasinya menjadi lebih berkurang. Yang sebagian besar disebabkan oleh rasa putus asa, dia memegang kapak itu dengan erat dan mengayunkannya dengan kekuatan dari seluruh tubuhnya.
"Empat puluh....sembilan! Li...ma...puluh!"
Ayunan terakhirnya sangatlah berbeda dari ayunan sebelumnya, itu mengenai kulit kayu yang sedikit jauh dari potongan dalam di pohon itu dan membuat bunyi yang memekakkan telinga. Disebabkan oleh reaksi yang seolah-olah membuat percikan api mengenai matanya, Eugeo menjatuhkan itu, lalu mundur beberapa langkah, lalu duduk di atas lapisan lumut tebal.
Sementara dia mengulangi nafas beratnya, dia mendengar suara bercampur dengan tertawa dari sebelah kanannya.
"Suara yang bagus keluar tiga kali dari lima puluh ayunan. Jadi totalnya adalah, erm..empat puluh satu, huh. Kelihatannya kau yang harus mentraktir Air Siral, Eugeo."
Pemiliki dari suara, yang sedang berbaring sedikit jauh darinya, adalah anak muda yang berumur hampir sama dengannya. Eugeo tidak menjawab dengan segera, tapi meraba kantung air didekatnya lalu mengambilnya. Dia dengan cepat meminum air yang benar-benar menjadi hangat. Setelah dia mulai tenang, dia menutupnya dengan tutup keras, lalu mengatakan.
"Hmm, kau baru bisa empat puluh tiga, bukan? Aku akan menyusulmu nanti. Sekarang, ini adalah giliranmu..., Kirito."
"Ya, ya."
Kirito adalah teman kecil Eugeo dan salah satu sahabat terbaiknya, juga partnernya dalam «Sacred Task» menyedihkan ini. Kirito menyeka keringat di rambut hitamnya, merentangkan kakinya ke depan dan mengangkat tubuhnya. Tapi dia tidak segera mengambil kapak itu, Kirito meletakkan tangannya di pinggang sementara dia menengok ke atas. Tertarik dengan yang dilakukannya, Eugeo juga melihat ke atas menuju langit.
Langit di puncak musim panas di bulan ke-7 benar-benar sangat biru, dan yang berada di tengah adalah Dewi Matahari Solus, yang memancarkan cahayanya yang menyilaukan dari langit. Tetapi, cahaya itu terhalang oleh batang pohon besar yang menjulur ke segala arah, membuat sebagian besar cahaya tadi tidak sampai ke tempat dimana Eugeo dan Kirito berada.
Di waktu yang sama tak terhitung dedaunan dari pohon besar ini menyerap sebagian besar berkah cahaya matahari yang Dewi Solus pancarkan, akarnya juga tanpa henti menyerap berkah dari Dewi Tanah Terraria, membuatnya untuk pulih dari kerja keras Eugeo dan Kirito yang secara terus menebangnya. Tidak peduli bagaimana banyak mereka menebangnya di siang hari, setelah malam hari, ketika mereka datang di pagi berikutnya, pohon ini telah memulihkan setengah luka tebasan dari hari sebelumnya.
Eugeo menghela nafas secara pelan saat dia melihat kembali pohon yang menjulang ke langit itu.
Pohon besar itu————«Gigas Cedar», Pengucapan Suci yang diberikan oleh penduduk desa, adalah monster dengan diameter empat mel, dan memliki tinggi tujuh puluh mel. Menara lonceng di Gereja, yang merupakan bangunan tertinggi di desa,hanya seperempat tinggi dari pohon tersebut. Untuk Eugeo dan Kirito yang tingginya baru saja satu setengah mel tahun ini, monster kuno ini adalah lawan yang tepat.
Bukannya mustahil menebangnya hingga jatuh dengan kekuatan manusia?———— Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain dari memikirkan tentang itu setelah melihat bekas potongan di batang kayu. Bekas potongannya telah mencapai satu mel, tapi bagian dari pohon kayu yang tersisa dengan ketebalan tiga kali darinya masih baik-baik saja.
Di musim semi tahun lalu, ketika dia dan Kirito dibawa menuju rumah kepala desa, saat mereka memiliki umur yang cukup untuk melaksanakan tugas «Memotong Pohon Besar», dia telah mendengar cerita yang membuatnya bingung.
Gigas Cedar sudah tumbuh sebelum desa Rulid telah terbentuk, dan tugas untuk menebang pohon tersebut telah diturunkan dari generasi ke generasi sejak pertama kali terbentuknya desa. Menghitung dari generasi pertama hingga generasi pendahulunya, kakek Garitta yang merupakan generasi keenam, Eugeo dan Kirito adalah generasi ketujuh, lebih dari tiga ratus tahun telah berlalu semenjak mereka telah diberikan tugas ini.
————————Tiga ratus tahun!
Ini adalah waktu yang tidak dapat dibayangkan oleh Eugeo yang baru saja mencapai umur sepuluh tahun. Tentu saja, hal itu tidak berubah bahkan meskipun dia sekarang berumur sebelas tahun. Apa yang entah bagaiamana dia mengerti adalah, dari waktu orang tuanya, waktu sebelum itu, dan bahkan jauh sebelumnya, jumlah ayunan kapak dari semua orang yang melakukan tugas ini dapat dibilang tidak terbatas, dan hasilnya cuma luka bekas tebangan yang kurang dari satu mel dalamnya.
Kenapa menebang pohon besar itu sangatlah penting? Alasannya dijelaskan oleh kepala desa dengan nada berat.
Gigas Cedar, dengan batang yang besar dan daya hidup yang sangat banyak, mengambil anugerah dari Dewi Matahari dan Tanah dari sekelilingnya dalam jarak yang sangat jauh. Bibit yang ditanam dibawah bayangan pohon besar ini tidak akan bisa tumbuh, berbagai usaha untuk menanam tanaman didekatnya berakhir sia-sia.
Desa Rulid merupakan bagian dari «Kerajaan Norlangath Utara», salah satu dari empat kerajaan yang membagi dan memerintah «Dunia Manusia», dan itu juga terletak di daerah perbatasan di utara. Dengan kata lain, tempat ini dapat dikatakang sebagai ujung dunia. Utara, timur, dan barat, ketiga sisi ini dibatasi oleh barisan pegunungan yang curam, jadi untuk memperluas ladang dan padang rumput, tidak ada cara lain selain menebang hutan di selatan. Tetapi, hal itu tidak dapat dilakukan karena adanya Gigas Cedar yang tumbuh di jalan masuk hutan.
Itu dapat dikatakan bahwa kulit kayunya sama kerasnya dengan besi, dan bahkan api tidak dapat menyebabkan bekas hangus, menggalinya juga tidak mungkin karena akarnya memiliki panjang yang sama dengan tinggi pohon. Akhirnya leluhur desa memutuskan untuk menebang pohon tersebut menggunakan «Dragon Bone Axe» yang bahkan dapat memotong besi sekalipun, dan tugas untuk melakukannya telah diturunkan ke generasi selanjutnya semenjak saat itu ————
Kepala desa selesai menceritakan kisah tentang Sacred Task ini dengan suara yang bergetar, membuat Eugeo merasa ketakutan, jadi dia bertanya, mengapa mereka tidak meninggalkan Gigas Cedar saja dan membuka hutan lebih jauh ke selatan.
Kepala desa menjawab dengan suara yang bergetar bahwa menebang pohon itu adalah sebuah sumpah dari leluhur mereka, pekerjaan itu telah berubah menjadi kebiasaan desa untuk memberikan tugas ini kepada dua orang. Kemudian Kirito, yang memiringkan kepalanya sementara bertanya dengan keras kenapa leluhur mereka memilih untuk membangun desa di tempat ini sejak awal. Kepala desa kehilangan kata-katanya untuk sesaat sebelum menjadi sangat marah dan memukul kepala Kirito dan bahkan kepala Eugeo dengan tangannya.
Sudah satu tahun dan tiga bulan berlalu semenjak mereka berdua terus bergantian menebang dengan Dragon Bone Axe dan menantang Gigas Cedar. Tetapi, kelihatannya dikarenakan tangan mereka yang belum dewasa, ayunan kapak mereka tidak dapat membuat potongan yang dalam ke batang kayu. Bekas tebangan di batang kayu yang sampai sekarang ada adalah hasil kerja keras selama tiga ratus tahun, jadi itu cukup normla jika kerja keras dua anak muda tidak membuat perbedaan yang besar, mereka tidak dapat merasakan pencapaian apapun dari hasil kerja mereka.
Tidak————perasaan mereka, tidak hanya tidak dapat terlihat, perasaan depresi mereka yang kelihatannya terbentuk dengan jelas terlihat di kenyataan juga.
Kirito, berdiri di samping Eugeo sementara menatap pada Gigas Cedar tanpa mengatakan apapun,terlihat memikirkan hal yang sama, lalu dia berjalan dengan cepat menuju pohon sementara mengulurkan tengan kirinya.
"Oi, Kirito, jangan lakukan itu. Kepala desa bilang jangan sering melihat «Life» pohon itu, bukan?"
Eugeo dengan cepat memanggilnya, tapi Kirito hanya menatapnya dengan senyuman jahil yang terlihat di ujung mulutnya.
"Terakhir kali kita melihatnya adalah dua bulan yang lalu, ini tidak lagi terlalu sering, hanya kadang-kadang."
"Selalu seperti itu, huh, aku tidak dapat melakukan apapun kalau begitu...Oi, tunggu aku, biarkan aku melihatnya juga."
Eugeo yang akhirnya mulai tenang segera berdiri dengan gerakan yang sama seperti Kirito sebelumnya dan berlari menuju ke samping patnernya.
"Sudah siap? Aku akan membukanya sekarang."
Kirito mengatakannya suara nada rendah, tangan kirinya terulur ke depan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya terulur keluar, sedangkan jarinya yang lain tertutup. Bentuk gambar yang terlihat seperti ular yang merayap tergambar di udara di saat sebelumnya. Itu adalah simbol dasar dari pengabdian terhadap Dewi Penciptaan.
Setelah memotong simbol tadi dengan ujung jarinya, Kirito dengan segera menyentuh kulit kayu dari Gigas Cedar. Itu tidak membuat suara ketukan pelan seperti biasanya, tapi suara jelas seolah-olah itu berasal dari bermain dengan peralatan perak yang bersuara dengan halus. Lalu cahaya kecil dari kotak window itu keluar dari batang pohon.
Semua di dunia ini, tidak peduli apakah benda itu dapat bergerak atau tidak, memiliki keberadaan yang dikuasai oleh Dewi Pencipta Stacia dalam bentuk «Life». Serangga dan bunga hanya memiliki sedikit «Life», kucing dan kuda memiliki lebih banyak, dan manusia memiliki «Life» yang jauh lebih banyak. Lalu pohon di hutan dan lumut yang menutupi batu memiliki «Life» yang lebih banyak dari manusia. Semuanya memiliki satu persamaan, Itu terus meningkat setelah lahir, dan saat itu mencapai puncaknya, itu terus menurun. Ketika Life itu benar-benar habis, hewan atau manusia berhenti bernafas, tanaman menjadilayu, dan bebatuan menjadi hancur.
«Stacia Window» adalah dimana sacred text dari Life yang tersisa tertulis. Itu dapat dikeluarkan ketika seseorang dengan sacred power yang cukup memotong simbolnya, lalu menyentuh benda yang diinginkan. Sementara sebagian besar orang bisa memanggil window ini pada rumput dan kerikil,itu entah mengapa cukup sulit untuk melakukannya pada hewan, dan untuk manusia, itu tidak mungkin mengeluarkannya jika tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang sacred art sebelumnya.————Di sisi ini, itu akan sedikit menakutkan ketika melihat window miliknya sendiri.
Secara umum, window dari pohon ini lebih mudah dilihat dibandingkan dengan manusia, tapi tingkat kesulitan dari pohon iblis Gigas Cedar sangat tinggi seperti yang diduga, Eugeo dan Kirito baru bisa memanggil window itu sekitar satu setengah tahun yang lalu.
Dahulu ada sebuah cerita , di «Katedral Pusat Gereja Axiom» di Centoria Pusat, master tetua dari pengguna Sacred Art berhasil memanggil window dari Dewi Tanah Terraria setelah upacara selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Tetapi, saat tetua tadi melihat Life tanah itu, dia menjadi depresi, kehilangan akal sehatnya, dan kemudian menghilang.
Saat mendengar cerita tersebut, Eugeo menjadi sedikit takut untuk tidak hanya saat melihat window miliknya sendiri, tapi juga winodw dari sesuatu yang besar seperti Gigas Cedar, tapi Kirito terlihat tidak mempedulikannya. Untuk kali ini juga, Kirito menaruh wajah penasarannya di dekat window yang bersinar itu. Sementara Eugeo berpikir bahwa dia terkadang tidak bisa mengerti sahabat terbaiknya ini, Eugeo menjadi kalah dengan rasa penasarannya, dan melihat ke arah permukaan itu.
Window persegi berwarna ungu pucat yang memiliki tulisan yang merupakan kombinasi dari kalimat berbentk lurus dan melengkung. Itu adalah sacred letter yang kuno, jika itu hanya membaca beberapa kata, Eugeo masih dapat melakukannya, hanya menulis huruf tersebut yang dilarang.
"Baiklah......"
Eugeo menggunakan jarinya untuk mengeceknya satu demi satu sambil mengucapkan kata-kata yang tertulis,
"235.542."
"Ah————....Berapa jumlahnya pada saat sebulan yang lalu?"
"Mungkin....235.590."
".........."
Hanya mendengar jawaban Eugeo, Kirito mengangkat tangannya dengan gerakan yang berlebihan, terjatuh dengan lutut menyentuh tanah, lalu mengacak-acak rambut hitamnya dengan menggunakan jari-jarinya.
"Hanya lima puluh! Kita bekerja keras selama dua bulan dan hanya berhasil mengurangi lima puluh dari 235 ribu! Jika seperti ini terus kita tidak akan bisa menebangnya selama seumur hidup kita!"
"Tidak, itu bahkan tidak mungkin sejak awal."
Eugeo tidak dapat melakukan apapun kecuali menjawabnya dengan senyuman masam.
"Enam generasi dari penebang kayu sebelumnya sudah bekerja keras selama tiga ratus tahun, dan hasilnya bahkan tidak mencapai seperempatnya......Untuk membuatnya lebih sederhana, hmmm, Itu mungkin akan sampai pada generasi kedelapan belas, atau sembilan ratus tahun lagi."
"K~a~u~~"
Kirito yang sedang merangkak sambil memegang kepalanya dengan tangannya, menatap pada Eugeo, lalu tiba-tiba menggenggam kaki Eugeo. Eugeo kehilangan keseimbangan disebabkan oleh serangan tiba-tiba tadi, lalu terjatuh di lumut tebal di belakangnya.
"Ada apa dengan sikapmu yang seperti siswa teladan! Setidaknya bersikaplah lebih terbebani dengan tugas tidak beralasan ini!"
Meskipun dia mengatakannya seolah-olah dia sedang marah, senyuman kecil terlihat di wajah Kirito ketika dia berada di atas Eugeo dan mengacak-acak rambutnya.
"Uwa——, kenapa kau!"
Tangan Eugeo memegang pergelangan tangan Kirito dan menariknya dengan keras. Dia lalu memanfaatkan keadaan Kirito menengangkan tubuhnya untuk melawan, berputar secara vertical dengan gerakan setengah melingkar, maka membuat dia di atas sekarang.
"Sekarang, waktunya membalas!"
Sementara berteriak dan tertawa, dia menarik rambut Kirito dengan tangannya yang kotor, tapi tidak seperti rambut Eugeo yang berwarna coklat muda terang yang lembut, rambut hitam lurus Kirito membuat serangannya tidak berarti. Eugeo lalu berganti menjadi menggelitik perut Kirito.
"Ugya, kau....h-hahah...."
Kirito kehabisan nafas saat dia berjuang melawan penahanan dan digelitik , tiba-tiba terdengar suara keras yang datang dari belakang mereka.
Pada saat itu, pertarungan antara Kirito dan Eugeo menjadi benar-benar berhenti.
"Uu....."
"Ini buruk...."
Mereka berdua
mengangkat bahu mereka lalu dengan takut melihat ke belakang.
Di atas batu yang
sedikit jauh dari mereka berdua, dengan kedua tangannya berada di pinggang,
sosok manusia dengan dadanya sedikit menonjol berdiri. Eugeo sedikit mengangkat
tubuhnya, lalu berbicara dengan tersenyum.
"H....Hei, Alice,
kau datang cukup cepat hari ini."
"Sama sekali
tidak, ini adalah waktu yang sama."
Sosok tadi membuat
wajah yang tidak bersahabat, dengan rambut panjang yang dikat di kedua sisi
kepalanya memantulkan sinar keemasan di bawah cahaya matahari yang menembus
dari dedaunan. Gadis itu melompat dari batu dengan lincah. Dia memakai rok biru
terang dengan apron putih, dan keranjang rotan di tangan kanannya.
Nama gadis muda ini
adalah Alice Schuberg. Anak perempuan dari kepala desa, dan dia umurnya sama
dengan Eugeo dan Kirito, sebelas tahun.
Untuk semua anak yang
tinggal di Rulid————tidak, di daerah utara, itu sudah menjadi tradisi bahwa
mereka akan diberikan «Sacred Task» dan menjadi murid di musim semi saat mereka
berumur sebelas tahun, tapi, Alice satu-satunya pengecualian, dia belajar di
gereja daripada bekerja. Dia diberi pelajaran khusus dari Sister Azariya agar
dapat mengembangkan bakatnya dalam sacred art lebih jauh sebagai anak terbaik
di desa.
Tapi, Rulid tidak
cukup kaya untuk membiarkan anak kepala desa yang berumur sebelas tahun hanya
belajar seharian, tidak peduli seberapa banyak bakat yang dia miliki. Semua
orang yang dapat bekerja harus bekerja, mereka semua harus terus menahan
serangan panas, hujan untuk waktu yang lama, penyakit, semua yang bisa
menghilangkan Life dari tanaman dan bahan pangan————dengan kata lain, «Dewa
kegelapan Vector si penipu». Itu hanya ketika musim dingin yang keras telah
tiba semua penduduk desa akhirnya dapat menjadi tenang.
Keluarga Eugeo
mempunyai ladang gandum di lahan subur yang luas di sebelah selatan desa,
ayahnya Orick dan keluarganya adalah petani. Setelah mengetahui Eugeo, salah
satu dari tiga anaknya, tepilih untuk menjalankan tugas menebang mulutnya
dipenuhi dengan perkataan yang gembira, tapi sebagian pikirannya pasti memiliki
perasaan kekecewaan. Tentu saja mereka akan mendapat pembayaran untuk tugas
menebang dari uang miliki desa , tapi kenyataan bahwa berkurangnya satu orang
untuk membantu di ladang sama sekali tidak berubah.
Kenyataannya, anak
tertua dari masing-masing keluarga akan diberikan Sacred Task yang sama seperti
ayah mereka, jika berada di keluarga petani, anak perempuan mereka, anak
laki-laki mereka, dan anak ketiga mereka juga mengikuti standar ini. Anak dari
pemilik toko peralatan akan melanjutkan bekerja di toko peralatan, anak dari
penjaga desa akan menjadi penjaga juga, dan anak dari kepala desa ikut menjadi
kepala desa selanjutnya. Desa Rulid telah mempertahankan tradisi ini tanpa
perubahan sama sekali selama ratusan tahun, orang dewasa mengatakan bahwa itu
adalah hadiah perlindungan suci dari Stacia, tapi Eugeo dapa mengingat secara
samar-samar ketidaksesuaian dari cerita mereka.
Kenapa, jika orang
dewasa berpikir ingin memperluas desa, kenapa tidak ada satupun kesempatan
sampai sekarang? Dia masih tidak dapat mengerti. Jika mereka ingin memperluas
lahan, mereka tingal pindah sedikit ke selatan dan membiarkan pohon besar ini
saja untuk memperluas hingga ke hutan selatan. Tapi, kepala desa yang merupakan
orang terbijak, tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk mengubah tradisi lama
tersebut.
Lagipula, tidak peduli
sudah berapa waktu telah berlalu, desa Rulid masih tetap miskin, jadi Alice
yang merupakan anak kepala desa, hanya dapat belajar di pagi hari saat dia
mengerjakan pekerjaan penting untuk merawat hewan ternak dan membersihkan rumah
di siang hari. Tugas pertamanya setelah belajar adalah untuk membawa bekal
makan siang pada Eugeo dan Kirito.
Dengan keranjang rotan
di tangan kanannya, Alice melompat dengan lincah dari batu besar. Saat dia
hendak mengeluarkan kemarahan dari mulutnya, Eugeo langsung berdiri semnetara
menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak
sedang bermain-main, sungguh! Kami sudah menyelesaikan tugas pagi kami."
Bersamaan dengan
alasan Eugeo yang cepat, Kirito, di belakangnya, bereaksi dengan cepat sambil
berkata "Ya, ya."
Mata Alice
mengeluarkan cahaya kuat saat melihat mereka berdua lagi, lalu kemarahannya
menjadi melunak.
"Jika kalian
punya kekuatan untuk berkelahi setelah selesai bekerja, aku ingin tahu jika aku
seharusnya meminta pada kakek Garitta untuk meningkatkan beban pekerjaan untuk
kalian berdua?"
"A-Apapun selain
itu!"
"Hanya
bercanda.————Ayo, cepat makan siang. Hari ini sangat panas, jika kita tidak
segera memakannya, ini akan menjadi tidak enak."
Alice kemudian meletakkan
keranjang rotan itu di tanah, mengambil kain berukuran besar dari dalamnya,
lalu membentangkan itu. Dia memilih tempat yang landai dan membentangkannya,
yang membuat Kirito dengan cepat melepas sepatunya dan segera mendudukinya.
Eugeo duduk setelahnya, lalu makanan itu dijejerkan satu demi satu di depan dua
pekerja yang lapar.
Menu hari ini adalah
daging asin dan pai dengan isi kacang panggang, roti hitam berlapis keju dan
irisan daging asap, beberapa jeni buah dikeringkan, dan susu hasil perahan tadi
pagi. Bahkan meskipun semua makanan selain susu dapat disimpan untuk dimakan
nanti, tapi sinar matahari yang kuat di bulan ketujuh masih dapat menghabiskan
«Life» dari makanan ini tanpa ampun.
Alice memberitahu
Kirito dan Eugeo, yang hampir mengambil makanan, untuk 'menunggu', seolah-olah
dia memerintah kepada seekor anjing, lalu dengan cepat memotong simbol di udara
dan mengkonfirmasi «Window» dari setiap makanan yang dimulai dari toples yang
berisi susu.
"Uwa, susunya
hanya memiliki waktu sepuluh menit tersisa, dan painya hanya memiliki waktu
kurang dari lima belas menit. Bahkan saat aku berlari kesini...Kalau begitu,
jadi kita harus memakannya dengan cepat. Tapi pastikan untuk mengunyahnya
dengan lembut."
Ketika Life dari suatu
makanan habis, makanan itu akan berubah menjadi «Makanan Busuk», yang bahkan
satu gigitannya dapat menyebabkan suatu gejala penyakit seperti sakit perut
untuk yang tidak mempunyai perut yang kuat. Eugeo dan Kirito yang sudah cukup
lapar dan mulai menggigit potongan besar pai itu tanpa mengatakan apapun.
Mereka bertiga
melanjutkan makan tanpa mengatakan apapun. Itu sudah jelas dengan dua anak
laki-laki yang kelaparan, tapi Alice juga membuat seseorang berpikir dimana dia
menaruh semua makanan yang dia makan dengan perut kecilnya. Semua makanan
segera habis satu demi satu. Pertama tiga potong pai, diikuti oleh sembilan
potong roti hitam, lalu sebotol toples susu itu habis, dan, setelah itu mereka
bertiga menghela nafas lega.
"————————Bagaimana
rasanya?"
Itu adalah Eugeo yang
menjawab pertanyaan Alice dengan nada yang seriusnya, saat dia menatap pada
mereka berdua.
"Ya, pai hari ini
sangat enak. Kemampuan sudah sangat meningkat, Alice."
"B-Benarkah? Aku
masih merasa ada yang sesuatu yang kurang dari rasanya bagaimanapun juga."
Tersipu, Alice
mengatakannya sambil mengalihkan wajahnya, Eugeo saling berganti kedipan dengan
Kirito sebelum tersenyum. Kotak makan siang mereka dibuat oleh Alice semenjak
bulan lalu, tapi meskipun mengatakan hal itu, perbedaan diantara makanan yang
dibuatnya dengan bantuan ibunya, Bibi Sadina, dan tanpa bantuannya, sangatlah
jelas. Mereka mengerti bahwa suatu keahlian tidak segera didapatkan tanpa
latihan untuk waktu yang lama, dan ini berlaku untuk apapun————tetapi, Eugeo
dan Kirito juga paham bahwa itu lebih baik untuk tidak mengatakannya.
"Lagipula——"
Kirito mengatakannya
sambil mengambil marigo kuning dari dalam botol buah kering.
"Dengan semua
usaha untuk membuat kotak makanan yang lezat, aku ingin memakannya dengan waktu
yang lebih lama. Aku ingin tahu kenapa hawa panas bisa membuat makanan
rusak....."
"Kenapa?
Hmmmm......"
Kali ini, tanpa
menyembunyikan senyum masamnya, Eugeo mengangkat bahunya dengan gerakan yang
berlebihan.
"Kau mengatakan
hal yang aneh, huh? Musim panas membuat Life menurun lebih cepat karena itulah
bagaimana itu bekerja. Apakah itu daging, ikan, sayuran dan buah-buahan, itu
akan menjadi membusuk jika kamu meninggalkannya saja, bukan?"
"Aku tahu itu,
aku bertanya kenapa, bukan? Di saat musim dingin, bahkan jika kamu meninggalkan
daging asin mentah diluar selama berhari-hari, daging itu tidak akan membusuk,
bukan?"
"Itu....Itu
karena musim dingin itu dingin."
Kirito melengkungkan
mulutnya seperti anak kecil yang rewel pada jawaban Eugeo. Mata hitamnya, yang
sangat jarang di daerah utara, memancarkan sinar ketidakpatuhan.
"Itu benar, itu
seperti yang Eugeo katakan, hawa dingin akan membuat makanan menjadi lebih
tahan lama. Tidak hanya di musim dingin. Jika ada hawa dingin, bahkan di musim
ini, kita masih dapat menyimpan makanan untuk waktu yang lama."
Kali ini Eugeo yang
tercengang, dia perlahan menendang kaki Kirito dengan kakinya.
"Jangan
mengatakannya seperti itu adalah hal yang mudah. Dingin? Musim panas itu panas,
karena itu adalah musim panas. Apakah kamu memikirkan tentang menggunakan art
pengontrol cuaca yang benar-benar terlarang untuk memanggil salju? Hari
berikutnya Integrity Knight dari pusat akan terbang ke sini untuk membawa pergi
dirimu."
"Y-Yah.....Tidak
ada yang dapat kita lakukan.....? Aku merasa ada suatu cara, suatu cara yang
mudah....."
Sementara Kirito
bergumam dengan wajahnya yang merengut, Alice yang dengan tenang mendengarkan
percakapan mereka sambil menggulung ujung rambut kucirnya sampai sekarang dan
berkata.
"Menarik."
"A-Apa maksudmu,
Alice?"
"Tidak, bukan
tentang menggunakan art terlarang. Tidak perlu untuk skala yang cukup untuk
menutupi desa, tapi hanya cukup kecil untuk diletakkan di dalam kotak makan ini
sudah cukup, bukan?"
Saat mendengar apa
yang dikatakan olehnya seolah-olah itu sangat normal, Eugeo tanpa sadar
berbalik pada Kirito, yang mengangguk. Senyuman terlihat di wajah Alice sebelum
dia melanjutkannya.
"Ada beberapa
benda yang dingin bahkan di musim panas. Seperti air dari sumur yang dalam,
atau daun Silve. Jika kita meletakkannya di dalam keranjang, bukankah itu akan
menjadi dingin di dalamnya?"
"Ah.... Itu
benar."
Eugeo melipat kedua
tangannya dan berpikir.
Di tengah ruangan luas
di depan gereja, ada sebuah sumur menakutkan yang sangat dalam yang digali
semenjak desa Rulid terbentuk, air yang dikeluarkan dari dalam sumur itu sangat
dingin hingga dapat membuat tangan menjadi mati rasa bahkan di musim panas.
Juga, di hutan utara, ada beberapa pohon Silve yang tumbuh, daunnya sangat
dingin dan melepaskan aroma tajam ketika diremas, tapi itu sangat bemanfaat
untuk merawat luka memar. Mungkin jika menaruh satu toples air dari dalam
sumur, atau membungkus pai dengan beberapa lembar daun Silve membuat itu
mungkin untuk menjaga kotak makan dingin sementara membawanya ke tempat lain.
Tetapi, Kirito, yang
juga terdiam sejenak untuk berpikir, perlahan menggelengkan kepalanya dan
berkata.
"Jika seperti
itu, aku berpikir itu tidak akan bekerja. Air sumur akan menjadi hangat
beberapa menit setelah itu diambil, daun Silve mungkin bisa menjaga hawa dingin
lebih lama, tapi aku tidak berpikir itu akan cukup untuk menutupi jarak dari
rumah Alice menuju Gigas Cedar."
"Jadi, apa kamu
memiliki metode lain?"
Alice, yang idenya
telah ditolak, bertanya sementara mengejek. Kirito mengacak rambut hitamnya
sambil terdiam untuk beberapa saat, lalu tiba-tiba bicara dengan nada rendah.
"Es. Dengan es
yang sangat banyak, itu akan lebih dari cukup untuk menjaga kotak makan ini
tetap dingin."
"Kau....."
Alice menggelengkan
kepalanya dengan kekaguman.
"Sekarang musim
panas. Dimana tepatnya kamu bisa menemukan es? Bahkan toko besar di pusat pasti
tidak akan memilikinya!"
Dia mengatakannya
dengan nada seperti ibu yang memarahi anak bandelnya.
Eugeo, di sisi lain,
dapat merasakan perasaan yang buruk, saat dia sekilas melihat Kirito membuat
ekspresi wajah yang seperti sebelumnya. Teman masa kecilnya, ketika suatu
cahaya terlihat di matanya, ketika berbicara dengan nada seperti itu, Eugeo
mengetahui dari pengalaman bahwa Kirito sedang memikirkan sesuatu yang tidak
bagus. Di dalam kepalanya, dia mengingat ketika Kirito mengambil madu dari
lebah raja di pegunungan timur, atau ketika dia memecahkan toples susu yang
telah kadaluarsa ratusan tahun yang lalu di ruang bawah tanah gereja,
pemandangan itu terlihat dan menghilang dengan cepat.
"J-Jadi, tidak apa-apa,
bukan? Tidak ada yang salah dengan makan secara cepat bagaimanapun itu. Juga,
jika kita tidak segera memulai pekerjaan sore kita dengan segera kita akan
pulang terlambat."
Eugeo berkata seperti
sementara memindahkan piring kosong itu dengan cepat pada keranjang rotan, saat
dia menginginkan untuk menghentikan pembicaraan mengganggu ini. Tapi, saat dia
melihat mata Kirito yang bersinar dengan terang, seolah-olah dia mendapat suatu
ide, secara tak terhindari dia menyadari bahwa ketakutannya telah menjadi
kenyataan.
".......Apa itu,
apa rencana yang kamu miliki untuk saat ini?"
Pertanyaannya telah
tercampur dengan kepasrahan, Kirito tersenyum sebelum menjawab.
"Hei.......Pada
waktu yang duluuuu, kakek Eugeo menceritakan kita sebuah cerita, ingat?"
"Hmm......?"
"Cerita yang
mana......?"
Selain Eugeo, Alice
juga perlahan memiringkan kepalanya.
Sebelum Stacia
memanggil kakek Eugeo ke sisinya dua tahun lalu, ada banyak legenda yang
diceritakan olehnya dibalik janggut putihnya. Sementara duduk di kursi goyang di
taman, dia selalu menceritakan berbagai cerita kepada tiga anak-anak yang duduk
di dekat kakinya. Cerita aneh, cerita menarik, cerita menakutkan, ada ratusan
cerita seperti itu, jadi Eugeo tidak tahu cerita mana yang Kirito maksudkan.
Lalu teman masa kecilnya yang berambut hitam segera terbatuk sambil
mengacungkan jari telunjuknya sebelum mengatakan.
"Es di musim
panas, tidak ada yang lain selain itu, bukan? 『Bercouli dan si Putih dari Utara......』 "
"Oi, hentikan
ini, kau bercanda, bukan?"
Eugeo memotong
perkataannya tanpa mendengar bagian akhir sementara mengayunkan tangan dan
kepalanya dengan cepat.
Bercouli, diantara
leluhur yang membentuk desa Rulid, adalah pengguna pedang terkuat, yang
berperan sebagai kepala penjaga generasi pertama. Tapi karena itu dia hidup
ratusan tahun yang lalu, hanya ada beberapa cerita tentang keberaniannya yang
tersisa, dan cerita yang Kirito sebutkan adalah cerita yang yang paling hebat
diantara itu semua.
Pada suatu hari di
saat puncak musim panas, Bercouli melihat sebuah batu besar yang mengapung di
sungai di sebelah timur desa. Saat mengambil batu tersebut, yang ternyata
merupakan bongkahan es, Bercouli, dangan kekagumannya, berjalan menyusuri hulu
sungai. Tidak lama kemudian, dia sampai pada bagian dari ujung dunia, «Puncak
Barisan Pegunungan», dan saat dia tetap berjalan mengikuti sungai yang sempit
itu, dia berhadapan dengan mulut gua yang besar.
Bercouli melangkah
menuju ke dalam gua melawan angin dingin yang berhembus, dan setelah dia
melalui berbagai bahaya, dia sampai aula yang sangat luas. Apa yang dia lihat
adalah seekor naga putih raksasa, yang diceritakan sebagai penjaga perbatasan
Dunia Manusia. Sosok naga, yang menggulung tubuhnya pada berbagai macam harta
karun yang tak terhitung jumlahnya, membuat Bercouli menyadari bahwa naga itu
sedang tertidur, tapi bahkan dengan keberaniannya, dia masih terus mendekatinya
dengan perlahan. Diantara berbagai harta karun itu, dia menemukan pedang
panjang yang indah, dan dia ingin untuk memilikinya tidak peduli apapun yang
terjadi. Dia perlahan menarikt pedang tersebut tanpa membangunkan naga itu, dan
berlari menjauh secepat yang dia bisa———itu adalah ringkasan ceritanya. Judul
cerita itu adalah 『Bercouli dan Naga
Putih Utara』.
Bahkan untuk Kirito
yang nakal, pastinya dia tidak akan berpikir untuk melanggar peraturan desa
untuk pergi melewati Perbatasan Utara dan mencari naga yang asli,
bukan? Sementara setengah berdoa, Eugeo bertanya dengan penuh ketakutan.
"Maksudmu, kita
akan mengawasi sungai Ruhr dan menunggu sebongkah es mengapung turun......
benar?"
Tetapi, Kirito
menghela nafasnya sebelum hanya mengatakan.
"Menunggu seperti
itu, musim panas ini akan berakhir sebelum kita mendapatkan apapun. Aku tidak
ingin mengikuti Bercouli dan pergi mencari naga. Dalam cerita, itu disebutkan
bahwa ada es di jalan masuk gua, bukan? Cukup dua atau tiga buah sudah cukup
untuk mengetesnya pada kotak makanan itu."
"Kau, seperti
yang aku bilang......"
Eugeo menjadi terdiam
untuk beberapa detik, lalu berbalik menuju ke samping, melihat ke arah Alice
untuk membantunya membantah ide anak laki-laki yang berani itu. Lalu dia
menyadari bahwa mata birunya bersinar dengan cahaya yang kuat, dia menurunkan
bahunya dengan pemikiran itu.
Eugeo dan Kirito
adalah dua anak nakal nomor satu di desa, mereka membuat banyak orang tua
mengeluh dan memarahi mereka berdua di setiap hari. Tapi, hanya beberapa orang
yang tahu bahwa banyak kenakalan mereka yang dibantu dan direncakan dari
belakang oleh Alice, siswa teladan nomor satu di desa.
Alice sementara
meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya, saat dia terdiam beberapa saat, lalu
tiba-tiba berkedip dan berkata,
"——Itu bukan ide
yang buruk."
"J-Jangan kau
juga, Alice....."
"Memang benar,
hanya anak kecil yang dilarang pergi menuju Perbatasan Utara. Coba untuk
mengingat baik-baik. Kalimat sebenarnya yang tertulis di peraturan, [Tanpa
pengawasan orang dewasa, anak kecil tidak boleh bermain melewati Perbatasan
Utara]."
Eugeo dan Kirito tanpa
sadar saling bertukaran pandangan.
Peraturan desa atau
«Perturan Dasar Penduduk Rulid» sebagai nama resminya adalah tulisan lama yang
setengahnya ditulis di atas kertas dan setengahnya di atas kulit, yang tebalnya
hanya dua cen tersimpan di dalam rumah kepala desa. Ini adalah hal pertama yang
semua anak-anak yang pergi ke sekolah gereja untuk mengahafalnya. Dan setelah
itu, setelah mendengar dari orang tua mereka dan para tetua terus berkata 'Di
dalam peraturan', 'Berdasarkan peraturan', peraturan ini tertanam di dalam
kepala mereka sampai mereka berumur sebelas tahun——apa yang mereka pikirkan,
tetapi, kelihatannya Alice secara akurat mengingat semua teks, kata demi kata.
.......Tidak mungkin,
jangan bilang padaku bahkan hukum dasar kerajaan yang tebalnya dua kali lipat
juga..... tidak, bahkan mengingat dengan sempurna peraturan desa sudah......
Sementara pandangan
Eugeo dipenuhi dengan pemikiran seperti itu, Alice menjelaskan suara di
tenggorokannya lagi, lalu melanjutkan perkataan dengan nada seperti seorang
guru.
"Bukankah itu
benar? Kita tidak pergi kesana untuk bermain, itu dilarang oleh peraturan. Tapi
mencari bongkahan es bukanlah bermain. Memperpanjang Life dari kotak makanan
bukan hanya untuk kita, ini juga membantu orang yang bekerja di lahan dan
peternakan, benar? Jadi ini juga dapat dianggap sebagai bagian dari
pekerjaan."
Setelah perkataannya
yang keluar selesai, Eugeo saling bertukar pandangan dengan Kirito lagi.
Meskipun mata hitam partnernya yang awalnya memiliki sedikit keraguan, tapi itu
dengan segera meleleh seperti balok es yang mengapung di sungai saat musim
panas——
"Ya, itu benar,
itu sangat benar."
Sambil melipat
tangannya, Kirito mengangguk dengan wajah serius.
"Karena ini
pekerjaan, bahkan jika kita pergi melewati batas hingga sampai ke ≪Puncak Barisan Pegunungan≫, itu masih tidak
dianggap sebagai melanggar peraturan desa. Lihat, Balbossa-san selalu
mengatakannya, bukan? 'Pekerjaan bukan hanya sesuatu yang diperintahkan, jika
kamu sedang bebas maka carilah pekerjaan!', seperti itu. Jika mereka menjadi
marah, kita cukup menunjuk pada perkataannya, lalu itu semua seharusnya akan
baik-baik saja."
Keluarga Balbossa
adalah keluarga kaya yang memiliki lahan gandum terluas di desa. Kepala
keluarganya yang sekarang, Nigel Balbossa adalah orang tua berumur lima puluh
tahun yang masih memiliki tubuh sehat, bahkan meskipun keluarganya bisa memanen
gandum lebih banyak dibandingkan dengan keluarga lainnya, dia masih belum puas,
dan kapanpun dia beremu dengan Eugeo di jalan, dia selalu menyalaminya dengan
ejekan 'Masih belum bisa menebang jatuh pohon Cedar yang menyebalkan itu?'.
Rumor mengatakan bahwa dia meminta kepala desa untuk mengutamakan keluarganya
untuk menanam di lahan baru saat Gigas Cedar telah tertebang jatuh. Respon
Eugeo adalah, 'Sebelum itu terjadi, Lifemu akan sudah lama hilang,' tentu saja
dia hanya mengatakan itu di pikirannya.
Bahkan meskipun ide
Kirito untuk menggunakan perkataan Nigel sebagai alasan untuk pergi melewati
Perbatasan Utara sangat menarik, tapi setelah bertugas sebagai penahan kelompok
ini untuk waktu yang lama membuat Eugeo tidak mampu untuk berhenti mengatakan
'Tapi'.
".......Tapi,
pergi ke Puncak Barisan Pegunungan tidak hanya melanggar peraturan desa tapi
'itu' juga, bukan? Bahkan jika kita berhasil pergi melewati Perbatasan Utara
dan sampai pada dasar pegunungan itu, kita masih tidak dapat memasuki gua
itu......"
Saat mendengar itu,
Alice dan Kirito membuat wajah serius.
«Itu» yang Eugeo
katakan adalah hukum mutlak yang memerintah semua manusia di Dunia Manusia yang
luas, kekuasaannya jauh diatas «Hukum Dasar Kerajaan Norlangarth Utara»,
lupakan «Aturan Dasar Penduduk Rulid»—— Namanya adalah «Taboo Index».
Itu dibuat oleh
«Gereja Axiom», menara raksasa yang kelihatannya menjulang hingga mencapai
surga, terletak di Centoria Pusat. Buku tebal yang diikat dengan sarung kulit
putih bersih yang tidak hanya digunakan di kerajaan utara dimana Eugeo tinggal,
tapi juga di setiap kota dan desa di kerajaan timur, selatan, dan barat.
Taboo Index, tidak
seperti peraturan desa dan hukum kerajaan, itu sama seperti namanya, itu adalah
catatan dari «Hal yang tidak boleh dilakukan». Itu dimulai dengan larangan
dasar seperti «Menentang Gereja» atau «Membunuh», «Mencuri», hingga daftar
sampingan seperti batas hewan dan ikan yang dapat ditangkap setiap tahun, atau
makanan yang tidak boleh diberikan kepada hewan ternak, jumlahnya dengan mudah
melebihi seribu daftar. Untuk semua anak-anak yang menghadiri sekolah, selain
belajar menulis dan berhitung, pelajaran yang paling penting adalah untuk menghafalkan
semua Taboo Index.——Atau lebih tepatnya, tidak mengajar Taboo Index di sekolah
dapat dianggap sebagai melanggar taboo.
Meskipun Taboo Index
dan Gereja Axiom memiliki kekuasaan yang luas, tapi kelihatannya ada daerah
dimana mereka tidak memiliki kekuasaan sama sekali. Dibalik <Puncak Barisan
Pegunungan> yang mengelilingi dunia ini adalah tanah kegelapan——atau ≪Dark Territory≫ dalam Pengucapan
Suci. Karena itu, pergi menuju Puncak Barisan Pegunungan saja sudah dilarang
oleh Taboo Index sejak awal. Untuk Eugeo, itu sama sekali tidak berguna hanya
dengan pergi ke dasar pegunungan tanpa memasuki gua itu.
Alice pasti akan
mencari cara untuk menantang Taboo Index seperti biasanya, tapi berpikir
seperti itu sudah merupakan taboo itu sendiri.Eugeo menatap pada teman masa
kecilnya yang lain sementara memikirkan hal itu.
Bulu matanya yang
panjang berkilauan dibawah sinar matahari di siang hari yang melewati dedaunan
yang terlihat seperti benang emas yang sangat indah, Alice menjadi terdiam
untuk sesaat——Lalu kemudian, dia mengangkat wajahnya, lalu bicara dengan cahaya
ketidakpatuhan seperti biasanya yang bersinar di matanya.
"Eugeo. Kata
laranganmu masih tidak akurat lagi."
"Eh....... kau
berbohong."
"Aku tidak
berbohong. Apa yang tertulis di Taboo Index adalah: Bab pertama, kalimat
ketiga, paragraf kesebelas, 『Tidak ada seorangpun yang boleh pergi melewati Puncak Barisan Pegunungan
yang membatasi batas Dunia Manusia』 .....Melewati pegunungan, normalnya dengan cara «mendaki
melewatinya». Itu tidak termasuk pergi ke dalam gua tidak termasuk didalamnya.
Juga, tujuan kita bukan pergi melewati perbatasan pegunungan untuk bermain,
tapi untuk mendapatkan es, bukan? Tidak tertulis 『Dilarang mencari es di Puncak Barisan Pegunungan』 yang tertulis di Taboo Index sama sekali."
Kata-kata yang keluar
dengan lancar dari suara jelas dan manis Alice seperti bel kecil dari gereja,
Eugeo tidak mengatakan apapun. Memang, dia merasa apa yang dikatakan Alices
entah bagaimana sangat benar.
——Tapi, sampai
sekarang kita belum pernah pergi menuju Perbatasan Utara sebelumnya, kita hanya
mengikuti sungai Ruhr hingga sampai di kolam kembar. Aku tidak tahu apa yang
berada di balik itu, apalagi musim ini ada banyak kumbang mnyebalkan di tepi
sungai juga......
Sementara Eugeo yang
masih dengan susah payah memikirkan suatu cara untuk kabur, Kirito menepuk
punggungnya—— dengan kekuatan yang tidak cukup untuk mengurangi
Lifenya——sebelum mengatakan.
"Lihat, Eugeo,
jika Alice, yang belajar paling rajin di desa ini, mengatakan seperti itu, maka
tidak ada keraguan tentang itu! Baiklah, maka sudah diputuskan, pada hari libur
nanti kita akan mencari naga pu......Erm, maksudku, mencari gua dengan
es!"
"Lalu itu akan
lebih baik jika kotak makanannya dibuat dengan bahan yang bertahan jauh lebih
lama."
Melihat wajah terang
dari kedua teman masa kecilnya, Eugeo menghela nafas di dalam pikirannya
sebelum menjawab "Yeah...," dengan pelan.
Bagian
2
Kelihatannya, cuaca
itu sangat bagus di hari ketiga di hari libur di bulan ketujuh.
Hanya di hari libur
anak-anak yang berumur diatas sepuluh, yang sudah diberi Sacred Task mereka,
diperbolekan bermain hingga sampai waktu makan malam seperti saat mereka masih
kecil. Eugeo dan Kirito biasanya menghabiskan waktu itu dengan melakukan
sesuatu memancing dan berlatih teknik pedang dengan anak laki-laki lainnya,
tetapi, hari ini mereka meninggalkan rumah mereka bahkan sebelum kabut pagi menghilang,
dan menunggu Alice di bawah pohon tua yang ada di pinggiran desa.
"........Dia
terlambat!"
Bahkan meskipun dia
telah menunggu bersama Eugeo hanya untuk beberapa menit, Kirito sudah mengeluh.
"Aku tidak
mengerti kenapa berdandan jauh lebih penting dibandingkan dengan datang tepat
waktu untuk perempuan. Mungkin dua tahun kemudian dia akan menjadi seperti
saudara perempuanmu yang mendapati pakaiannya menjadi kotor di hutan dan
menolak untuk memakainya lagi setelah itu."
"Itu tidak dapat
diharapkan, perempuan memang seperti itu."
Setelah mengatakannya
dengan senyuman masam, Eugeo lalu tiba-tiba memikirkan tentang apa yang akan
terjadi dua tahun lagi.
Alice mungkin masih
akan menjadi gadis tanpa Sacred Task, orang-orang disekitarnya mungkin akan
membiarkan keinginannya untuk terus bersama dengan Eugeo dan Kirito. Tapi
karena dia adalah anak perempuan dari kepala desa, sebagian besar itu telah
diputuskan bahwa dia harus berperilaku sebagai contoh dasar bagi perempuan lain
di desa. Itu tidak akan lama lagi, dia akan dilarang untuk bermain dengan anak
laki-laki, dan tidak diragukan lagi bahwa dia harus belajar tidak hanya dengan
sacred art tapi juga tentang perilaku sopan santun.
Lalu.....Apa yang akan
terjadi setelah itu? Akankah dia harus menikah dengan keluarga lain?, seperti
saudara perempuan tertua Eugeo, Sulinea, jika memang begitu, apa yang akan
patnernya pikirkan.....?
"Oi, kamu
terlihat terhuyung. Apa kamu cukup tidur malam kemarin?"
Dengan tatapan yang
tiba-tiba dari Kirito dengan ekspersi yang penuh dengan keraguan, Eugeo
mengangguk dengan cepat.
"Y-Yeah, aku
baik-baik saja.....Ah, dia sudah datang."
Sambil mendengar
langkah pelan, dia menunjuk ke arah yang menuju desa.
Seseorang yang
terlihat dari kabut pagi yang tebal adalah Alice, seperti yang Kirito telah
katakan, rambut pirangnya yang disisir rapi telah diikat dengan pita, yang
berayun diatas celemek polosnya. Eugeo tanpa sadar bertukar pandangan dengan
sahabatnya sementara mencoba untuk tidak tersenyum, lalu mereka berbalik untuk
berteriak pada saat yang bersamaan.
"Kau
terlambat!"
"Kalian yang
terlalu cepat. Berhenti berperilaku seperti anak kecil setiap waktu."
Saat dia selesai
mengatakan itu, Alice mendorong keranjang rotan yang di tangan kanannya pada
Eugeo dan botol air minum di tangan kirinya pada Kirito.
Mereka berdua secara
insting mengambil barang itu sebelum berbalik mengarah ke jalan sempit yang
terbentang dari utara. Alice membungkukkan badannya untuk memetik sepucuk
rumput, mengangkatnya dan mengarahkan ujungnya menuju gunung batu tinggi, dia
lalu berteriak dengan penuh semangat.
"Kalau
begitu......Kelompok pencari es di musim panas, berangkat!"
Kenapa kita selalu
berakhir sebagai «Tuan putri dan dua pengawal»? Sementara memikirkannya,
Eugeo bertukar pandangan dengan Kirito dan berlari mengejar Alice yang sudah
berjalan lebih dulu.
Desa ini memiliki
jalan yang terbentang dari utara hingga selatan, sementara jalan di sisi
selatan yang rata karena langkah kaki manusia dan kendaraan yang datang dan
pergi setiap waktu, jalan di sisi utara, yang hampir tidak ada seorangpun
tinggal di sana, memiliki banyak akar pohon dan kerikil yang membuat berjalan
menjadi sulit. Tapi, Alice dengan mudahnya melompat melalui jalan kasar itu
seolah-olah itu adalah jalan yang rata, berjalan meninggalkan mereka berdua
saat dia bersenandung.
Bagaimana
mengatakannya, dia memiliki kontrol yang bagus pada tubuhnya?, adalah apa yang
Eugeo pikirkan. Beberapa tahun lalu Alice kadang-kadang mengikuti latihan
pedang bersama anak nakal di desa, dan ranting tipisnya selalu mengenai Eugeo
dan Kirito tak terhitung jumlahnya. Tongkat itu seolah-olah itu bisa memotong
udara, bahkan jika lawannya adalah roh angin. Jika dia terus melatihnya, itu
akan mungkin bahwa Alice akan dapat menjadi penjaga perempuan pertama di desa.
"Penjaga,
huh........."
Eugeo berguman dengan
suara pelan.
Sebelum Sacred Task
untuk menebang pohon besar telah diberikan padanya, mungkin itu adalah
impiannya, meskipun itu samar-samar dan luar biasa. Semua anak di desa berharap
terpilih menjadi seorang penjaga, sebagai ganti dari tongkat kayu yang dibuat
dari cabang pohon, mereka akan diberikan pedang besi baru, dan akan belajar di
sekolah seni pedang asli.
Tidak hanya itu.
Setiap musim gugur, semua penjaga di setiap desa di daerah utara dapat
berpartisipasi dalam turnamen pedang yang dilaksanakan di Zakkaria, di bagian
selatan. Jika seseorang mendapat peringkat yang tinggi, mereka bisa menjadi
penjaga——diakui sebagai swordsman sungguhan baik dari nama dan kenyataan, serta
diperbolehkan meminjam pedang resmi yang ditempa oleh pandai besi dari pusat.
Tapi, impiannya belum berakhir hanya sampai disitu. Jika mereka bisa
menunjukkan prestasi mereka sebagai penjaga, mereka akan mendapat hak untuk
mengikuti ujian masuk «Akademi Master Pedang», yang memiliki sejarah lama dan
dibanggakan. Setelah melewati ujian yang sulit, dan lulus dari akademi setelah
dua tahun belajar, mereka dapat berpartisipasi dalam turnamen ilmu pedang yang
dihadiri Raja Kerajaan Norlangath Utara. Bercouli yang melegenda dikatakan
berhasil memenangkan turnamen ini dengan sangat baik.
Pada akhirnya,
terkumpulnya semua pahlawan di seluruh penjuru Dunia Manusia yang digelar oleh
Gereja Axiom itu sendiri, «Turnamen Persatuan Empat Kerajaan». Hanya seseorang
yang memenangkan pertarungan yang bahkan dapat dilihat oleh dewi dengan jelas,
orang yang terkuat dari semua swordsman, untuk bertarung melawan mosnter dari
tanah kegelapan, untuk diangkat dengan tugas sebagai penunggang naga, seorang
«Integrity Knight»——
Sampai titik itu,
impiannya telah melewati imajinasinya, tapi mungkin, ada waktu dimana Eugeo
memiliki pemikiran tentang itu. Mungkin, jika Alice meninggalkan desa bukan
sebagai swordswoman tapi sebagai murid penyihir art, untuk belajar di Zakkaria
atau bahkan di «Akademi Master Art» di pusat, pada saat itu, dengan di
sampingnya sebagai pengawal, dengan tubuhnya memakai seragam pengawal berwarna
hijau dan coklat muda, dengan pedang resmi yang berwarna keperakan berkilauan
di pinggangnya, adalah dia......
"Impian itu masih
belum berakhir."
Tiba-tiba, bisikan
datang dari Kirito yang berjalan di sampingnya. Eugeo mengangkat wajahnya
dengan penuh keterkejutan. Kelihatannya, hanya dengan helaan nafas yang
dikeluarkan olehnya sebelumnya, Kirito dapat mengetahui semua arti dibalik itu.
Instingnya masih tajam seperti biasa. Eugeo membuat senyum masam dan berguman
sebagai balasannya.
"Tidak, itu sudah
berakhir."
Ya, impian itu sudah
berakhir. Di musim semi tahun lalu, Sacred Task sebagai murid penjaga diberikan
kepada Jink, anak dari kepala penjaga yang sekarang. Bahkan meskipun kemampuan
pedangnya jauh lebih lemah dibandingkan dengan Eugeo dan Kirito, dan tentu saja
Alice. Eugeo melanjutkan perkataannya dengan nada yang tercampur dengan sedikit
kejengkelan.
"Setelah Sacred
Task diberikan, bahkan kepala desa tidak dapat merubahnya."
"Dengan satu
pengecualian, bukan?"
"Pengecualian.........?
"Ketika tugas itu
telah diselesaikan."
Kali ini dia membuat
senyum masam pada sifat keras kepala Kirito. Patnernya ini masih tidak akan
membiarkan ambisinya untuk menebang Gigas Cedar pada generasinya.
"Setelah kita
menebang jatuh pohon itu, pekerjaan kita benar-benar akan selesai. Setelah itu
kita dapat memilih Sacred Task kita sendiri, bagaimana?"
"Itu benar,
tapi......"
"Aku sangat
senang aku tidak mendapat Sacred Task sebagai penggembala atau petani. Tugas
itu tidak pernah akan berakhir, tapi tugas kita berbeda. Aku yakin pasti ada
cara, dalam tiga......Tidak, dua tahun kita akan menebangnya, dan
lalu....."
"Kita akan
mengikuti turnamen ilmu pedang di Zakkaria."
"Apa? Apa kau memikirkan
hal yang sama, Eugeo?
"Aku tidak akan
membiarkan Kirito terlihat hebat seorang diri."
Setelah saling
bertukar perkataan, Eugeo merasa perasaan aneh bahwa itu bukan lagi impian yang
tidak nyata. Mereka berdua berjalan sambil tersenyum lebar, membayangkan
pemandangan ketika mereka menerima pedang resmi, kembali lagi menuju desa, dan
membuat mata Jink dan teman-temannya terbuka lebar karena rasa iri, Alice yang
berjalan di depan mereka tiba-tiba berbalik ke belakang.
"Hei kalian
berdua, apa sih yang kalian bicarakan secara rahasia?"
"T-Tidak, tidak
ada apa-apa. Aku hanya berpikir jika ini adalah waktunya makan siang,
bukan?"
"Y-Yeah."
"Bukannya kita
baru saja berjalan? Juga, lihat, kita dapat melihat sungainya sekarang."
Ketika mereka melihat
ke arah dimana bagian ujung dari rumput yang Alice pegang tunjukkan, mereka
dapat melihat permukaan air yang bergerak di sana. Sumber dari sungai Ruhr
berasal dari Puncak Barisan Pegunungan, yang mengalir menuju bagian timur desa
Rulid, berlanjut menuju bagian selatan kota Zakkaria. Di tempat bertemunya
jalan dengan sungai, jalannya terbagi menjadi dua, jalan kanan melewati
jembatan Rulid utara menuju hutan timur, jalan kiri terbentang ke utara
menyusuri tepi sungai di bagian barat. Arah yang kedua jalan itu tuju, sudah
jelas, utara.
Saat Eugeo sampai di
persimpangan, dia membungkuk di tepi sungai, lalu mencelupkan tangan kanannya
ke dalam aliran air yang jelas dan membuat suara gemericik. Karena sekarang
pertengahan musim panas, air yang membeku saat awal musim semi mulai
menghangat. Itu akan terasa menyenangkan jika dia dapa melepaskan bajunya dan
melompat ke dalam air, tapi dia tidak dapat melakukannya di depan Alice.
"Ini bukanlah
suhu dimana dapat membuat bongkaan es mengapung."
Eugeo berkata dan
berbalik ke sampingnya, Kirito meringis sebelum memprotes.
"Karena itu kita
pergi ke gua besar dimana es itu berasal, bukan?"
"Itu semua bagus,
tapi kita harus kembali sebelum bel sore. Mari kita lihat.....Saat Solus berada
di tengah-tengah langit, kita seharusnya mulai segera kembali."
"Itu tidak dapat
diharapkan. Jika memang begitu maka kita harus cepat!"
Di belakang Alice,
yang sedang melangkah di semak-semak, mereka berdua mempercepat langkah mereka
untuk mengejarnya.
Dahan pohon yang
menjalar dari bagian kiri berperan sebagai sebagai kanopi, menghalangi sinar
matahari, lalu ada juga udara dingin yang terangkat dari permukaan sungai di
sisi kanan, itu semua membantu mereka bertiga berjalan dengan nyaman bahkan
meskipun Solus sudah terangkat tinggi di atas langit. Jalan yang berada di tepi
sungai yang lebarnya sekitar satu mel tertutupi dengan rumput pendek musim
panas, dan hampir tidak ada kerikil atau lubang yang membuat berjalan menjadi
sulit.
Eugeo berpikir, kenapa
mereka tidak pernah melangkahkan kaki melewati kolam kembar bahkan sekali,
meskipun itu sangat mudah untuk berjalan menuju kesana.
«Perbatasan Utara»
yang tertulis di peraturan desa melarang anak-anak untuk melewatinya yang
bahkan masih jauh dari kolam kembar. Jadi bahkan jika mereka pergi sebelum
sampai tempat itu, ya——itu dapat dikatakan bahwa perasaan tidak nyaman dari
peraturan itu yang membuat kaki mereka tidak dapat bergerak ketika melihat
perbatasan itu dihadapan mereka.
Bahkan meskipun dia
dan Kirito selalu mendengarkan keluhan dari orang dewasa yang berbicara tentang
tradisi, memikirkan tentang itu, jauh dari melakukannya mereka berdua bahkan
tidak pernah memikirkan tentang melanggar peraturan atau Taboo. Petualangan
sederhana hari ini menjadi yang terdekat bagi mereka untuk hampir melakukan
perbuatan terlarang.
Eugeo mulai merasakan
sedikit kekhawatiran, dia melihat Kirito dan Alice yang berjalan dengan santai
di depannya, mereka bahkan menyanyikan lagu gembala dengan merdu. Mereka
berdua.....Apa mereka tidak memiliki rasa takut atau khawatir sedikitpun?,
sambil memikirkannya, Eugeo mendesah sedih.
"Hei,
tunggu."
Dia memanggil, mereka
berdua yang terus berjalan tapi kemudian berbalik secara bersamaan.
"Ada apa,
Eugeo?"
Alice memiringkan
kepalanya sementara bertanya dengan nadayang sedikit mengancam dan dipenuhi
tujuan.
"Kita sudah agak
jauh dari desa sekarang......Apa tidak ada hewan berbahaya di sekitar
sini?"
"Eh——? Aku tidak
pernah mendengarnya bagaimanapun juga."
Alice mengataannya
sementara melihat padanya, saat Kirito perlahan mengangkat bahunya.
"Hmm........Donetti
yang memiliki cakar panjang besar yang kakek lihat, dimana dia mengatakan hewan
itu berada?"
"Itu berada di
sekitar pohon apel hitam di timur, bukan? Tapi itu adalah cerita lama dari
sepuluh tahun yang lalu bagaimanapun juga."
"Jika hewan yang
ada di sekitar sini, itu mungkin rubah bertelinga empat. Eugeo, kamu sangat
penakut, bukan?"
Saat mereka tertawa
'Ahaha' , Eugeo dengan cepat membantah.
"T-Tidak, ini
bukan tentang takut........Kita tidak pernah pergi melewati kolam kembar
sebelumnya, bukan? Aku hanya ingin kita untuk lebih hati-hati."
Setelah mendengarnya,
mata hitam Kirito bersinar dengan terang.
"Yeah, itu benar.
Apa kau tahu? Saat waktu desa baru saja terbentuk, kadang-kadang monster dari
Tanah Kegelapan.....Seperti «Goblin» atau «Orc» akan melewati pegunungan untuk
mencuri domba atau menculik anak kecil."
"Apa? Apa kalian
berdua mencoba menakutiku? Aku tahu tentang itu. Pada akhirnya Integrity Knight
datang dari pusat dan mengalahkan pemimpin Goblin."
"——『Semenjak hari itu, di hari yang cerah, knight dengan naga putih
keperakan dapat terlihat jauh di atas Puncak Barisan Pegunungan.』"
Kirito berguman di
kalimat terakhir dari dongeng yang diketahui oleh semua anak-anak di desa,
sementara berbali ke atas untuk menatap menuju langit. Eugeo dan Alice
melakukan hal yang sama, sebelum mereka menyadari, pandangan mereka telah
dipenuhi dengan pegunungan berbatu putih bersih, dan diatasnya ada langit biru
dimana mereka hendak mencari sesuatu.
Untuk beberapa saat,
mereka merasa memiliki perasaan melihat cahaya kecil berkilauan diantara awan,
tapi mereka tidak dapat melihat apapun saat mencoba memfokuskan pandangan
mereka. Mereka bertiga saling berpandangan satu sama lain sebelum tertawa
karena perasaan malu.
"——Itu hanya
dongeng, bukan? Naga es yang tinggal di dalam gua itu, pastinya, hanya cerita
yang dibuat beberapa lama kemudian oleh, Bercouli."
"Oioi, jika kamu
mengatakan sesuatu seperti itu di desa, pukulan dari kepala desa akan
dijatuhkan pada kepalamu. Swordsman Bercouli adalah pahlawan Rulid setelah
semua."
Kata-kata Eugeo
membuat senyuman terlihat di wajah semua orang sekali lagi, dan Alice
mempercepat langkahnya.
"Kita tidak akan
tahu sampai kita tiba di sana. Lihat, jika kalian terus berjalan santai seperti
itu, kita tidak akan mampu untuk tiba di sana sebelum makan siang."
——Seperti yang
dikatakannya, Eugeo tidak berpikir mereka akan sampai di «Puncak Barisan
Pegunungan» selama setengah hari hanya dengan berjalan bagaimanapun juga.
Puncak Barisan
Pegunungan, seperti yang disebutkan dalam namanya, merupakan batas dari dunia,
dengan kata lain, batas dari daerah manusia yang terbagi dari empat kerajaan
yaitu utara, selatan, timur, dan barat, untuk desa Rulid yang berada di lokasi
paling utara dari kerajaan utara, itu bukanlah suatu tempat dimana langkah anak
kecil dapat mencapainya dengan mudah.
Jadi, Eugeo
benar-benar terkejut ketika, tepat sebelum matahari mencapai bagian tengah
langit, sungai Ruhr, yang perlahan menjadi menyempit, menghilang di depan jalan
masuk gua yang terbuka di berada di dasar dari tebing curam.
Hutan lebat yang
terbentang di kedua sisi tiba-tiba menghilang, di depan matanya adalah tebing
curam abu-abu yang tidak rata terbantang ke atas. Jika dia melihat ke atas, dia
dapat melihat secara samar-samar langit biru yang melintasi barisan pegunungan
berwarna putih murni itu dari kejauhan, tebing batu ini tanpa keraguan adalah,
Puncak Barisan Pegunungan.
"Kita telah
sampai......? Ini, Puncak Barisan Pegunungan.....Bukan? Bukankah ini sedikit
terlalu cepat......?"
Kirito, yang
kelihatannya tidak mempercayainya, mengatakan itu dengan suara samar-samar. Itu
juga sama seperti Alice, yang berbisik dengan mata birunya yang terbuka lebar,
"Lalu......Dimana
«Perbatasan Utara»? Apa kita telah melewatinya tanpa mengetahuinya?"
Seperti yang dia
katakan. Itu sangat mungkin anak-anak dari desa——atau bahan orang dewasa telah
melewati perbatasan itu tanpa menyadarinya. Memikirkan tentang itu, sekitar
tiga puluh menit berjalan dari kolam kembar, ada suatu tempat yang sedikit ke
atas dan ke bawah, apakah tempat itu adalah Perbatasan Utara?
Sementara Eugeo masih
melihat keadaan sekitar dengan keraguan, bisikan Alice dengan nada serius yang
tidak biasanya mencapai telinganya.
"Jika ini adalah
Puncak Perbatasan Pegunungan.....Lalu di sisi lain adalah Tanah Kegelapan,
bukan? Jika memang begitu.....Kita hanya berjalan selama empat jam, jumlah
waktu yang sama yang bahkan tidak akan membuat kita ke Zakkaria.
Rulid.....Memang berada di perbatasan dunia....."
Eugeo berdiri dengan
kebingungan, Kita tinggal di desa untuk waktu yang lama tapi kita tidak
mengetahui dimana lokasi desanya di dunia ini? Tidak——mungkinkah bahkan orang
dewasa tidak mengetahui bahwa Puncak Barisan Pegunungan itu sedekat ini? Selama
tiga ratus tahun dalam sejarah, seseorang yang melewati hutan lebat yang
terbentang dari bagian utara desa, selain dari Bercouli, adalah kita....?
Bagaimanapun
juga.....Ini sangat aneh. Eugeo berpikir seperti itu. Tapi, dia tidak tahu
kenapa itu aneh.
Setiap hari, di waktu
yang sama, semua orang dewasa memakan sarapan mereka, pergi bekerja di lahan
atau peternakan, menempa atau memintal di tempat kerja mereka seperti hari
sebelumnya. Apa yang Alice katakan sebelumnya, bahwa empat jam tidak cukup
untuk mencapai Zakkaria, tentu saja, mereka semua tidak pernah pergi ke
Zakkaria sebelumnya, Aku dengar dari orang-orang dewasa bahwa itu
membutuhkan waktu dua hari berjalan melewati jalan utama selatan untuk mencapai
kota itu. Tetapi, berapa banyak orang dewasa yang pergi ke Zakkaria dan
kembali....?
Memikirkan dengan
cepat dari pertanyaan membingungkan yang muncul di pikiran Eugeo, segera
tersapu oleh suara Alice.
"——Bagaimanapun
juga, tidak ada yang dapat kita lakukan selain masuk ke dalam setelah kita
datang hingga sejauh ini. Tapi sebelum itu, mari kita kita makan siang terlebih
dahulu."
Dengan mengatakan itu,
dia menarik keranjang rotan dari tangan Eugeo, lalu merendahkan pinggangnya di
semak pendek dimana itu berganti menjadi bebatuan. "Ini yang aku tunggu,
perutku sudah merasa lapar." Dengan suara bersemangat dari Kirito, Eugeo
juga duduk di atas rumput. Aroma harum dari pai menghilangkan sisa dari
keraguannya, semua yang dapat dia ingat adalah perutnya mulai mengeluh karena
rasa lapar.
Alice menghentikan
tangan yang terulur dari Eugeo dan Kirito dengan memukulnya sementara
mengeluarkan window dari masing-masing makanan. Setelah dia selesai memeriksa
semua makanan yang masih memiliki banyak waktu yang tersisa, dia mengeluarkan
pai isi kacang dan ikan, pai isi apel dan walnut, dan buah persik kering.
Sebagai tambahan, dia menuang air Siral yang tersimpan di kantung air ke gelas
kayu, ini juga sudah diperiksa untuk tidak segera menghilang.
Saat dia kemudian
memperbolehkan mereka, Kirito yang sudah cukup kesal hingga tidak mengatakan
apapun saat dia mulai memakan pai ikannya, lalu bicara dengan suara yang tidak
jelas sementara masih mengunyah.
"Gua itu....Jika
kita menemukan banyak es, maka kita tidak perlu terburu-buru untuk memakan
makan siang besok."
Menelan makanannya,
Eugeo berbalik untuk menghadapnya dan menjawab.
"Tapi memikirkan
tentang itu, bahkan jika kita berhasil menemukan esnya, bagaimana kita dapat
mempertahankan Lifenya dengan suatu cara sejak awal? Jika semuanya meleleh
sebelum waktu makan siang besok maka tidak ada gunanya kita melakukan ini,
bukan?"
"Mu......."
'Aku tidak memikirkan
tentang itu,' bahu Kirito menurun, lalu Alice berkata dengan nada yang tidak
peduli.
"Jika kita
membawanya dengan cepat dan menyimpannya di gudang rumahku, untuk satu malam
sama sekali tidak masalah. Kalian berdua, kalian seharusnya telah memikirkannya
dari awal."
Saat mereka menyadari
pikiran tidak berguna mereka dikatakan, Eugeo dan Kirito mencoba untuk
menyembunyikan rasa malu mereka dengan memenuhi mulut mereka dengan makanan.
Bahkan meskipun mereka masih memiliki banyak waktu, Alice masih makan dengan
kecepatan biasanya seperti sebelumnya sebelum meminum air Siral.
Setelah melipat dan
menaruh kain putih dengan rapi lalu memasukkannya ke dalam keranjang rotan,
Alice berdiri. Lalu dia berjalan menuju sungai terdekat dengan tiga gelas di
tangannya, dan mencucinya dengan cepat di sungai.
"Uhyaa."
Dia mengeluarkan suara
aneh sementara menyelesaikan pekerjaannya, dan ketika dia kembali, Alice
merentangkan tangannya, yang telah dikeringkan dengan menggunakan celemek, pada
Eugeo.
"Air di sunga itu
sangat dingin! Itu seperti air sumur saat di tengah musim dingin."
Apa yang dia lihat
adalah telapak tangan kecil yang berubah menjadi kemerahan. Tanpa dia sadari,
dia mengulurkan tangannya dan menggenggam itu pada tangan Alice, tentu saja
untuk saling berganti rasa hangat dari tangannya dengan rasa dingin di
tangannya.
"Tunggu.....Hentikan
itu."
Pipi kecilnya sekarang
berubah menjadi warna yang sama dengan tangannya, dan Alice menarik kembali
tangannya. Pada saat itu, Eugeo menyadari dia telah melakukan sesuatu yang
tidak pernah dilakukan oleh dirinya yang biasanya, dan menggelengkan kepalanya
dengan cepat.
"Ah.....Tidak,
itu.."
"Baiklah,
bukannya kita seharusnya berangkat sekarang, tuan dan nyonya?"
'Apa kau berencana
untuk membantuku keluar dari situasi ini?' Eugeo tersenyum sementara mengatakan
itu dan perlahan menendang kaki Kirito, dan setelah perbuatan kasarnya, dia
mengangkat kantung air menuju bahunya, dan berjalan ke dalam gua tanpa melihat
ke belakang.
Itu sangat sulit
dipercaya bahwa sumber dari Sungai Ruhr, sungai jernih yang diikuti oleh mereka
bertiga sampai sekarang, akan menjadi sekecil ini. Dengan diameter sekitar satu
setengah mel, sungai kecil ini mengalir keluar dari gua yang terbuka di tebing
yang tinggi, dan di sisi kirinya, ada batu yang berukuran sama menonjol keluar,
dia melangkah pada itu dan berjalan ke dalam gua.
Eugeo
berpikir, Bercouli telah melangkah pada batu ini tiga ratus tahun
lalu, saat dia mencoba yang dia bisa untuk masuk ke bagian dalam gua.
Tiba-tiba, suhu dari sekelilingnya menjadi turun, dia menggosokkan kedua
tangannya yang tidak tertutupi bagian lengan baju pendeknya.
Dia berjalan maju
sebanyak sepuluh langkah sambil memastikan dua langkah dari belakang
mengikutinya.
Pada titik itu, Eugeo
menyaadari dia telah melakukan kesalahan besar, dia menurunkan bahunya dan
berbalik ke belakang.
"Oh
tidak......Aku tidak membawa lampu. Kirito, apa kamu membawa lampu?"
Bahkan meskipun dia
hanya sekitar lima mel dari jalan masuk gua, suasananya sudah cukup gelap
hingga dia tidak dapat mampu membedakan eskpresi dari mereka berdua. Kegelapan
yang tebal di dalam gua itu, itu sangat normal untuk mempercayai harapan pada
partnernya untuk menangani hal yang dia sendiri telah lupakan, tapi jawabannya
adalah "Bagaimana mungkin aku dapat menyadari sesuatu yang kau tidak
sadari juga?" dengan nada yang penuh dengan kepercayaan diri yang aneh.
"S.....Sungguh,
kalian berdua...."
Sementara Eugeo
memikirkan berapa banyak dia suara yang hebat hari ini, dia melihat ke arah
rambut pirang yang samar-samar berkilauan. Alice melihat ke sampingnya beberapa
kali sebelum memasukkan tangannya pada saku celemeknya dan mengeluarkan sesuatu
yang tipis dan panjang. Itu adalah sepucuk rumput yang dia ambil ketika mereka
memulai petualangan mereka.
Dia menggenggam rumput
di tangan kanannya, dengan tangan kirinya yang menahan ujungnya, Alice menutup
matanya. Mulut kecilnya bergerak, upacara yang aneh dalam Pengucapan Suci yang
Eugeo tidak tahu yang mulai terdengar di udara.
Akhirnya tangan
kirinya dengan cepat memotong simbol rumit, cahaya lemah yang pucat mulai
bersinar dari ujung rumput yang mengembang lingkaran. Cahaya itu kemudian
meningkatkan sinarnya dalam waktu singkat, dan menjauhkan kegelapan dari gua
dalam jarak yang cukup jauh.
"Ooo."
"Wow....."
Kirito dan Eugeo tanpa
sadar mengeluarkan suara kekaguman pada saat yang bersamaan.
Bahkan meskipun mereka
telah mengetahui Alice telah mempelajari sacred art, mereka hampir tidak pernah
memiliki kesempatan untuk dapat melihatnya sendiri. Berdasarkan ajaran Sister
Azariya, semua upacara dimana semua kekuatannya berasal dari dewi kehidupan
Stacia, dewi matahari Solus atau dewi bumi Terraria——kecuali darkness art yang
digunakan oleh pelayan dewa kegelapan Vector—— semuanya ada untuk menjaga
aturan dan keseimbangan dunia, jadi itu semua tidak boleh digunakan secara
sembarangan.
Sacred art yang
digunakan Sister dan muridnya hanya ketika tanaman obat di desa tidak mampu
untuk menyembuhkan penyakit atau luka. Karena Eugeo memahami tentang ini, dia
berbalik pada Alice, yang memegang sepucuk rumput yang bersinar dengan warna
aneh, dan tanpa sadar bertanya.
"Ah,
Alice......Mengunakan art seperti itu, apakah tidak apa-apa? Bukankah kamu akan
dihukum karena ini......?"
"Hmph, jika
sebanyak ini akan membuatku dihukum, aku pasti sudah tersambar petir sebanyak
sepuluh kali."
".............."
Setelah mengatakan
itu, Alice memberikan rumput yang bersinar itu kepada Eugeo dengan senyuman.
Dia mengambilnya memikirkanya sebelum bergumam 'Hiee', dan menyadarinya.
"A-Aku yang
pertama!?"
"Tentu saja, atau
kau akan membiarkan seorang gadis lemah berjalan di depan? Eugeo ada di depan,
Kirito di belakang. Jangan menghabiskan waktu lagi, ayo cepatlah dan segera
pergi."
"Y-Ya."
Seolah-olah dia
didorong oleh semangat, Eugeo mengangkat obor kecil itu dan berjalan dengan
ketakutan menuju ke dalam gua.
Susunan batu yang
berliku ini kelihatannya terus terbentang dengan terus menerus. Dindingnya
memperlihatkan cahaya biru keabu-abuan seolah-olah itu terlihat basah.
Terkadang, dia khawatir dengan gerakan gemerisik yang kecil di bagian gelap
dimana cahaya tidak mencapainya. Tetapi, tidak peduli bagaimana dia memfokuskan
pandangannya, dia tidak dapat menemukan sesuatu yang menyerupai es sama sekali.
Meskipun terkadang ada sesuatu yang berwarna abu-abu yang terlihat seperti es
yang tergantung di langit-langit, dia segera tahu bahwa itu batu hanya dengan
memandangnya saja.
Setelah berjalan
selama beberapa menit, Eugeo memanggil Kirito yang ada di belakangnya,
"Hei.....Sudah
pasti, kau mengatakan bahwa seharusnya ada es segera saat kita memasuki gua,
bukan?"
"Aku mengatakan?
Sesuatu seperti itu."
"Kau
mengatakannya!"
Saat dia mendekati
patnernya yang mengalihkan pandangannya dengan ketidaktahuan yang dibuatnya,
Alice menggunakan tangan kanannya untuk menghentikan Eugeo dan dengan cepat
berbisik.
"Hei, bawalah
cahayanya sedikit lebih dekat."
"......?"
Eugeo membawa sepucuk
rumput tadi mendekati wajah Alice. Dia membulatkan bibirnya sebelum
menghembuskan nafas dalam pada cahaya.
"Ah......"
"Lihat, kau
melihatnya bukan? Nafas kita menjadi berwarna putih, seperti saat musim
dingin."
"Wow, benar. Dan
aku baru memikirkan mengenai bahwa itu telah menjadi dingin untuk waktu yang
sekarang......"
Menghiraukan keluhan
Kirito, Eugeo mengangguk bersamaan dengan Alice.
"Bahkan meskipun
di luar musim panas, di dalam gua ini musim dingin. Sudah pasti ada es
disini."
"Yeah, mari kita
cari lebih jauh lagi."
Eugeo membalikkan
badanya, dia memiliki perasaan bahwa gua ini menjadi lebih lebar sedikit demi
sedikit saat mereka menuju lebih dalam, dia kembali dengan cara berjalan
hati-hatinya sebelum berjalan maju.
Apa yang mereka
dengar, selain dari suara dari sepatu kulit mereka yang bersentuhan dengan
batu, hanyalah suara dari aliran air tanah. Bahkan meskipun mereka telah
mendekati sumbernya, aliran air itu sama sekali tidak melemah.
".......Jika kita
memiliki perahu, maka untuk pulang kembali akan lebih mudah."
Untuk Kirito yang
dengan santai mengatakannya dari belakang, Eugeo memarahinya dengan
"Jangan bicara terlalu keras." Saat mereka telah memasuki gua lebih
dalam daripada yang mereka telah rencanakan, tentu saja, apa yang terpikir di
pikirannya adalah——
"——Hei, jika naga
putih itu benar-benar keluar, apa yang harus kita lakukan?"
Alice membisikkan itu
seolah-olah dia dapat membaca pikiran Eugeo.
"Tentu saja.....
apa lagi yang dilakukan, selain dari la...."
Jawaban dari
pertanyaan bisiskan tadi langsung dipotong oleh suara nekat dari Kirito.
"Itu
t-tidak-apa-apa. Naga putih itu mengejar Bercouli karena dia mencuri pedang
harta karun miliknya, bukan? Itu sudah pasti tidak akan menghiraukan kita untuk
mengambil es.——Hmm, tapi jika mungkin aku ingin mengambil sisik darinya
bagaimanapun juga....."
"Oi, apa yang kau
pikirkan, Kirito?"
"Seperti itu,
jika kita dapat kembali dengan bukti bahwa kita telah melihat naga yang asli,
Jink dan teman-temannya akan mati karena perasaan iri."
"Jangan bercanda!
Aku akan memberitahu kau sekarang, jika kamu dikejar oleh naga itu, kita hanya
akan meninggalkanmu dan lari."
"Oi, suaramu
terlalu keras, Eugeo."
"Itu karena
Kirito mengatakan sesuatu yang aneh....."
Tiba-tiba kakinya
membuat suara yang aneh, dan Eugeo berhenti bicara. Parin, itu adalah suara
dari sesuatu yang pecah di bawah kakinya. Dia membuat cahaya yang ada di tangan
kanannya mendekati kaki kanannya dengan cepat sebelum tanpa sadar membiarkan
suaranya keluar.
"Ah, lihat
ini."
Alice dan Kirito
membungkuk untuk melihatnya, Eugeo lalu menggerakkan kakinya dari tempat itu.
Air yang terkumpul di batu berubah menjadi es tipis yang menyelimuti permukaan
halus batu abu-abu tersebut. Dia mengulurkan jarinya untuk mengambil bagian
lembaran tipis yang transparan itu.
Setelah menaruh itu di
telapak tangannya untuk beberapa detik, benda itu meleleh menjadi tetesan air,
mereka bertiga saling memandang satu sama lain dan tanpa sadar memperlihatkan
senyuman.
"Ini es, tidak
ada keraguan tentang itu. Pasti ada lebih banyak lagi di dalam sana."
Eugeo mengatakan itu
sementara menyinari sekelilingnya, sebagian besar cahaya biru yang terpantul
sesuatu yang menyerupai air yang membeku. Dan itu tenggelam pada kegelapan yang
pekat dari dalam gua, jauh di dalam.....
"Ah....Bagaimanapun
juga, ada banyak cahaya di sana."
Sama seperti yang
Alice bilang, Eugeo menggerakkan tangan kanannya, dari titik cahaya yang tak
terhitung jumlahnya, dia dapat melihatnya berkelap-kelip dan bersinar dengan
lemah. Saat dia benar-benar melupakan tentang naga putih, dia berlari menuju
arah itu.
Berdasarkan waktu yang
mereka tempuh, kelihatannya mereka telah berjalan sekitar ratusan mel dalamnya.
Tiba-tiba, dinding di bagian kiri dan kanan berakhir.
Pada saat yang sama,
pemandangan menakjubkan yang mendebarkan terlihat dihadapan mata mereka.
Luas. Itu sangat sulit
untuk mempercayai bahwa mereka ada di gua bawah tanah, karena ruangan terbuka
yang sangat luas. Luasnya sudah pasti beberapa kali lebih luas dari pusat desa
yang ada di depan gereja.
Dinding melengkung,
yang hampir mengelilingi seluruh keadaan sekeliling, tidak lagi terlihat
seperti dinding abu-abu basah yang mereka sampai sekarang, tapi tertutup oleh
lapisan biru terang, tebal, yang transparan. Lalu, setelah melihat pada
permukaan lantai, Eugeo memahami, Aku mengerti, jadi ini adalah sumber
dari sungai Ruhr., itu adalah kolam raksasa——tidak, danau akan jauh lebih cocok.
Tetapi, permukaan airnya tidak bergerak sedikitpun. Itu membeku dengan kuat
untuk semuanya, dari tepi hingga bagian tengah.
Diantara jejak kabut
putih di yang berada di sekitar danau, sesuatu yang berbentuk pilar aneh
menonjol keluar, tingginya dengan mudah melebihi tinggi dari ketiga anak-anak
itu Itu memiliki bentuk pilar segi enam yang tajam dengan ujungnya sangat
runcing. Itu seperti biji kristal yang pernah ditunjukkan kakek Garitta kepada
Eugeo sebelumnya. Tapi, benda itu jauh lebih besar, dan jauh lebih indah. Tak
terhitung pilar biru transparan yang tebal itu menyerap cahaya suci dari
sepucuk rumput yang dipegang Eugeo, sebelum melepaskannya ke enam arah, yang
juga memantul lebih jauh, menyinari seluruh ruangan luas itu. Jumlah dari pilar
tersebut bertambah banyak saat itu mendekati bagian tengah, dan sepenuhnya
menjadi menghalangi bagian paling tengah danau.
Itu es. Dinding
sekelilingnya, danau yang ada dibawah kaki mereka, pilar aneh berbentuk segi
enam, semuanya terbuat dari es. Dinding biru itu yang terbentang vertical, dan
menutupi jauh di ketinggian, seperti kubah gereja.
Mereka bertiga
melupakan hawa dingin yang menusuk kulit, berdiri disana untuk beberapa menit
sementara menghembuskan nafas putih. Tidak lama kemudian, Alice samar-samar
berbicara dengan suara bergetar.
"......Dengan es
sebanyak ini, kita dapat mendinginkan seluruh makanan di desa."
"Atau lebih
tepatnya, ini bahkan dapat mengubah desa menjadi di pertengahan musim dingin
untuk beberapa waktu. ——Baiklah, mari kita periksa di dalam."
Segera setelah Kirito
berbicara, dia berjalan beberapa langkah sebelum menaruh kakinya di danau es.
Dia perlahan menaruh beban tubuhnya pada itu, dan pada akhirnya melangkah pada
itu dengan kedua kakinya, dan tidak ada satupun suara es tebal yang retak.
Dia selalu seperti
ini. Bahkan meskipun Eugeo memiliki tugas untuk menahan perbuatan
kenekatan partnernya, tapi kali ini perasaan keingintahuannya jauh lebih
unggul. Tapi jika memang benar-benar ada naga putih di dalam, Aku
betul-betul ingin melihatnya tidak peduli apapun yang terjadi.
Memegang sacred light
lebih tinggi, Eugeo dan Alice mengejar di belakang Kirito. Dengan hati-hati
menghindari membuat suara keras langkah kaki, mereka bergerak dari bayangan
satu es besar menuju es lainnya dengan bagian tengah danau itu sebagai tujuan
mereka.
——Ini benar-benar
hebat, jika kita melihat naga asli, untuk kali ini cerita tentang kita akan
terus diceritakan selama beberapa ratus tahun lagi, bukan? Dan jika, hanya
jika, kita dapat melakukan apa yang yang tidak dapat dilakukan
Bercouli.....Dengan membawa pulang apapun dari harta karun yang tertimbun milik
naga tersebut dengan kita, akankah kepala desa mempertimbangkan Sacred Task
kita.....?
"Mugu."
Di saat Eugeo
memperluas mimpi di siang hari sementara masih berjalan, hidungnya menabrak
bagian belakang kepala Kirito, yang tiba-tiba berhenti, dengan wajah merengut.
"Oi Kirito,
jangan tiba-tiba berhenti seperti itu."
Tetapi, Tidak ada
jawaban dari partnernya. Sebagai gantinya, rintihan pelan keluar.
"….Apa
itu…."
"Eh….?"
"Apa sebenarnya
itu!"
Eugeo memiringkan
kepalanya di saat yang sama saat Alice berada di sampingnya, dan melihat ke
depan dari samping Kirito.
"Sebenarnya apa
yang kalian berdua bica....."
Alice, yang melihat
hal yang sama seperti Eugeo tidak dapat menyelesaikan kata-katanya.
Itu adalah gunungan
dari tulang belulang.
Itu semua adalah
tulang belulang yang terbuat dari es biru. Itu bersinar dengan kuat seolah-olah
mereka adalah patung kristal. Setiap masing-masing darinya berukuran besar,
berbagai bwntuk tulang belulang saling bertumpuk satu sama lain, membuat sebuah
gunungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tinggi ketiga anak-anak itu. Di
atasnya, sebuah bongkahan besar yang memberitahu mereka siapa pemilik makam
ini.
Sebuah tengkorak,
Eugeo dapat mengerti hal itu hanya dengan menatapnya saja. Lubang matanya yang
kosong, lubang hidung yang panjang, tanduk-tanduk yang menonjol keluar dari
punggungnya, tak terhitung sejumlah taring seperti pedang berbaris di tulang
rahang yang tergantung.
"Tulang
belulang….Naga putih?"
Alice berbisik dengan
suara rendah.
"Apakah itu sudah
mati….?"
"Ah….Tapi,
kematiannya bukan karena alasan alami."
Jawabannya datang dari
Kirito yang telah mendapatkan ketenangannya kembali, Eugeo sangat jarang
melihat partnernya seperti ini, saat wajah Kirito selalu dipenuhi dengan macam
emosi lainnya.
Kirito berjalan
beberapa langkah, dari tempat di dekat kakinya, dia mengambil cakar besar yang
kelihatannya berasal dari kaki depan naga itu.
"Lihat….Ada
banyak luka disini, ujungnya juga hampir terpotong dengan rapi."
"Naga itu
bertarung melawan sesuatu….? Tapi, makhluk hidup yang dapat membunuh
naga…."
Pertanyaan yang sama
dengan Alice melayang di pikiran Eugeo. Berbicara tentang «Naga Putih
Utara», mahluk itu adalah salah satu yang hidup di berbagai tempat di Puncak
Barisan Pegunungan, yang membatasi seluruh dunia, melindungi Dunia Manusia dari
kekuatan kegelapan, penjaga terkuat dunia. Makhluk hidup seperti apa yang dapat
membunuh sesuatu seperti ini.....?
"Bertarung dengan
hewan atau naga lain seharusnya tidak akan memberikan luka seperti ini."
Kirito berkata
sementara menekan ibu jarinya pada cakar biru tadi.
"Eh….? Kalau
begitu, apa…."
"Ini adalah luka
tebasan pedang. Apa yang membunuh naga ini adalah——manusia."
"T-Tapi….sebenarnya,
bahkan Bercouli, pahlawan yang memenangkan turnamen di pusat bahkan tidak dapat
melakukannya dan melarikan diri. Ini menggelikan, bahkan swordsman dari seluruh
tempat…"
Berbicara sampai titik
itu, Alice kelihatannya menyadari sesuatu dan tenggelam dalam keheningan. Beberapa
saat dalam keheningan telah terjadi di danau es yang sekarang telah berubah
menjadi sebuah makam besar.
Beberapa detik
kemudian, bisikan yang dipenuhi dengan ketakutan mengalir dari mulut kecilnya.
"….Integrity
Knight….? Integrity Knight dari Gereja Axiom membunuh naga putih….?"
Bagian
3
Integrity Knight,
penjelmaan hukum dan peraturan mutlak, dan juga simbol pelayan dari dewi,
membunuh naga putih, yang juga penjaga Dunia Manusia. Jenis cerita seperti ini,
yang umur sebelas tahun telah dijalani Eugeo, tidak pernah memikirkannya, jadi
dia tidak berpikir bahwa dia dapat menerimanya dengan mudah. Setelah menderita
karena pertanyaan yang dia tidak mampu telan atau memikirkannya untuk sesaat,
dia menggerakkan tatapannya ke samping, meminta jawaban dari partnernya.
"….Aku tidak
mengerti."
Tetapi, jawaban Kirito
juga dipenuhi oleh kebingungan yang besar.
"Mungkin…..Mungkin
juga Tanah Kegelapan juga memiliki seorang knight yang sangat kuat, dan knight
itulah yang membunuh naga putih ini…Tapi jika itu memang benar, maka itu sangat
aneh karena sampai sekarang bahkan tidak pernah satu kalipun pasukan kegelapan
melewati Puncak Barisan Pegunugan. ——setidaknya, ini bukanlah perbuatan oleh
pencuri bagaimanapun juga…"
Setelah dia selesai
berbicara, Kirito melangkah menuju sisa-sisa naga itu dan perlahan meletakkan
kembali cakar tadi pada gunungan tulang belulang. Kemudian, dia menarik sesuatu
yang panjang dari dasar gunungan tulang belulang itu.
"Uo….Ini
benar-benar sangat berat…."
Itu
adalah pedang panjang, dengan gagang perak dan sarung pedang yang tebuat dari
kulit putih. Penahannya dihiasi oleh pahatan mawar biru yang indah, dengan
sekali pandangan saja, mereka mengerti bahwa nilainya jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan semua pedang di desa.
"Ah…ini,
mungkin…"
Alice berkata saat dia
melihatnya, Kirito mengangguk pada perkataannya.
"Yeah. «Blue Rose
Sword» yang Bercouli hendak curi dari pangkuan naga putih yang tertidur. Aku
ingin tahu kenapa orang yang membunuh naga itu tidak mengambilnya…"
Dia menunduk sementara
berbicara, dan mengangkat gagang pedang itu dari tanah dengan kedua tangannya,
tetapi, bahkan dengan seluruh kekuatannya, dia hanya mampu mengangkatnya ke atas
beberapa cens saja dari lantai.
"….Terlalu
berat."
Kirito melepaskan
tangannya saat berteriak, pedang panjang itu terjatuh ke lantai es sekali lagi
dengan suara berat. Sebuah retakan kecil dapat terlihat di atas es tebal,
pedang itu kelihatannya memiliki berat yang tidak dapat dibayangkan meskipun
dengan penampilan tipisnya.
"….Apa yang akan
kita lakukan dengan pedang ini?"
"Tidak bisa,
tidak bisa, bahkan dengan kita berdua mengangkatnya secara bersamaan, itu tidak
mungkin membawanya kembali ke desa. Bahkan meskipun kita terbiasa menangani
kapak penebang pohon setiap hari….Selain itu, kelihatannya masih ada banyak
harta karun di bawah tulang belulang itu bagaimanapun juga…"
"….Ya, tapi
jangan berpikir tentang mengambil apapun dari itu…."
Keduannya mengangguk
pada nada serius Alice.
Bahkan meskipun
mengambil piala kecil kembali dan membanggakan diri pada anak-anak lain dengan
mengatakan bahwa mereka telah mengambilnya tanpa membangunkan naga itu maka itu
akan menjadi sebuah cerita petualangan yang hebat, tindakan mengambil harta
karun dari tempat ini sudah jelas akan dianggap sebagai pencurian makam.
Meskipun peraturan Taboo Index tentang «Mencuri» terhadap manusia tidak berlaku
pada situasi ini, itu bukan berarti mereka dapat melakukan apapun yang mereka inginkan
selama itu tidak dilarang.
Eugeo melihat pada
Kirito dan Alice sekali lagi sebelum mengangguk.
"Mari mengikuti
rencana kita, hanya mengambil es. Kalau hanya es saja, bahkan kalau naga itu
masih hidup, naga itu akan memaafkan kita, pasti."
Setelah dia mengatakan
itu, Eugeo berjalan mendekati bongkahan es, dan menghentakkan kaki di kristal
es kecil yang menonjol dari dasar es seperti tunas yang baru tumbuh. Pakin,
dengan suara yang bagus, dia mengambil bongkahan yang hancur itu itu sebelum
menyerahkannya pada Alice, yang membuka tutup keranjang rotan yang kosong dan
menaruh es tadi kedalamnya.
Mereka bertiga
berkosentrasi kerja untuk menaruh pecahan es ke dalam keranjang rotan tanpa
berbicara untuk beberapa saat. Ketika dasar dari es tadi sudah habis, mereka
bergerak menuju kolom es berikutnya dan mengulangi perbuatan mereka. Hanya
dalam beberapa menit, keranjang rotan besar telah penuh dengan kristal es yang
terlihat seperti permata biru transparan.
"Yo....sho-tto."
Alice mengerahkan
kekuatannya untuk mengangkat keranjang rotan sementara melihat kumpulan cahaya
di antara tangannya.
"…..Indahnya.
Entah mengapa, itu terasa sangat sia-sia untuk membawa ini pulang dan
membiarkan itu semua mencair."
"Bukannya kita
membawa pulang ini untuk memperpanjang Life kotak makan siang kita?"
Kirito mengatakan
sesuatu yang merupakan fakta sementara mengerutkan dahinya, Alice tiba-tiba
menyerahkan keranjang itu pada anak laki-laki berambut hitam itu.
"Eh? Aku harus
membawa keranjang di perjalanan pulang juga?"
"Bukannya sudah
jelas? Lagipula ini terlalu berat untukku bagaimanapun juga."
Mencoba untuk melerai
dari pertengkaran mereka yang biasanya, Eugeo dengan cepat mengatakan.
"Aku akan
membantumu, kita bisa bergantian membawanya——Baiklah, jika kita tidak segera
kembali sekarang, kita tidak akan sampai di desa sebelum malam hari. Bukankah
kita sudah berada di dalam gua ini selama satu jam?"
"Ah…karena aku
tidak dapat melihat Solus, aku tidak tahu waktu sekarang. Apa ada suatu sacred
art yang bisa menunjukkan waktu sekarang?"
"Tidak ada!"
Alice dengan cepat
memalingkan wajahnya, sebuah jalan keluar kecil dapat terlihat dari salah satu
sisi danau es yang luas ini.
Kemudian, melihat
sekitar, di sisi yang berlawanan ada jalan keluar lainnya.
Kemudian, dia
menurunkan bahunya sebelum berbicara.
"——Hei, jalan
mana yang kita lalui saat datang barusan?"
Eugeo dan Kirito
dengan segera menunjuk ke arah yang mereka yakin sebagai jalan keluarnya. Tentu
saja, mereka menunjuk jalan keluar yang berbeda.
Seharusnya ada jejak
kaki——sayangnya, tidak ada satupun jejak kaki pada permukaan es yang halus itu,
sisi dimana air dari danau ini mengalir pasti jalan keluarnya——sayangnya, itu
mengalir dari kedua sisi, arah dimana tengkorak itu melihat adalah jalan
keluarnya——sayangnya, itu tidak melihat ke arah manapun setelah semua pilihan
tadi telah berakhir sia-sia, akhirnya Alice mulai menjelaskan sesuatu yang
kelihatannya menjadi petunjuk.
"Ingat, bukankah
tadi ada genangan air membeku yang diijak Eugeo dan pecah? Jika kita berjalan
mendekati jalan keluar dan melihatnya, maka itu adalah jalan keluar yang
benar."
Aku mengerti, seperti
yang dia katakan. Seolah-olah menyembunyikan perasaan malu karena dia
sendiri tidak dapat memikirkan hal itu, Eugeo terbatuk, sebelum mengangguk.
"Baiklah, sudah
diputuskan, mari kita mengecek sisi yang terdekat."
"Aku berpikir
jalan itu yang benar bagaimanapun juga....."
Sementara Kirito
menggerutu dengan enggan, Eugeo menggunakan tangan kirinya untuk mendorong
punggungnya sementaral memegang rumput di tangan kanannya dengan tinggi, dan
melangkah menuju saluran air di depannya.
Ketika kolom es yang
memantulkan cahaya tadi telah menghilang dari sekeliling mereka, apa yang
awalnya sacred light yang dapat diandalkan sekarang terasa tidak dapat
diandalkan. Ketiganya mempercepat langkah kaki mereka.
"….Hmm, kita
tidak tahu jalan pulang, hampir sama seperti Berin bersaudara dalam dongeng.
Itu akan sangat bagus jika kita menebarkan kacang di perjalanan kota, karena
tidak ada burung yang memakannya bagaimanapun juga."
Perkataan aneh dari
Kirito entah bagaimana terasa dipenuhi dengan kepura-puraan, Jadi
partnernya yang santai seperti dia bisa merasa gelisah juga, huh? Eugeo
sebaliknya menjadi sedikit tertawa.
"Apa yang kau
katakan? Kita tidak memiliki kacang sejak awal. Kalau kau mau memanfaatkan apa
yang telah kau pelajari, bagaimana kalau kau meletakkan bajumu di setiap
percabangan jalan yang kita lalui tadi?"
"Hentikan, aku
akan tekena flu jika seperti itu."
Saat Kirito meniru
bersin yang disengaja, Alice menepuk punggungnya.
"Berhenti
berbicara yang tidak berguna dan dan lihat tanah itu dengan hati-hati. Jika
kita melewatkannya, ini akan menjadi masalah….atau bahkan…."
Saat dia memotong
perkataannya, dia mengerutkan dahinya sebelum melanjutkan berbicara.
"Hei, kita sudah
berjalan cukup lama sampai sekarang tapi masih belum melihat genangan es yang
pecah tadi…. Jadi, itu sebenarnya berada di jalan lainnya?"
"Tidak, mari
pergi sedikit lebih jauh… Ah, dengar."
Saat Kirito tiba-tiba
meletakkan jarinya ke mulutnya, Eugeo dan Alice berhenti bicara. Mereka
mendengar dengan teliti.
Memang benar, ada
suara lain yang tercampur dengan suara dari aliran air tanah. Itu terdengar
seperti siulan sedih dengan nada yang naik dan turun.
"Ah.....suara
angin."
Alice bergumam. Memang
benar, Eugeo juga menyadari bahwa suara ini mirip dengan suara puncak pohon
yang dimainkan oleh angin.
"Jalan keluarnya
sudah dekat! Itu sangat bagus kita mengambil jalan ini, ayo cepat!"
Saat dia memanggil
mereka dengan perasaan lega, dia mulai berlari untuk melanjutkan perjalanannya.
"Hei, kau akan
terpeleset jika kau lari di tempat seperti ini."
Tapi bahkan meskipun
dia berkata mengatakan itu, Alice juga mempercepat langkah kakinya. Mengikuti
mereka dari belakang adalah Kirito, yang membuat ekspresi keraguan.
"Tapi.....Apakah
angin musim panas terdengar seperti ini? Entah kenapa….itu terdengar seperti
suara angin dingin di musim dingin....."
"Angin lembah
yang kuat berhembus seperti itu. Bagaimanapun juga, mari segera keluar dari
tempat ini."
Cahaya di tangan kanan
Eugeo terayun dengan keras saat dia mendekat menuju jalan keluar
gua, Hatiku telah dipenuhi dengan perasaan yang menginginkan untuk cepat
pulang menuju desa, ke rumahku. Aku yakin keluargaku akan terkejut saat aku
memperlihatkan pada mereka pecahan es yang aku dapatkan dari Alice.
Tapi, es ini akan
dengan cepat mencair. Mungkin itu akan lebih baik jika aku mengambil satu koin
perak dari tempat itu.... ...Saat dia memikirkan hal itu, dia melihat
sebuah cahaya kecil dari kegelapan yang ada di depan.
"Jalan
keluar!"
Dia yang berteriak
dengan wajah tersenum, kemudian mengerutkan dahinya. Cahaya itu berubah menjadi
merah yang samar-samar. Mereka memasuki ke dalam gua sekitar waktu makan siang,
itu kelihatannya waktu yang mereka habiskan di dalam sekitar satu jam atau lebih,
itu kelihatannya mereka berada di dalam gua bawah tanah lebih lama daripada
yang mereka sadari. Jika Solus mulai terbenam di barat, dan mereka tidak segera
pulang, mereka tidak akan sampai ke desa pada saat waktu makan malam.
Eugeo mempercepat
langkah kakinya. Suara angin keras yang menggema di dalam gua telah
mempengaruhi suara sungai.
"Hei, Eugeo,
berhenti sebentar! Ini aneh, ini baru dua jam telah berlalu tapi...."
Alice yang berlari di
belakangnya menaikkan volume suaranya karena kegelisahan. Tetapi Eugeo tidak
berhenti. Aku sudah merasa cukup dengan petualangan ini. Sekarang ini, aku
ingin segera pulang ke rumah bahkan meskipun beberapa saat lebih cepat——
Berbelok ke kanan,
berbelok ke kiri, dan berbelok ke kanan lagi, akhirnya cahaya itu benar-benar
menyebar di seluruh pandangnya. Jalan keluar itu hanya tinggal beberapa mel di
depan. Dia menyipitkan matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan sementara
perlahan mengurangi kecepatan larinya, sebelum benar-benar berhenti.
Gua ini berakhir tepat
di situ.
Tetapi, di depan mata
Eugeo bukanlah dunia yang dia ketahui.
Seluruh langitnya
berwarna merah tua. Tapi itu bukanlah warna dari matahari yang tenggelam.
Pertama dari semuanya, Solus tidak dapat terlihat di bagian manapun dari
langitnya. Seperti jus dari dari anggur gunung yang menggantung yang terlalu
matang——atau darah domba yang merembes keluar, hanya kepudaran, dari warna
merah tua pucat yang tersebar di sepanjang pandangannya.
Tanahnya berwarna
hitam. Di sisi lain terdapat barisan pegunungan curam aneh yang memiliki titik
di depan pegunungan berbatu yang memiliki bentuk aneh, permukaan air yang dapat
terlihat dari sini dan dari sana telah dikotori dengan warna hitam dengan
sesuatu yang mengingatkan pada abu. Kulit yang membengkok dari pohon mati berwarna
putih seperti tulang yang dipoles.
Angin, yang bertiup
kencang seolah-olah ingin dapat merobek apapun menjadi bagian kecil,
menggetarkan ujung pohon mati itu, menyebabkan suara menjerit yang keras. Ini
adalah tanpa keraguan, adalah suara angin yang mereka dengar dari dalam gua.
Tempat seperti ini,
sebuah dunia yang diabaikan oleh dewi, bukanlah Dunia Manusia yang Eugeo
tinggali. Lalu——apa yang mereka sedang lihat, pemandangan ini adalah——
"Dark.....Territory....."
Suara serak Kirito
dengan segera terbawa oleh suara angin.
Tempat dimana
kekuasaan Gereja Axiom tidak dapat mencapainya, tanah dimana suku mosnter yang
melayani dibawah Dewa Kegelapan, Vector, dunia yang mereka pikir hanya ada di
dalam dongeng yang dikisahkan oleh para tetua desa, hanya tinggal beberapa
langkah ke depan. Saat dia memikirkan hal itu, bagian tengah dari kepala Eugeo
menjadi dingin membeku, dia tidak dapat melakukan apapun selain tetap berdiri.
Seolah-olah mengetahui informasi itu untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
sejumlah besar dari itu itu terbang terlintas masuk ke dalam bagian pikiran
yang belum pernah dia gunakan sebelumnya, dia bahkan tidak mampu untuk
mengendalikan pikirannya sendiri.
Di dalam kepalanya,
yang dipenuhi warna putih bersih, terdapat satu kalimat yang tertulis dalam
bagian awal dari Taboo Index, bersinar terang dan jelas. Bab pertama, kalimat
ketiga, paragraf kesebelas yang seharusnya telah dia telah lupakan setelah
berbicara dengan Alice hari sebelumnya.『Tidak ada seorangpun yang boleh pergi melewati Puncak Barisan
Pegunungan yang membatasi batas Dunia Manusia』.
"Tidak.... jangan
pergi lebih jauh lagi....."
Eugeo dengan berani
menggerakkan mulutnya yang kaku dan memaksa kata-kata itu keluar. Dia
membentangkan tangannya seolah-olah mencegah Kirito dan Alice, yang ada
dibelakangnya, agar tidak terjatuh.
Saat itulah. Suara
hantaman logam keras bergema dari atas, membuat tubuh Eugeo bergetar karena
keterkejutan. Dia melihat ke atas pada langit merah dengan refleks.
Di dalam latar yang
berwarna merah darah, dia dapat melihat sesuatu yang berwarna putih terjalin
dengan sesuatu yang berwarna hitam.
Saat mereka terbang
pada ketinggian yang menakutkan, mereka terlihat seperti cahaya yang kecil. Itu
kelihatannya ukuran mereka yang sebenarnya jauh melebihi manusia. Di saat kedua
tubuh yang terbang itu saling bertukar tempat, mereka berpisah sebelum mendekat
satu sama lain lagi, pada saat mereka tergabung, suara logam yang berhantaman
bergema beberapa saat kemudian.
"Ksatria
naga....."
Kirito yang melihat ke
atas langit di samping Eugeo, berbisik dengan suara serak.
Seperti yang dikatakan
partnernya, keduanya yang bertarung satu sama lain memiliki leher dan ekor
panjang, mereka adalah naga terbang besar, dengan setiap dari mereka memiliki
sepasang sayap berbentuk segitiga. Tubuh penunggang mereka dapat terlihat di
punggungnya, yang memiliki senjata pedang dan perisai. Seseorang yang
menunggangi naga putih memiliki armor berwarna perak putih, dan penunggang naga
hitam adalah knight yang memiliki armor hitam legam. Pedang mereka berwarna
seperti itu juga, sinar cahaya menyilaukan dari pedang knight putih itu
tertahan oleh cahaya hitam yang keluar dari pedang knight hitam.
Sementara kedua knight
tadi saling bertarung satu sama lain dengan pedang mereka, suara gemuruh dari
hantaman yang bergema, saat sejumlah besar percikan api yang kecil menari di
udara.
"Aku ingin tahu
jika knight putih itu adalah…. Integrity Knight dari Gereja...."
Kepada perkataan
Alice, Kirito perlahan mengangguk.
"Benar….Knight
hitam adalah Darkness Knight dari pasukan kegelapan, aku rasa….Dengan kekuatan
yang sebanding dengan seorang Integrity Knight."
"Tidak
mungkin...."
Eugeo menggelengkan
kepalanya dengan sembarangan.
"Integrity Knight
adalah yang knight terkuat di dunia. Dia tidak dapat dikalahkan oleh seorang
Darkness Knight."
"Aku ingin tahu
tentang hal itu. Dari melihatnya, tidak terlalu ada banyak perbedaan dalam
sword skill mereka. Keduanya tidak mampu menembus pertahanan lawan
mereka."
Dengan segera setelah
Kirito mengatakan itu. Seolah-olah mendengar suaranya, knight putih menarik
tali kekang naganya dan menciptakan celah yang lebar. Naga hitam itu mengepakan
sayapnya dengan keras untuk memperpendek jarak.
Tetapi, sebelum jarak
itu dapat berkurang, naga putih itu membalikkan kepalanya secara tajam dengan
membengkokkan lehernya, bersamaan dengan tindakan yang terlihat seperti
mengumpulkan kekuatan. Dengan segera setelah itu, sementara masih tetap
mengayunkan lehernya, rahangnya terbuka lebar. Sebuah api tidak berwarna
menyembur keluar dalam garis lurus di antara taringnya, dan membungkus tubuh
knight naga hitam secara keseluruhan.
Teriakan yang
mempengaruhi suara angin yang menusuk telinga Eugeo. Naga hitam memutar
tubuhnya dengan kesakitan, begetar dengan hebat di tengah udara dan menurun.
Tanpa melewatkan kesempatan itu, Integrity Knight mengganti pedangnya dengan
busur panah besar berwarna coklat kemerahan dan menarik tali busur hingga
batasnya, sebelum melepaskan anak panah panjang. Anak panah samar-samar menarik
sebuah jalur api di tengah udara, tanpa meleset, itu menusuk pada dada knight
hitam itu.
"Ah....."
Alice mengeluarkan
suara kecil yang terdengar seperti jeritan.
Saat kulit dari kedua
sayapnya benar-benar telah terbakar, naga hitam itu kehilangan kemampuan untuk
terbang dan menggeliat dengan keras di tengah udara. Knight hitam terpisah dari
punggungnya, dan dengan jejak darah yang keluar, yang mulai jatuh tepat menuju
jalan masuk gua dimana mereka bertiga berdiri.
Pertama, pedang hitam
tadi tertusuk ke dalam tanah yang tercampur kerikil, menciptakan suara keras.
Selanjutnya, di tempat yang sepuluh mels jauhnya dari mereka bertiga, knight
terjatuh. Terakhir, naga hitam tadi menabrak pada pegunungan berbatu yang
sangat jauh jaraknya, menggerakkan ekor panjangnya sambil berteriak kesakitan,
sebelum itu berhenti bergerak sama sekali.
Di depan ketiga anak
kecil yang menatap tanpa mampu mengatakan apapun, knight hitam menahan rasa
sakit, mencoba untuk mengangkat bagian atas tubuhnya. Di atas armor metal
pelindung dada yang bersinar pudar, lubang dalam dari luka tusukan anak panah
dapat terlihat. Wajah knight, yang tersembunyi di balik pelindung wajah yang
tebal, memandang lurus ke arah mereka bertiga.
Tangan kanannya yang
sedikit gemetaran terulur keluar seolah-olah meminta pertolongan. Tapi dengan
segera setelah itu, sejumlah besar darah segar tersembur keluar dari leher
armor tersebut, knight itu terjatuh ke tanah. Cairan merah tersebar luas dari
tubuhnya yang tidak lagi bergerak, membasahi pada celah pada tanah kerikil
hitam itu.
"Ah.....Ah...."
Suara lemah keluar
dari Alice yang berada di samping kanan Eugeo. Bergerak seolah-olah dia
terhisap menuju kesana, dengan terhuyung-huyung dia melangkah ke depan——menuju
bagian luar gua.
Eugeo tidak sempat
bereaksi. Tetapi, Kirito di yang berada samping kirinya membuat teriakan pelan
namun tajam "Jangan!!" Alice mendengar suara itu, tubuhnya bergetar,
mencoba untuk berhenti. Tapi kakinya tersandung, tubuhnya terjatuh ke depan.
Kali ini Eugeo mengulurkan tangannya bersamaan dengan Kirito secara refleks,
mencoba menggenggam baju Alice.
Tetapi, ujung jari
mereka hanya menyentuh udara.
Alice terjatuh ke
tanah gua dan mengeluarkan suara nafas yang pelan, diikuti dengan jejak rambut
pirang panjangnya.
Dia hanya terjatuh.
Bahkan jika aku mengecek «Window», Life nya hanya berkurang satu atau dua point
saja. Tetapi masalahnya bukan itu. Pada saat Alice terjatuh, tangan
kanannya terulur ke depan, dan melewati sekitar dua puluh cens perbatasan yang
anehnya terlihat jelas diantara lantai gua yang abu-abu kebiruan dengan tanah
berwarna abu di depan. Telapak tangan putih bersihnya menyentuh kerikil hitam
legam Tanah Kegelapan, tanah Dark Territory.
"Alice―……!"
Kirito dan Eugeo
secara bersamaan memanggilnya, mereka mengulurkan kedua tangan mereka dan
memegangi tubuh Alice dengan erat. Normalnya, melakukan hal seperti ini akan
membuat mereka dimarahi sampai mereka menyesalinya, tapi untuk kali ini, dia
hanya berdiri saja seolah-olah dalam keadaan tidak sadar, dan ditarik kembali
ke dalam gua.
Alice, yang
berpegangan pada tangan Eugeo dan Kirito, mendapati matanya terbuka lebar saat
melihat knight hitam yang kalah, sebelum kemudian, tatapan matanya melihat ke
bawah pada tangan kanannya. Di telapak tangan halusnya masih terdapat pasir dan
kerikil kecil yang menempel, setiap butiran pasir tadi berwarna hitam legam.
".....Aku…Aku,
......"
Alice bergumam dengan
nada yang sangat ketakutan, saat Eugeo tanpa berpikir panjang mengulurkan
tangannya pada tangan kanannya. Dia mengelus telapak tangannya, menyingkirkan
semua butiran pasir dan berkata dengan sungguh-sungguh.
"T-Tidak apa-apa,
Alice. Kau tidak keluar gua. Tanganmu hanya menyentuhnya saja. Itu, sudah pasti,
tidak dilarang, bukan? Benar, Kirito?!"
Eugeo mengangkat
wajahnya dan menatap pada wajah partnernya seolah-olah mengandalkannya. Tapi
Kirito tidaak melihat pada Eugeo maupun Alice. Sementara menekukkan lututnya,
tatapannya dengan tajam mengamati keadaan sekitarnya.
"A-Ada apa,
Kirito?"
".....Apa kau
tidak merasakannya, Eugeo? Ini seperti...seseorang.....sesuatu….."
Dia merengut dan mulai
mengamati sekitarnya sekali lagi, tetapi, di dalam gua bahkan tak ada satu ekor
pun serangga, kupakan manusia. Satu-satunya yang terlihat di pandangnya adalah
tempat yang berjarak sepuluh mels jauhnya, knight hitam yang mati. Sosok dari
Integrity Knight yang memenangkan pertarungan telah menghilang dari langit.
"Itu hanya
imajinasimu saja, dibandingkan dengan itu....."
Mari kita bawa Alice
ke sisi lain gua ini dengan cepat.
Di saat Eugeo hendak
mengatakan hal tersebut, Kirito memegangi bahunya dengan kekuatan yang penuh.
Sementara merengut, Eugeo mengikuti arah pandangan partnernya, dengan segera
setelah itu,tubuhnya menjadi sangat kaku.
Di dekat langit-langit
gua, ada sesuatu yang aneh.
Sebuah lingkaran ungu
tua berguncang seperti permukaan air. Dengan diameter kira-kira lima puluh
cens, samar-samar yang melihat keluar dari tempat itu adalah——wajah manusia.
Itu sangat sulit sekali untuk mengatakan bahwa itu adalah laki-laki atau
perempuan, muda atau tua dari wajah datarnya. Kulitnya pucat, kepalanya tidak
memiliki satu helai rambut. Kedua matanya yang terbuka lebar dalam bentuk
lingkaran sempurna juga tidak memiliki emosi. Tetapi, Eugeo secara insting
dapat menebak. Mata tersebut tidak melihat ke arah dirinya ataupun Kirito, tapi
orang yang duduk dengan tidak sadarkan diri di tanah, Alice.
Mulut wajah asing itu
mulai bergerak, melalui selaput ungu tua, kata-kata aneh dapat terdengar,
"シンギュラー・ユニット・ディテクティド。アイディー・トレーシング……"
Kedua matanya, yang
terlihat seperti rumput bola berkedip sesaat, lalu sekali lagi, suara misterius
itu mengatakan.
"コーディネート・フィクスト。リポート・コンプリート"
Lalu, Window ungu tadi tadi tiba-tiba menghilang. Saat Eugeo menyadarinya meskipun terlambat bahwa kata-kata aneh itu mungkin suatu jenis kalimat upacara untuk sacred art tertentu, dia dengan cepat melihat Alice, Kirito, dan lalu akhirnya dirinya sendiri, tapi dia tidak merasakan suatu hal yang telah berubah.
Bahkan meskipun
begitu, kejadian itu terlalu aneh untuk diabaikan. Eugeo bertukar pandangan
dengan partnernya, lalu mereka berdua membantu untuk menangkat Alice ke atas,
hanya untuk membawa teman masa kecil mereka yang masih gemetaran, kembali ke
dalam gua——dan mulai berlari ke arah dimana mereka datang sebelumnya.
Eugeo tidak dapat
mengingat bagaimana mereka kembali ke Desa Rulid.
Kembali melintasi
danau dimana naga putih itu terbaring, dan terus berlari setelah mereka
melompat menuju jalan keluar yang berada di sisi berlawanan. Mereka
berkali-kali tergelincir saat mereka berlari di atas batu yang basah, tapi
mereka menjelajahi gua yang panjang ini dalam waktu yang lebih cepat
dibandingkan dengan ketika mereka datang, ketika mereka melompat ke dalam
cahaya putih akhirnya mereka melihat, cahaya matahari sore masih bersinar
menerangi hutan.
Tetapi, kegelisahan
Eugeo yang berhasil terambil tidak mudah untuk menghilang. Bahkan sampai
sekarang, dia masih memiliki perasaan bahwa Window ungu tua akan terbuka tepat
di belakangnya, dengan wajah pucat aneh akan muncul sekali lagi, jadi dia tak
membiarkan dirinya untuk beristirahat.
Dibawah pepohonan
dimana burung berkicau, melewati tepi sungai dimana sekelompok ikan kecil
berenang ke sana dan kemari, mereka bertiga berjalan dengan cepat dalam
keheningan. Melintasi bukit yang seharusnya menjadi Perbatasan Utara, melewati
dua kolam kembar, sebelum akhirnya mereka sampai di jembatan utara Rulid.
Dengan sedikit lagi
berjalan, mereka telah kembali dan beristirahat di dasar pohon tua, yang
menjadi tempat pertemuan mereka fajar tadi, tapi mereka masih belum banyak
bicara. Mereka bertiga bertukar pandangan sebelum sedikit tersenyum.
"Hei, Alice,
ini."
Kirito mengatakan itu
sementara menyerahkan keranjang rotan yang terlihat berat itu ke depan.
Didalamnya dipenuhi dengan hasil petualangan mereka hari ini, «Es Musim Panas»,
Eugeo sekarang baru menyadari keberadaan keranjang yang benar-benar dia
lupakan. Untuk meyembunyikan rasa malunya, dia berkata dengan wajah tenang.
"Ketika kau
sampai rumah, kau lebih baik segera membawanya menuju ruang bawah tanah. Dengan
begitu, ini seharusnya akan mampu bertahan sampai besok, bukan?"
"....Ya,
baiklah."
Alice yang biasanya
tidak menurut segera mengangguk, setelah mengambil keranjang itu, dia berbalik
untuk melihat kedua wajah anak laki laki itu, akhirnya senyum cerahnya yang
biasa terlihat dari wajahnya.
"Kalian dapat
berharap untuk kotak makan siang besok. Sebagai hadiah untuk kerja keras
kalian, aku akan melakukan yang terbaik."
Maksudmu Sadina-obasan
yang akan melakukan yang terbaik, bukan? yang tentu saja, Kirito dan Eugeo
tidak mengatakannya secara keras. Mereka berdua bertukar pandang untuk sesaat
sebelum mengangguk pada saat yang bersamaan.
"….Hei, apa yang
kalian berdua pikirkan?"
Alice bertanya sementara
memperlihatkan ekspresi kebingungan, dua anak laki-laki itu menepuk bahu Alice,
sebelum berkata secara bersamaan——
"Tidak ada
apa-apa! Baiklah, mari kita kembali ke desa!"
Pada saat mereka
berjalan menuju alun-alun desa, tempat dimana mereka berpisah, cahaya matahari
terbenam yang sesungguhnya berada di langit yang melayang di atas mereka.
Kirito tinggal di gereja, Alice pulang kembali ke rumah kepala desa. Eugeo tiba
di rumahnya di sisi barat desa tepat beberapa menit sebelum lonceng jam enam malam
berbunyi.
Eugeo tetap diam saja
sepanjang makan malam yang pada saat dia tiba, hampir ketika waktunya. Meskipun
dia sangat yakin bahwa saudara laki-laki dan saudara perempuannya, bahkan ayah
dan kakeknya tidak pernah mengalami petualangan sepertinya hari ini, dia entah
kenapa tidak mampu membuat dirinya untuk menceritakan hal tersebut.
Kelihatannya dia tidak
dapat berbicara tentang fakta bahwa dia telah melihat Tanah Kegelapan dengan
matanya sendiri——pertarungan sengit diantara Integrity Knight melawan Darkness
Knight, dan kemudian wajah aneh yang muncul di akhir petualangan, karena sekali
dia berbicara mengenai itu, itu tidak sulit baginya untuk menebak bagaimana
reaksi keluarganya nantinya, dan itu yang membuatnya takut.
Malam itu, Eugeo yang
pergi untuk tidur lebih awal yang berpikir dia akan melupakan semua yang dia
lihat di akhir petualangannya. Tetapi dia tidak mampu melakukannya, sebab
Gereja Axiom dan Integrity Knight yang begitu dia kagumi dan hormati sampai
saat ini telah berubah menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda.
Bagian
4
Solus telah terlihat,
kemudian terbit——dan setelahnya, ini adalah kehidupan sehari-hari seperti
biasanya, tanpa ada sesuatu yang berubah.
Normalnya, satu hari
setelah hari libur, Eugeo akan pergi ke tempat kerjanya dengan sedikit muram,
tetapi, hari ini dia entah bagaimana merasa lega. Aku sudah cukup dengan
berpetualang, aku adalah penebang pohon setelah semua. Sementara dia
memikirkan hal ini saat dia berjalan keluar dari gerbang selatan desa, Kirito
bergabung dengannya di perbatasan antara padang rumput dan hutan.
Eugeo menyadari
sedikit perasaan kelegaan di wajah partner yang telah dia kenal untuk waktu
yang lama. Partnernya juga menyadari ekspresi yang sama pada wajah Eugeo. Untuk
sesaat, mereka berdua saling bertukar senyuman untuk menyembunyikan rasa malu
mereka.
Mereka berjalan
menyusuri jalan yang sempit kecil di hutan untuk beberapa saat sebelum
mengambil Dragon Bone Axe dari gubuk penyimpanan, lalu setelah berjalan untuk
beberapa menit, mereka mencapai bagian dasar Gigas Cedar. Eugeo bersyukur
ketika dia berpikir melanjutkan untuk menebang batang pohon ini seperti tidak
ada apapun yang telah berganti.
"Baiklah,
pastikan kau mendapatkan beberapa tebasan yang bagus dan mentraktirku Air Siral
hari ini."
"Bukannya itu yang
selalu kau lakukan sampai beberapa hari ini, Kirito?"
Saat mereka saling
berbicara satu sama lain, Eugeo mempersiapkan kapak. Serangan pertamanya
membuat suara Gon bernada tinggi. Aku sedang dalam kondisi bagus
hari ini. Eugeo berpikir seperti itu.
Saat pagi pagi hari
telah berlalu, mereka berdua melanjutkan membuat serangan bagus pada batang
pohon. Alasannya adalah, saat mereka mengayunkan kapak, jika mereka kehilangan
konsentrasi, pikiran mereka akan kembali pada kejadian yang mereka lihat
kemarin——itu bukanlah sesuatu yang dapat dihindari.
Setelah menghantamkan
serangan kesembilan dari lima puluh hantaman setiap bagian yang diperintahkan,
perut Eugeo mulai merasa lapar.
Eugeo melihat ke atas
langit sementara mengusap keringatnya, Solus telah mencapai bagian tengah dari
langit. Seperti biasa, setelah satu serangan lagi, Alice akan membawakan
makan siang yang sudah ditunggu mereka. Namun hari ini kami dapat memakan pai
dan susu dingin secara perlahan. Perut kosongnya terasa sakit hanya dengan
membayangkannya.
"Otto....."
Hanya memikirkan
tentang makan siang saja membuat genggaman Eugeo menjadi tergelincir. Setelah
menyeka kedua tangannya yang basah, dia dengan hati-hati menggenggam kapak
dengan genggaman yang lebih erat.
Tiba-tiba, cahaya
matahari menjadi meredup.
Hujan yang mendadak?
Itu sangat menyebalkan. . Eugeo berpikir sementara melihat ke atas.
Sebuah bayangan dapat
terlihat terbang melintas langit biru di atas batang Gigas Cedar dengan
kecepatan tinggi. Jantung Eugeo tersentak.
"Naga
terbang.....!?"
Eugeo tanpa sadar
berteriak.
"Oi.....Kirito,
yang barusan itu!?"
"Aa, itu adalah
Integrity Knight yang kemarin!!"
Suara partnernya juga
membeku dalam ketakutan.
Naga terbang
bersama-sama dengan knight berarmor putih keperakan yang duduk di punggungnya
menyapu puncak pohon dan menghilang dari pandangan mata mereka menuju arah Desa
Rulid.
Kenapa dia datang ke
tempat seperti ini?
Di dalam keheningan
yang menyeluruh, seolah-olah burung dan serangga dalam keadaan ketakutan, Eugeo
berpikir dengan kebingungannya.
Integrity Knight
bertarung melawan musuh Gereja Axiom dan menjaga aturan agar tetap pada
tempatnya. Di dalam Dunia Manusia dimana empat kerajaan membagi dan
memerintahnya, tidak ada kelompok pemberontak lagi, jadi selain dari tentara
kegelapan, musuh dari Integrity Knight tidak ada sekalipun. Apa yang kudengar
tentang pertempuran tanpa akhir di bagian luar Puncak Barisan Pegunungan, aku
sebenarnya telah melihatnya dengan mataku sendiri kemarin.
Ini pertama kalinya
aku melihat seorang Integrity Knight yang sesungguhnya. Semenjak aku
dilahirkan, Integrity Knight tidak pernah datang ke desa. Dan meski begitu,
kenapa sekarang——
"Itu tidak
mungkin.....Itu tidak mungkin, Alice...."
Kirito bergumam di
sampingnya.
Pada saat dia
mendengar hal itu, suara aneh yang dia dengar sebelumnya kembali terdengar
dengan jelas di telinga Eugeo. Dibalik window ungu tua itu, yang mengatakan
keluar kalimat aneh dari mulut manusia dengan bentuk wajah aneh. Dia merasa
hawa dingin dibalik punggungnya seolah-olah dia dimasukkan ke dalam air yang
membeku.
"Ini bohong.....
ini tidak mungkin benar, hanya dengan itu..... hanya dengan itu saja....."
Dia memandang wajah
Kirito sementara dia mengatakan itu, seoalh-olah untuk mencari persetujuan,
namun partnernya memperlihatkan ekspresi wajah serius yang jarang sementara
menatap pada arah knight itu terbang. Beberapa saat kemudian, Kirito menatap
lurus pada mata Eugeo sebelum memberikan sebuah perintah pendek.
"Ayo pergi!"
Dia mengambil Dragon
Bone Axe dari tangan Eugeo sebelum berlari lurus menuju arah utara.
"O.....Oi!"
Sesuatu yang buruk
sedang terjadi.. Sementara dia memikirkan hal itu, Eugeo juga menghentakkan
kaki ke tanah dan segera mengejar di belakang Kirito.
Mereka berdua berlari
melintasi jalan kecil yang mereka kenal di hutan dengan kecepatan penuh sambil
menghindar dari akar dan batu, sampai ke tempat dimana jalan itu bergabung
dengan jalan utama yang menuju ke arah ladang. Mereka tidak dapat melihat
bayangan naga terbang di atas langit desa. Kirito sedikit melemaskan kakinya,
dan dengan suara keras bertanya pada petani di antara rimbunan gandum, yang
mengenakan pakaian biru dan sedang melihat ke atas langit.
"Ridack –ojisan!
Dimana ksatria naga tadi pergi!?"
Petani itu terlihat
seperti dia baru saja terbangun dari mimpinya, setelah berkedip beberapa kali,
dia akhirnya menjawab.
"A... Ah....
hello, kelihatannya dia mendarat di alun-alun desa…."
"Terima
kasih!!"
Setelah berterima
kasih padanya dengan perasaan jengkel, mereka berdua terus berlari dengan
kecepatan penuh.
Di berbagai tempat
sepanjang jalanan utama dan ladang, terdapat sekelompok penduduk desa yang
hanya berdiri saja. Mungkin, bahkan di antara para tetua, tidak ada satupun
dari mereka yang benar-benar pernah melihat Integrity Knight sebelumnya. Semua
orang hanya melihat ke arah desa dengan eskpresi wajah yang tidak mengetahui
apa yang harus dilakukan. Eugeo dan Kirito hanya berlari melewati mereka dengan
susah payah.
Melintasi gerbang
selatan desa, berlari melewati jalan pendek daerah pertokoan, dan, setelah
menyeberangi jembatan batu kecil, mereka berdua akhirnya melihatnya. Mereka
menahan nafas mereka tanpa pernah menghentikan langkah kaki mereka.
Leher panjang
melengkung dan ekor dari naga terbang tersebut menempati separuh bagian utara
dari alun-alun di depan gereja.
Sayap besarnya
terlipat di sampingnya, hampir sepenuhnya menutupi gereja dari pandangan. Sisik
abu-abu dan armor besi di berbagai bagian dari tubuhnya memantulkan cahaya
Solus, yang membuatnya terlihat seperti sebuah patung es. Mata merah darah,
yang tidak memiliki emosi, mengawasi alun-alun desa.
Di depan sang naga,
yang bahkan bersinar jauh lebih menyilaukan, adalah sesosok knight.
Badannya lebih besar
daripada semua orang yang ada di desa. Armor berat yang dipoles hingga terlihat
seperti cermin menutupi seluruh tubuhnya, tanpa ada satu kain sekalipun, juga
semua persendiannya ditutupi dengan rantai perak yang dijahit dengan rapi.
Bagian pelindung kepala yang menyerupai bentuk kepala naga yang memiliki bagian
dahinya menonjol keluar, di bagian samping terdapat hiasan tanduk panjang yang
terbentang ke belakang, wajah knight itu tersembunyi di balik pelindung wajah
yang besar yang ditarik ke bawah.
Ada sebuah pedang
panjang yang memiliki gagang perak tergantung di pinggang kirinya. Di
punggungnya, dengan panjang sekitar satu mel, terdapat sebuah busur panah
coklat kemerahan. Tanpa ada keraguan lagi, dia adalah Integrity Knight yang
menembak dan membunuh Darkness Knight yang Eugeo telah lihat di jalan keluar
gua kemarin.
Dari bagian berbentuk
salib yang terbuka dari pelindung wajahnya, knight itu menatap tanpa mengatakan
apapun ke arah bagian selatan selatan alun-alun, dan sejumlah penduduk desa
yang berkumpul menundukkan kepalanya secara bersamaan. Di barisan terakhir,
sosok gadis muda yang baru saja menunduk dengan keranjang rotan di tangannya
dapat terlihat. Eugeo sedikit melepaskan ketegangan dari bahunya. Alice yang
memakai pakaian biru biasanya dan pinafore [1] putihnya,
memandang sosok Integrity Knight dari celah diantara orang dewasa.
Eugeo menyikut
pinggang Kirito sebagai sinyal, mereka menundukkan tubuh mereka dan bergerak,
setelah mereka sampai di belakang Alice, Kirito berbisik.
"Alice….."
Teman masa kecil
mereka berbalik, saat rambut pirangnya terayun ke samping, wajah kagetnya
terlihat seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu. Kirito dengan cepat
meletakkan jarinya ke mulutnya, sebelum dengan pelan berbisik.
"Alice, tolong
diam. Aku pikir kita harus pergi dari sini sekarang."
"Eh….Kenapa?"
Alice menjawab dengan
bisikan pelan dengan volume yang sama, dia kelihatannya tidak mengetahui bahaya
yang sekarang sedang mendekatinya. Eugeo berpikir dia tidak akan menyadari akan
kemungkinan itu tanpa Kirito mengatakannya.
"Tidak....Integrity
Knight itu mungkin…."
Bagaimana seharusnya
kami menjelaskannya mulai dari hal ini. Eugeo kehilangan kata-kata untuk
sesaat. Dan di saat itulah.
Beberapa suara pelan
datang dari dalam kerumunan. Melihat ke sana, yang berjalan menuju alun-alun
dari aula desa, seorang pria tinggi terlihat.
"Ah......ayah."
Alice bergumam. Pria
itu adalah ayah gadis ini dan di waktu yang sama, merupakan Kepala Desa Rulid
saat ini, Gasupht Schuberg. Tubuh tegapnya memakai rompi sederhana, rambut dan
kumis hitamnya tersisir rapi. Bahkan meskipun dia mewarisi Sacred Task dari
kepala desa sebelumnya hanya semenjak empat tahun lalu, sikapnya yang sangat
tegas dengan cepat membuat dia dihormati oleh seluruh penduduk desa.
Gasupht mendekati
Integrity Knight sendirian tanpa sedikitpun tanda-tanda keraguan, sebelum
meletakkan tangan di depan tubuhnya menurut etika Gereja Axiom, kemudian
membungkuk. Setelah mengangkat wajahnya, dia memperkenalkan dirinya.
"Saya berperan
sebagai sebagai kepala desa Rulid, Schuberg adalah namaku."
Sang Integrity Knight
mengangkat tangannya di depan tubuhnya sebagai balasan salam Gasupht, armornya
membuat suara samar-samar ketika dia mengangguk, sebelum mulai untuk berbicara.
"Penjaga Istana
Kerajaan Norlangarth Utara, Integrity Knight dari Gereja Axiom, Deusolbert
Synthesis Seven."
Sangat sulit untuk
mempercayai bahwa suara itu datang dari tenggorokan mahluk hidup, karena
suaranya menggema dalam intonasi yang sumbang. Suara yang benar-benar terasa
seperti baja menggema di seluruh alun-alun, membuat setiap penduduk desa di
area itu menjadi terdiam. Eugeo merengut saat suara itu terasa seolah-olah
menusuk langsung melewati dahinya dibandingkan dengan masuk melalui telinganya,
meskipun dia berjarak dua puluh mel jauhnya. Bahkan kepala desa Gasupht
terdorong setengah langkah ke belakang dikarenakan tekanannya.
Tetapi, seperti yang
diharapkan dari keberaniannya, Gasupht memperbaiki posisi tubuhnya, sebelum
mengeluarkan pidato mengesankannya sekali lagi.
"Ini adalah
sebuah kehormatan dari Tuan Integrity Knight, yang menjaga ketertiban di
seluruh penjuru Dunia Manusia yang luas ini, untuk berkunjung ke desa kecil
kami di daerah terpencil ini. Jika saya tela mengetahui waktu anda datang
terlebih dahulu saya akan mempersiapkan sebuah jamuan penyambutan."
"Saya tidak dapat
menerima hal tersebut saat aku haru menjalankan tugas resmiku."
Suara menggema knight
itu mengatakan seperti itu, dan dengan tatapan seperti es di balik pelindung
wajahnya——dia melanjutkan,
"Dikarenakan anak
Gasupht Schuberg, Alice Schuberg telah melanggar pasal dalam Taboo Index, aku
datang untuk menangkapnya untuk penginterogasian, yang diikuti dengan
pengeksekusiannya."
Getaran dapat terlihat
dari punggung Alice yang berdiri di dekatnya. Tetapi, Eugeo dan Kirito tidak
dapat berbuat apa-apa, lupakan berbicara. Di dalam kepala mereka, kata-kata
knight itu terus terdengar berkali-kali.
Tubuh kuat kepala desa
itu juga terguncang untuk sesaat. Sebuah lengkungan kecil namun jelas dapat
sedikit terlihat dari samping wajahnya.
Setelah keheningan
yang panjang, Gasupt berkata dengan suara yang telah kehilangan wibawanya.
"....Tuan Knight,
dosa apakah yang putriku telah lakukan?"
"Taboo Index, bab
pertama, kalimat ketiga, paragraf kesebelas, melewati batas Dark Territory."
Pada saat itu, sebuah
keributan yang besar terjadi di antara para penduduk desa yang sedang menahan
nafas mereka, mendengarkan pembicaraan mereka sampai titik ini. Anak-anak
membuka lebar mata mereka, saat semua orang dewasa yang mengucapkan ayat suci gereja
sementara menggenggam simbol pelindung kutukan.
Lalu, Eugeo dan Kirito
akhirnya bertindak, sebagian dikarenakan oleh insting. Mereka mendorong diri
mereka untuk maju ke depan Alice, melekatkan bahu mereka, menyembunyikan gadis
itu dari tatapan penduduk desa dibalik punggung mereka. Tetapi mereka tidak
dapat melakukan tindakan yang lebih jauh, karena pergerakan yang tiba-tiba akan
menarik perhatian orang dewasa yang ada di depan mereka.
Di dalam kepala
Eugeo, Apa yang seharusnya kami lakukan, apa yang seharusnya kami
lakukan, adalah satu-satunya yang ada di pikirannya, dan terus terulang
dengan sendirinya. Bahkan tanpa perasaan depresi yang memenuhi di dadanya saat
ini, dia masih tidak akan tahu apa yang dia dapat lakukan.
Semua yang dia lakukan
hanya tetap berdiri, menyaksikan adegan di depannya, melihat pada kepala desa
Gasupht yang menundukkan kepalanya dengan dalam tanpa membuat gerakan lainnya.
Itu tidak apa-apa,
jika memang orang itu. Eugeo berpikir seperti itu. Bahkan meskipun dia
belum pernah berbicara dengan Kepala Desa Gasupht, dia seharusnya adalah orang
yang paling dihormati dari semua orang dewasa setelah Pak Tua Garitta.
Namun——
"....Jika memang
begitu, saya akan memanggil putriku, saya berpikir kita seharusnya mendengar
alasan dari mulutnya sendiri."
Kepala desa yang
mengangkat kepalanya hanya mengatakan itu.
Tidak, kita tidak
dapat membiarkan Alice menuju ke depan knight itu. Selama periode waktu
singkat Eugeo memikirkan hal itu, Integrity Knight itu mengangkat tangan
kanannya saat armornya membuat suara yang pelan. Melihat ujung jarinya menunjuk
kearahnya, jantung Eugeo berdegup kencang dengan perasaan tak nyaman.
"Itu sama sekali
tidak perlu. Alice Schuberg ada disana. Kau, dan kau...."
Knight itu
menggerakkan tangannya dan menunjuk dua orang dewasa di antara kerumunan secara
bergantian.
"Bawa anak
perempuan kepala desa kemari."
Barisan penduduk desa
di depan Eugeo dengan cepat terpisah. Apa yang berdiri di antara Integrity
Knight dan Alice hanyalah Kirito dan Eugeo saja.
Di jalan yang lebar
tersebut, dua penduduk desa yang dikenalnya perlahan mendekat. Kulit mereka
telah kehilangan warna karena kurangnya darah, namun ada cahaya aneh yang
terlihat di dalam mata mereka.
Orang itu dengan
menyingkirkan Eugeo dan Kirito secara paksa, yang menghalangi mereka, menuju
Alice, dan mendorong mereka berdua ke samping sebelum mengenggam tangan Alice.
"Ah…."
Alice berteriak dalam
suara pelan, sebelum menutup mulutnya dengan rapat. Sementara pipinya yang
berwarna merah mawar memudar, sebuah senyuman tipis terlihat dari wajahnya.
Tidak apa-apa. Dia mengangguk kepada mereka berdua hanya dengan seperti itu.
"Alice…."
Ketika Kirito
memanggilnya dengan suara pelan, keranjang rotan di tangan kanannya terjatuh
dikarenakan tarikan yang kuat. Penutupnya terbuka, dan isinya menggelinding
pada jalanan berbatu.
Kedua penduduk desa
menarik Alice, tanpa membiarkannya mengambil keranjangnya, menuju Integrity
Knight.
Tatapan Eugeo tertuju
pada keranjang rotan yang tergeletak di sampingnya.
Pai dan roti keras
yang tebungkus dalam kain putih, dengan bongkahan es kecil mengisi celahnya.
Sebagian kecil es yang terbuang keluar ke tanah memantulkan cahaya matahari dan
bersinar terang. Pada saat itu, di atas permukaan batu, yang dipanasi oleh
cahaya matahari, itu dengan segera menjadi mencair, berubah menjadi sebuah
titik hitam kecil.
Di sampingnya, Kirito
menarik nafas dengan kuat.
Seperti yang diduga,
dia mengangkat wajahnya dan mengejar punggung Alice, yang sementara ditarik
pergi. Eugeo juga menggeretakkan giginya, memaksa kakinya yang kaku mengikuti
partnernya.
Kedua orang itu
melepaskan tangan Alice di samping kepala desa, kemudian bergerak beberapa
langkah ke belakang sebelum berlutut. Kedua tangan mereka mendekap saat mereka
membungkuk dengan dalam, memperlihatkan kepatuhan pada knight itu.
Alice, yang telah
dilepaskan, melihat ke arah ayahnya dengan wajah pucat. Gasupht memandang anak
perempuan kesayangannya sesaat sebelum berbalik dan melihat ke bawah sekali
lagi.
Integrity Knight itu
perlahan mengangguk sebelum mengeluarkan sebuah alat aneh dari belakang
armornya. Itu adalah rantai besi tebal dengan tiga sabuk kulit menempel padanya
secara parallel, terdapat lingkaran besar di ujung rantai tersebut.
Knight itu menyerahkan
alat tersebut pada Gasupht.
"............"
Saat kepala desa
menerima alat pengekang itu saat menurunkan tatapan kebingungannya, sebelum
Kirito dan Eugeo akhirnya tiba di hadapan knight itu. Pelindung kepala ksatria
tersebut bergerak perlahan, sebelum menatap lurus pada mereka.
Eugeo tidak mampu
untuk melihat apapun yang ada di dalam lubang berbentuk salib pada pelindung
wajah yang berkilauan, seolah-olah itu terbungkus dalam kegelapan yang dalam,
tapi tekanan dari tatapan itu membuatnya merasakan kesakitan. Dia menatap ke
bawah secara refleks, menginginkan untuk mengatakan sesuatu pada Alice yang
berdiri di depannya, namun dia tidak mampu untuk melakukannya, seolah-olah
tenggorokannya terasa seperti sedang terbakar.
Kirito juga
menundukkan wajahnya, seperti Eugeo, sementara mengambil nafas dalam secara
berulang-ulang, kemudian tiba-tiba dia mengangkat wajahnya dan berteriak dengan
suara keras sementara dia masih gemetaran.
"Knight-sama!!"
Dia mengambil nafas
dalam sekali kali, dan melanjutkan.
"A.....Alice tidak
memasuki Dark Territory! Salah satu tangannya saja yang menyentuh tanah itu
beberapa saat! Hanya itu saja!"
Tetapi, jawaban dari
knight tersebut hanyalah sederhana.
"Apa masih perlu
tindakan yang lebih jauh?"
Bersamaan dengan
perkataan itu, dia melambaikan tangannya pada dua orang yang berlutut tadi.
Penduduk desa itu berdiri dan menggenggam punggung Kirito dan leher Eugeo,
sebelum mulai menarik mereka menjauh. Sementara melawan mereka, Kirito
berteriak sekali lagi.
"K…..Kalau
begitu, kami juga melakukan dosa yang sama!! Kami berada di tempat yang sama!
Jika anda ingin membawanya, maka bawalah kami juga!!"
Tetapi, Integrity
Knight itu tidak lagi melihat mereka.
Itu benar....Jika
Alice melanggar Taboo, maka aku seharusnya menerima hukuman yang
sama. Eugeo berpikir seperti itu. Dia memikirkan itu dari dasar dalam
hatinya.
Lalu kenapa suaraku
ini tidak mau keluar? Aku ingin berteriak seperti Kirito, tapi mulutku terasa
seperti telah melupakan bagaimana caranya bergerak, semua yang dapat aku
lakukan adalah menghembuskan nafas kuat.
Alice memandang dan
menatap ke arah mereka berdua untuk sejenak, Tidak apa-apa. Dia tersenyum
seperti mengatakan itu, dan mengangguk.
Ayahnya, yang telah
kehilangan ekspresi di wajahnya, memasangkan alat pengekang berbahaya itu di belakang
tubuh langsingnya. Dia mengeratkan tiga sabuk tadi pada bagian bahu, perut, dan
pinggangnya. Wajah Alice untuk sesaat sedikit berubah. Setelah dia selesai
mengeratkan peralatan logam itu, dia mundur beberapa langkah dengan
terhuyung-huyung, dan menunduk sekali lagi. Knight itu berjalan menuju Alice,
sebelum mengenggam ujung dari rantai yang tergantung dari punggungnya.
Kirito dan Eugeo
ditarik mundur menuju bagian tengah alun-alun, kemudian secara paksa dijatuhkan
dengan betumpu dengan lutut mereka.
Kirito mendekatkan
mulutnya ke telinga Eugeo sementaral berpura-pura terguncang, dan dengan cepat
berbisik.
"Eugeo…Dengar,
aku akan menggunakan kapak ini untuk menyerang Integrity Knight. Aku seharusnya
mampu untuk mengulur waktu selama beberapa detik, kau gunakan kesempatan itu
untuk mengambil Alice dan segera kabur. Larilah ke ladang gandum di selatan,
berbaurlah ke dalam celah yang ada di ladang dan pergilah menuju hutan, kau
tidak akan mudah terlihat jika sampai di sana."
Setelah Eugeo menatap
pada Dragon Bone Axe yang dipegang Kirito, dia entah mengapa mampu untuk
memaksakan suaranya untuk keluar.
"......Ki...Kirito...tapi..."
Kemarin, bukankah kau
sudah melihat skill pedang dan panah Integrity Knight yang mengerikan itu? Jika
kau melakukan sesuatu seperti itu, dia akan segera membunuhmu…Sama seperti
Darkness Knight.
Seolah-olah dia dapat
membaca pikiran Eugeo, yang tidak mampu untuk berbicara, Kirito melanjutan.
"Tidak apa-apa,
knight itu tidak akan mengeksekusi Alice tepat di tempat ini. Mungkin, tanpa
interogasi terlebih dahulu, dia tidak dapat langsung membunuhku. Aku juga akan
mencari kesempatan untuk melarikan diri. Juga…."
Tatapan mata membara
Kirito yang tertuju pada Integrity Knight, yang sedang memastikan ikatan dari
alat pengekangnya. Setiap kali dia menarik sabuk kulit tadi, wajah Alice
berubah menjadi kesakitan.
".....Juga, tidak
apa-apa bahkan jika kita gagal. Selama kita ikut dibawa pergi bersama dengan
Alice, seharusnya masih ada kesempatan bagi kita untuk melarikan diri. Tapi
sekarang ini, jika Alice dibawa pergi dengan naga terbang itu, maka tidak ada
harapan lagi."
"Itu....."
Itu mungkin benar.
Tapi——sebuah ide
berbahaya yang bahkan tidak dapat dianggap sebagai sebuah rencana, bukankah itu
adalah «Pengkhianatan terhadap Gereja»? Taboo Index, bab pertama, kalimat
pertama, paragraf pertama, yang ditetapkan sebagai, dosa terbesar——
"Eugeo....Apa
memang perlu untuk ragu-ragu!? Siapa juga yang peduli jika itu Taboo?! Apakah
itu lebih penting dibandingkan dengan hidup Alice!?"
Suara pelan namun
jelas dari Kirito terdengar di dalam telinga Eugeo.
Benar. seperti yang
telah dikatakan olehnya.
Di dalam hati Eugeo,
dia meneriakkan itu pada dirinya.
——Kita bertiga telah
memutuskan bahwa kita akan terus bersama semenjak lahir sampai mati. Bekerja
bersama-sama, jadi satu orang dapat hidup demi dua orang lainnya, kita telah
bersumpah untuk melakukan itu.
Jadi, tidak ada alasan
lagi untuk ragu-ragu. Gereja Axiom dan Alice, diantara dua hal itu yang mana
yang jauh lebih penting? Jawabannya telah diputuskan. Itu telah diputuskan. Itu
adalah——itu adalah——
"Eugeo…Apa yang
kau pikirkan tentang itu, Eugeo!!"
Suara yang sekarang
terdengar seperti teriakan menyayat hatinya keluar dari Kirito.
Alice yang melihat
mereka berdua. Dia menggelengkan kepalanya dengan ekspresi cemas.
"Itu adalah.....
itu.... adalah......"
Sebuah suara serak
keluar dari tenggorokannya, seolah-olah itu bukan suara miliknya.
Tetapi, dia tidak
dapat menyelesaikan kata-katanya. Bahkan di dalam kepalanya, dia tidak dapat
membentuk sisa dari kata-kata tersebut. Zukin, rasa sakit yang tajam
menjalar menuju mata kanannya. Rasa sakit yang terus menusuk itu mengganggu
pikirannya. Zukin, zukin,warna seperti darah tersebar di pandangannya,
meyelimuti semuanya tanpa terkecuali, sementara perasaan dari anggota tubuhnya
memudar.
Pada saat itu, kepala
desa telah menyadari peristiwa yang tidak biasa terjadi, yang disebabkan oleh
mereka berdua. Dia perlahan menggerakkan tangannya, dan memerintahkan dua
penduduk desa yang berdiri di belakang mereka berdua.
"Bawa keluar dua
anak-anak itu dari alun-alun."
Dengan segera setelah
itu, leher Eugeo dan Kirito digenggam dan diseret ke belakang.
"Sial…..lepaskan!!!
——Kepala desa!! Gasupht-ojisan! Apakah tidak apa-apa!? Apakah tidak apa-apa
membiarkan Alice diambil pergi dengan cara seperti ini!!?"
Kirito meronta-ronta
seolah-olah dia menjadi gila, melepaskan tangan orang itu, mempersiapkan kapak
di tangannya, bersiap untuk menyerbu.
Tetapi, kakinya, yang
mengenakan sepatu boot kulit sederhana, bahkan tidak dapat membuat gerakan
selangkah ke depan. Sebelum dia mulai berlari, sesuatu yang mengejutkan telah
terjadi.
Di saat Integrity
Knight, yang telah selesai memastikan ikatan sabuk kulit Alice, menatap Kirito,
Dragon Bone Axe yang gagangnya dia genggam dengan erat membuat suara logam
tajam sebelum terlempar keluar dari tangannya. Knight tersebut tidak menyentuh
pedang di pinggangnya maupun panah di punggungnya. Dia bahkan tidak
menggerakkan satu jaripun. Seolah-olah kehendaknya sendiri membentuk pedang
asli dan mengenai kapak Kirito, membuat itu terhempas menuju bagian ujung
alun-alun.
Kirito yang menerima
hantaman yang berasal dari hantaman tidak biasa itu juga tubuhnya ditekan saat
dia terjatuh. Dengan segera, beberapa orang bergabung dan benar-benar
menghentikan gerakannya secara sepenuhnya.
Pipi kanannya tertekan
pada jalanan berbatu, sementara dia memperlihatkan ekspresi kesakitan, Kirito
dengan susah payah berteriak.
"Eugeo! Kumohon,
pergilah!"
"A....u,
a....."
Seluruh tubuh Eugeo
menjadi bergemetar.
Pergi. Aku harus pergi.
Aku harus mengambil kembali Alice dari tangan knight itu, lalu melarikan diri
menuju hutan selatan.
Suara samar-samar
bergema dari ujung pikirannya. Tapi, dengan segera, sebuah rasa sakit yang
tajam menyerang mata kanannya seolah-olah seperti ditusuk, menghempaskan semua
tujuannya. Bersamaan dengan cahaya merah yang bergetar itu, suara keras lainnya
menggema seperti sebuah lonceng rusak.
Gereja Axiom adalah
mutlak. Taboo Index adalah mutlak. Tidak mematuhinya adalah larangan. Larangan
untuk semua orang.
"Eugeo,
setidaknya singkirkan orang-orang ini dariku!! Lalu aku bisa......"
Integrity Knight itu
tidak lagi mempedulikan keributan di alun-alun, dia memasang ujung rantai tadi
pada pelana yang ada di punggung naga terbangnya. Saat naga itu merendahkan lehernya,
knight tadi memanjat pada pelana itu tanpa ada kesulitan. Armor peraknya
berkilauan dengan terang.
"Eugeo——"
Kirito berteriak saat
dia memuntahkan darah.
Naga terbang putih itu
mengangkat tubuhnya, dan membentangkan sayapnya secara lebar.Suara keras
terdengar dua, atau tiga kali.
Alice yang terikat
pada pelana naga tersebut, memandang lurus pada Eugeo. Dia tersenyum.
Seolah-olah dia mengucapkan 'Selamat tinggal,' dengan kedua mata birunya.
Rambut pirang panjangnya terurai karena angin yang disebabkan oleh kepakan
sayap, berkilauan dengan terang seperti armor knight itu.
Tetapi, Eugeo tidak
dapat bergerak. Dia tidak dapat mengeluarkan suaranya.
Seolah-olah kedua
kakinya tertanam ke tanah, dia bahkan tidak dapat bergerak sedikitpun.
Prolog 2
Juni
2026
Bagian
1
Sementara meminum kopi
susu dingin, menikmati aroma yang menenangkan saat dia perlahan menelannya,
Asada Shino mengeluarkan desahan panjang.
Dia melihat
pemandangan yang samar-samar dari payung penuh dengan warna yang melintas
melalui kaca jendela antik. Dia tidak menyukai hujan, tapi ada di bangku yang
ada di kafe ini, yang terlihat seperti lorong yang tersembunyi, dan melihat
pemandangan jalan basah yang tidak akan membuatnya murung. Perabotan di dalam
kafe tidak memiliki tanda-tanda teknologi, dan aroma yang dikenalnya dari dapur
di dalam konter yang membuatnya memiliki ilusi, seperti jatuh di perbatasan
antara dunia nyata dan dunia virtual. Itu seolah-olah kelas di sekolah yang
baru selesai satu jam yang lalu adalah pemandangan dari dunia yang berbeda.
"Hujannya cukup
deras, bukan."
Itu membutuhkan waktu
beberapa saat sebelum dia menyadari suara berat yang berasal dari konter yang
tertuju padanya. Tentu saja, karena tidak ada pelanggan yang lain. Memfokuskan
pandangannya ke arah pemilik kafe berkulit café au lait [2], yang sedang
membersihkan gelas kaca dengan hati-hati, Shino menjawab.
"Ya, ini adalah
musim hujan setelah semua. Kelihatannya itu akan terus hujan hingga sampai
besok."
"Aku sangat yakin
ini perbuatan penyihir Undine."
Raksasa bermuka
menyeramkan itu mengatakan perkataan itu dengan wajah merah, sebelum tanpa
sadar tersenyum masam.
".......Ketika
kamu memberitahu lelucon, itu akan akan kehilangan efeknya jika kau membuat
wajah seperti itu, Agil-san."
"Mu......."
Suasana di kafe dan
bar, penjaga «Dicey Café» Agil meraba dahi dan mulutnya untuk membentuknya
'wajah seperti itu', dan kelihatannya dapat membuat anak kecil segera mulai
menangis jika melihatnya, Shino yang melihatnya mengeluarkan sedikit tawa. Dia
kemudian dengan cepat membawa gelasnya menuju mulutnya dan meminum kopinya.
Kenapa dia dapat
menanggapi reaksi Shino? Tepat setelah Agil membuat wajah yang sangat
menakutkan dengan cara yang menghibur tadi, bel pintu berbunyi. Pelanggan baru
itu berhenti tepat saat dia baru satu langkah memasuki kafe itu dan melihat
wajah pemiliknya lalu menggelengkan kepalanya sebelum mengatakan berkata.
".....Hei Agil,
jika kau menyambut pelanggan dengan wajah itu setiap hari, kafe ini akan keluar
dari bisnis dalam waktu dekat."
"B-Bukan seperti
itu. Ini hanya permintaan spesial untuk lelucon."
".....Tidak, itu
juga salah."
Saat dia membantah
kesalahan Agil, dia memasukkan payungnya ke dalam tong wiski di dekat pintu
sebelum melihat ke arah Shino dan mengangkat tangan kanannya.
"Otsu."
"Kau
terlambat."
Dia sedikit meregut
saat dia menjawabnya, orang yang ditunggunya——Kirigaya Kazuto menunduk sebelum
minta maaf.
"Maaf, aku belum
pernah naik kereta untuk beberapa waktu yang lama...."
Dia duduk di kursi
yang sisinya berlawanan dengan Shino, lalu melepaskan kancing kerah kemejanya
yang terbuka.
"Kamu tidak naik
sepeda motor hari ini?"
"Aku tidak mau
menaiki sepeda motor di waktu hujan....Agil, satu Caffe Shakereto
untukku."
Shino melihat Kirito
yang dengan santai memesan minuman yang tidak dikenalnya, lehernya sangat kurus
seperti avatarnya di dunia virtual, wajahnya juga tidak dapat dibilang sehat.
"......Bukannya
kau terlalu kurus? Kau seharusnya makan lebih banyak."
Shino mengatakannya
sementara merengut, tapi Kazuto hanya menggerakkan tangannya.
"Mulai hari ini
berat badanku mungkin akan kembali pada berat badan normalku bagaimanapun juga.
Tapi dari hari Jumat sampai Minggu, tapi itu akan turun lagi....."
"Berlatih di
gunung?"
"Tidak, tidak
melakukan apapun selain tidur."
"Lalu kenapa kamu
menjadi lebih kurus?"
"Tidak makan dan
minum sama sekali."
".....Hah? Kamu
bertujuan untuk mencapai penerangan?"
Shino memiringkan
kepalanya saat dia tidak mengetahui maksud dari perkataannya, dan di saat itu,
suara klik-klak yang pelan terdengar dari konter. Dia melihat pemiliki kafe itu
sedang mengocok shaker perak dengan gerakan elegan yang tidak cocok dengan
tubuh besarnya——tapi mengatakannya dengan kata seperti itu mungkin tidak sopan.
Saat Shino melihatnya sementara memikirkannya, Agil perlahan menuangkan isi
dari shaker itu ke dalam gelas coupe yang besar, sebelum meletakkannya ke atas
nampan dan membawanya.
Gelas yang ditaruh di
depan Kazuto berisi cairan cokelat muda dengan busa cokelat lembut yang ada di
atasnya.
"Ini
Caffe......Apakah ini sesuatu atau lainnya yang kau pesan untuk sekarang?"
Shino bertanya, Kazuto
kemudian menggeser gelas dengan ujung jarinya menuju padanya. 'Itadakimasu,'
dia mengangkat gelasnya sambil mengatakan itu, dan menaruh itu di mulutnya.
Tekstur dari busa tebal dari krim lembut , rasa sejuk yang menenangkan, dan
aroma kopi yang akhirnya keluar, setelah meminumnya, rasa manis yang sangat
enak setelah merasakannya masih tetap terasa setelah meminumnya. Sangat berbeda
dengan cafe au lait dingin yang bisa dibeli di mesin penjual di sekolahnya.
"..............Rasanya
sangat enak."
Setelah Shino
mengatakan itu, Agil membuat ekspresi puas sebelum memukul bagian atas lengan
tebalnya.
"Tanpa tangan
bartender yang hebat ini, itu tidak akan memiliki krim seperti itu."
"Tidak bisa
berhenti membanggakan kemampuanmu bahkan semenjak kembali ke dunia nyata, huh.
Kesampingkan dulu hal itu, Agil, aroma apa ini?"
Kazuto bertanya saat
aroma itu tercium oleh hidungnya, pemiliki kafe itu menjelaskan suaranya dan
menjawab.
"Kacang panggang
bergaya Boston. Berasal dari tangan kuat ini....."
"Heh——, masakan
dari kampung halaman istrimu, huh? Kalau begitu aku akan memesan itu."
Agil, yang
perkataannya terpotong, berjalan pergi dengan dengan mulutnya membentuk へ, Kazuto mengambil gelas di depan Shino, kemudian meminumnya.
Setelah menghembuskan nafasnya, dia memperbaiki posisinya yang ada di kursi,
sebelum melihat lurus ke depan.
"...............Bagaimana
dia sekarang?"
Dia mengerti maksud
dari pertanyaan mendadak itu pada saat itu juga. Tapi, Shino tidak menjawabnya
dengan segera, dia mengambil gelas dari tangan Kazuto lagi, kali ini dia
meminumnya lebih banyak. Saat krim lembutnya mengalir di tenggorokannya, aroma
yang harum masuk ke dalam hidungnya. Rangsangan tadi menghubungkan bagian
pikiran di pikirannya, dan mengubahnya menjadi kalimat pendek.
"Ya..... Dia
kelihatannya sudah cukup tenang."
Setengah tahun lalu,
pada tahun 2025, insiden «Death Gun» terjadi.
Salah satu dari tiga
pelakunya pada insiden itu adalah satu-satunya teman Shino, Sinkawa Kyouji,
telah menerima pengecualian setelah masa percobaan yang panjang untuk kasus
anak remaja, dan sekarang dia dipindahkan untuk ditempatkan di tempat
rehabilitasi remaja bulan lalu.
Saat masa percobaan,
dia hanya bersikeras untuk tetap diam, bahkan pemeriksaan yang dilakukan
psikiater ahli tidak dapat membuatnya bicara, tetapi, di suatu hari setelah
enam bulan setelah insiden tersebut, dia mulai setuju untuk menjawab pertanyaan
dari psikiater, sedikit demi sedikit. Shino samar-samar dapat menebak
alasannya. Enam bulan——lebih tepatnya seratus delapan puluh hari, adalah
periode sewa pembayaran yang tidak terbayar dalam game VRMMO «Gun Gale Online».
Saat periode waktu itu telah habis, diri lain dari Shinkawa Kyouji, atau dapat
dikatakan sebagai dirinya yang sebenarnya «Spiegel» akan menghilang dari server
GGO, yang membuat Kyouji akhirnya bersiap untuk menerima kenyataan.
"Aku berencana
untuk mengunjunginya setelah dia sudah lebih baik. Aku pikir kali ini dia akan
mengizinkanku untuk menemuinya."
"Aku
mengerti."
Saat dia merespon
pendek pada jawaban Shino, Kazuto melihat ke arah hujan. Setelah beberapa detik
keheningan, Shino secara sengaja memecah keheningan dengan memasang ekspresi
tidak puas.
"——Hei, normalnya
pada saat ini, kau seharusnya menanyakan apa aku baik-baik saja, bukan?"
"Eh, ah,
B-Baiklah, ——Erm, lalu bagaimana keadaan Sinon?"
Setelah kesuksesan
yang jarang dari membuat Kazuto panik, Shino tersenyum saat dia merasakan
perasaan puas.
"Aku sudah
melihat semua koleksi dari film aksi lama yang kau pinjamkan. Adegan yang
paling aku suka mungkin adalah adegan laki-laki yang menghindari peluru
tembakan dengan menggelinding menuju tempat berlindung. Jika kau berpikir ingin
kembali ke GGO, aku akan menunjukkannya di waktu pertemuan latihan
berikutnya."
"J-Jadi seperti
itu? Maka itu sangat bagus......Tolong supaya mudah....."
Pada senyuman sedikit
kebingungan di wajah Kazuto, Shino menahan tawanya.
Rasa takut dari
senjata api yang diderita Shino selama lebih dari lima tahun, bahkan sampai
sekarang masih tidak dapat dianggap benar-benar menghilang sepenuhnya. Bahkan
meskipun dia kelihatannya menyukai melihat film aksi, itu masih akan membuat
jatungnya berdetak ketika dia tanpa sengaja melihat senjata api di poster yang
ada di sudut kota, atau di jendela toko mainan. Ketika dia memikirkan itu
sekarang, itu kelihatannya hanya reaksi kaget biasa. Karena dia tidak yakin
bahwa dia tidak akan bertemu seorang kriminal yang memiliki senjata api di
dunia nyata suatu hari.
Sebagai tambahan,
Shino berpikir hilangnya reaksi kuat dari tekanan saat melihat gambar dan foto
senjata api, seperti pingsan atau muntah, sudah lebih dari cukup. Dia juga
tidak lagi merasa dikucilkan di sekolah. Sekarang dia bisa makan siang dengan
beberapa temannya. Tetapi, itu membuat Shino sedikit berada di situasi yang
rumit saat topik yang selalu mereka bicarakan mengenai tentang anak laki-laki
yang menunggunya di depan gerbang sekolah untuk menjemputnya dengan sepeda
motor.
Saat Shino tanpa sadar
memikirkan hal itu, Kazuto sadar ekspresinya yang melunak, dan mengangguk.
"Jadi, semua hal
mengenai insiden Death Gun sudah selasai, bukan?"
"Ya......Itu....Benar."
Shino juga perlahan mengangguk,
sebelum menutup mulutnya. Ada sesuatu, dia kelihatannya sedang mengingatnya
sesuatu dari ujung pikirannya dan mencoba menarik itu keluar, tapi sebelum dia
dapat melakukan itu, penjaga kafe itu datang dari dapur sebelum meletakkan dua
piring panas di meja.
Pemandangan dari
kacang merah yang berwarna merah mengkilap dengan potongan daging yang ditaruh
di bagian tengah membuat suara lapar dari perutnya, yang sudah memakan makan
siang. Shino mengambil sendok seolah-olah dia tertarik pada itu. Pada saat itu
juga, dia kembali sadar dan dengan cepat menarik tangannya sebelum mengatakan.
"Ah, A-Aku tidak
memesan ini."
Lalu, ekspresi nakal
samar-samar terlihat dari wajah kasar dari pemiliki kafe berbadan besar itu.
"Tidak apa-apa,
itu adalah traktiran....dari Kirito."
Pada saat Kazuto yang
mendengarnya membuka lebar mulutnya untuk memprotes, pemilik kafe tersebut
sudah kembali ke konter dengan tenang. Saat Shino mencoba untuk menahan
tawanya, dia mengambil sendok lagi sebelum sedikit melambaikannya pada Kazuto.
"Terima kasih
atas traktirannya."
"......Ya, tidak
apa-apa. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan sampinganku, jadi dompetku masih
penuh bagaimanapun juga."
"Heh, jadi kau
mengambil kerja sampingan? Pekerjaan apa itu?"
"Suatu hal yang
kukatakan sebelumnya tentang tidak makan dan minum selama tiga hari.
Sebenarnya, kita dapat berbicara tentang itu setelah menyelesaikan topik utama
kita hari ini selesai. Untuk sekarang mari kita makan selama itu masih
hangat."
Kazuto mengambil botol
kecil mustard dan menuangkannya secara banyak di pinggiran piring sebelum
memberikannya pada Shino. Shino juga melakukan hal yang sama lalu menggunakan
sendok untuk mengambil kacang merah pada mulutnya.
Rasa khas dan
sederhana dari masakan barat yang dapat terasa dari kacang merahnya, yang
sangat lembut bahkan sampai ke bagian dalam dan melepaskan rasa yang sangat
manis. Daging tebal yang tidak berlemak, yang terpotong kecil di dalam
mulutnya.
"Ini
juga.....Sangat enak."
Saat dia
mengatakannya, dia melihat ke arah Kazuto yang sedang makan dengan cepat
sebelum bertanya.
"Dia mengatakan
ini gaya Boston bukan? Bumbu jenis apa yang dipakai?"
"Hmmm.... Aku
melupakan namanya tapi, kelihatannya seperti sirup yang dibuat secara kasar.
Apa namanya, Agil?"
Pemilik kafe itu, yang
pergi kembali untuk menggosok gelas, menatap pada mereka dengan wajahnya
terangkat sebelum menjawab.
"Molasses."
"Yeah, itu
dia."
"Heh.... untuk
masakan Amerika, aku berpikir kau hanya tahu hamburger dan ayam goreng."
Bagian terakhir dari
perkataannya diubah menjadi bisikan, Kazuto memperlihatkan senyuman masam.
"Itu hanya
prasangka. Aku juga banyak berbicara dengan pria baik yang ada di sana."
"Ya, pastinya.
Beberapa hari yang lalu, aku sedang berbicara dengan perempuan dari Seattle di
server internasional GGO selama tiga jam. Ah―, tapi.... hanya dia yang tidak
bisa kumengerti....."
"Dia?"
Kazuto, yang sudah
menghabiskan lebih dari setengah makanan di piringnya, mengulangi kata tersebut
sementara masih mengunyah.
"Itu adalah topik
hari ini bagaimanapun juga. Kau tahu tentang turnamen final individual Bullet
of Bullet keempat minggu kemarin, bukan?"
Disingkat sebagai
«BoB», itu adalah nama untuk turnamen battle royale untuk menentukan siapa yang
terkuat di Gun Gale Online, Kazuto langsung mengangguk.
"Yeah, aku melihat
siaran langsung dengan semua orang. Oh, aku belum mengucapkan selamat kepadamu.
......Sebenarnya, ini mungkin hasil yang sedikit mengecawakan Sinon.
Bagaimanapun juga, selamat karena menjadi juara kedua."
"T.....Terima
kasih."
Dia memperlihatkan
wajah serius sementara mengatakan itu untuk menutupi perasaan malunya, lalu
dengan cepat melanjutkannya.
"Kalau kamu sudah
melihatnya siaran langsungnya maka ini akan jadi lebih cepat. Bahkan meskipun
pemenangnya adalah player dengan nama «Satrizer»......Dia, ini adalah kedua
kalinya dia menjadi pemenang."
Kazuto yang
mendengarnya berkedip beberpa kali, dan kesadarannya kelihatannya mengikuti
pandangannya menuju ke atas.
"Jika memikirkan
tentang itu.... Di arena BoB ketiga yang aku ikuti, kau memberitahu tentang player
dari Amerika yang hanya menggunakan pisau dan pistol tapi berhasil memenangkan
turnamen pertama......————Eh, tapi aku sangat yakin semenjak turnamen kedua,
servernya telah dibagi menjadi US dan JP, jadi itu tidak mungkin untuk
terhubung dari Amerika, bukan?"
"Seharusnya
memang seperti itu..... Sebenarnya, tidak ada player yang mendaftar dari
Amerika waktu turnamen kedua dan ketiga. Tapi di waktu ini entah dia entah
bagaimana bisa berhasil melewati pengamanannya, atau ada koneksi dari tim
manajemen.......Tapi, entah bagaimana dia diterima. Pasti kau akan menyadari
legenda «Satrizer» hanya dengan melihatnya bertarung sekali."
"Yeah. Bahkan
meskipun itu melalui layar siaran langsung, aku menyadari bahwa Sinon
bersemangat sekali."
Kazuto tersenyum pada
saat mengatakan itu.Shino menjadi cemberut sebelum menjawabnya.
"B-Bukan hanya
aku.Semua ketiga puluh peserta… bukan, karena dia tidak termasuk, semua kedua
puluh sembilan peserta bersemangat juga. Dan bahkan ada beberapa diantara
mereka yang kalah dengannya di turnamen pertama. Bahkan meskipun Amerika adalah
rumah dari FPS, tetapi menerobos masuk ke dalam babak battle royale GGO Jepang,
yang berasal dari mesin «The Seed»....namun ketika pertandingan itu
terbuka....."
"Suatu
pengulangan dari turnamen pertama...Bukan?"
Shino menggangguk
dengan menonjol dan menekuk menjadi bentuk ヘ. Sendok di tangan kanannya membawa satu potongan daging tebal
yang terakhir ke mulutnya, menikmati rasa yang sederhana namun dipenuhi dengan
dari makanan itu membuatnya mengatur ulang pikirannya, dan ingatan tentang
kejadian minggu lalu terlintas kembali.
"…Bahkan meskipun
hasilnya seperti itu, topik itu masih terus menjadi pembicaraan mengenai
kemenangan sempurnanya. Karena laki-laki itu, pada awalnya, tidak memiliki
senjata apapun."
"Eh…hanya dengan
tangan kosong?"
"Ya. Sebenarnya,
sebagai ganti dari senjata, dia memiliki skill «Army Combative». Dia
mengalahkan target pertamanya hanya dengan teknik gulat, merampas senjata dari
targetnya, lalu menggunakannya pada target selanjutnya…Dia hanya mengulangi hal
itu. Adegan dimana dia hanya menggunakan tangan kosong untuk mengalahkan player
lainnya ketika mereka sedang mereload senjatanya tidak hanya terjadi dua
ataupun tiga kali. Itu dapat dikatakan bahwa…pertarungannya berada pada dimensi
yang berbeda…."
Shino bergumam
sementara mengeluarkan nafas panjang, Kazuto melipat tangannya sebelum
menggelengkan kepalanya.
"Tetapi….
Singkatnya, build kekuatan Satrizer berdasarkan pada tipe serangan jarak
dekat, bukan? Jika seperti itu, dia seharusnya tidak dapat membalas serangan
dari jarak menengah atau jarak jauh, bukan? Sebaliknya, lebih dari setengah
dari semua GGO player adalah pemain bertipe seperti itu juga…"
"Kau…Kau
sebenarnya melihat adegan ketika aku kalah darinya, tidak?"
"Yeah, di ALO.
Ketika Satrizer mendekati tempat persembunyianmu dengan garis lurus dan kurang
dari 3 menit jaraknya, semua orang berteriak seperti『Bukan ke arah itu―!』atau『Sinon, di belakangmu―!』pada saat yang bersamaan."
"Yeah, seperti
itu."
Shino menghela nafas
besar panjang karena kekaguman dan di saat yang sama merasakan perasaan malu
pada kejadian yang terlintas dipikirannya, sebelum mengatakan dengan nada
tenang yang dapat dia katakan.
"Aku mendengar
dari sebelas orang yang telah dikalahkan secara langsung olehnya setelah
turnamen, hampir setiap orang dikalahkan dengan metode yang sama. Dia
seharusnya tidak memiliki data tentang mereka, namun dia dapat membaca dengan
jelas pergerakan mereka, saat dia menyergap mereka dalam jarak yang benar-benar
dekat, membunuh mereka tanpa memberi meraka waktu untuk menggunakan senjata
mereka. Aku tidak tahu tentang Amerika, tapi jauh sebelum seorang bertarung dengan
teknik gulat di server JP, bahkan seseorang menggunakan pisau untuk bertarung
belum pernah terjadi… "
"…Eh, aku
mendengar setelah turnamen ketiga, jumlah player yang menggunakan light saber
sudah meningkat juga…"
Pada Kazuto yang
samar-samar mengatakan hal itu, Shino secara tanpa sadar memperlihatkan
senyuman pahit.
"Itu… mereka
hanya mencoba meniru pertunjukan mengesankanmu. Memang benar bahwa di awal
tahun, ada beberapa player yang mencoba berlatih untuk memotong peluru dengan
light saber, tapi kelihatannya tidak ada satupun yang benar-benar dapat
melakukannya dengan sempurna."
——Bahkan meskipun dia
berkata seolah-olah itu tentang orang lain, Shino sendiri juga telah membeli
light saber berukuran kecil dan berlatih secara rahasia dengan mob tentara juga.
Sebagai hasil dari perjuangan satu bulannya, selain tembakan pertama dari
assault riffle yang cepat, dia masih belum bisa mencapai level yang dibutuhkan
untuk mempertahankan dirinya dari serangan peluru beruntun, dan setidaknya
mampu bertahan dari tiga tembakan beruntun, light saber itu tak bisa
digunakannya di pertarungan yang sebenarnya. Impian untuk mencapai level
Kazuto, yang dapat mempertahankan dirinya dari lebih dari 10 tembakan beruntun,
tetaplah berakhir sebagai impian, dan dia pada akhirnya menyerah. Light saber
itu sekarang hanya berperan sebagai jimat di dalam tempat penyimpannya.
Tetapi, jika saja
waktu itu, dia mengeluarkannya dari tempat penyimpanannya dan mengequipnya di
pinggangnya, dia berpikir jika dia mampu melukai Satrizer pada saat itu. Shino
segera menggelengkan kepalanya. Ini bukan saatnya untuk memikirkan itu.
Segera ganti pembicaraan, kembali ke topik.
"….Bagaimanapun
juga, tidak ada seorangpun JP player yang bahkan mampu membidikkan senapan
mereka padanya, lupakan menembaknya. Apa yang benar-benar mengerikan dari
Satrizer bukanlah teknik serangan jarak dekatnya, tapi kemampuannya untuk
memprediksi situasi pertempuran."
"Yeah....Aku
mengerti...Tapi, apakah sesuatu seperti itu mungkin….? Itu masih mungkin jika
melawan seorang pemula, tapi orang-orang yang berpartisipasi dalam pertempuran
utama BoB adalah para veteran, kesempatan untuk memprediksi tindakan mereka
dengan ketepatan seratus persen harusnya tidak mungkin ada…"
Pada perkataan Kazuto,
yang ekspresinya dipenuhi dengan keraguan, Shino mengangkat bahunya secara
perlahan sementara menjawab.
"Dia mengalahkan
lebih dari sepuluh orang dengan cara yang sama. Jadi itu sudah tidak dapat
dianggap sebagai kebetulan saja. Sebenarnya….bahkan meskipun mereka veteran,
mereka mungkin masih berada pada pola yang sama mengenai tindakan mereka. Untuk
daerah ini, mereka seharus mengambil posisi awal, atau menggunakan rute ini
untuk pergerakan mereka, itulah hal yang mungkin menjadi celah dari teori para
veteran itu." Saat dia berbicara, Shino merasa dia terlalu terlambat
menyadari sebuah fakta tertentu dan menghela nafas pelan.
Pada waktu itu, tepat
sebelum kesimpulan dari turnamen keempat BoB.
Shino, yang merupakan
orang terakhir yang melawan Satrizer, sementara berada di sebuah sniping point[4] bersama Hecate
II kesayangannya di atas lantai puncak dari bangunan yang sebagian besar telah
runtuh. Prediksinya adalah, dari jendela dari lantai itu dia seharusnya dapat
mengkonfirmasi posisi Satrizer, karena dia harusnya melintasi jalan yang ada
dibawahnya.
Tetapi, musuh telah
membaca prediksinya dan bersembunyi di dekat sniping pointnya di gedung yang
ada di depannya. Menunggu sampai dia menyiapkan senapannya di bipod dan
berbaring dalam posisi tiarap……mendekatinya dari belakang, seperti seekor
kucing yang menyerang mangsanya. Tetapi, Shino sebenarnya tidak ingin berada di
lantai paling atas, namun lantai yang berada di bawahnya,yang ketinggiannya
masih dapat menyediakan sudut yang cukup untuk melakukan tembakan. Alasan dia
tidak melakukannya adalah karena adanya sebuah perpustakaan di lantai bawah
itu. Ingatan yang terbangun kembali dari satu-satunya tempatnya bersantai di
waktu SMP telah mengganggu konsentrasinya. Di saat Shino menyadari bahwa dia
kehilangan pikirannya untuk sesaat, dia telah sampai di lantai paling atas. Dan
di dalam bayangan lantai itu, ada musuh yang telah menunggunya dengan sebuah
serangan kejutan….
Dengan kata lain,
Satrizer dapat memprediksi bahwa Shino tidak akan berada di lantai dengan
perpustakaan di dalamnya tapi dia akan mempersiapkan posisi sniping-nya di
lantai atasnya. Tetapi, alasan dia mengganti posisi sniping point-nya bukanlah
keputusan masuk akal yang diambil seorang sniper, tapi itu adalah sebuah alasan
pribadi secara keseluruhan. Bisa membaca tindakan sniper Sinon adalah satu hal,
tapi dia seharusnya tidak dapat melihat pada Asada Shino si kutu buku di dunia
nyata. Mungkinkah itu hanya sebuah kebetulan Satrizer memutuskan untuk
mengambil lokasi persembunyian di lantai atas di bangunan yang sama? Ataukah
dia melihat perpustakaan itu dan meyakini bahwa Shino tidak akan memilih tempat
itu untuk suatu alasan……?
Jika alasan kedua
adalah jawabannya, dia tidak memiliki dasar prediksinya berdasarkan data
ataupun pengalaman. Tapi melalui sesuatu yang melampaui kategori skill dalam
player VRMMO game…yaitu membaca pikiran orang lain....
"....non. Oi,
Sinon."
Dengan ujung jari dari
tangan kanan yang terulur dan berada di tengah udara, Shino meringis dan
mengangkat wajahnya. Saat matanya bertemu dengan wajah cemas Kazuto, dia dengan
cepat berkata.
"Ah…..M-Maaf?
Sampai dimana kita bicara barusan?"
"Pola gerakan
player veteran, dan teorinya."
"O-Oh.
Baiklah...Yeah, untuk alasan itu…aku berpikir player yang tidak menggunakan
pola- pergerakan itu, yang tindakannya tidak berdasarkan pada teori, seharusnya
mampu untuk mengambil posisi di belakang Satrizer...."
Dia berkata seperti
dengan sikap setengah otomatis, saat dia akhirnya memahami dasar dari alasan
dia memanggil Kazuto hari ini. Dia mengganti suasana hatinya, dan meminum air
dingin dari gelas, yang dimana es di dalamnya hampir seluruhnya telah mencair,
tapi hawa dingin yang menusuk punggungnya tidak akan hilang dengan mudah.
Ya.... Dia perlahan
merangkak dan menangkap Shino dari belakang, mengalahkannya hanya dalam waktu
beberapa detik, saat Satrizer menghentikan pernafasannya dan di berada di
perbatasan dari kehilangan garis terakhir dari HP gauge-nya, dia berbisik
dengan suara pelan. Pada saat itu, dia tidak dapat memahami arti dari bisikan
dalam Bahasa Inggris, yang hampir seperti bisikan pelan, dan sekarang kata-kata
itu kembali terdengar di dalam telingannya di saat dia memikirkan tentang hal itu.
『Your soul will be so sweet.』
Itu memiliki arti yang
tidak biasa. Di dalam sebuah net game PvP, itu akan menjadi pidato yang
dikatakan seseorang di akhir pertarungan, atau hanya sebuah ucapan selamat
tinggal kasar yang dikatakan oleh banyak player. Hanya roleplaying, hanya itu
saja.
Setelah mendengarkan
dirinya mengatakan itu, Shino dengan santai membuka kembali pembicaraan mereka
dengan nada gembira.
"....Jadi
berbicara mengenai seseorang yang menantang teori, «tanpa alasan-tanpa
perasaan-tanpa kepedulian», bukankah hanya nama satu orang yang akan muncul?
Ini mungkin sedikit terlalu awal, tapi aku memikirkan memesan tempat dalam BoB
kelima untuk orang itu——"
Dia lalu membuat
tangan kanannya menjadi bentuk sebuah pistol, dan mengacungkannya pada Kazuto yang
duduk di depannya.
"Jadi, undanganku
itu untukmu."
"E….Ehhh,
aku?"
Saat dia
memperlihatkan senyuman kepada temannya yang terkejut, dia memberikan pidato
yang telah dipersiapkannya di waktu yang sama.
"Tentang itu, aku
tidak akan mengatakan suatu hal yang tidak beralasan seperti memintamu untuk
menconvert karaktermu dari ALO ke GGO lagi, Aku hanya meyakini bahwa kau
sedikit memiliki hutang padaku. Hei, setelah itu, apakah senjata legendaris itu
nyaman untuk digunakan?"
"Uu."
Kazuto——pedang emas
panjang Kirito, «Excaliber» yang dia miliki di «ALfheim Online» adalah apa yang
Shino ambil tepat sebelum pedang itu menghilang menuju lubang tanpa dasar.
Seolah-olah dia telah menghadiahkannya item yang benar-benar langka, yang
mungkin hanya ada satu di setiap server, dia memiliki hak untuk mengatakan
sesuatu sesuai keinginanya. Juga, itu akan menarik bagi Kazuto untuk mampu
bertarung melawan seorang musuh yang kuat.
Seolah-olah dia tidak
ingin mengkhianati harapan Shino, Kazuto menjelaskan suaranya sebelum berbicara.
"Aku juga
memiliki perasaan untuk menginginkan bertarung melawan Satrizer… Tapi, aku
berpikir alasan utamanya adalah aku, yang merupakan pemula dalam mengunakan
senjata api, memiliki kesempatan untuk berdiri di turnamen terakhir, karena
peserta yang lain belum berpengalaman dalam pertarungan melawan seorang
pengguna pedang. Tetapi, setelah mendengarkan ceritamu hingga sejauh ini,
Satrizer kelihatannya adalah ahli pertarungan jarak dekat selain seorang ahli
menembak, bukan? Aku berpikir apakah aku punya kesempatan untuk menang…."
"Apa maksud dari
komentar lemah itu, ini sama sekali tidak seperti dirimu. Memang benar dia
kuat, tapi dia masih seorang player VRMMO, berbicara seperti pro vs amatiran
itu hanya…."
"Ya, seperti
itu."
Kazuto menyandarkan
punggungnya pada kursi kayu bergaya kuno itu, dengan tangannya diletakkan di
belakang kepalanya.
"Apakah Satrizer
benar-benar seorang amatir…benar-benar hanya seorang VRMMO player?"
"…Apa maksudmu?
Jika dia bukan seorang player maka siapa sebenarnya dia?"
"Seorang
professional. Yang tujuannya bukan untuk bermain, tapi untuk berlatih dalam
pertarungan senjata api. Seperti seorang prajurit… atau anggota satuan khusus
kepolisian."
"Eh―!? Kau tidak
dapat mengatakan sesuatu seperti itu?"
Pada saat Shino yang
memperlihatkan sebuah senyuman pahit saat dia meyakini bahwa tadi adalah
lelucon, Kazuto tetap mempertahankan ekspresi saat dia melanjutkan.
"Aku membacanya
dari situs berita jadi aku masih tidak mengetahui detail secara
keseluruhnya...tapi, kelihatannya tentara dan kepolisian di beberapa negara,
juga perusahaan pertahanan swasta dan sesuatu seperti itu telah menerapkan
teknologi FullDive ke dalam latihan mereka. Setelah mengasah skill mereka di
dalam dunia virtual, bukankah dapat kau berpikir bahwa mungkin saja seorang
yang disebut professional itu mengetes kemampuannya dengan berpatisipasi dalam
BoB?"
".....Itu, tidak
mungkin ...."
Saat Shino hendak
mengatakan bahwa Kazuto terlalu banyak membaca pada itu, Dia mengingat kembali
ketajaman kemampuan membaca pikiran Satrizer dan kehalusan dari pergerakannya.
Cara bertarungnya dapat dideskripsikan sebagai sebuah mesin petarung, berpikir
tentang itu, itu sudah pasti bahwa itu melampaui level seorang gamer amatiran.
Tetapi, jika orang itu
benar-benar seorang prajurit professional atau polisi, kenapa dia membisikan
kata-kata itu tepat sebelum dia mengalahkan targetnya? Your soul will be so
sweet, untuk berkata sesuatu seperti itu....dia memang benar-benar seorang
«Professional» namun daripada seorang prajurit, dia adalah seorang pembunuh
bayaran.......
Pada titik itu, Shino
secara paksa menghentikan pemikirannya. Semua dunia virtual termasuk GGO ada
untuk tujuan bersenang-senang. Itu tak ada hubungannya dengan seseorang seperti
Satrizer di dunia nyata. Berikutnya, jika dia bertemu dengannya di medan
pertempuran, dia akan menembaknya hingga tubuhnya hancur dengan kaliber lima
puluh miliknya. Seolah-olah dia puas dengan keputusannya, dia mengatakan
pernyataan yang jelas.
"Tidak peduli
siapapun dia, di GGO kondisi kita semua sama! Aku tidak akan kalah pada lawan
yang sama untuk kedua kalinya,a ku pasti akan menang di waktu berikutnya, aku
akan menggunakan semua metode untuk mencapainya!"
"...«Metode» itu
adalah aku, bukan?"
"Salah satu
metode, lebih tepatnya."
Hah? Sementara Kazuto memperlihatkan
ekspresi wajah yang seperti mengatakan itu, Shino memperlihatkan sebuah
senyuman sementara dia memberikan penjelasan tambahan.
"Itu akan
mengkhawatirkan jika kau sendirian saja melawan seorang ahli pertarungan jarak
dekat, jadi aku sebenarnya memanggil orang lain ke sini. Tapi dia sebagian
besar berperan sebagai penahan, mencegahmu untuk tidak berlarian secara tidak
teratur, dengan kata lain sebuah pengatur."
"P
-Pengatur?"
Kazuto yang mengulangi
kata itu, kelihatannya dapat merasakan sesuatu dari kata itu, Gatan, kursinya
mengeluarkan suara seperti itu saat dia memperbaiki posisi duduknya. Dia lalu
mengeluarkan sebuah mobile terminal tipis dari sakunya, menggerakkan jarinya di
atas layarnya. Dia lalu mengangkat wajahnya dan mengatakan sesuatu pada Shino
dengan senyuman pahit.
"Aku
mengerti."
"…Apa yang kau
lihat?"
Kali ini Shino
memiringkan kepalanya. Kazuto lalu menaruh terminal tadi di atas meja, dan
menyorongkannya secara perlahan pada Shino. Melihat pada monitor empat inci
dengan ketepatan yang tinggi itu, dia melihat peta area Okachimachi dengan
coffee shop ini sebagai pusatnya. Ada setitik cahaya biru yang berkedip
sepanjang rute dari arah stasiun menuju toko ini.
"Apa titik biru
ini?"
"Orang yang
sedang Sinon tunggu akan segera datang. Sekitar seratus meter lagi."
Itu seperti yang
Kazuto katakan, titik cahaya tadi bergerak menuju toko ini. Menyeberangi
perempatan, memasuki gang, sampai di bagian tengah peta tadi, dan pada saat itu
juga.
Kararan,bel pintu itu
berbunyi, Shino mengangkat wajahnya. Seseorang yang memasuki toko itu melipat
payungnya, rambut panjang chestnutnya terurai ke bawah pada saat dia melihat ke
arah Shino. Dari sini, sebuah senyuman cerah terlihat seolah-olah musim hujan
ini telah berakhir sedikit lebih awal.
"Yaho―, Sinonon!"
Bagian
2
Saat nama panggilan
yang tidak pernah dipanggil darinya lagi begitu selama lebih dari 5 tahun,
Shino dengan hati-hati berdiri sambil memperlihatkan sebuah senyuman cerah.
"Asuna,
halo."
Yuuki Asuna membuat
suara bersemangat dari alas lantai kayu yang asli ketika dia berjalan di
atasnya, kedua gadis itu menghubungkan jari-jari mereka satu sama lain dalam
sebuah suasana reuni yang menyenangkan. Sementara mereka berdua duduk di kursi
yang saling bersebelahan, Kazuto, yang menunjukkan sedikit ekspresi kekaguman
bertanya.
"Kalian
berdua…sejak kapan kalian menjadi sedekat ini?"
"Huh? Sebulan
yang lalu aku bahkan menghabiskan malam dengan menginap di rumah Asuna."
"A-Apa!? Dan aku
bahkan belum pernah sekalipun berkunjung ke rumahnya."
"Bukannya Kirito-kun
adalah seseorang yang mengatakan "aku harus mempersiapkan pikiranku
terlebih dahulu" dan melarikan diri?"
Sementara Asuna
menjadi sedikit merengut, Kazuto meminum Caffè Shakeratonya dalam sikap malu.
Pada kondisi itu, Asuna tidak dapat melakukan apapun selain dari tersenyum
seolah-olah dia berpikir "Tidak ada yang dapat dilakukan" lalu dia
menyadari Agil, yang memberikan segelas air dingin dan handuk padanya, jadi dia
segera berdiri, bangkit dari kursinya sebelum segera menunduk.
"Maaf karena aku
baru datang untuk waktu yang lama, Agil-san."
"Selamat
datang——Ini benar-benar mengingatkanku waktu ketika kalian berdua menginap di
lantai dua tokoku."
"Bahkan meskipun
kau berkata begitu, tapi kita masih menumpang di tokomu di Yggdrasil City
sampai saat ini…Hmm, apa yang harus aku pesan hari ini…"
Saat Asuna, yang
kelihatannya adalah teman lama dari si pemilik toko bertubuh besar ini, melihat
daftar menu yang sangat banyak, Shino mengintip lagi ke arah mobile terminal
Kirito yang berada di atas meja. Blip[6] berwarna biru
itu masih tetap berada di tempatnya, dengan tepat menutupi lokasi dari coffee
shop ini.
"…. Kalau begitu,
aku akan memesan Ginger Ale. Yang paling pedas."
Setelah Asuna
menyelesaikan pesanannya dan Agil kembali ke konter, Shino berkata sementara
tersenyum.
"Hei, apakah
kalian berdua saling memonitor koordinat GPS kalian masing-masing? Kelihatannya
kalian berdua memiliki hubungan yang sangat baik."
Kazuto lalu
memperlihatkan tatapan serius sementara dia melambaikan tangan kanannya sambil
berkata "Tidak, tidak, tidak."
"Itu hanya
memperlihatkan koordinat secara lengkap dari terminal Asuna, dan juga itu tidak
membutuhkan pengoperasian dari Asuna, tapi punyaku tidak sederhana seperti itu.
Asuna, perlihatkan itu padanya."
"OK."
Asuna menggangguk dan
mengeluarkan mobile terminal miliknya dari tas yang tergantung di belakang
kursi, sebelum menyerahkan itu dalam mode layar standby kepada Shino. Saat dia
menerimanya dan melihat, monitor yang terpasang dengan wallpaper animasi yang
manis.
Di bagian tengah dari
layar tersebut terdapat hati merah muda yang terikat dengan pita merah, yang
berdetak dalam jarak waktu sekitar satu detik sekali. Di bawah hati itu
terdapat dua baris dari beberapa angka, yang artinya tidak dimengerti oleh
Shino. Angka [63] di sisi kiri terlihat dengan ukuran besar, dan angka [36.2]
yang lebih kecil berada di sisi kanan. Sementara Shino memiringkan kepalanya,
angka di sisi kiri naik menjadi 64.
"Apa
itu...."
Di saat Shino hendak
bertanya "Apa itu sebenarnya", Kazuto yang kelihatan malu berkata,
"Jangan menatapku seperti itu." Dan pada saat itu, Shino akhirnya
menyadari arti dari layar standby ini.
"Ehh…. Ini….mungkinkah
ini….detak jantung dan suhu tubuh Kirito?"
"Itu
benar―Seperti yang diharapkan dari Sinonon, kau memiliki intuisi yang
bagus."
Asuna berkata sambil
bertepuk tangan. Setelah Shino mengalihkan pandangan matanya diantara mobile
terminal dan wajah Kazuto beberapa kali, dia menanyakan pertanyaan pertama yang
terlintas di dalam pikirannya.
"T-Tapi….
Bagaimana jenis mekanismenya…?"
"Ada di sini
dibawah kulitku…"
Kazuto menyentuh pada
bagian yang hampir berada di bagian tengah dadanya dengan ibu jari kanannya.
Dia kemudian mengulurkan tangannya pada Shino, dan membuat celah berukuran
sekitar lima millimeter menggunakan dua jarinya.
"Ini adalah
sensor sangat kecil yang tertanam. Dia memonitor detak jantung dan suhu tubuh,
dan mengirimkan datanya ke terminal mobileku melalui radio. Dari itu, hampir
semua informasi di waktu yang sekarang dikirimkan ke terminal Asuna melalui
jaringan."
"Ehhh, sensor
tubuh?"
Kali ini Shino yang
benar-benar terkejut, saat dua menjadi tidak dapat mengatakan apapun selama
sekitar 2 detik sebelum mulai untuk berbicara.
"K-Kenapa kau melakukan
hal seperti itu… Ah, apa mungkin itu sebuah sistem pencegahan
perselingkuhan?"
"T-Tidak,
tidak!"
"Tidak—!"
Reaksi Kazuto dan
Asuna benar-benar sama secara sempurna saat mereka menggelengkan kepala mereka
berulang kali.
"Tidak, itu
adalah ketika aku mulai melakukan pekerjaan sampingan ini, mereka menyarankan
agar aku menanamkam benda ini, karena akan jadi sangat merepotkan untuk
menempelkan elektroda setiap hari. Setelah aku memberitahu Asuna tentang itu,
dia secara kuat mendesakku untuk mendapatkan data vital itu. Dia lalu memaksaku
untuk memasangkan aplikasinya, dan menginstallnya di terminalnya."
"Itu karena―aku
tidak ingin dari suatu perusahaan yang tidak diketahui memonopoli data
kesehatan Kirito-kun. Aku menolak menanamkan sesuatu yang asing ke dalam
tubuhnya pada awalnya."
"Eh, bukankah kau
kelihatan senang kapanpun kamu melihat monitor itu setiap waktu ketika kamu
memiliki waktu bebas, jadi kenapa kau mengatakan hal tersebut?"
Pada perkataan Kazuto
tersebut, pipi Asuna samar-samar menjadi berwarna merah.
"Aku entah
bagaimana merasa tenang ketika melihat pada itu. Memikirkan jantung Kirito-kun
yang sedang berdetak, seolah-olah kita sedang berjalan bersama-sama…."
"Uwa, Asuna, itu
terdengar sedikit berbahaya entah bagaimana."
Sementara Shino
tertawa, dia menatap pada terminal yang ada di telapak tangannya sekali lagi.
Detak jantung itu telah bertambah cepat menjadi 67, sementara itu suhu tubuhnya
juga sedikit bertambah. Meskipun Kazuto membuat ekspresi kosong saat dia
meminum air itu dengan cepat, data ini menunjukkan bahwa dia sebenarnya sangat
malu.
"Hahaha, aku
mengerti….Itu benar…Entah kenapa…Itu akan sangat bagus…."
Ketika dia menyadari
dia tanpa sengaja bergumam seperti itu, Shino dengan cepat mengangkat wajahnya,
dan menggelengkan kepalanya pada Kazuto dan Asuna yang berkedip karena
terkejut.
"Ah,
tidak…Itu…Tidak ada arti dibalik itu, seperti itu. Sebenarnya…G-GGO juga
memiliki sensor detak jantung, itu adalah tambahan untuk situasi pertempuran
dengan jarak penglihatan yang buruk, itu tidak memiliki penambahan yang feminim
seperti ini, itulah apa yang baru saja aku pikirkan."
Sementara dia dengan
cepat mengembalikan terminal itu ke tangan Asuna, dia melanjutkan berbicara.
"O-Oh, aku hampir
lupa topik utama hari ini. Hmm, aku bertanya pada Asuna melalui email tentang
turnamen kelima di GGO, bisakah kamu berpartisipasi? Karena ini melibatkan mengkonversi
karakter, aku tidak memaksamu untuk menyetujui melakukan hal itu."
"Ah, tentang itu,
sama sekali tidak masalah. Aku memiliki sub-account di ALO jadi rumah dan item
dapat ditinggalkan pada account itu untuk diurus."
Senyuman bahagia Asuna
dan nada yang halus membawa kembali Shino menuju keadaan tenangnya, dia
mengambil nafas dalam sebelum berkata.
"Terima kasih,
dengan bantuan Asuna, itu akan seperti memberikan sebuah pemukul besi kepada
ogre, atau memasang senapan mesin di dalam bunker. Aku berpikir kau akan
membutuhkan beberapa hari waktu untuk berlatih menggunakan photon sword untuk
mengejar waktu."
"Ya, aku akan
mengkonversi karakter sekitar satu bulan sebelum turnamen, aku akan
membutuhkanmu untuk memanduku menuju ke kota jika memang begitu."
"Tentu saja.
Makanan di GGO juga tidak bisa diabaikan. Kalau begitu….mungkin ini sedikit
terlalu awal, tapi aku akan berada dalam penjagaanmu."
Tangan kanan Shino
yang terulur ditutupi oleh jari ramping Asuna. Setelah saling mengenggma tangan
mereka satu sama lain dengan erat, Shino mengetuk permukaan meja dengan
tangannya sekali.
"Jadi, topik
utama sekarang telah mencapai kesimpulannya. Mari lihat, berikutnya..."
Dia berkata saat dia
menatap pada wajah Kazuto, sementara dia masih mengunyah es yang tersisa dari
sisi meja yang berlawanan.
"Haruskah kita
mendengarnya secara hati-hati sekarang? Tentang pekerjaan sampinganmu yang
mencurigakan. Pekerjaan jenis apa itu? Tapi bahkan jika kita bertanya, mengenai
Kirito, kemungkinan itu akan menjadi alpha testing dari suatu jenis game VRMMO
baru."
"Sebenarnya, itu
sama sekali tidak benar, tapi itu tidak jauh dari hal itu."
Kazuto menggangguk
saat dia memperlihatkan senyuman pahit, kemudian menyentuh sensor mikro yang
tertanam di bagian atas dari jantungnya dengan ujung jarinya.
"Bagian test
player memang benar. Tapi apa yang aku test bukanlah aplikasi game, tetapi
sebuah BMIBrain Machine Interface dari FullDive sistem yang baru."
"Heh!"
Shino terkejut,
sementara pandangan matanya masih menatap pada Kazuto.
"Itu berarti, generasi
selanjutnya dari Amusphere akhirnya akan segera dirilis? Jangan-jangan, sebagai
tester untuk perusahaan milik ayah Asuna?"
"Salah, ini tidak
ada hubungannya dengan RECTO. Bagaimana aku mengatakannya….entah bagaimana aku
masih tidak mengerti gambaran keseluruhan tentangi perusahaan itu…Itu adalah
perusahaan tidak terkenal yang namanya aku belum pernah dengar sebelumnya, dan
juga perusahaan itu memiliki dana yang cukup banyak yang mampu memenuhi
anggaran pengembangannya. Mungkin ada sebuah organisasi besar yang membantu
mereka dalam hal pendanaan..."
Melihat ekspresi wajah
Kazuto yang tidak jelas, Shino memiringkan kepalanya ke kanan dan bertanya.
"Heh....Apa nama
perusahaannya?"
"«RATH»"
"Itu terdengar
sangat biasa, tapi aku juga belum pernah mendengar nama perusahaan seperti itu
sebelumnya. Hmm, apa ada istilah Bahasa Inggris untuk nama itu…?"
"Aku memikirkan
hal yang sama juga, Asuna mengetahui tentang itu bagaimanapun juga."
Duduk di samping
Shino, Asuna meminum ginger ale-nya sebelum mengganguk dan menjawab.
"Dalam 『Melalui Kaca Yang Terlihat, dan Apa Yang Alice Temukan Disana』terdapat sebuah kalimat pada 『Jabberwocky』yang mengatakan ada makhluk yang keluar dari dalam mimpi.
Kelihatannya makhluk itu di gambarkan sebagai seekor babi atau seekor kura-kura."
"Hehhh…."
Bahkan mekipun itu
adalah buku yang pernah dia baca di waktu yang dulu, dia tidak terlalu
mengingat kalimat seperti itu sama sekali. Shino membayangkan makhluk aneh
dengan kepala babi yang menjulur keluar dari tempurung lingkaran, sembari ia
lanjut bertanya,
"RATH…kalau
begitu, mereka adalah perusahaan independen yang bertujuan mengembangkan mesin
FullDive generasi selanjutnya untuk dijual? Tapi bukankah pengembangan
Amusphere telah dilakukan oleh beberapa perusahaan?"
"Tidak, aku tidak
berpikir seperti itu…."
Kazuto bergumam dalam
nada tidak berganti, nada tidak jelas.
"Mesin utamanya
sangat besar. Menambahkan dengan konsol dan peralatan pendinginnya secara
keseluruhan, itu dapat dengan mudah memenuhi seluruh ruangan ini….Meskipun
mesin eksperimen FullDive generasi pertama memang sebesar itu, mulai dari situ,
ukuran Nerve Gear akan tetap sama untuk lima tahun mendatang. Dan Amusphere 2
(sementara) yang pengembangan utamanya dipimpin oleh Recto akan dijual tahun
depan juga…oops, itu seharusnya adalah sesuatu yang dirahasiakan."
Sementara Kazuto
mengangkat bahu, Asuna memperlihatkan senyuman kecil sebelum berbicara.
"Tidak apa-apa,
mereka akan mengumumkan hal itu di Tokyo Game Show bulan depan bagaimanapun
juga."
"Ah, jadi RECTO
akan ikut berpartisipasi juga…Aku berharap itu tidak akan terlalu mahal…."
Asuna menatap Shino,
yang matanya melihat ke atas, anak perempuan dari direktur perusahaan itu
kemudian membuat eskpresi serius yang sama dan mengangguk dengan dalam.
"Aku berharap
seperti itu juga―Namun untuk sekarang ini harganya masih belum
diputuskan…Sebenarnya, meskipun aku telah puas dengan ALO dan benar-benar tidak
memiliki rencana membeli perangkat yang baru, mereka mengatakan bahwa perangkat
baru ini akan memiliki kecepatan penghubung yang jauh lebih tinggi. Dan itu
akan cocok dengan softwarenya juga."
"Jadi begitu.
Kuu―, seharusnya aku mencari pekerjaan sampingan juga…″
Mengkesampingkan data
di buku tabungan yang muncul di dalam pikirannya, Shino melanjutkan untuk
menanyakan Kazuto pertanyaan lainnya.
"……Baiklah, jadi
mesin FullDive besar perusahaan RATH tadi tidak dimaksudkan untuk penggunaan
rumah? Apakah itu untuk penggunaan bisnis?"
"Tidak, aku pikir
itu belum sampai pada tingkatan seperti itu.Pertama, secara tegas dapat
dikatakan, mesin itu sebenarnya menggunakan teknik FullDive yang berbeda."
"Berbeda...?
Bukankah ini tentang menciptakan sebuah dunia VR menggunakan poligon, dimana
seorang user dapat Dive ke dalamnya? Apa yang kau rasakan di dalam dunia
itu?"
"Aku tidak
tahu."
Kazuto mengangkat
bahu, lalu mengatakan sesuatu yang tidak terduga dengan nada biasa saja.
"Dikarenakan
perlindungan keamanan, ingatan dari dunia yang dibuat oleh mesin itu tidak
dapat dibawa keluar ke dunia nyata. Semua hal yang kulihat atau yang kulakukan
saat test, aku sekarang ini tidak memiliki satupun ingatan tentang itu."
"H….Hah!?"
Shino tanpa sengaja
berteriak dengan suara keras, kemudian menurunkan suaranya sebelum bertanya.
"Tidak dapat
membawa keluar…Ingatan? Sesuatu seperti itu…Bagaimana mungkin? Apa mungkin
bahwa kau dihipnotis setelah kau menyelesaikan testnya?"
"Tidak, tidak,
itu hanya murni menggunakan mekamisme elektonik. Tidak...itu dapat disebut
sebagai quantum......"
Kazuto yang memotong
kata-katanya sendiri kemudian memandang sekilas pada mobile terminal yang
berada di atas meja.
"Jam setengah
lima, huh. Sinon, Asuna. Apa kalian masih memiliki banya waktu? "
"Ya."
"Itu sama sekali
bukan masalah untukku."
Saat mereka berdua
menggangguk pada saat yang bersamaan, Kazuto menyandarkan punggungnya pada
sandaran kursi kayu antic itu——
"Baiklah kalau
begitu, biarkan aku memulai penjelasan dari dasarnya. Pertanyaan
mengenai….teknologi «Soul Translation»."
Kazuto mengatakan
sesuatu kata yang tidak dikenalnya secara perlahan.
Entah kenapa, itu
terdengar seperti nama sihir di dalam game. Shino berpikir seperti itu.
Dia merasa tidak nyaman mendengar kata-kata yang berhubungan dengan teknologi
terbaru. Asuna di sampingnya sedikit memiringkan kepalanya saat dia berguman
bergumam.
"Jiwa....?"
"Pertama kali aku
mendengarnya, aku juga berpikir bahwas itu adalah nama yang sedikit berlebihan
juga."
Kazuto dengan perlahan
mengangkat bahunya sebelum melemparkan sebuah pertanyaan secara mendadak.
"Pikiran manusia,
dimana kau pikir itu berada?"
"Pikiran?"
Shino hampir menyentuh
bagian tengah dari dadanya secara refleks, dia kemudian menjelaskan suaranya
saat dia menjawab.
"Di dalam
kepala...otak, bukan?"
"Kalau begitu
mari kita memperbesar otak itu, dimana pikiran itu seharusnya berada
sekarang?"
"Dimana..."
"Otak, atau dengan
kata lain, kumpulan dari sel otak. Lihat ini…"
Kazuto mengulurkan
tangan kirinya dengan jarinya yang terulur menuju Shino. Dia lalu menyentuh
bagian tengah telapak tangannya dengan jari telunjuk kanannya, sebelum
menggerakan jari tersebut di seluruh telapak tangannya.
"Yang berada di
bagian tengsh adalah nucleus, dan yang membungkusnya adalah badan sel…"
Setelah menyentuh
kelima jarinya satu sama lain, dia menarik garis dari pergelangan tangannya
menuju sikunya.
"Ini semua adalah
dendrit, yang terhubung dengan Akson menghubungkan sel ini menuju
sel selanjutnya. Dimanakah pikiran berada di dalam struktur sebuah sel otak
ini? Di nukleus ?Mitokondria ?"
"Hmm….."
Asuna menjawab sebagai
pengganti dari Shino, yang sedang berguman.
"Kirito-kun,
bahkan meskipun kau baru saja mengatakan «menghubungkan sel ini menuju sel
selanjutnya», bukankah pikiran adalah suatu jaringan yang menghubungkan banyak
sel otak secara sekaligus. Hampir sama seperti…pertanyaan tentang «Apa itu
internet», jawabannya tidak akan muncul bila hanya memperhatikan satu komputer
saja."
"Yeah."
Sementara mereka
kelihatannya mendapatkan gambaran tentang itu, Kazuto mengangguk dengan dalam.
"Jaringan sel
otak sudah pastinya adalah pikiran itu.Aku juga berpikir bahwa ini adalah
jawaban yang tepat dalam situasi seperti sekarang ini. Tetapi…sebagai
contohnya, untuk pertanyaan «Apa itu internet», jika diselidiki secara
mendalam, berbagai macam jawaban dapat diperoleh. Seperti, internet adalah
struktur dimana komputer di seluruh dunia ini terhubung satu sama lain
berdasarkan pada sebuah protokol umum——"
Dia lalu menunjuk pada
mobile terminal Asuna dan miliknya yang berjajar di atas meja secara
bersebelahan.
"Begitulah,
setiap komputer adalah komponen dari internet. Sebagai tambahan, itu dapat
dikatakan user yang berada di depan komputer termasuk bagian dari internet
juga."
Pada titik ini Kazuto
berhenti sejenak, setelah mengatakan "Berikan aku sedikit dari itu.",
dan meminum Ginger Ale Asuna, lalu dia menutup matanya.
"Oo….seperti
biasanya, rasa pedas sini benar-benar sangat panas."
"Ini benar-benar
berbeda dibanding dari membelinya dari supermarket, bukan? Bahkan meskipun
kelihatannya dasarnya adalah cocktail, aku menyukai rasa kuat dari jahe
ini."
Shino mengingat
kembali rasa pedas ginger ale dari setengah tahun yang lalu, pertama kalinya
dia memesannya dikarenakan saran Kirito. Tanpa menemuinya di GGO, dia tidak
akan pernah melangkahkan kakinya ke dalam toko ini, yang tidak terlihat ramah
dari luar, dan perkembangan dari semua hal semenjak waktu itu dapat dianggap
sebuah keajaiban…Sementara dia menahan perasaan itu jauh di dalam hatinya,
Shino melanjutkan topik pembicaraannya.
"Kalau
begitu…..Bagaimana pikiran manusia dan internet saling berhubungan?"
Setelah mengembalikan
gelas itu pada Asuna, Kazuto mengangguk sekali lagi sebelum menggunakan
tangannya untuk membuat sebuah bentuk.
"Baiklah——Hmm,
jika koneksi diantara sebuah server dan sebuah router, PC dan mobiles yang
terlihat seperti jaringan makan inilah «bentuk» dari internet...."
"Bentuk…"
"Kalau begitu,
apa «intinya»?"
Shino berpikir sejenak
sebelum membuka mulutnya.
"Singkatnya, itu
adalah apa yang mengalir dalam bentuk itu…di dalam struktur jaringan…?
Sinyal-sinyal elektris….?"
"Mungkin juga
seperti itu, karena sinyal elektris atau sinyal cahaya adalah media yang tetap.
Inti dari jaringan adalah bagaimana itu semua mengalir sepanjang struktur itu
dan menyampaikan informasi…Mari untuk sementara kita mengambil penjelasannya
disini."
Setelah dia selesai
membuat gerakan dengan menggunakan kedua tangannya sampai titik ini, Kazuto
meletakkan tangannya di meja dan mempertemukan jari-jari rampingnya.
"Lihat, seperti
yang kukatakan sebelumnya, jaringan dari ratusan milyar sel otak saling
terhubung bersama-sama….Sekarang lihatlah «bentuk» dari pikiran, apakah «inti»
dari pikiran?"
"Media…dengan
kata lain, aliran dari gelombang elektris di sepanjang sel-sel otak…adalah
informasinya?"
"Bukan, gelombang
listrik itu, seperti ini..."
Kazuto membawa tangan
kanannya mendekati telapak tangan kirinya yang terbuka.
"Synapse[11] pada celah
diantara neuron dan neuron, adalah pemancar tunggal substansi. Untuk proses
merambatnya sepanjang rute dari sel-sel otak, dapatkah fenomena itu disebut
sebagai inti dari pikiran?"
"Hmm…."
Di saat yang sama
Shino mengerutkan dahinya, Asuna tersenyum dengan sikap yang kebingungan saat
dia berkata.
"Hal-hal yang
lebih dari ini sudah tidak mungkin lagi, Kirito-kun~ Karena sampai sekarang,
sains masih belum mampu menemukan jawaban ‘apa itu pikiran’ bukan?"
"Sebenarnya, itu
mungkin saja benar."
Kazuto pada akhirnya
tersenyum saat dia mengangguk.
"H-Hah!? Tunggu,
ide yang dikemukakan sampai titik ini masih belum bisa memecahkan apapun,
bukan?"
Sementara Shino
menjadi marah dan memprotes, Kazuto mengambil kesempatan itu untuk melihat ke
arah jalanan yang basah, sebelum melanjutkan berbicara dengan nada serius.
"Tetapi, ada juga
manusia yang mendekati jawaban itu dengan teori mereka sendiri."
"Teori…mereka
sendiri."
"«Quantum brain
dynamics». Itu kelihatannya telah dikemukan di akhir abad sebelumnya oleh
seorang mahasiswa Inggris. Setelah melakukan penelitian mengenai dasar teori
itu untuk waktu yang lama, «RATH» akhirnya berhasil menciptakan mesin yang
terlihat seperti monster itu… ——Mulai dari titik ini hingga seterusnya, aku
masih belum sepenuhnya dapat memahami hal itu. Beberapa saat yang lalu, kita
membicarakan mengenai struktur dari sel otak bukan."
Shino dan Asuna
menggangguk pada saat yang bersamaan.
"Sel itu sendiri
juga memiliki sebuah kerangka untuk menahan strukturnya. Kelihatannya itu disebut
sebagai «Microtubules». Fungsi dari kerangka itu bukan hanya untuk menahan,
tapi itu juga bertindak seperti tulang juga. Otak di dalam sel otak."
"H-Hah……?"
"Tulang itu
memiliki bentuk tabung, dengan kata lain, pipa berongga. Tentu saja itu sangat
kecil sekali….Kita sedang membicarakan mengenai diameter dalam ukuran
nanometer,tapi itu sama sekali tidak kosong. Ada sesuatu yang tersimpan di
dalam tabung itu." Shino secara tanpa sadar bertukar pandangan dengan
Asuna, sebelum melihat ke arah Kazuto dan bertanya dengan suara pelan.
"Apa yang ada di
dalamnya…..?"
"Cahaya."
Kazuto memberikan
sebuah jawaban singkat.
"Sebuah partikel
cahaya…atau «Evanescent Photon» yang biasa dikatakan. Photon ini, dengan kata
lain, kuantum]. Eksistensi itu seperti indeterminisme, itu terus menerus
berubah tanpa akhir sesuai dengan teori probabilitas. Perubahan....itulah apa
yang disebut pikiran manusia, berdasarkan pada teori itu."
Tepat ketika dia
mendengar kata-kata itu, Shino dapat merasakan sebuah ketakutan mengalir dari tulang
belakang menuju kedua tangannya untuk suatu alasan. Sebuah gambaran yang
misterius namun indah muncul dari dalam dirinya dan di waktu yang sama,
pemikiran bukankah itu berada dalam daerah kekuasaan Tuhan? Terlihat
dari dalam pikirannya.
Asuna yang juga
diliputi oleh emosi dalam yang sama, mata coklatnya menjadi kabur karena cahaya
kegelisahan saat dia berbicara dengan suara yang sedikit serak.
"Kirito-kun, nama
dari mesin baru itu….«Soul Translator», bukan? Soul(jiwa)……dengan kata lain,
kumpulan dari cahaya di dalam jiwa seorang manusia?"
"Pekerja RATH
menyebutnya sebagai «Quantum Field». Tapi, dengan memberi nama seperti itu,
mereka pasti telah memikirkan tentang itu sebelumnya….mengenai Quantum Field
dan jiwa manusia."
"Tapi kalau
begitu, apa maksud dari itu? Soul Translator adalah mesin yang tidak mengakses
otak manusia, namun jiwa itu sendiri…."
"Ketika
mengatakan seperti itu, itu tidak lagi terdengar seperti sebuah mesin, tapi
justru terdengar seperti item sihir di dalam game, huh."
Apa yang dia telah
katakan sedikit meringankan suasana, dan Kazuto lalu melanjutkan perkataannya
sambil tersenyum.
"Tapi, itu
bukanlah perbuatan sihir ataupun keajaiban tuhan. Mari kita meloncat menuju
penjelasan dari strukturnya untuk sebentar….Apa yang terekam di dalam putaran
dan vector tiap-tiap photon di dalam microtubule, adalah satuan data «Qubit».
Dengan kata lain, sel-sel otak bukan hanya sebuah tombol untuk satu gerbang
yang berfungsi membiarkan sinyal elektrik melaluinya, tapi itu dapat dikatakan
sel itu sendiri adalah satu unit dari komputer kuantum…Ya, sampai bagian inilah
batas pemahamanku bagaimanapun juga…."
"Itu tidak
apa-apa, aku telah melewati batas itu beberapa waktu yang lalu."
"Aku juga…"
Shino dan Asuna
menyerah secara bersamaan di depan Kirito yang menghembuskan nafas lega.
"Kumpulan dari
photon-photon yang menjadi memori dari komputer itu, mungkin, itu bahkan boleh
dianggap sebagai jiwa manusia…RATH telah memberinya nama aslinya. «Fluctuating
Light», yang mereka singkat menjadi———"
"«Fluctlight»"
"...........Fluct...light."
Shino perlahan
mengulangi istilah dikatakannya dengan suara misterius. Jika apa yang telah
mereka bicarakan sampai titik ini semuanya benar, maka kalau begitu Fluctlight
juga berada di dalam kepalanya juga. Tidak, hanya mengatakan seperti itu, apa
yang dia pikirkan tentang «dia» adalah....
Perasaan takut dari
waktu sebelumnya kembali pada Shino, dia menggosokan tangan yang terulur keluar
dari lengan seragam musim panasnya. Di sebelahnya, Asuna juga membuat sebuah
gerakan yang terlihat seperti dia sedang memeluk dirinya sendiri, sementara
berkata dengan sebuah suara kecil.
"——Membaca
Fluctlight…Tidak, mesin yang «Menerjemahkan» itu, itulah apa yang dilakukan
Soul Translator. Jika memang seperti itu….penerjemahannya bukan hanya satu
arah, bukan? "
Shino memiringkan
kepalanya saat dia tidak mengerti arti kata-kata barusan dengan baik, dan di
saat yang sama itu, Asuna menatapnya, dengan mata yang dipenuhi dengan ekspresi
kegelisahan.
"Sinonon,
memikirkan tentang itu…Amusphere yang kita gunakan tidak hanya membaca perintah
pergerakan yang dikirim ke tubuh kita. Itu juga memberikan penglihatan dan
pendengaran…sinyal sensor dari kelima indera pada otak kita, menciptakan sebuah
pengalaman dunia virtual. Inti dari teknologi FullDive digunakan pada mesin
itu, bukan? Kalau begitu, Soul Translator yang dapat melakukan hal yang sama
seharusnya adalah mesin generasi selanjutnya, bukan?"
"……Dengan kata
lain…itu dapat menulis sesuatu pada jiwa seseorang yang terhubung dengannya….?"
Pada titik itu, mereka
berdua mengalihkan pandangan mereka pada Kazuto.
Meskipun anak
laki-laki berambut hitam itu kelihatannya sedikit ragu, dia menggangguk setuju
beberapa saat kemudian.
"Ya….Soul
Translator, karena itu terlalu panjang, maka RATH menyingkatnya menjadi «STL»,
mesin penerjemah yang dilakukan secara dua arah. Di dalam ratusan milyar qubit
data yang memiliki Fluctlight manusia, mesin itu menerjemahkan dan membaca
kata-kata yang kita pahami, dan di saat yang sama, itu menerjemahkan dan menulis
informasi ke dalam sebuah bentuk yang kita dapat baca. Jika memang bukan
seperti itu, maka itu seperti yang Asuna katakan, itu tidak akan mungkin untuk
Dive ke dalam dunia virtual. Singkatnya, itu menangani dan mengatur informasi
kelima indera Fluctlight, dan mengisikan informasi mengenai sesuatu yang sedang
dilihat, atau suara apa yang sedang didengar."
Lalu, Asuna
menggerakan tubuhnya ke depan dan menanyakan apa yang kelihatannya menjadi
pertanyaan utamanya.
"Apakah itu
mungkin….Dapat mempengaruhi pada ingatan di dalam jiwa? Kirito-kun, apa yang
barusan kau katakan bahwa kau tidak memiliki memori ingatan apapun selama Dive.
Ini artinya Soul Translator…STL dapat menghapus atau menulis ulang ingatanmu,
bukan?"
"Tidak…"
Kazuto menyentuh
tangan kiri Asuna beberapa saat untuk meringankan beban pikirannya saat dia
menggelengkan kepalanya.
"Bagian yang
menangani data ingatan jangka panjang memiliki ukuran yang sangat besar dan
metode penyimpanannya sangatlah rumit, untuk kondisi yang sekaranag dapat
dikatakan bahwa itu masih di luar jangkauan. Alasan bahwa aku tidak memiliki
ingatan saat Dive hanya karena mesin itu mencegat sepanjang rute menuju bagian
itu saja. Dengan kata lain, mesin itu tidak sepenuhnya menghapus ingatan, itu
seperti aku saja tidak dapat mengingatnya…hanya seperti itu."
"Tapi,
aku….takut, Kirito-kun. Sesuatu seperti memanipulasi ingatan…."
Sebuah ekspresi
gelisah masih tetap tersisa di wajah Asuna.
"Di samping itu,
orang yang membawakan pekerjaan sampingan ini untukmu adalah Chrysheight…tidak,
Kikuoka-san dari Departemen Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi, bukan? Meski
aku berpikir bahwa dia bukan orang jahat, aku merasa bahwa aku tidak dapat
melihat bahkan sedikitpun apa yang ada di dasar hatinya. Itu entah mengapa sama
seperti dengan Ketua Guild. Entah kenapa…aku merasakan seperti sesuatu yang
buruk akan terjadi lagi…"
"……Itu benar
bahwa dia tidak pernah memperlihatkan apa yang sedang dipikirkannya. Dan aku
juga tidak tahu status sosialnya yang sebenarnya ataupun tugas dari
pekerjaannya, bersamaan dengan berbagai hal yang lain. Tetapi…"
Saat dia memotong
kata-katanya, mata Kazuto kelihatannya menjadi tidak fokus pada tempat manapun
yang ada di dalam toko sementara dia berbicara.
"Di hari pertama
debut mesin Fulldive generasi pertama yang digunakan untuk keperluan bisnis di
taman hiburan Shinjuku, aku menaiki kereta paling pertama agar bisa ikut
mengantri. Waktu itu aku masih siswa sekolah dasar…."Ini dia," itulah
apa yang kupikirkan. "Inilah dunia yang telah memanggilku sejak
lama." Di hari pertama peluncuran Nerve Gear, aku juga membelinya dengan
uang yang telah aku simpan…dan tetap diving ke dalam berbagai macam game. Pada
saat itu, aku benar-benar tidak mempedulikan lagi dengan dunia nyata. Pada
akhirnya aku terpilih untuk beta test SAO, dan insiden itu meluas….tak
terhitung sejumlah manusia telah meninggal. Setelah dua tahun terpenjara dan
kembali, insiden Sugou dan Death Gun terus terjadi secara berturut-turut. Aku…
ingin tahu. Mengenai perkembangan teknologi FullDive itu berlanjut….tentang
arti dibalik insiden itu…Untuk Soul Tranlator, meskipun secara fungsi masih
sepenuhnya baru, rancangannya menggunakan Medicuboid yang digunakan untuk
keperluan pengobatan sebagai prototypenya. "
Di saat Asuna, yang
sedang memegangi kepalanya, mendengar perkataan Kazuto, kedua bahunya bergetar.
Segera setelahnya, suara tegasnya mengalir keluar melalui bagian dalam toko
yang sunyi.
"Ini firasatku.
Mengenai apa yang ada di dalam Soul Translator. Bagaimana itu tidak hanya
berakhir sebagai mesin yang digunakan untuk tujuan hiburan saja….Mungkin, ada
juga sisi berbahaya juga. Tetapi…."
Kazuto meniru gerakan
menggenggam pendangnya dan mengayunkannya ke bawah saat dia mengatakan.
"Sampai sekarang,
tidak peduli dunia jenis apa itu, aku selalu mampu kembali. Untuk kali ini
juga, aku pasti akan kembali. Sebenarnya….di dunia nyata aku hanya seorang
gamer yang lemah dan tidak berdaya bagaimanapun juga."
"…Bahkan meskipun
tanpa bantuan dariku, punggungmu masih terbuka lebar."
Asuna memperlihatkan
senyuman samar-samar sementara menghela nafas pendek, lalu melihat wajah Shino
yang duduk di sampingnya.
"Ya ampun, anak
laki-laki ini terlalu percaya diri."
"Ya, sebenarnya,
sejak awal dia memang Hero-sama yang legendaries bagaimanapun juga―"
Dari percakapan
diantara Asuna dan Kazuto, yang langsung dia mengerti, bahkan meskipun ada
kata-kata yang baru dia dengar untuk pertama kalinya, Shino tidak mencoba untuk
terlalu ikut campur di dalamnya dan sebaliknya dia berbicara dengan nada
bercanda.
"Aku telah
membaca 『Seluruh Catatan
Insiden SAO』yang keluar bulan
lalu―, itu sangat sulit sekali untuk menpercayai kalau anak laki-laki ini
adalah 『Black Swordsman』yang muncul di dalan buku itu."
"H-Hei,
hentikan…."
Asuna tertawa melihat
perbuatan Kazuto yang menggerakkan tangannya sambil mundur ke belakang,
sementara dia berkata "Ya, benar sekali" sementara menggangguk.
"Ini tertulis
dalam buku itu, dikatakan sang ketua tadi memiliki pengaruh yang besar di
antara guild penyelesai lantai, bahkan meskipun catatan itu sendiri sudah cukup
akurat, banyak sekali dugaan dan telah ditambahkan ke dalam deskripsi karakter.
Seperti ketika Kirito bertarung melawan sekelompok player orange…"
"『Ketika aku menarik pedang keduaku, tidak ada seorangpun yang
boleh berdiri didepanku!』"
"Kyahahahaha,"
kedua anak perempuan itu menjadi tertawa terbahak-bahak sementara Kazuto duduk
dengan murung di kursinya dengan ekspresi kosong. Di saat Asuna merasa kelegaan
dan kembali ke wajah tersenyumnya, Shino melanjutkan mengirimkan sebuah
hantaman terakhir.
"Buku itu juga
diterjemahkan dan diterbitkan di Amerika. Itu artinya Hero-sama ini adalah
seseorang yang terkenal di tingkat dunia sekarang."
"….Setelah aku melewati
waktu yang cukup panjang untuk mengabaikan hal ini….Dan aku sudah setuju untuk
menunggu royaltinya juga."
Shino masih tetap
tersenyum disaat Kazuto merengut, dia lalu mengingat kembali pertanyaan yang
dia punya dan melanjutkan topik pembicaraan.
"Tapi Kirito.
Setelah semua, STL melakukan hal yang sama seperti AmuSphere, bukan?
Menciptakan sebuah Dunia VR menggunakan polygons, kemudian mengirim gambar dan
suara dengan menghubungkan otak orang tersebut, apakah ada tujuan tertentu di
dalam mesin itu yang menghabiskan sejumlah biaya yang sangat besar pada mesin
itu?"
"Oo, itu adalah
pertanyaan yang bagus."
Kazuto meluruskan
tubuhnya sebelum memperlihatkan sebuah anggukan.
"Apa yang Sinon
katakana barusan, 『Menciptakan dunia VR
menggunakan polygon. 』.Polygon, dengan kata
lain, adalah kumpulan dari koordinat dan bidang….data digital. Model yang
sekaran memiliki detail paling tinggi telah mencapai tingkatan dimana pohon
atau peralatan di dalamnya sulit untuk dibedakan dengan benda aslinya di dunia
nyata, tetapi intinya masih tetap sama."
Dia lalu dengan cepat
mengoperasikan mobile terminal yang tertaruh di atas meja, memulai proses
pre-installed mini-game. Mobil balap bertema futuristik yang perlahan mulai
berputar di layar demo memiliki sebuah interior yang manis, bodinya yang
melengkung juga tidak terlihat aneh, itu tentu saja, sebuah bentuk dari model
polygon.
Shino mengangkat
kepalanya dan perlahan memiringkan kepalanya.
"Yeah, itu adalah
intinya. Hmm….bagaimana aku menjelaskannya…"
Kazuto menjadi terdiam
untuk sesaat sebelum mengangkat gelas kosong dari Caffè Shakerato dan
menunjukkannya pada Shino.
"Sinon, gelas ini
ada dalam kenyataan, bukan?"
".......Yeah."
Sambil memperlihatkan
ekspresi keraguan, dia memperlihatkan sebuah anggukan. Kazuto kemudian membawa
gelas itu mendekat padanya dan mengatakan sesuatu yang sulit untuk dipahami.
"Sekarang dengar,
gelas ini yang sekarang berada pada tanganku, dan di saat yang sama berada di
dalam pikiran Sinon…atau «Fluctlight» Sinon dalam istilah RATH. Untuk lebih
tepatnya, cahaya yang memantul dari gelas diterima di dalam mata Sinon, sinyal
elektrik dari retinanya mengubah cahaya tadi menjadi objek gelas di dalam
kesadarannya. Selanjutnya, ketika aku melakukan ini..."
Tiba dia mengulurkan
tangan kirinya untuk menutupi mata Sinon dengan rapat. Dia secara refleks
menutup kelopak matanya, membuat pandangnya menjadi warna abu-abu gelap dengan
sedikit warna merah.
"Bagaimana,
apakah gelas di dalam kesadaranmu tiba-tiba menghilang?"
Sementara dia tidak
mengetahui apa yang Kazuto maksudkan, Shino dengan segera menjawab secara
jujur.
"…….Tidak
mungkin, aku tidak akan melupakannya secepat itu. Dari melihatnya, aku dapat
mengingat warna dan bentuknya, itu adalah hal yang normal buka. Ah…..tapi
perlahan menjadi semakin samar-samar bagaimanapun juga…."
"Ya, itu."
Setelah dia menarik
tangannya, Shino membuka kelopak matanya, dan memperlihatkan rengutan pelan
pada Kazuto.
"Apa maksudnya
‘Itu’?"
"Dengar….Pada
saat kita melihat gelas atau meja atau wajah satu sama lain, data rekaman
penciptaan ulang sedang berlangsung dalam bagian pengolah penglihatan dari
Fluctlight. Bahkan memejamkan kelopak mata, itu tidak akan segera menghilang,
itu bukan hanya shadowgraph[15] saja. Atau
dengan kata lain, pada saat gelas ini tidak dapat terlihat, itu akan lenyap
menuju ke dalam ingatan Sinon…"
Kazuto kemudian
menyembunyikan gelas di tangan kanannya di bawah meja.
"Pada saat Sinon
melihat gelas ini, sejumlah besar data yang sama dari bentuknya masuk ke dalam
bagian penglihatan dari Fluctlight. Hal inilah yang membiarkan Sinon untuk
tetap terus bisa melihat gelas yang aslinya tak ada lagi di atas meja. Pada
ketelitian yang jauh melebihi polygon….….Atau itu dapat dikatakan bahwa itu
benar-benar sama seperti benda aslinya"
"………Mungkin
seperti itu di dalam teori….Tetapi, hal ini berhubungan dengan daya penyimpana
kesadaran manusia, atau dengan kata lain, «Ingatan», bukan? Memanipulasi
ingatan dengan di luar dari ilmu hipnotis, bagaimana itu dapat
dilakukan….?" Shino menutup mulutnya setelah berbicara sampai titik ini.
Beberapa saat yang
sebelumnya——bukankah Kazuto mengatakan tentang mesin yang memiliki kemampuan
seperti itu? Sementara dia memikirkan itu, Asuna, yang dari tadi mendengarkan
dengan tenang, berbisik dengan suara pelan menggantikan Shino.
"AmuSphere
memperbolehkan otak seorang user untuk melihat data polygon…Sementara STL menuliskan
itu pada kesadaran manusia….ingatan jangka pendek….Singkatnya…Itu bukanlah
sesuatu yang dibuat. Semua hal yang diciptakan oleh STL, penglihatan,
pendengaran, sentuhan,….berada di level yang sama dengan sesuatu yang nyata di
dalam kesadaran kita, seperti itu….?"
Kazuto menggangguk dan
berbicara saat dia menaruh kembali gelas tadi ke atas meja.
"Informasi
ingatan optikal….atau «Mnemonic Visual Data» yang disebut oleh Rath secara nama
resminya. Untukku, yang masih memiliki ingatan dari hari pertama Dive test …
itu terasa berbeda. Benar-benar berbeda dengan dunia VR yang diciptakan oleh
AmuSphere. Itu hanya ruangan kosong yang memiliki ukuran kamar sempit, tapi
aku… "
Dia memotong
kata-katanya untuk sesaat, senyuman yang kelihatannya dipaksakan terlihat dari
salah satu sisi pipinya, saat Kazuto melanjutkan perkataannya.
"...Pada awalnya,
aku tidak tahu bahwa itu adalah dunia virtual."
Bagian
3
Dunia virtual, yang
tidak dapat dibedakan dengan dunia nyata.
Ada banyak cerita
fiksi dari abad sebelumnya yang menggunakan tema ini. Shino dapat mengingat
setidaknya lima judul novel atau film yang menggunakan tema ini pada saat itu
juga.
Di era dimana
penerapan teknologi Fulldive telah digunakan dalam alat konsumen seperti Nerve
Gear dan AmuSphere, kita akhirnya telah mencapai titik untuk meragukan: «apakah
dunia nyata ini benar-benar dunia nyata?» —— dan saat kita dapat membaca
sesuatu seperti itu dari artikel maupun blog yang ada di berbagai tempat, Shino
juga pernah merasakan kegelisahan sebelum dia melakukan Fulldive pertamanya.
Tetapi, saat kelopak
mata itu benar-benar terbuka, dapatkah perasaan kelegaan ataupun kekecewaan
pada kekhawatiran seperti itu sama sekali terasa tidak berguna? Dunia yang
diciptakan oleh AmuSphere tanpa keraguan lagi, adalah sebuah keajaiban yang
terlahir oleh teknologi canggih. Dunia virtual yang dapat dirasakan oleh kelima
indera itu adalah dunia yang benar-benar sangat indah—— tapi itulah yang
membuatnya terlihat berbeda dengan dunia nyata. Pemandangan yang dia lihat,
suara yang dia dengar, sesuatu yang dia sentuh, semuanya terlalu murni, atau
dengan kata lain, terlalu sederhana. Udaranya tidak memiliki debu, pakaian
tidak memiliki kerutan, dan meja yang tidak dapat rusak. Objek 3D yang
diciptakan dari kode digital membatasi kebutuhan usaha manusia untuk
mendesainnya, dan tenaga CPU untuk menampilkannya. Tentu saja, dia tidak dapat
mengetahui bagaimana hal ini akan berubah di masa depan, tapi setidaknya dengan
teknologi tercanggih di tahun 2026 ini, menciptakan sebuah dunia virtual yang sama
sekali tidak berbeda dengan dunia nyata adalah sesuatu yang tidak
mungkin——......
Dan itu, adalah apa
yang dipikirkan Shino. Sampai hari ini, sebelum dia mendengar cerita Kirigaya
Kazuto.
"… Itu artinya,
Kirito. Kau….bahkan mungkin sekarang….masih berada di dalam STL….mesin itu?
«Recollections » dari Asuna dan aku yang dimasukkan ke dalam
pikiranmu."
Untuk menghindari
perasaan merinding yang tiba-tiba, sebelum Kazuto dapat menjawab, Shino
tersenyum saat dia berkata. Secara normal "Tapi bagaimanapun juga itu
aneh" dia tertawa saat dia memikirkan tentang itu, tapi teman-temannya
mengerutkan dahi mereka sambil menatap lurus padanya.
"Tungg...H-Hentikan.
Aku adalah orang yang asli."
Sementara dia dengan
cepat menggoyangkan tangannya, Kazuto masih tetap ragu saat dia berbicara.
"Jika kau adalah
Shino yang asli...maka kau pasti mengingat apa yang kau janjikan kepadaku
kemarin."
"J-janji?"
"Sebagai ucapan
terima kasih untuk memanggilku hari ini, kau akan mentraktirku banyak dessert
paling mahal di sini, «Dicey Cheesecake» sebanyak yang aku inginkan."
"E,…Ehh!? Aku
tidak pernah menjanjikan sesuatu seperti itu! Ah, t-tapi aku bukanlah tiruan,
aku adalah yang asli, benar bukan, Asuna?"
Melihat ke sampingnya,
Asuna yang dengan erat menggenggam tangannya berbisik.
"Sinonon...apa
kau sudah lupa? Kau berjanji untuk mentraktirku makan «Berry & Cherry Tart»
yang aku inginkan......"
"Ehhhh!?"
Apakah aku benar-benar
di dalam dunia virtual dan mengoperasikan ingatan ini dari sana....?Sementara
dia memikirkan tentang itu, baik pipi Kazuto maupun Asuna bergetar, dan segera
setelahnya mereka berdua sedikit tertawa. Pada titik itu, dia akhirnya
menyadari bahwa rencanannya mengganggu Kazuto telah berbalik menyerangnya.
"Ka....Kau telah
melakukannya sekarang, Asuna! Berikutnya, di ALO, bersiaplah untuk menerima
ratusan anak panah pelacak!"
"Ahaha, maaf
maaf, maafkan aku Sinonon!"
Asuna tersenyum saat
dia dengan erat memeluk Shino. Sambil merasakan perasaan kaku di dalam dadanya
telah meleleh karena perbuatan Asuna, yang dipenuhi keluguan dan dan perasaan
persahabatan yang banyak, dia mengalihkan wajah cemberutnya ke samping. Tapi
mulutnya dengan segera terbuka dan mengeluarkan tawa bersamaan dengan mereka
berdua.
Seolah-olah untuk
memulai meredakan suasana, Kazuto berkata dengan nada pelan.
"Yang manapun itu
Fluctlight atau Mnemonic Visual, hanya dengan mendengar istilahnya saja akan
membuatmu merasa itu adalah teknologi yang masih dapat dipertanyakan…Tetapi,
dunia virtual yang diciptakan oleh STL secara fakta, jauh lebih baik dibandinkan
dengan yang AmuSphere ciptakan dan kita kenali selama ini. Pada akhirnya, itu
mungkin adalah apa yang kita sebut sebagai «Mimpi Yang Nyata»......"
"M—Mimpi....?"
Shino berkedip setelah
mendengar kata yang mengejutkan tersebut, Spriggan swordsman, sseeorang yang
memiliki aura yang membuat orang-orang disekitarnya menjadi mengantuk di ALO,
mengangguk dengan ekspresi serius.
"Ya. Menciptakan
dunia dengan mengumpulkan objek-objek dan mempertahankannya di dalam ingatan
secara bersamaan....bukankah itu hampir seperti bagaimana mimpi bekerja?
Sebenarnya, gelombang otak manusia saat Diving di STL hampir mendekati pola
yang terjadi selama kita tertidur."
"Kalau begitu,
itu artinya kau melakukan pekerjaan sampingan di dalam mimpi? Mendapatkan
bayaran hanya dengan tidur selama tiga hari?"
"I-Itulah apa
yang kukatakan padamu sejak awal, bukan? Tidur sepanjang hari, tanpa makan
maupun minum. Tapi tentu saja, aku mendapatkan nutrisi dan air melalui
infus."
Sekarang dia
mengatakannya, dia benar-benar pernah mengatakan itu tepat setelah dia masuk ke
dalam toko ini. Tapi aku dengan jelas tidak menduga bahwa dia benar-benar
bekerja dengan melihat mimpi panjang sambil berbaring di atas kasur gel.Saat
Shino melihat ke atas, dia bergumam bersamaan dengan nafas panjang.
"Tiga hari secara
terus menerus bermimpi, huh...Jika aku dapat bermimpi selama itu, ada banyak
hal yang dapat kulakukan. Seperti tidak akan terbangun kecuali sebelum memakan
sepotong kue."
"Itu benar-benar
buruk, karena kau tidak akan mengingat apapun yang kau makan selama di mimpi
itu. Sebenarnya, berbicara tentang semua-kue-yang-dapat-kau-makan setiap
hari..."
Setelah bercanda
sampai titik ini, Kazuto memotong perkataannya di tengah perkataannya. Alis
tipis yang Shino lihat di bawah rambut yang sedikit panjang pada dahinya
mengerut.
"...Ada apa,
Kirito-kun?"
Dia tidak dapat segera
menjawab pertanyaan Asuna, sementara dia membuat gerakan seolah-olah dia
memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya.
"...Kue....bukan,
bukan itu...keras...asin...tapi, enak, makanan apa itu...."
"K-Kau
mengingatnya? Apakah itu sesuatu yang kau makan di dunia virtual?"
"................Tidak,
aku tidak dapat mengingatnya. Tapi aku memiliki firasat bahwa itu tidak
memiliki rasa seperti apapun yang ada di dunia nyata..............."
Kazuto terus mengerutkan
dahinya untuk beberapa detik lamanya, sebelum akhirnya menyerah saat dia
menghela nafas. Shino, yang terdiam sampai saat ini, menanyakan pertanyaan yang
tidak dapat dia tahan lebih lama lagi di dalam pikirannya.
"Hei Kirito,
apakah sesuatu seperti itu mungkin? Untuk memakan sesuatu di dalam STL yang
tidak ada di kenyataan? Karena dunia virtual yang diciptakan oleh STL adalah
kumpulan dari bagian yang berdasarkan pada ingatan seorang Diver, kalau begitu,
bukankah itu normal kalau seseorang tidak bisa melihat apa yang belum pernah
dia lihat, dan tidak bisa memakan sesuatu yang belum pernah dia makan?"
"Ah......Itu
benar. Persis seperti yang Sinonon katakan….Jika begitu, dunia virtual yang
berasal dari STL memiliki tingkat kebebasan yang sangat terbatas, bukan? Itu
tidak dapat menciptakan sebuah dunia yang benar-benar berbeda dengan dunia
nyata, seperti Aincrad atau Alfheim."
Kazuto perlahan
menggangguk pada apa yang Asuna katakan, sebelum tersenyum seolah-olah untuk
menyingkirkan kejengkelannya sebelumnya.
"Kalian berdua
benar-benar tajam, itu adalah hal yang bagus. Ketika aku mendengar tentang
Mnemonic Visual, pada awalnya aku tidak menyadari batasan itu. Aku akan
mengingat untuk menanyakannya pada staff RATH sebelum melakukan eksperimen
Diving panjang selanjutnya, tetapi karena hal itu melibatkan teknologi utama
STL, aku tidak berpikir bahwa mereka akan setuju untuk menjawabnya...Namun,
masih ada satu hal...dalam penjelasan tentang dunia virtual yang terdiri dari
ingatan, para staff itu tidak pernah menyebutkan bahwa ingatan itu berasal dari
Diver."
"Eh...kalau
begitu bagaimana mereka..."
Sementara Shino tidak
dapat menangkap arti itu pada saat itu juga, Asuna, yang berada di sampingnya,
menghirup nafas pelan.
"Mungkinkah
itu….ingatan orang lain? Tidak…apa mungkin itu ingatan yang tidak dimiliki oleh
siapapun tetapi diciptakan dari awal...?"
Sambil mendengar
perkataan yang hampir sama seperti bisikan, Shino akhirnya menyadarinya.
Bagaimana jika
informasi memori optik...Mnemonic Visual dari manusia mempunyai struktur umum?
Dan analisa dari struktur itu sudah selesai….? Apakah itu mungkin dapat membuat
suatu teori untuk menciptakan sebuah «Mimpi» yang nyata dapat dipenuhi oleh
sesuatu yang tidak pernah dilihat, makanan yang semua orang belum pernah rasakan,
dan juga pemandangan yang tidak pernah dibayangkan oleh seseorang.
Kemudian, kata-kata
yang membenarkan pikirannya itu secara kebetulan keluar dari mulut Kazuto.
"….Aku telah
melakukan pekerjaan sampingan dengan RATH ini selama dua bulan sampai sekarang…Selama
test Dive pertama, tidak ada pembatasan ingatan, jadi aku masih dapat mengingat
dunia VR pada saat itu. Salah satu dari itu adalah sebuah ruangan luas yang
memiliki kucing yang sangat banyak, yang mungkin memiliki jumlah sekitar
ratusan."
"......Sangat
banyak......"
Mulut Shino mengendur
saat dia membayangkan sebuah surge yang dipenuhi kucing, sebelum dengan cepat
mengusir imajinasi itu. Saat dia melihat lurus ke depan, Kazuto berkata dengan
ekspresi seolah-olah dia sedang mencari sesuatu di dalam ingatannya.
"...Apa yang aku
dapat ingat mengenai ruangan itu adalah, bahwa itu adalah ruangan yang dipenuhi
dengan anak kucing yang aku tidak tahu. Dan bukan hanya itu saja…Ada juga
beberapa yang memiliki sayap dan sementara terbang, beberapa ada yang menggulung
tubuhnya dan memantul di berbagai tempat. Sesuatu seperti itu tidak mungkin
berasal dari ingatanku."
"….Dan di waktu
yang sama, itu juga pasti tidak berasal dari ingatan orang lain bukan? Karena
kucing dengan sayap tidak ada di dunia nyata bagaimanapun juga."
Itu adalah apa yang
Asuna katakan, sebelum dia melanjutkan.
"Kucing terbang
itu adalah apa yang dibuat oleh staff untuk dilihat Kirito-kun…Pasti itu adalah
sesuatu yang diciptakan oleh sistem STL dari nol, bukan?"
"Bagian yang
terakhir pasti sangat hebat. Jika hal itu mungkin, maka tidak hanya sekedar
objek individual saja, mungkin saja itu pada akhirnya mampu menciptakan sebuah
dunia secara keseluruhan dengan sempurna."
Membuat sebuah dunia
virtual tanpa bantuan dari manusia——
Ide ini menyebabkan
dada Shino bergetar. Sementara Shino mengingat bahwa dia akhir-akhir ini
menjadi sering merasa lebih tidak nyaman dengan « Egocentric
designed » dunia VRMMO seperti GGO dan ALO.
Dunia game VR yang ada
sekarang benar-benar didesain secara sepenuhnya para desainer perusahaan yang
mengembangkan game tersebut. Meskipun bangunan atau pepohonan atau sungai itu
dengan ditaruh secara sembarangan, itu semua sebenarnya adalah objek yang
diletakkan pada sebuah bidang berdasarkan pilihan seseorang.
Selama bermain game,
kapanpun dia memikirkan tentang ini, ada sesuatu yang selalu muncul di dalam
hati Shino. Sejak awal, dia juga, hanyalah suatu keberadaan yang berlari di
seluruh arah tepat di atas telapak tangan para pengembang, seseorang yang
disebut sebagai Dewa, dan pemikiran inilah yang tersisa di dalam pikirannya
tidak peduli apakah dia menyukainya atau tidak.
Shino yang awalnya
tidak memainkan Gun Gale Online untuk kesenangan, sekarang setelah dia dapat
mengatasi kutukan dari masa lalunya, dia mulai memikirkan tentang arti
pengalaman di dalam dunia virtual dengan di dunia nyata. Dia kelihatannya tidak
bersimpati pada seseorang kelompoknya yang membawa pistol model di dunia nyata
sementara memakai sebuah pakaian yang berhiaskan lencana yang cocok. Dia
mempercayai bahwa keteguhan dan pengendalian diri yang melekat pada Sinon yang
ada di game akan secara perlahan menguatkan Asada Shino di dunia nyata juga,
namun di saat yang sama, dia berpikir jika itu sebanding dengan menghabiskan
sejumlah waktu dan uang untuk Diving ke dalam dunia virtual.
Shino berpikir bahwa
pasti ada sebuah alasan kenapa dirinya yang sangat pemalu ini bisa bertemu dan
bersahabat baik dengan Asuna dari beberapa bulan lalu sampai sekarang. Anak
perempuan, yang selalu memperlihatkan senyuman lembut, pastinya memiliki harga
diri yang sama dengan Shino. Bermain game VRMMO tidak untuk melarikan diri,
tapi untuk memperoleh pengalaman dan ikatan dari dunia virtual untuk
meningkatkan hal pada dirinya di dunia nyata, Asuna pastinya adalah seseorang
seperti itu.Tentu saja, itu juga berlaku terhadap Kazuto.
Karena itu, Shino
tidak ingin memikirkan bahwa dunia VR hanyalah palsu, bahwa segala sesuatu di
dalamnya hanyalah imajinasi. Dia tidak ingin memikirkan tentang fakta bahwa
dunia VR tidak dapat ada tanpa adanya pengembang.
Bulan lalu, di malam
yang dia habiskan di rumah Asuna, di dalam kamar setelah lampu kamar dimatikan,
dia telah mengungkapkan kelemahan yang dia telah sembunyikan. Lalu, Asuna yang
berbaring di tempat tidur di yang ada disampingnya berpikir untuk sesaat,
sebelum berbicara.
『Sinonon, bukankah itu seperti dunia nyata? Bahkan sekarang,
keadaan sekeliling kita menerima kita, entah itu rumah, atau kota, atau status
kita sebagai siswa dalam masyarakat, segalanya telah dirancan
seseorang…..bukan? Mungkin, menjadi kuat, adalah tentang menghadapinya
bersamaan dengan hal itu, bukankah seperti itu?』
Setelah berhenti
sejenak, Asuna melanjutkannya dengan suara yang sedikit tertawa.
『Tapi, aku juga ingin melihatnya meskipun sekali, dunia VR yang
tidak didesain oleh siapapun. Mungkin jika hal itu menjadi kenyataan, itu
mungkin, dapat diartikan sebagai «Dunia Nyata», yang bahkan jauh lebih nyata
dibandingkan dengan dunia nyata ini….』
"Dunia...Nyata...
"
Sementara Shino tanpa
sadar bergumam, Asuna, yang kelihatannya sedang memikirkan hal yang sama,
menggangguk dari sisi yang berlawanan dari meja tersebut.
"Kirito-kun...
Maka, itu berarti...Dengan mengenakan STL, kenyataan yang secara subyektif jauh
lebih nyata dibandingkan dengan dunia nyata kita yang wujudkan? Sebuah dunia
yang berbeda tanpa adanya keterlibatan dari seorang pendesain."
"Hmmm...."
Kazuto berpikir
sejenak, sebelum perlahan menggelengkan kepalanya.
"Tidak...Untuk
situasi yang sekarang ini, itu masih cukup sulit. Hutan atau padang rumput di
dataran alami dapat diserahkan kepada sistem untuk diciptakan, tapi aku
berpikir membangun sebuah kota berskala besar sambil mempertahankan keutuhannya
tanpa seorang pendesain masih mustahil. Tentang kemungkinan yang
lain....Seperti mempersiapkan beberapa ratus player tester dan membiarkan mereka
untuk membangun sebuah kota mulai dari nol di dalam bidang yang pada awalnya
adalah alam liar, atau dengan kata lain, membangun sebuah peradaban, untuk hal
tersebut, aku berpikir itu masih bisa dilakukan di dunia tanpa pencipta yang
berkuasa seperti Dewa...."
"Uwa, itu akan
menjadi strategi yang menghabiskan banyak waktu―"
"Penyempurnaan
seluruh area itu akan menghabiskan waktu beberapa bulan, aku pikir."
Asuna dan Shino
tertawa pada lelucon Kazuto di waktu yang sama. Akan tetapi, pemilik pidato itu
masih tetap merenung dengan mengerutkan dahinya, dan tidak lama kemudian, dia
mulai berbicara dalam sikap berbicara yang bermonolog.
"Jadi itu adalah
simulasi pembangunan sebuah peradaban, huh. Tidak...itu dapat dikatakan bahwa
itu diperlukan. Jika fungsi FLA dalam STL digunakan dan dibiarkan untuk
berkembang…Apakah ada pembatasan yang ditaruh pada ingatan yang berada di
dalamnya.....?"
"FL dari
STL...Apa itu?"
Shino mengerutkan
dahinya karena pergantian singkat itu, saat Kazuto mengangkat wajahnya dan
mengedipkan matanya.
"Ah…Itu adalah
sihir kedua yang dimiliki Soul Translator. Beberapa saat yang lalu, aku
berbicara tentang dunia virtual seperti mimpi yang diciptakan oleh STL,
bukan?"
"Yeah."
"Apakah kau
pernah mengalami mimpi yang benar-benar sangat panjang, dan merasa sangat
kelelahan ketika kau terbangun? Sebuah mimpi buruk khususnya..."
"Ah―ya, aku
pernah."
Shino menggangguk
sementara mengerutkan dahinya.
"Melarikan diri
dari sesuatu, dan sepanjang jalan itu aku berpikir "Ini pasti hanya
mimpi" namun aku tidak mampu untuk bangun. Ketika berpikir aku akhirnya
terbangun setelah dikejar untuk waktu yang lama, itu ternyata adalah sebuah
mimpi juga."
"Menurutmu berapa
jam yang kau habiskan di dalam mimpi itu?"
"Eh―? Dua……Atau
mungkin tiga jam."
"Sebenarnya,
ketika memonitor gelombang otak selama bermimpi, yang dirasakan seseorang
memiliki waktu yang sangat lama, waktu sebenarnya diantara melihat mimpi dan
membuka mata kita hanya sekitar beberapa menit."
Kazuto yang memotong
perkataannya sampai titik ini, tiba-tiba mengulurkan kedua tangannya untuk
menutupi kedua terminal yang tergeletak di atas meja. Dia lalu memperlihatkan
sebuah tatapan rendah ke arah Shino.
"Kita mulai
berbicara mengenai STL sekitar jam setengah lima, bukan? Sinon, sekarang
menurutmu jam berapa sekarang?"
"Hmm..."
Saat terkejut, Shino
menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Langit yang melewati titik balik matahari di
musim panas masih terang, jadi dia tidak dapat menebak waktu dengan cahaya yang
bersinar melalui jendela. Dia terpaksa mengandalkan perkiraannya untuk
menjawab.
"...Sekitar jam
empat lebih lima puluh menit..."
Kazuto lalu menarik
tangannya yang menutupi terminal, sebelum mengarahkan layarya pada Shino.Saat
dia menatap pada layar itu, beberapa angka digital menunjukkan bahwa sekarang
sudah lewat jam lima.
"Whoa, aku tidak
menyadari bahwa kita telah menghabiskan waktu selama ini dengan
berbicara."
"Kesadaraan
terhadap waktu waktu adalah masalah yang subyektif. Tidak hanya selama berada
di dalam mimpi tapi juga di dunia nyata. Ketika dalam keadaan darurat, perasaan
adrenalin membuat waktu terasa menjadi lambat, di sisi lain, waktu berlalu
lebih cepat ketika kita tenggelam padfa pembicaraan santai. RATH telah meneliti
tentang bagaimana ini terjadi dalam kesadaran manusia…atau Fluctlight, dan itu
menjadi sebuah teori awal. Kelihatannya, aliran yang ada pada inti kesadaran
adalah dorongan yang bertindak sebagai «Sinyal kontrol pemikiran waktu». Tapi
itu nampaknya mereka masih belum dapat memahami darimana itu berasal."
"Waktu…?"
"Itu adalah kata
yang sering kau dengar ketika berbicara tentang sesuatu yang berhubungan dengan
gigahertz komputer."
"Jumlah
perhitungan yang bisa dilakukan dalam satu detik, bukan?"
Asuna berkata saat dia
mengangguk, Kazuto kemudian mengetuk permukaan meja dengan jari tangan
kanannya, menciptakan suara ton ton.
"Itu juga adalah
angka maksimal yang mereka masukkan di dalam katalog, angka tadi sebenarnya
tidaklah tetap. Itu biasanya beroperasi secara perlahan agar menghasilkan panas
yang lebih sedikit, lalu ketika beban pekerjaan yang berat dibutuhkan——"
Ton ton
ton, suara itu terdengar saat dia mempercepat iramanya.
"Saat
pengoperasian jam itu meningkat, maka perhitungannya juga akan meningkat. Itu
sama halnya dengan komputer kuantum dalam bentuk Fluctlight. Ditempatkan pada
kondisi yang gawat, menangani sejumlah data berukuran besar, pemikirkan jam itu
akan berakselerasi menanggulanginya. Sinon pasti pernah mengalaminya juga,
ketika berkonsentrasi pada pertarungan yang hebat, kau merasa seperti kau dapat
melihat peluru, bukan?"
"Ah—Sebenarnya....Yeah,
ketika aku sedang dalam kondisi sangat bagus. Tapi itu tidak ada cara untuk aku
dapat meniru gerakanmu «Memprediksi garis prediksi peluru kemudian
menghindarinya»"
Shino mengatakan itu
saat dia menjadi cemberut, Kazuto memperlihatkan senyuman masam sebelum
menggelengkan kepalanya.
"Itu juga
mustahil untuk aku yang sekarang. Aku harus berlatih kembali sebelum BoB
berikutnya...Bagaimanapun juga, pemikiran jam itu mempengaruhi kesadaran kita
terhadap waktu. Ketika jam itu berakselerasi, manusia akan merasakan bahwa
aliran waktu menjadi melambat. Pada saat selama tidur akan menjadi contoh yang
jelas untuk hal itu. Untuk menangani sejumlah besar data mengenai ingatan,
Fluclight akan menambah kecepatan, dan sebagai hasilnya, kita melihat mimpi
yang terasa beberapa jam lamanya dalam waktu beberapa menit."
"Hmmmm...."
Shino melipat
tangannya saat dia merintih. Otaknya, atau lebih tepatnya, pikirannya, adalah
sebuah komputer berbasis cahaya, sesuatu seperti itu sudah melebihi yang dapat
dipikirkan, perbuatan «Berpikir» yang mampu meningkatkan atau menurunkan
kecepatannya, meskipun itu dapat dikatakan seperti itu, dia tidak dapat
merasakan itu mungkin dapat dilakukan. Tetapi, Kazuto tersenyum pada saat dia
melanjutkan perkataannya.
"——Dalam hal ini.
Jika kita dapat mengerjakan pekerjaan rumah atau bekerja di dalam mimpi kita,
bukankah kau berpikir bahwa itu hebat? Bahkan jika itu hanya beberapa menit
saja di dunia nyata, tapi itu akan menjadi beberapa jam lamanya di dalam
mimpi."
"S-Sesuatu
seperti itu sama sekali absurd."
"Ya, aku juga
berpikir seperti itu―, aku belum pernah melihat mimpi yang nyamannya seperti
itu sebelumnya."
Bahkan meskipun Shino
dan Asuna menyangkal di waktu yang sama, senyumannya masih tetap terlihat di
wajah Kazuto sementara dia melanjutkan penjelasannya.
"Mimpi yang nyata
itu tidak konsisten, itu adalah hasil tambahan dari operasi pengolahan ingatan.
Mimpi yang diciptakan oleh STL jauh lebih jelas…Maksudku, dunia VR yang
menyerupai mimpi secara logika tersebut. Di dalam dunia itu, pemikiran jam
dalam kesadaran seseorang akan digabungkan dan diakselerasikan. Di saat
bersamaan, waktu standar di dalam dunia virtual juga disesuaikan dengan
akselerasinya. Sebagai hasilnya, waktu Dive yang dirasakan oleh user di dalam
dunia virtual tersebut adalah beberapa kali lipat waktu sebenarnya di dunia
nyata. Itulah fitur terhebat yang dimiliki STL, «Fluctlight Acceleration»,
disingkat sebagai FLA."
"......Ini
sudah......"
Aku berpikir kita
tidak lagi membicarakan tentang kenyataan lagi, Shino mengeluarkan nafas
pelan. Ini benar-benar sudah jauh dari «Sedikit Beda» AmuSphere.
Kehidupan sosial
benar-benar telah berubah hanya karena penerapan teknologi Fulldive. Shino
telah mendengar bahwa mesin versi pengurangan harga telah digunakan di
perusahaan biasa, dan telah menjadi hal yang biasa untuk pergi ke dunia virtual
untuk menghadari konferensi ataupun presentasi, bahkan ada penyiaran drama dan
film 3D setiap harinya, dimana para penonton dapat masuk ke dalam adegan dari
sudut manapun yang mereka inginkan, dan sebuah software travelling yang
memproduksi sebuah pemandangan dataran tinggi yang sangat populer diantara
orang tua, itu sama seperti yang dikatakan Kazuto sebelumnya, sebuah era yang
bahkan latihan militer telah dilakukan di dalam dunia virtual.
Dengan meningkatnya
jumlah orang yang tidak ingin meninggalkan mereka, maka muncul ledakan
«Strolling Group», yang berjalan tanpa tujuan di sekitar kota dalam dunia
virtual, perilisan «Virtual strolling software», yang disediakan khusus bagi
kelompok tertentu yang telah meraih kepopuleran besar, tapi itu adalah sebuah
fenomena yang telah memiliki prioritas belakang. Dan belakangan ini saja
terdapat banyak toko hamburger dan gyudon[17] yang mulai
membuka cabangnya di dunia virtual.
Bagaimanakah pengaruh
besar dari dunia virtual seperti itu meluas hingga dunia nyata——Bahkan meskipun
situasi sosial yang sekarang, dengan sesuatu yang dapat mengakselerasikan
kesadaran seperti Soul Translator, dunia jenis apa yang akan dibuat?Sementara
Shino merasakan hawa dingin di balik punggungnya, Asuna, yang mengerutkan
dahinya seolah-olah dia sedang memikirkan hal yang sama, mulai berkata saat dia
menghela nafas.
"Mimpi
panjang…Hmm…."
Dia lalu mengangkat
pandangannya ke arah Kazuto di seberang meja dan memperlihatkan senyuman
samar-samar.
"Itu akan menjadi
hebat jika Soul Translator dipasarkan sebelum insiden SAO…Aku berpikir jika aku
seharusnya memikirkan seperti ini. Jika perangkat keras antarmuka bukanlah
Nerve Gear namun STL, maka Aincrad seharusnya akan memiliki ribuan lantai, dan
untuk menyelesaikannya akan membutuhkan waktu sekitar dua puluh tahun."
"T…Tidak mungkin
aku melakukannya."
Melihat Kazuto
bergemetar sementara menggelengkan kepalanya membuat Asuna tersenyum sekali
lagi, kemudian dia melanjutkan pertanyaanya.
"Yeah. Itu akan
menjadi operasi pengetesan yang memiliki waktu yang panjang. Aku akan Diving
tiga hari secara terus menerus tanpa makan maupun minum. Aku pikir aku akan
menjadi sedikit lebih kurus…."
"Itu sama sekali
bukan sedikit―Benar-benar...Pekerjaan ini sudah terlalu berlebihan"
Asuna membuat ekspresi
marah yang manis sambil melipat tangan di depan dadanya.
"Besok aku akan
pergi ke Kawagoe dan membuatkan makanan! Aku perlu untuk meminta Suguha-chan
untuk membeli banyak sayuraan juga."
"I-Itu sangat
baik untuk dirimu."
Sementara Shino
tersenyum saat melihat mereka berdua, dia tiba-tiba memikirkan sebuah
pertanyaan, dan mulai berbicara.
"Hei...Itu
berarti, tiga hari selama Dive itu dilakukan di bawah fungsi akselerasi pikiran
tadi, bukan? Apa kau tahu berapa lama waktu yang sebenarnya kau rasakan di
dalam?"
"Hmm, seperti
yang kujelaskan sebelumnya, ingatan di dalamnya ditahan……Tapi, aku mendengar
bahwa kecepatan maksimal fungsi FLA saat ini adalah tiga kali lipat...."
"Itu
artinya…sembilan hari?"
"Atau mungkin
sepuluh hari."
"Hmmm…aku ingin
tahu apa yang kau lakukan di dalam dunia seperti itu. Ingatan memang tidak
dapat dibawa keluar, tapi bagaimana caranya memasukkan ingatan dari dunia nyata
ke dalamnya? Apa ada tester lainnya?"
"Tidak―tentang
sesuatu seperti itu, aku tidak berpikir seperti itu. Sebab latar belakang
pengetahuan akan mempengaruhi hasil tesnya. Juga, mesin itu dapat memblokir
ingatan selama Dive, jadi membatasi ingatan yang ada seharusnya bukanlah hal
yang sulit...Bagaimanapun juga, bangunan tempatku bekerja di Roppongi hanya
memiliki satu mesin eksperimen STL, jadi orang yang Diving di dalamnya hanya
aku saja. Dan aku tidak mengetahui apapun yang ada «Di dalam», jadi itu tidak
akan cukup untuk menjadi seorang Beater atau lainnya dengan hasil tesnya. Tapi
satu-satunya hal yang dapat aku katakan adalah kode nama dari dunia virtual
yang digunakan dalam eksperimen tersebut."
"Heh...Apa
itu?"
"«Underworld»"
"Under….Underground
world? Aku ingin tahu apakah itu adalah bagaimana dunia VR itu didesain."
"Desainnya masih
belum diketahui apakah itu kenyataan, fantasi, atau SF setting. Tapi,
berdasarkan dari namanya, aku memiliki perasaan bahwa itu adalah tempat di
bawah tanah yang suram..."
"Hmmm, jadi kita
tidak dapat menebaknya."
Saat Shino dan Kazuto
mengelengkan kepala mereka di saat yang bersamaan, Asuna menyentuh dagu
halusnya dengan jarinya sementara dia bergumam dengan suara pelan.
"Mungkin…itu juga
berasal dari dongeng Alice."
"Alice..."
"Itu masuk akal
karena nama RATH juga diambil dari cerita『Alice in Wonderland』.Edisi khusus pertama dari buku itu adalah 『Alice’s Adventures Under Ground』."
"Heh…Ini pertama
kali aku mendengarnya. Jika itu benar, entah mengapa...Itu seperti sebuah
perusahaan cerita dongeng."
Shino memperlihatkan
senyuman samar-samar sementara melanjutkan berbicara.
"Ngomong-ngomong,
tentang buku cerita Alice, ada dua buku dengan cerita mengenai mimpi panjang
…Mungkin selama Kirito sedang Dive, itu mungkin saja dia melakukan pesta minum
teh dengan kelinci atau bermain catur dengan ratu."
Asuna yang
mendengarnya tertawa dengan cara geli. Tapi orang yang dipertanyakan, Kazuto,
menatap lurus pada satu tempat di atas meja dengan ekspresi rumit.
"....Apa ada yang
salah?"
"....Tidak..."
Suara Shino membuat
tatapannya menuju ke atas, sementara masih mengerutkan dahinya, dia berkedip
berulang kali dengan jengkel.
"Beberapa saat
yang lalu, ketika aku mendengar kata Alice…Aku merrasa seperti aku dapat
mengingat pada sesuatu…Seperti, pada saat, dimana kau merasakan sesuatu yang
lucu atau mengganggu seperti beberapa saat yang lalu, tapi tidak peduli
bagaimana kau memikirkan tentang itu, kau tidak dapat mengingatnya, apakah itu,
itu seperti perasaan gelisah."
"Ah, yeah.
Seperti terbangun dari mimpi buruk tapi tidak mengingat apapun isi mimpinya
tadi."
"Sesuatu…Beberapa
saat yang lalu aku merasa bahwa aku melupakan sesuatu yang buruk…"
Asuna bertanya saat
dia dengan khwatir melihat pada Kazuto, yang mengacak rambutnya.
"Itu, mungkin,
ingatan selama eksperimen....?"
"Tapi…Bukannya
kau mengatakan bahwa semua ingatan tentang dunia virtual itu dihapus?"
Saat Shino mengatakan
hal itu setelah Asuna, Kazuto menghela nafas sambil tetap menutup matanya,
sebelum merendahkan bahunya.
"…Sebenarnya, itu
adalah ingatan berharga selama sepuluh hari. Mungkin saja ada bagian yang lolos
dari pemblokiran... "
"Oh ya, jika kita
memikirkan tentang itu, jika ingatan itu sebenarnya masih tetap tersisa, itu
akan berarti kau lebih tua tua dibandingkan dengan kita, secara pikiran. Itu
entah bagaimana….terdengar menakutkan."
"Untukku, aku
sedikit…senang, itu seperti jarak diantara kita menjadi lebih sempit."
Asuna mengatakan
seperti itu, karena dia satu tahun lebih tua, Kazuto saat dia memperlihatkan
senyuman lemah.
"Jika memikirkan
tentang itu, dalam periode di antara Dive kemarin dan kelas hari ini, aku
merasakan perasaan tidak nyaman yang aneh. Itu seperti waktu telah berlalu lama
sekali semenjak aku melihat kota, atau acara TV. Teman-teman di kelas juga....
'Siapa sih cowok itu?' Sesuatu seperti itulah......"
"Jangan terlalu
dibesar-besarkan, itu hanya 10 hari saja."
"Aku setuju―Itu
bukanlah sesuatu yang harus kau cemaskan."
Shino dan Asuna
merengut pada perkataan Kazuto.
"Kirito-kun, kau
seharusnya keluar dari ekperimen yang tidak masuk akal itu. Itu benar-benar
memberi beban yang terlalu berat pada tubuhmu."
"Ah, jika operasi
pengetesan yang memiliki waktu yang panjang telah sukses, itu berarti bagian
terakhir dari masalah rancangan dasar semuanya telah selesai. Tahap berikutnya
adalah membentuk mesin untuk penerapannya, tapi aku ingin tahu berapa tahun
lamanya yang akan dibutuhkan untuk merubah mesin ukuran besar itu menjadi
bentuk yang umum…Aku juga tidak dapat melakukan pekerjaan sampingan ini lebih
lama lagi, karena ujian terakhirn dimulai bulan depan."
"Uu..."
Pada perkataan Kazuto,
Shino membuat ekspresi suram sekali lagi.
"Hei, jangan
mengingatkan aku sesuatu seperti itu. Kalian semua sangat enak, sekolah kalian
hampir tidak memiliki ulangan tertulis lagi. Sekolahku masih memakai sistem
lembar jawaban, yang benar saja..."
"Huhu, kalau
begitu bagaimana membuat belajar kelompok bersama-sama?"
Saat dia mengatakan
itu, Asuna melihat ke atas dinding di belakang Shino sebelum mengatakan, ‘Wah’
dengan suara pelan.
"Ini hampir jam
enam, waktu berlalu dengan cepat di saat kita sedang berbicara."
"Kalau begitu
kita selesaikan pembicaraannya di sini. Tapi aku tidak berpikir bahwa kita
membicarakan topik utama hanya membutuhkan waktu lima menit saja."
Sementara Kazuto
memperlihatkan senyuman masam, Shino juga tersenyum sementara menjawab.
"Baiklah, masih
ada waktu sebelum BoB kelima, jadi mari memutuskan build karakter dan rincian
taktik bertarung setelah mengkonversi karakter."
"Yeah, itu juga
bagus. Tapi aku merasa tidak seperti memakai apapun selain light saber."
"Aku sudah
memberitahu padamu bahwa itu adalah photon sword."
‘Apa benar?’ Kazuto
tertawa saat dia memegang ujung dari meja itu, dan mulai berjalan menuju konter
untuk membayar makanan ini dengan uang yang dia dapat dari pekerjaan sampingan
selama tujuh puluh dua jam. Shino dan Asuna mengatakan, ‘Terima kasih atas makanannya!‘
secara bersamaan, sebelum berjalan menuju ke pintu keluar.
"Agil-san, aku
akan datang lagi."
"Terima kasih
karena makan di sini, kacang panggang di sini benar-benar enak."
Setelah jawaban dari
pemilik kafe, yang sedang sibuk dengan persiapan kafe di malam hari, Shino
mengeluarkan payungnya dari tong wishky dan mendorong pintu itu hingga
terbuka. Karakaran, saat suara bel pintu itu berbunyi, suara keras
dari suasana perkotaan dan hujan menyelimuti telinganya.
Bahkan meskipun masih
ada waktu sebelum malam tiba, namun dikarenakan awan tebal, yang merupakan
tanda malam yang gelap telah meliputi di atas jalanan basah di sekitarnya.
Shino membuka payungnya, dan mulai menuruni anak tangga kecil——dia mendadak
menghentikan langkahnya saat dia dengan cepat menggerakkan pandangannya pada
sekelilingnya.
"Sinonon, ada
apa….?"
Suara khawatir dari
Asuna terdengar dari arah belakang. Shino kembali menjadi sadar dan dengan
cepat membalikkan pandangannya dari jalan.
"T-Tidak, tidak
ada apa-apa."
Dia sedikit tertawa untuk
menyembunyikan rasa malunya. Tidak mungkin, aku merasakan hawa kehadiran
sniper di belakangku, tapi ini tidak mungkin. Mungkin kebiasaan memastikan
tempat sniper pada saat aku memasuki ruangan terbuka muncul di dunia
nyata?Memikirkan seperti itu, dia menjadi sedikit tercengang.
Sementara Asuna
memiringkan kepalanya, bel pintu dari belakang berbunyi sekali lagi, diikuti
oleh suara langkah menuruni anak tangga.
Ketika Kazuto, yang
keluar dari toko sambil memasukkan dompet ke dalam tasnya, telah turun dan
berdiri di jalan, dia mengeluarkan satu kata bersamaan dia menghela nafas.
"ALICE....."
"Apa, kamu masih
memikirkan tentang itu?"
"Tidak....aku
kebetulan mendengar di suatu kesempatan dari percakapan staff di hari Jumat
sebelum Diving ke dalam STL….……Arti…… Labile…… Intelligen……hmm, apa
itu...."
Shino menyerahkan
payung yang dipegangnya pada Kazuto, yang mengucapkan kata-kata yang tidak
dapat dia mengerti, Asuna pasti lebih khawatir tentangnya, saat dia
memperlihatkan senyuman masam.
"Ya ampun, jika
sesuatu seperti itu benar-benar mengusikmu, Bukankah kau seharusnya
menanyakannya pada mereka saat berikutnya kau pergi ke sana."
"Yeah...Itu
benar."
Kazuto menggelengkan
kepalanya dua, tiga kali, sebelum akhirnya membuka payungnya.
"Sampai jumpa
Sinon, pertemuan selanjutnya kita akan berbicara tentang mengkonversi karakter
ke GGO."
"Aku mengerti.
Tidak apa-apa jika bertemu di ALO di pertemuan berikutnya. Terima kasih sudah
datang hari ini."
"Sampai jumpa,
Sinonon."
"Sampai jumpa,
Asuna."
Kazuto dan Asuna yang
akan pulang dengan JR, melambaikan tangan mereka. Shino lalu mulai berjalan ke
stasiun bawah tanah di arah sebaliknya.
Sekali lagi, dia
diam-diam melihat kearah sekelilingnya dari balik payung, namun perasaan takut
dari tatapan sebelumnya juga telah menghilang tanpa jejak seperti waktu pertama
kali.
Beberapa menit kemudian setelah kejadian itu terasa tidak nyata, itu seperti dia melihat film hitam putih.
Selingan I
Suhu tubuh manusia
adalah sesuatu yang ganjil.
Tiba-tiba Yuuki Asuna
memiliki pikiran seperti itu.
Hujan telah berhenti,
dan dibawah langit biru gelap, dengan bagian dari awan tercampur dengan warna orange,
mereka berdua berjalan secara perlahan sambil bergandengan tangan. Di
sampingnya, Kirigaya Kazuto, orang yang memiliki ekspresi cemberut bahkan
semenjak dia memikirkan sesuatu dari beberapa menit yang lalu, merendahkan
pandangannya ke jalan berbatu tanpa mengatakan apapun.
Asuna yang tinggal di
Setagaya dan Kazuto yang hendak kembali menuju Kawagoe, biasanya berpisah di
stasiun Shinjuku saat mereka menaiki kereta yang bebeda, tetapi hari ini, untuk
suatu alasan, Kazuto mengatakan "Aku akan mengantarmu sampai di
rumah." Bahkan meskipun dia itu membutuhkan satu jam lebih lama untuk
kembali ke rumahnya dari Shibuya, saat Kazuto memiliki ekspresi yang tidak
biasanya di matanya, Asuna mengangguk setuju.
Saat mereka keluar
dari stasiun Miyanosaka di jalur Setagaya, yang merupakan stasiun yang paling
dekat dengan rumah Asuna, mereka masih bergandengan tangan.
Sementara melakukan
ini, Asuna samar-samar mengingat kejadiaan itu. Itu tidak hanya manis, tapi
juga sangat menyakitkan di saat yang bersamaan, jadi itu sebenarnya adalah
ingatan yang tidak selalu muncul di kesadarannya, tetapi, ingatan itu kembali
muncul setiap kali dia memegang tangan Kazuto.
Itu bukan ingatan di
dunia nyata, tapi kota di menara besi «Grandum» di Aincrad lantai 55, yang
tidak lagi ada.
Pada saat itu, Asuna
menjadi sub-leader di guild Knights of the Blood. Pendampingnya adalah pengguna
pedang hebat bernama Kuradeel, orang yang mengawasinya sepanjang waktu.
Kuradeel, seseorang yang memiliki obsesi yang aneh dengan Asuna, dia telah
menggunakan racun pelumpuh pada Kazuto/Kirito, yang menyebabkan Asuna
mengundurkan diri dari guild.
Kuradeel telah
membunuh dua anggota dalam aksinya, Asuna yang baru saja sampai di waktu tepat
sebelum Kirito kehilangan nyawanya, menarik rapiernya dengan kemarahan dan
tanpa ampun, HP Kuradeel telah berkurang hingga sampai pada tingkat dimana satu
serangan dapat menghabisinya, tapi dia menjadi ragu. Kuradeel mengambil
kesempatan untuk membalas tetapi Kirito telah sembuh dari racun pelumpuh saat
itu, dan dia menghabisi Kuradeel dengan tangan kosong.
Keduanya kembali ke
markas dari Knights of the Blood di lantai 55. Setelah menginformasikan tentang
pengunduran dirinya dari guild, mereka berjalan tanpa tujuan sambil
bergandengan tangan di Grandum.
Ketika dia bersikap tenang
di permukaan saat itu, di dalam hati Asuna, dia merasakan perasaan bersalah
pada dirinya karena dia tidak membunuh Kuradeel. Perasaan bersalah pada Kirito
yang membuatnya menanggung beban berat itu menyelimuti di sekitarnya. Dia
merasa bahwa dia tidak memenuhi syarat untuk memanggil dirinya sebagai bagian
dari grup penyelesaian, bahwa dia memiliki hak untuk berdiri di samping Kirito.
Tapi, ketika dia menderita dari perasaan ini, dia mendengar suara. Hanya
kau, aku ingin mengantarmu sampai di dunia nyata tidak peduli apapun yang
terjadi.
Pada saat itu, sebuah
perasaan kuat mengalir di dalam Asuna. Berikutnya aku akan melindungimu
dengan kedua tanganku. Tidak, tidak hanya berikutnya tapi setiap saat. Tidak
peduli di dunia manapun itu berada.
Asuna samar-samar
dapat mengingat tangannya, yang tidak merasakan apapun selain dari hawa dingin
di udara meskipun memegang tangan Kirito, pada saat itu, menjadi hangat
seolah-olah mereka duduk di dekat api unggun. Setelah kastil melayang itu
terjatuh, berpetualang pada dunia peri, dan kembali ke dunia nyata, ketika dia
memegang tangannya, dia masih dapat mengingat perasaan hangat di tangannya di
saat itu.
Sungguh, suhu tubuh
manusia adalah sesuatu yang ganjil. Bahkan meskipun dia tahu bahwa panas yang
dihasilkan berasal dari energi untuk menjaga tubuh, pertukaran kehangatan dari
tangan mereka terasa seperti itu memiliki sejumlah informasi. Karena, Asuna
dapat mengerti Kazuto, orang yang berjalan sementara terdiam sampai sekarang,
memiliki sesuatu yang ragu-ragu untuk dikatakan.
'Jiwa manusia adalah
kuanta cahaya yang berada di dalam unsur struktur microscopic di sel otak
mereka' adalah sesuatu yang Kazuto telah katakan. Tapi, cahaya itu tidak hanya
berada di sel otak, tapi juga di semua sel di dalam tubuh. Medan kuantum, yang
menyusun partikel cahaya dan membuat wujud manusia, telah terhubung melalui
tangan mereka. Mungkin itulah bagaimana kehangatan itu dapat dirasakan.
Asuna menutup kelopak
matanya dengan lembut, sebelum membisikkan sesuatu dipikirannya.
——Lihat, ini akan
baik-baik saja, Kirito. Aku akan selalu menjagamu. Itu karena kita adalah
pasangan terhebat dalam saling membantu.
Kazuto tiba-tiba
berhenti, membuat Asuna juga melambatkan langkahnya. Matanya terbuka lebar, Ini
sudah jam tujuh? Saat lampu jalan antik mengeluarkan cahaya orange di atas
kepala.
Di sore hari setelah
hujan, tidak ada seorangpun yang terlihat di jalan selain dari mereka berdua.
Kazuto perlahan menggerakkan kepalanya, mata hitamnya melihat Asuna.
"Asuna......"
Seolah-olah di
akhirnya menepis keraguannya, dia mengambil langkah ke depan——
"......Aku masih
berpikir untuk pergi."
Asuna, yang mengerti
alasan dari perhatiaannya, tersenyum saat dia bertanya.
"Amerika?"
"Yeah. Aku
menghabiskan waktu setahun untuk meneliti, dan aku berpikir penelitian «Brain
Implant Chip» di universitas Santa Clara benar-benar penerus teknologi
FullDive. Brain Machine Interface mungkin menuju perubahan. Aku benar-benar
ingin melihatnya, dimana dunia selanjutnya akan ada.
Asuna melihat langsung
pada mata Kazuto sebelum memperlihatkan anggukannya.
"Tidak hanya
ingatan menyenangkan, tapi juga ingatan sedih dan menyakitkan juga. Tujuannya,
adalah tujuan kastil itu, kau ingin mengetahui tentang itu, bukan?"
"......Aku bahkan
tidak yakin seribu tahun adalah waktu yang cukup untuk memahami hal itu."
Kazuto tersenyum
samar-samar dan menjadi terdiam sekali lagi.
Itu benar-benar sulit
untuk berbicara tentang perpisahan itu adalah pemikiran Asuna. Tanpa
menghapus senyumnya, dia mencoba untuk mengatakan jawaban yang disimpan di
dalam hatinya——tetapi sebelum dia dapat melakukan itu, Kazuto membuat ekspresi
yang sama ketika dia di Aincrad-ekspresi yang sama ketika dia mengajukan
pernikahan padanya-saat dia mengatakannya dalam keadaan gugup.
"Karena
itu......Aku ingin kau pergi bersamaku, Asuna. Aku tidak ingin hidup tanpamu.
Aku tahu apa aku mengatakan sesuatu yang tidak beralasan. Aku tahu bahwa Asuna
memiliki jalan sendiri. Tapi, bahkan meskipun begitu aku......"
Pada saat itu, dia
menghentikan perkataanya seolah-olah dia dalam keadaan bingung. Mata Asuna
terbuka lebar dan dia suara tertawa yang pelan.
"Eh......?"
"M......Maaf aku
tertawa. Tapi......mungkin itu, itu adalah apa yang membuat Kirito-kun
bermasalah sampai sekarang?"
"Y-Yeah."
"Apaaa. Jika itu
tentang jawabanku. Aku telah memutuskannya semenjak waktu yang lalu."
Tangan kirinya
menggenggam erat tangan kanannya, yang masih memegang tangan Kazuto. Setelah
mengangguk dengan dalam, dia memberitahunya.
"Tentu saja, Aku
akan pergi...Kita akan pergi bersama. Jika bersamamu. Aku dapat pergi ke
manapun itu."
Mata Kazuto terbuka
lebar saat dia mengedipkan matanya beberapa kali, dan lalu senyuman cerah
terlihat di wajahnya. Di saat yang sama, dia menaruh tangan kanannya di bahu
Asuna.
Asuna merespon dengan
memeluk erat Kazuto dengan kedua tangannya.
Saat mulut mereka
bertemu, perasaan dingin segera pergi dari mulut mereka, diganti oleh perasaan
hangat, Asuna sekali lagi, merasakan pertukaran informasi melalui cahaya tidak
terbatas yang terdiri dari jiwa mereka satu sama lain. Bahkan di masa
depan, tidak peduli di dunia mana, tidak peduli berapa lama kita akan pergi,
hati kita tidak akan terpisahkan, aku yakin tentang itu.
Tidak, hati kita
sebenarnya telah terikat semenjak dahulu. Di langit yang telah jatuh Aincrad,
ketika itu menghilang saat dibungkus oleh pelangi aurora —— atau bahkan mungkin
jauh sebelum itu, hari di saat kita bertemu di dugeon gelap, sebagai seorang
solo player yang kesepian.
"Bagaimanapun
juga."
Beberapa menit
kemudian, saat mereka berjalan di atas jalan sambil bergandengan tangan, Asuna
menanyakan pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Jadi kau
berpikir Soul Translator yang kau teliti bukanlah penerus dari teknologi
FullDive? Brain Chip yang bersatu dengan sel otak pada tingkatan yang sama
dengan Nerve Gear, tapi STL lebih jauh dari itu, dan menggunakan level kuantum,
bukan?"
"Hmmm......"
Kazuto dengan perlahan
mendorong batu menggunakan ujung metal dari payung di tangan lainnya saat dia
menjawab.
".....Desain
konsepnya sudah pasti jauh lebih maju dibandingkan dengan Brain Chip. Tapi
bagaimana mengatakannya...... mungkin itu terlalu canggih. Agar dapat membuat
mesin itu dapat digunakan di pasaran, itu tidak hanya membutuhkan waktu
beberapa tahun, tapi membutuhkan beberapa dekade untuk itu. Aku memiliki
perasaan STL bukanlah mesin yang dibuat manusia untuk Full Dive menuju dunia
virtual dengan ......"
"Ehh? Lalu itu
untuk apa?"
"Mungkin itu
mesin untuk memahami pikiran manusia...... the Fluctlight."
"Hmm......"
Jadi maksudmu STL
bukanlah tujuannya tapi metodenya? Saat Asuna memikirkan apa pengertian
jiwa manusia yang dia pikirkan, Kazuto melanjutkan berbicara.
"Di samping itu.
Aku berpikir STL adalah...... bagian dari ide Heathcliff. Orang itu, untuk
alasan tertentu dia membuat Nerve Gear, dia mengorbankan ribuan orang, membakar
otaknya sendiri, dan lebih dari itu, dia bahkan menyebarkan «The Seed» menuju
seluruh dunia...... Aku tidak tahu bahkan jika dia memiliki tujuan bahkan dari
semenjak pertama, tapi aku merasakan kehadirannya melayang di suatu tempat di
Soul Translator. Bahkan meskipun aku ingin tahu apa yang dia inginkan, aku
tidak ingin ini berefek pada tujuanku. Aku tidak ingin merasa seperti aku
berjalan di atas tangannya"
Sebuah wajah dari
seseorang muncul di dalam otak Asuna dengan sekejap, dan dia mengangguk.
".....Aku
mengerti............Hei, kesadaran Ketua Guild, pikiran programnya masih ada di
suatu tempat di server, bukan? Seperti yang Kirito-kun katakan
sebelumnya."
"Yeah, tapi hanya
sekali. Mesin yang digunakan orang itu untuk bunuh diri adalah original
prototype dari STL. Agar dapat membaca Fluctlight, diperlukan high-powered beam
yang cukup untuk membakar sel otak. Mungkin, dia telah menderita lebih lama dan
rasa sakit yang lebih panjang...... Untuk tujuan membuat dirinya yang lain, aku
tidak berpikir bahwa ini tidak berhubungan RATH dengan STL sekarang. Mungkin
sesuatu di hatiku masih berpikir......Aku ingin melihat suatu jenis resolusi,
yang membuatku menerima permintaan Kikuoka......"
Pada saat dia
mengatakan itu, pandangan Kazuto berbalik menuju langit yang menghilang oleh
senja berwarna orange kemerahan. Saat dia melihat wajahnya untuk sesaat, Asuna
memegang tangannya dengan kuat, sebelum membisikkan.
"......Berjanjilah,
cukup satu hal. Jangan melakukan sesuatu yang berbahaya."
Kazuto, yang berbalik
padanya, tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja, Aku
janji. Aku akan pergi ke Amerika dengan Asuna musim panas mendatang
bagaimanapun juga."
"Sebelum itu, kau
seharusnya menghawatirkan tentang belajar agar dapat mendapat nilai bagus di
Ujian Scholastic Assessment?"
"Uu......"
Kazuto kehilangan
katanya untuk sesaat, sebelum dia perlahan terbatuk dan mengubah topik,
"Bagaimanapun
juga, aku harus secara pantas menyapa keluarga Asuna terlebih dahulu. Aku telah
bertukar email dengan Shouzoushi-shi dari waktu ke waktu, namun ingatan ibumu
terhadapku cukup buruk......"
"Tidak masalah,
tidak masalah, akhir-akhir ini ingatannya menjadi sedikit membaik. Ah,
ya......Kenapa tidak pergi sekarang saja?"
"Ehh!?
T-tidak......Mungkin lebih baik pergi setelah ujian akhir saja, yeah."
"Benarkah..."
Mereka telah sampai di
taman di dekat rumah Asuna saat mereka berbicara, Ini adalah dimana Kazuto
biasanya mengatakan perpisahan sebelum melepasnya. Asuna berhenti saat dia
merasa berat hati sebelum berbalik. Dia melihat wajah Kazuto, dan pandangannya
juga sama dengannya.
Jarak di antara mereka
hanya kurang dari lima puluh sentimeter. Tiba-tiba, langkah berat yang dapat
didengar dari belakang, dan secara refleks Asuna melangkah ke belakang.
Saat dia memutar
kepala, sesosok manusia muncul berlari dari arah jalan berbentuk T. Orang itu
adalah seorang pria pendek mengenakan pakaian hitam. Pandangannya terhenti pada
Asuna dan Kirito sebelum mengatakan "Permisi," dengan suara keras.
"Erm, apa kau
tahu dimana stasiun berada?"
Pria muda itu
merendahkan wajahnya saat dia bertanya, Asuna menunjuk barat dengan tangan
kirinya.
"Ikuti jalan ini
sebentar, dan belok kiri ketika lampu lalu lintas pertama......lalu..."
Tiba-tiba, Kazuto,
yang ada di belakangnya, secara paksa menarik bahu Asuna. Lalu dia melangkah ke
depan sambil melindungi Asuna dibelakangnya.
"A-Apaa......"
"Kau....yang
mengikuti kita dari Dicey Café bukan? Siapa kau?"
Dengan nada tajam,
Kazuto mengatakan sesuatu yang bahkan Asuna tidak sadari. Dia lalu menarik
nafas sambil melihat wajah orang itu sekali lagi.
Dia memiliki rambut
panjang tidak rata yang kusut. Garis pipi yang kurus secara keseluruhan di
tutupi oleh janggut. Di telinganya terdapat anting perak, dan di lehernya juga
ada kalung perak. Dia memakai T-Shirt hitam yang memiliki warna yang sama
dengan celananya. Sebuah rantai besi tergantung di pinggangnya membuat suara
gemerincing. Kakinya memakai sepatu boot denga tali panjang yang terlihat berat
di musim ini, dan secara keseluruhan dia memberikan kesan lusuh.
Mata sipitnya terlihat
dari rambut berantakan dari dahinya, seolah-olah dia sedang tersenyum. Orang
itu mengerutkan dahinya dan memiringkan kepalanya seolah-olah dia tidak
mengerti apa yang Kazuto katakan—— lalu tiba-tiba, mata kecilnya bercahaya
dengan sinar yang menakutkan.
"......Jadi
serangan mendadak tidak bekerja, huh."
Dengan ujung mulutnya
dengan erat , Asuna tidak tahu jika dia tersenyum atau jengkel.
"Sebenarnya siapa
kau?"
Kazuto mengulang
pertanyaannya. Pria itu mengangkat bahunya, menggelengkan kepalnya dua kali,
tiga kali, sebelum dia menghela nafas panjang.
"Hei, hei, bukan
begitu, Kirito-san. Apa kau melupakan wajahku...... oh, disana aku memakai
topeng, bukan? Tapi...Aku tidak pernah melupakan tentangmu meskipun untuk satu
hari."
"Kau......"
Ketegangan muncul di
punggung Kazuto. Dia menarik kembali tangan kanannya saat dia merendahkan
pinggangnya.
"——«Johnny
Black»!"
Dengan teriakan pelan,
tangan kanan Kazuto begerak cepat seperti cahaya dan memegang udara di
punggungnya. Itu pernah sekali menjadi tempat pedang kesayangan «Black
Swordsman» yakni «Elucidator».
"Bu... Ku...
Kuhahahahahaha! Tidak ada pedang!!"
Orang yang dipanggil
Johnny Black memutar bagian atas tubuhnya saat dia tertawa keras. Kazuto
menurunkan tangan kanannya di saat seluruh tubuhnya tetap tegang.
Asuna tahu nama itu.
Itu adalah nama yang aktif sebagai pembunuh di Aincrad, seorang yang terkenal
bahkan di antara pemain merah. Berasal dari guild PK «Laughing Coffin» dan
menjadi duo dengan «Red-eyed XaXa», yang membutuhkan lebih dari sepuluh orang
untuk menangkapnya.
............XaXa. Dia
pernah mendengar nama itu setengah tahun yang lalu. Orang yang dibalik insiden
buruk «Death Gun Incident».
Dia mendengar itu
setelah XaXa sendiri, Shinkawa Shouichi telah ditahan bersama adik mudanya,
tapi meninggalkan rekannya saat pelarian. Orang ketiga, yang dia pikir telah
tertangkap lebih dulu, namanya mungkin Kanemoto......dengan kata lain,
seseorang yang didepannya adalah————
"Kau......masih
melarikan diri?"
Kazuto berkata dengan
suara serak. Johnny Black, Kanemoto tersenyum sambil mengulurkan kedua jari
telunjuknya.
"Te——tentu saja.
Kau pikir aku akan menyerah setelah XaXa ditangkap? Aku adalah anggota terakhir
Laughing Coffin. Aku menemukan kedai kopi itu lima bulan lalu, dan aku telah
mengawasimu hampir selama sebulan.....setiap hari dipenuhi dengan
kebencian—"
Saat dia berbicara,
Kanemoto memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Tapi,
Kirito-san, tanpa pedang......kau hanya seseorang yang terlihat lemah, bukan?
Bahkan meskipun wajahmu masih sama, itu sangat sulit untuk berpikir bahwa kau
adalah Swordsman-sama yang telah mengalahkanku dengan sangat memalukan."
"Itu juga berlaku
untukmy......Apa yang dapat kau lakukan tanpa senjata beracun
kebanggaanmu?"
"Hei, itu sangat
tidak profesional untuk menilai senjata dari penampilannya."
Kanemoto menggerakkan
tangan kanannya di belakang punggungnya dengan sangat cepat, dan menarik keluar
sesuatu dari bajunya.
Itu adalah benda
asing. Dari cylinder yang terbuat dari plastic halus, ada gagang kuat yang
seperti mainan. Asuna berpikir itu hanya pistol air untuk sesaat, tapi dia
menarik nafas saat dia melihat Kazuto menjadi sangat kaku. Kebingungannya
berubah menjadi ketakutan saat Kazuto bersuara.
"Itu...... the
«Death Gun»......!"
Tangan kananya menuju
ke belakang, menyuruh Asuna untuk mundur. Di saat yang sama, dia mengarahkan
ujung payung di tangan kirinya ke arah Kanemoto.
Satu langkah, dua
langkah, saat dia tanpa sadar mundur ke belakang, mata Asuna masih fokus pada
«Pistol» plastik. Itu bukan hanya pistol air, tapi suntikan menggunakan gas
bertekanan tinggi, di dalamnya ada bahan kimia mengerikan yang dapat
menghentikan jantung.
"Aku punya—, aku
punya senjata beracun— Aku meminta maaf karena ini bukan pisau—"
Saat dia mengeluarkan
jarumnya, yang satu-satunya bagian yang terbuat dari metal, Kanemoto membuat
suara seperti tertawa. Kazuto memegang payungnya dengan kedua tangan sementara
dengan hati-hati memperhatikan Kanemoto, lalu sambil bersuara pelan.
"Asuna, larilah!
Panggil seseorang untuk membantu!"
Setelah beberapa saat
dalam keraguan, Asuna mengangguk, lalu berputar dan mulai berlari. Dari
belakang, suara Kanemoto dapat didengar.
"Oi, «The Flash»!
Pastikan semua orang tahu.....bahwa orang yang mengambil hidup dari «Black
Swordsman» adalah Johnny Black!"
Bell dari rumah
terdekat sekitar tiga puluh meter.
"Seseorang......tolong!!"
Saat dia berlari
sambil memanggil dengan suara paling keras. Bukankah salah untuk
meninggalakan Kazuto dan berlari? ..... Jika kita bekerja sama, bukankah kita
dapat menghentikan senjata itu? Dia melewati separuh jalan dan saat dia
berpikir seperti itu, pada saat itu, sebuah suara terdengar di telinganya.
Seperti ketika tutup
dari minuman bersoda terbuka, atau cat semprot yang digunakan, sebuah suara
tajam terdengar. Tapi, dia segera mengerti maksudnya pada saat itu juga, Asuna
menahan rasa takutnya, menghentikan langkahnya, terhuyung, dan menahan
tangannya di batu basah.
Asuna perlahan
menengok dan melihat melalui bagian atas bahunya.
Sebuah kejadian
mengerikan terlihat di pandangannya.
Poros dari payung di
tangan kiri Kazuto menusuk pada bagian bawah paha kanan Kanemoto.
Dan suntikan di tangan
Kanemoto ditusuk pada bahu kiri Kazuto.
Secara bersamaan,
tubuh mereka terpisah satu sama lain, sebelum terjatuh dengan keras di jalan.
Beberapa menit kemudian setelah kejadian itu terasa tidak nyata, itu seperti dia melihat film hitam putih.
Dia berlari menuju
tubuh Kazuto yang tidak bergerak. Dia menarik Kazuto dari Kanemoto, yang
memegang kakinya dengan kesakitan, "Bertahanlah," dia memanggilnya
saat dia mengambil terminal mobile dari sakunya dan membukanya.
Dia tidak dapat
merasakan apapun di jarinya, seolah-olah itu telah membeku. Ujung jarinya yang
kaku mengoperasikan layar sentuh, dan dia melaporkan lokasi dan situasi pada
operator dari pusat bantuan darurat, dengan terengah-engah dan kehabisan nafas.
Banyak penonton yang
penasaran bermunculan. Lalu, seorang polisi muncul dari kerumunan. Asuna hanya
dengan singkat menjawab pertanyaan saat dia dengan erat memeluk Kazuto.
Pernafasan Kazuto
menjadi lambat dan pelan. Di bawah rasa sakitnya, dia membisikkan dua kata
pendek. "Maaf, Asuna."
Beberapa menit
kemudian yang terasa seperti keajaiban. Kazuto dibawa oleh satu dari dua mobil
ambulans yang telah tiba, dan Asuna juga berada di mobil yang sama.
Saat Kazuto terbaring
tidak sadarkan diri di tandu, seorang paramedis menggerakkan wajahnya di dekat
wajah Kazuto untuk mengecek pernafasannya, lalu memanggil paramedis yang lain.
"Respiratory
gagal! Berikan aku tas darurat!"
Untuk membantu pernafasan
dengan cepat, mulut dan hidung Kazuto ditutupi oleh masker transparan.
Asuna entah bagaimana
berhasil untuk menahan dorongannya tidak berteriak melalui tenggorokannya, saat
dia menginformasikan pada paramedis nama bahan kimia yang secara ajaib dapat dia
ingat.
"Erm,
s-succinylcholine......dia telah disuntik dengan obat itu. Di bahu
kirinya."
Paramedis itu melihat
dia dengan takjub untuk sesaat, lalu dia memberi instruksi yang baru dengan
cepat.
"IV suntik
epinephrine......tidak, gunakkan atropine! Buatlah menjadi IV!
Sebuah jarum transfusi
ditusuk di tangan kiri Kazuto, di bagian bajunya yang terkoyak. Mesin elektroda
dari ECG monitor di taruh di dadanya. Sebagai tambahan suara udara di sekitar,
suara sirine memecahkan keheningan.
"Detak jantung
menurun!"
"Mulailah menekan
jantungnya!"
Wajah Kazuto dengan
kelopak matanya tertutup, terlihat sangat pucat di bawah panel internal LED
light. "Tidak...tidak ... Kirito-kun...Bukan sesuatu yang seperti
ini..." sebuah suara kecil yang keluar dari mulut Asuna tanpa dia sadari
untuk sesaat.
"Detak jantung
berhenti!"
"Teruslah
menekan!"
Kirito-kun, ini
bohong, bukan? Kau tidak akan meninggalkanku, bukan? Kau mengatakan bahwa kita
akan terus bersama selamanya.....bukankah kau mengatakan itu?
Pandangan Asuna
menunduk menuju terminal mobile yang ada ditangannya.
Hati yang terlihat di
monitor itu perlahan berdetak sekali lagi, sebelum itu berhenti berdetak.
Angka monitor digital
itu berubah dengan kejam dan berhenti di nol, saat semuanya menjadi hening.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar